Share

Bab 2

Author: Dandelion
last update Last Updated: 2025-12-18 12:59:53

Pertanyaan itu langsung membuat Sekar menoleh.

Tatapan wanita itu yang terkejut, bingung, dan mungkin terpesona. Tunggu, terpesona? Seketika Jagat tersadar hanya menggunakan selembar handuk yang menutupi pinggangnya ke bawah sedangkan tubuh bagian atasnya terekspos sempurna.

Sementara itu, Sekar yang tadi sempat terpaku, kini mulai menyadarkan diri dan bertanya balik pada pria yang berdiri tak jauh darinya. “Kamu yang siapa? Kenapa ada di kamar ini?”

Jagat mengernyitkan dahi bingung, ia yakin tak salah masuk kamar. “Ini kamar saya, kamar nomor 779.”

Kemudian pria itu melangkah mengambil kunci kamarnya, “Saya jelas membuka pintu kamar dengan kunci ini, jadi kemungkinan kamu yang salah masuk kamar.” Lanjutnya dengan nada yang cukup tenang.

Sekar kemudian terdiam, ia mulai mengingat bagaimana ia bisa masuk ke kamar ini.

Satu hal yang ia sadari saat tadi begitu terburu-buru karena diikuti orang, Sekar tak lagi mengecek pesan David yang berisi nomor kamar yang telah dipesan dan parahnya ia justru begitu yakin saat memasuki kamar ini.

Sekar menunduk, mencoba mengatur napas untuk menjelaskan pada pria di depannya. Ia sadar sepertinya di sini ia yang telah salah masuk kamar. Namun saat ia akan mendongak menatap pria itu, satu pesan baru dari David muncul bar notifikasi ponselnya.

“Aku nggak mau disalahkan sama keluarga besarku karena pernikahan kita batal, apalagi mempermalukan mereka karena perselingkuhanku. Jadi Sekar, untuk yang terakhir kalinya kamu tanggung kesalahanku, ya.”

Sekar menganga membaca pesan itu. Sungguh sial sekali nasibnya yang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah diselingkuhi difitnah pula dan ironisnya dilakukan oleh orang yang sama, oleh orang yang sangat ia cintai selama enam tahun ini.

“Kamu tenang aja, gosip tentang kamu pasti bakal hilang dalam beberapa hari dan tadi aku udah transfer sebagian uang kamu yang buat persiapan pernikahan kita. Semoga itu bisa menghibur kamu, ya.”

Satu pesan lagi dari David membuat Sekar semakin muak. Apa katanya? Gosip tentangnya akan hilang dalam beberapa hari? Mudah sekali pria itu mengatakannya. Masalahnya media sosial itu kejam, gosipnya mungkin mereda tapi tidak akan pernah hilang dari sana.

Brengsek!

Nama dan reputasinya tidak akan semudah itu untuk kembali baik. Sungguh sejuta kata hujatan rasanya tidak akan cukup untuk Sekar tunjukkan pada pria berpikiran sempit seperti David.

Dalam hati, Sekar juga merutuki kebodohan dirinya yang mau saja datang ke hotel ini. Ia tertawa miris, bisa-bisanya berpikir mereka akan berpisah dengan cara baik-baik dan bijaksana layaknya orang dewasa. Sekar lupa bahwa orang bijaksana tidak akan selingkuh, termasuk David. Dirinya saja yang naif.

Sementara Sekar masih tenggelam dengan kemalangan nasibnya, di depannya Jagat justru bingung dengan sikap wanita itu yang tiba-tiba diam lalu berbicara kata-kata yang ia tak pahami ditujukan untuk siapa. Karena tak ingin terus berada di situasi ini, Jagat akhirnya kembali mengajak bicara wanita itu.

“Hallo? Jiwa kamu masih di sini?”

Pertanyaan itu seketika menarik Sekar pada kenyataan yang ia harus hadapi saat ini juga. Terlalu sibuk dengan pikirannya, wanita itu jadi melupakan bahwa sekarang ia masih terjebak di dalam kamar pria yang tak dikenal.

“Maaf, Pak. Begini...”

Jagat menaikkan satu aslinya, “Pak?”

Sekar menjeda ucapannya, ia bingung bagaimana menjelaskan pada pria di depannya ini.

Tak mungkin ia menceritakan bahwa ia dijebak oleh mantan kekasihnya sehingga berakhir masuk ke dalam kamar milik pria itu, yang ada Sekar akan dikira sedang mengarang cerita.

Di sisi lain Jagat yang sudah merasa kedinginan karena tubuhnya yang belum berbusana, akhirnya tak tahan dan meminta Sekar untuk menunda penjelasannya. Dan di saat bersamaan, wajah Sekar mendongak dan matanya tepat melihat ke arah dada bidang pria di depannya.

“Jelaskan nanti saja, saya mau pakai baju dulu.” Ucap Jagat sambil mengeratkan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

Sekar mengangguk, lalu mengalihkan pandangan. “Iya, Pak. Lebih baik memang Bapak memakai baju dulu.” Gumamnya pelan tanpa sadar.

Jagat yang berniat berbalik untuk mengambil baju seketika berhenti saat mendengar ucapan Sekar.

Setelahnya Jagat kemudian berbalik mengambil baju dan melangkah menuju kamar mandi. Tak berselang lama, ia keluar dengan penampilan yang lebih rapi dan sopan ditatap oleh mata Sekar yang kadang suka jelalatan itu.

Berdehem pelan, Sekar akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara. “Pak...”

“Begini... Saya minta maaf atas kelalaian saya yang tanpa sengaja masuk ke kamar, Bapak. Ini semua terjadi karena saya sedang terburu-buru. Sekali lagi saya minta maaf, Pak.”

“Ya sudah tidak apa-apa. Ini juga karena saya yang lalai nggak kunci pintunya.” Balas Jagat yang sadar bahwa kejadian ini juga karena ada andilnya.

Sekar mengangguk, “Kalau begitu saya permisi, Pak. Terima kasih atas pengertiannya.”

Kemudian wanita itu berbalik, napas lega ia hembuskan. Sekar beruntung karena pria itu tak memperpanjang masalah dirinya yang telah masuk kamar.

Di belakangnya Jagat masih terus memperhatikan punggung Sekar yang semakin menjauh, sebenarnya ia penasaran dengan alasan di balik terburu-burunya wanita itu sampai salah kamar. Hingga tanpa sadar mulutnya terbuka untuk menahan wanita itu.

“Sebentar.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
peach
bisa langsung ciuman ga? maaf gugup ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 80

    Jagat keluar dari kamar mandinya dengan rambut yang masih basah. Di tangannya ada handuk kecil yang sedang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya itu. Melirik ke arah jam di dinding, ia baru menyadari ternyata sudah hampir tengah malam, bertepatan dengan malam tahun baru.Tadi sehabis mengantar Sekar ke bandara, ia langsung pulang ke rumah dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Jika saja sepulang kerja ia tak melihat Sekar masuk mobil bersama Dhika, ia pasti sudah pulang ke rumah saat itu juga dan pekerjaannya bisa selesai tak sampai larut malam seperti ini.Namun ia tak menyesali keputusannya untuk mengikuti Sekar.Mengingat wanita itu, ia juga teringat dengan apa yang sudah mereka lakukan. Tiba-tiba pipinya terasa panas saat satu per satu adegan ia dan Sekar muncul di pikirannya. Sentuhan, desahan, erangan, dan sensasi penyatuan mereka kini mulai membayangi dirinya.Tapi Jagat tak terganggu sama sekali. Jikalau bayangan itu terbawa sampai mimpi pun ia rela, sungguh. Karena saat

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 79

    Meski sudah didorong hingga jatuh ke lantai, Jagat tetap mau saja ketika Sekar memintanya untuk mengantarkan ke bandara. Pria itu bahkan belum sempat mandi karena ia yang terburu-buru."Mas, kecepatan mobilnya ditambah aja. Aku nggak mau ketinggalan pesawat, nanti malah nggak bisa tahun baruan di Surabaya.""Kamu memangnya tidak takut kalau mobil ini terlalu cepat?" Tanya Jagat sambil menoleh ke arahnya.Ia hanya menggeleng, begitu yakin tak masalah jika Jagat menambah kecepatan pada mobilnya. Fokusnya satu, cepat sampai ke bandara. "Aku percaya sama kamu, Mas. Tambah aja kecepatannya."Jagat menuruti apa mau Sekar. Untungnya jalan ke arah bandara tidak terlalu macet sehingga tidak menghalangi laju mobilnya yang cepat. Namun baru tiga menit pria itu mempercepat laju mobilnya, ia justru sudah memegang hand grip yang ada di bagian atas. Jantungnya berdebar kencang karena mobil berjalan begitu cepat. Ia tak menduga rasanya akan seperti ini.Karena terlalu fokus dengan dirinya sendiri, Se

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 78 (21+)

    "Ahhh..."Sekar hanya bisa pasrah dan mendesah saat satu jari Jagat mulai memasukinya. Tangannya mencengkram erat pinggiran sofa, melampiaskan sensasi yang ada di tubuhnya. Seolah satu jari tak cukup, pria itu kini menambahkan satu jarinya lagi.Namun saat ia sudah hampir sampai di titik lebur, Jagat menarik kedua jarinya keluar. Saat ia menatap pria itu dengan raut kehilangan, justru dibalas dengan senyum miring dan saat ia membuka mulut untuk berbicara, Jagat kembali memasukkan kedua jarinya hingga bukan kata-kata yang keluar dari bibirnya, tapi desahan serta erangannya.Dan Jagat melakukannya berkali-kali hingga Sekar merasa frustasi karena tak kunjung mendapat pelepasan."Kamu kenapa, Sekar? Frustasi, hm?"Ucapan itu membuat Sekar semakin tak nyaman dibuatnya. Tubuhnya kini meminta lebih, tapi Jagat terlihat masih ingin bermain-main dan tak mungkin ia memohon pada pria itu.Tangan Jagat kemudian terulur menyentuh bibirnya, mengusapnya sensual. Ekspresi di wajah pria itu tidak sama

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 77 (18+)

    Sekar memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen, ia lalu menyandarkan punggungnya di kursi kemudi. Matanya terpejam mengingat kembali setiap kata yang keluar dari mulut Dhika. Semuanya jelas di luar dugaannya, ia tak pernah menyangka bahwa pria itu ternyata menyimpan perasaan padanya."Gue udah suka sama lo dari dulu. Sejak kita masih jadi karyawan baru di AYT Tech. Awalnya gue mau kasih tahu lo, tapi ternyata waktu itu lo udah punya pasangan.""Gue nggak tahu harus ngomong apa, Dhik."Sepenggal percakapan terakhir ia dan Dhika tadi di mobil juga tak luput dari ingatannya. Ia tak tahu harus mengatakan apa tentang pengakuan Dhika padanya. Ia bingung bukan karena memiliki perasaan pada pria itu, tapi karena jika ia menolak dengan alasan bahwa sekarang ia sudah memiliki Jagat sebagai tunangannya, jelas Dhika tak akan mundur karena pria itu tahu yang sebenarnya.Namun jika ia secara terang-terangan menolak Dhika karena tak memiliki perasaan apa pun, tentu itu akan sangat menyakiti."K

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 76

    "Tadi waktu makan siang mobil diambil adik laki-laki gue. Kalau boleh gue mau numpang sama lo."Sekar terdiam sejenak. Ia ingat dengan peringatan Jagat, tapi ia juga tak enak pada Dhika. Pria itu dulu selalu membantunya untuk beradaptasi saat pertama kali mereka masuk ke perusahaan ini sebagai management trainee. Di sampingnya kini juga ada Prily yang meski tak melihat ke arahnya dan Dhika, tapi pasti mendengar pembicaraan mereka."Okay.""Makasih ya, Sekar."Sekar hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Tak ada salahnya menolong rekan kerja. Toh dia juga hanya berniat menolong, tidak lebih. Nanti ia akan memberitahu Jagat agar pria itu tak salah paham."Kamu kelihatan akrab banget sama Pak Dhika, Kar." Bisnis Prily saat Sekar sudah mulai fokus dengan pekerjaannya lagi."Banget sih nggak. Mungkin karena kita seangkatan masuk ke perusahaan ini, Pril. Nggak cuma aku sama Dhika aja yang akrab, sama semua yang seangkatan juga kita akrab.""Senang ya, masuknya bareng-bareng jadi banyak teman

  • Pak Jagat! Cintai Aku!   Bab 75

    Jagat langsung mengangkat kepalanya dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana sambil tersenyum ke arahnya."Saya mau kasih kamu kopi. Waktu di apartemen kamu, saya lihat ada bungkus kopi jadi saya kira kamu memang pecinta kopi." Ucapnya sambil mengambil salah satu cup kopi dan diberikan padanya.Sekar tersenyum lebar. Ini hanya kebetulan atau memang mereka punya ikatan batin yang kuat? Sudah seperti telepati saja, saat ia sedang menginginkan kopi lalu tiba-tiba Jagat datang memberikannya padahal ia tak mengatakan apapun pada pria itu."Terima kasih, Pak. Kebetulan saya sedang suntuk dan butuh energi. Kopi ini pasti akan membantu." Jagat hanya tersenyum, namun tangannya terulur untuk menyentuh rambut Sekar dan mengajaknya pelan.Hal itu langsung membuat jantungnya berdebar kencang. Biasanya ia akan langsung marah jika ada yang menyentuh dan mengacak-acak rambutnya, tapi kini ia justru diam terpaku."Sudah dulu, ya. Saya mau langsung ke atas." Ucap Jagat dengan senyuman manisnya.Belum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status