LOGINSekar membeku.
Pria yang ia tumpangi— pria asing itu…. bosnya?
“Saya Jagat Benjamin. Mari bekerja sama dengan baik, ya.” Ujarnya pada semua orang yang menyapanya.
Sekar hanya bisa terdiam, menghubungkan memorinya yang hilang. Mata pria itu kini menatapnya dalam, tatapan yang tak mampu Sekar balas.
Sekarang ia bukan hanya takut digosipkan oleh karyawan di perusahaan ini, tapi juga takut tiba-tiba dipanggil oleh pimpinan perusahaan ini untuk dipecat karena peristiwa salah masuk kamar malam itu.
Sampai siang hari, pemikiran itu tak kunjung hilang dari kepala Sekar. Justru wanita itu semakin was-was, lalu tiba-tiba—
“Kamu saya pecat!”
Sekar merinding sekujur badan. “Ya ampun, lo mikir apa sih, Sekar?” Ucapnya yang setengah frustasi.
Di tengah semua itu, satu pesan dari temannya muncul di ponselnya. Teman yang berbeda divisi dengannya itu mengajak makan siang di kantin perusahaan, tapi Sekar yang sudah kenyang dengan pikirannya sepanjang hari ini terpaksa menolak ajakan itu. Padahal selama ini ia selalu iya-iya saja, hampir tak pernah menolak.
Sekar bahkan tak merasa lapar sama sekali, mungkin rasa laparnya hilang bersamaan dengan fokusnya yang semakin menipis. Bahkan satu laporan pun belum bisa ia selesaikan.
Menghela napas kasar, Sekar beranjak sebentar untuk mengambil kopi di pantry. Di luar ruangan suasana sudah sepi, hampir semua karyawan tengah beristirahat.
Meski begitu tetap masih ada satu dua karyawan yang berlalu lalang dan yang paling menyebalkan adalah ketika mereka menatap Sekar dengan pandangan yang membuat wanita itu tidak nyaman. Ia sudah menduga semua ini akan terjadi.
Wanita itu sempat terlena dengan sikap para karyawan di ruangannya yang tak membahas masalah foto itu, seolah bagi mereka itu hal biasa yang tak perlu dipermasalahkan. Sekar berpikir semua karyawan akan bersikap sama, tapi ia lupa tak semua orang di perusahaan ini mengenalnya sebaik orang-orang yang ada di ruangannya.
Saat Sekar akan menekan tombol lift, lift itu justru terbuka lebih dulu dan membuatnya bertatapan dengan orang yang paling ingin ia hindari.
Ingin melangkah pergi mencari lift lain, tapi rasanya tidak mungkin. Ketara sekali ia sedang menghindar. Maka dengan enggan akhirnya Sekar menaiki lift itu.
“Saya nggak menyangka kita akan bertemu lagi.”
Ucapan itu membuat Sekar yang berdiri di depan pria itu menegang,
“Terima kasih untuk malam itu, Pak. Tapi saya harap Bapak melupakan kejadian itu dan kita pura-pura tidak saling mengenal.”
Sekar berpikir lebih baik ia tak berurusan lagi dengan Jagat, terlebih pria itu sekarang adalah pimpinan perusahaan. Ia tak ingin membuat masalah baru untuk dirinya sendiri.
“Memangnya kita saling mengenal? Saya rasa kita nggak sekenal itu.” Sekar memejamkan mata, merasa malu sendiri.
Bisa-bisanya ia begitu percaya diri mengatakan hal seperti itu pada pimpinan perusahaan. Tak wanita itu sadari bahwa di belakangnya Jagat menahan tawa melihat setiap ekspresi wajahnya yang tercermin di lift.
“Tapi kamu memang tidak sopan, ya? Sudah masuk ke kamar saya dua kali tanpa ijin lalu pergi begitu saja padahal sudah saya tolong.”
Apa lagi ini? Sekar kira pria itu tidak akan mengungkitnya. Tapi memangnya apa yang ia harapkan dari pria asing ini, melupakannya? Seharusnya Sekar tahu itu tidak mungkin, tadi pagi saja pria itu menatapnya dalam seperti menyimpan dendam.
“Maaf karena saya langsung pergi tanpa pamit, Pak. Tapi Bapak nggak bisa melabeli saya dengan kata ‘tidak sopan’ hanya karena satu dua sikap saya yang mungkin mengganggu Bapak. Karena saya rasa kita nggak sekenal itu.”
Sekar membalas ucapan Jagat beberapa saat lalu, seolah rasa takut akan pemecatan yang mengganggunya sepanjang hari tiba-tiba menghilang. Ia tidak peduli dengan statusnya yang hanya sebagai bawahan pria itu,
Sekar hanya tidak suka ada orang yang menilainya dengan satu dua sikap yang sejatinya tidak ia sengaja.
“Seharusnya kamu—”
Ting!
Ucapan Jagat terhenti ketika ketika lift terbuka dan Sekar keluar tanpa pamit.
Jagat keluar dari kamar mandinya dengan rambut yang masih basah. Di tangannya ada handuk kecil yang sedang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya itu. Melirik ke arah jam di dinding, ia baru menyadari ternyata sudah hampir tengah malam, bertepatan dengan malam tahun baru.Tadi sehabis mengantar Sekar ke bandara, ia langsung pulang ke rumah dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Jika saja sepulang kerja ia tak melihat Sekar masuk mobil bersama Dhika, ia pasti sudah pulang ke rumah saat itu juga dan pekerjaannya bisa selesai tak sampai larut malam seperti ini.Namun ia tak menyesali keputusannya untuk mengikuti Sekar.Mengingat wanita itu, ia juga teringat dengan apa yang sudah mereka lakukan. Tiba-tiba pipinya terasa panas saat satu per satu adegan ia dan Sekar muncul di pikirannya. Sentuhan, desahan, erangan, dan sensasi penyatuan mereka kini mulai membayangi dirinya.Tapi Jagat tak terganggu sama sekali. Jikalau bayangan itu terbawa sampai mimpi pun ia rela, sungguh. Karena saat
Meski sudah didorong hingga jatuh ke lantai, Jagat tetap mau saja ketika Sekar memintanya untuk mengantarkan ke bandara. Pria itu bahkan belum sempat mandi karena ia yang terburu-buru."Mas, kecepatan mobilnya ditambah aja. Aku nggak mau ketinggalan pesawat, nanti malah nggak bisa tahun baruan di Surabaya.""Kamu memangnya tidak takut kalau mobil ini terlalu cepat?" Tanya Jagat sambil menoleh ke arahnya.Ia hanya menggeleng, begitu yakin tak masalah jika Jagat menambah kecepatan pada mobilnya. Fokusnya satu, cepat sampai ke bandara. "Aku percaya sama kamu, Mas. Tambah aja kecepatannya."Jagat menuruti apa mau Sekar. Untungnya jalan ke arah bandara tidak terlalu macet sehingga tidak menghalangi laju mobilnya yang cepat. Namun baru tiga menit pria itu mempercepat laju mobilnya, ia justru sudah memegang hand grip yang ada di bagian atas. Jantungnya berdebar kencang karena mobil berjalan begitu cepat. Ia tak menduga rasanya akan seperti ini.Karena terlalu fokus dengan dirinya sendiri, Se
"Ahhh..."Sekar hanya bisa pasrah dan mendesah saat satu jari Jagat mulai memasukinya. Tangannya mencengkram erat pinggiran sofa, melampiaskan sensasi yang ada di tubuhnya. Seolah satu jari tak cukup, pria itu kini menambahkan satu jarinya lagi.Namun saat ia sudah hampir sampai di titik lebur, Jagat menarik kedua jarinya keluar. Saat ia menatap pria itu dengan raut kehilangan, justru dibalas dengan senyum miring dan saat ia membuka mulut untuk berbicara, Jagat kembali memasukkan kedua jarinya hingga bukan kata-kata yang keluar dari bibirnya, tapi desahan serta erangannya.Dan Jagat melakukannya berkali-kali hingga Sekar merasa frustasi karena tak kunjung mendapat pelepasan."Kamu kenapa, Sekar? Frustasi, hm?"Ucapan itu membuat Sekar semakin tak nyaman dibuatnya. Tubuhnya kini meminta lebih, tapi Jagat terlihat masih ingin bermain-main dan tak mungkin ia memohon pada pria itu.Tangan Jagat kemudian terulur menyentuh bibirnya, mengusapnya sensual. Ekspresi di wajah pria itu tidak sama
Sekar memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen, ia lalu menyandarkan punggungnya di kursi kemudi. Matanya terpejam mengingat kembali setiap kata yang keluar dari mulut Dhika. Semuanya jelas di luar dugaannya, ia tak pernah menyangka bahwa pria itu ternyata menyimpan perasaan padanya."Gue udah suka sama lo dari dulu. Sejak kita masih jadi karyawan baru di AYT Tech. Awalnya gue mau kasih tahu lo, tapi ternyata waktu itu lo udah punya pasangan.""Gue nggak tahu harus ngomong apa, Dhik."Sepenggal percakapan terakhir ia dan Dhika tadi di mobil juga tak luput dari ingatannya. Ia tak tahu harus mengatakan apa tentang pengakuan Dhika padanya. Ia bingung bukan karena memiliki perasaan pada pria itu, tapi karena jika ia menolak dengan alasan bahwa sekarang ia sudah memiliki Jagat sebagai tunangannya, jelas Dhika tak akan mundur karena pria itu tahu yang sebenarnya.Namun jika ia secara terang-terangan menolak Dhika karena tak memiliki perasaan apa pun, tentu itu akan sangat menyakiti."K
"Tadi waktu makan siang mobil diambil adik laki-laki gue. Kalau boleh gue mau numpang sama lo."Sekar terdiam sejenak. Ia ingat dengan peringatan Jagat, tapi ia juga tak enak pada Dhika. Pria itu dulu selalu membantunya untuk beradaptasi saat pertama kali mereka masuk ke perusahaan ini sebagai management trainee. Di sampingnya kini juga ada Prily yang meski tak melihat ke arahnya dan Dhika, tapi pasti mendengar pembicaraan mereka."Okay.""Makasih ya, Sekar."Sekar hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Tak ada salahnya menolong rekan kerja. Toh dia juga hanya berniat menolong, tidak lebih. Nanti ia akan memberitahu Jagat agar pria itu tak salah paham."Kamu kelihatan akrab banget sama Pak Dhika, Kar." Bisnis Prily saat Sekar sudah mulai fokus dengan pekerjaannya lagi."Banget sih nggak. Mungkin karena kita seangkatan masuk ke perusahaan ini, Pril. Nggak cuma aku sama Dhika aja yang akrab, sama semua yang seangkatan juga kita akrab.""Senang ya, masuknya bareng-bareng jadi banyak teman
Jagat langsung mengangkat kepalanya dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana sambil tersenyum ke arahnya."Saya mau kasih kamu kopi. Waktu di apartemen kamu, saya lihat ada bungkus kopi jadi saya kira kamu memang pecinta kopi." Ucapnya sambil mengambil salah satu cup kopi dan diberikan padanya.Sekar tersenyum lebar. Ini hanya kebetulan atau memang mereka punya ikatan batin yang kuat? Sudah seperti telepati saja, saat ia sedang menginginkan kopi lalu tiba-tiba Jagat datang memberikannya padahal ia tak mengatakan apapun pada pria itu."Terima kasih, Pak. Kebetulan saya sedang suntuk dan butuh energi. Kopi ini pasti akan membantu." Jagat hanya tersenyum, namun tangannya terulur untuk menyentuh rambut Sekar dan mengajaknya pelan.Hal itu langsung membuat jantungnya berdebar kencang. Biasanya ia akan langsung marah jika ada yang menyentuh dan mengacak-acak rambutnya, tapi kini ia justru diam terpaku."Sudah dulu, ya. Saya mau langsung ke atas." Ucap Jagat dengan senyuman manisnya.Belum







