LOGINSore harinya saat jam pulang kerja tiba, Sekar tidak langsung keluar dari ruangannya. Padahal ia termasuk karyawan yang akan pulang saat jam pulang tiba kecuali jika ia harus lembur. Sama seperti saat berangkat pagi tadi, wanita itu lebih memilih untuk menuju area parkir saat tempat itu sudah sepi.
Namun lagi-lagi pilihannya justru mempertemukannya dengan Jagat, karena lift yang ia naiki lagi-lagi ada pria itu di dalamnya. “Kebetulan macam apa ini?” Batinnya terus berbicara setiap kali bertemu dengan si pimpinan baru. Ia sungguh tidak mengerti dari banyaknya kebetulan di dunia ini, kenapa akhir-akhir ini harus selalu mengaitkannya dengan Jagat? Dari mulai malam di hotel, pergantian pimpinan perusahaan, bahkan sampai perkara menaiki lift saja berkaitan dengan pria itu. “Kamu ada lembur?” Tanya Jagat. Pria itu heran dengan Sekar yang baru akan pulang saat perusahaan sudah sangat sepi. “Tidak, Pak. Saya hanya menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya selesai sebelum jam pulang.” Sekar berbohong. Semua pekerjaannya telah selesai sebelum jam pulang tiba, tapi ia sengaja mencari-cari pekerjaan agar bisa pulang terlambat. Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Jagat tidak lagi bertanya dan Sekar pun tidak mencoba bertanya balik pada pria itu. Sampai akhirnya mereka sampai di area parkir dan menuju mobil masing-masing. Sesampainya Sekar di apartemen, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Memejamkan mata, ia rasa tubuhnya dua kali lipat lebih lelah dari biasanya. Lebih dari itu, pikirannya juga lelah karena tidak hanya memikirkan tentang pekerjaan tapi juga cara untuk bisa menghindar dari banyaknya orang. Jagat Benjamin – Pimpinan baru di perusahaannya juga menambah satu dari deretan masalah yang ia pikirkan. Meski sampai sekarang tidak ada bentuk gangguan dari pria itu, tapi tetap saja Sekar tak tenang. Bagaimana kalau akhirnya bukan hanya pemecatan yang pria itu lakukan padanya, tapi juga melakukan hal yang sama seperti yang David lakukan – membuatnya menjadi perbincangan publik. Belum lagi hatinya yang masih terasa sakit karena kembali mengingat perselingkuhan David padanya. Ditambah dengan bagaimana pria itu menjebaknya, sungguh sampai sekarang Sekar tak percaya David akan sebegitu tega padanya. Sekar kemudian mengambil ponsel di tasnya. Wanita itu akan menghubungi David, meminta mantan kekasihnya itu untuk menghapus foto dan memberikan pernyataan bahwa semua itu hanyalah kebohongan. Ia tidak akan menuntut apa pun asalkan pria itu mengembalikan nama baiknya. Namun berulang kali ia coba menelpon, nomor David tidak juga tersambung. Maka Sekar alihkan dengan mengirimi pria itu pesan, tapi hanya berakhir dengan centang satu. Berarti… Ia diblokir….. kan? Pusing karena tak kunjung menemukan solusi, Sekar akhirnya menangis keras. Sekuat-kuatnya ia menahan semuanya, tetap saja ia hanya wanita biasa. Perasaannya yang rapuh saat ini, tidak bisa menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi. Wanita itu seolah tak peduli jika tetangga apartemennya mendengar suaranya yang keras sore hari begini. Dia hanya ingin meluapkan amarah. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Kenapa David menyakitinya sampai seperti ini? Kenapa dan kenapa selalu menjadi pertanyaan Sekar yang tak memiliki jawaban, seolah ia harus menanggung akibat dari semua hal yang tak pernah ia lakukan. Sekar merasa saat ini dirinya sudah tidak bisa berpikir apa pun. Air mata yang tak kunjung berhenti dan perasaannya yang campur aduk membuatnya lelah. Tapi ia justru kesulitan untuk tidur di malam hari. Entah jam berapa ia akhirnya bisa memejamkan mata, tapi yang pasti Sekar bangun saat mendengar suara alarm yang begitu keras. ** “Terima kasih ya, Pak.” Sekar menyerahkan sejumlah uang dan helm milik ojek online yang telah mengantarkannya ke perusahaan. Hari ini Sekar tak mengendarai mobil untuk berangkat kerja. Ia malas jika harus berperang dengan kemacetan di jalanan ibu kota, terlebih saat ia sadar telah bangun terlalu siang. Bisa-bisa ia akan lebih terlambat sampai ke perusahaan jika tetap memaksa menggunakan mobil. Memang ia berencana masuk kerja di jam-jam akhir, tapi tidak terlambat ini juga. Dengan terburu-buru Sekar melangkah masuk ke gedung perusahaan. Tadi sebelum berangkat dari apartemen, ia sempat membaca pengumuman di grup divisinya kalau ada rapat mendadak yang akan dilakukan hari ini. Jagat Benjamin ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan dan akan ikut bergabung nanti. Masalahnya Sekar belum sama sekali menyiapkan dokumen apa pun untuk dipresentasikan nanti. Jika saja ini hanya rapat biasa, ia akan tenang-tenang saja. Orang-orang di divisinya akan saling membantu jika ada kekurangan dan dapat saling mengerti, apalagi yang mereka urus itu masalah angka dan uang yang jumlahnya tak sedikit. Satu orang kena masalah, orang lain juga akan kena imbasnya. Pada akhirnya rapat itu tetap berjalan sesuai perintah pria itu dan sialnya Sekar kembali dibuat tak tenang. Salahnya juga yang tak teliti mengetik angka sehingga membuat laporannya tidak balance dan akhirnya dicerca habis-habisan oleh Jagat. “Kamu itu bagaimana?, bisa-bisanya angka lima kamu ketik jadi angka enam? Kamu kan tahu dalam laporan keuangan tidak boleh ada kesalahan, satu saja angka berbeda bisa merubah semuanya. Kamu mau perusahaan ini rugi atau memang sengaja mau memanipulasi data?” “Bukan, Pak. Saya memang salah karena tidak teliti, tapi saya benar-benar tak ada niat untuk melakukan hal yang akan merugikan perusahaan. Saya minta maaf, Pak. Lain kali saya akan lebih berhati-hati.” Sekar berusaha membela diri dari tuduhan Jagat. Ia memang melakukan kesalahan input, tapi ia juga tak seberani itu untuk melakukan tindak kriminal di dalam perusahaan. “Jangan ceroboh lagi. Kamu tuh bekerja.” Seketika semua orang yang ada di ruangan itu yang tadinya diam menunduk, kini mendongak memusatkan perhatian pada apa yang baru saja Jagat katakan. Beberapa dari mereka juga melihat ke arah Sekar seolah penasaran apa maksud dari kata ‘lagi’ yang diucapkan pimpinan mereka. Sekar tentu tahu apa yang dimaksud Jagat. Tapi sepertinya jagat juga sadar telah salah bicara, karena beberapa saat setelahnya pria itu berdehem. “Saya tidak mau ada kesalahan seperti ini lagi. Bukan hanya untuk kamu tapi untuk semua karyawan di divisi ini. Kalian mengerti?” “Iya, Pak. Kami mengerti.” Tak berselang lama, rapat itu akhirnya berakhir. Jagat keluar dari ruangan rapat dan diikuti oleh semua karyawan, termasuk Sekar yang berjalan keluar paling belakang. “Kayaknya dia dendam banget gara-gara masalah malam itu. Pasti kesalahan angka tadi cuma api pematik biar dia bisa marah-marah sama gue.” Ucapnya sambil memperhatikan punggung Jagat yang semakin menjauh dari pandangannya. Sore harinya hujan turun begitu lebat mengguyur kota. Sekar yang tadinya senang akan bisa pulang tepat waktu karena tidak harus mengambil mobil di area parkir justru sekarang terjebak di halte depan perusahaan. Berulang kali ia memesan taxi online, tapi tak kunjung ia dapatkan. Memang jika hujan lebat seperti ini akan susah sekali mendapatkan transportasi online, karena pasti jalanan juga macet. Padahal saat ini Sekar sudah kedinginan karena sebagian pakaiannya basah terkena air hujan yang terbawa angin. Namun tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depannya, sang pemilik menurunkan kaca dan langsung menatap ke arah Sekar. “Masuk!” Sekar masih diam berdiri, ia terkejut dengan kedatangan Jagat di depannya dan memintanya untuk masuk ke mobil pria itu. “Cepat masuk ke mobil saya! Besok kamu harus menyerahkan laporan keuangan yang benar, saya nggak mau kamu tidak berangkat karena sakit. Atau mau saya pecat saja?” Tanpa menjawab pertanyaan Jagat, Sekar langsung melangkah masuk ke mobil pria itu. Ia tidak mau menjadi pengangguran dadakan saat dirinya sendiri masih pusing memikirkan masalahnya yang viral itu. “Terima kasih, Pak.” Ucapnya sesaat setelah memasuki mobil Jagat. Saat mobil kembali akan dilajukan pria itu bertanya pada Sekar. “Saya harus mengantar kamu ke mana?” “Ke Apartemen Bougenville, Pak.” Setelah mengatakan itu, Sekar melirik ke arah Jagat. Bertanya-tanya apakah pria itu tahu apartemen tempatnya tinggal, pasalnya apartemen itu bukan termasuk apartemen mewah di kota ini. Tapi melihat Jagat yang diam saja dan tetap melajukan mobilnya, Sekar rasa ia tak perlu menjelaskan dimana detailnya. Perjalanan itu hanya diisi oleh keheningan di antara mereka, Jagat yang fokus dengan kemudinya dan Sekar yang lebih memilih memandangi jalanan melalui kaca Jendela. Hingga... “Saya tahu kamu sedang menjadi bahan gosip karena peristiwa malam itu.” Belum sempat Sekar mengutarakan rasa penasarannya, Jagat kembali mengatakan hal yang tak kalah mengejutkan untuk Sekar. “Jadilah tunangan pura-pura saya. Saya perlu perempuan untuk menutup urusan keluarga, dan kamu perlu cara cepat menghentikan gosip itu.”Suara panggilan yang bergitu keras itu sangat mengagetkan istrinya dan Rachel, bahkan seluruh penghuni rumah ini karena asisten rumah tangga yang ada di rumahnya sampai ikut menghampiri ke ruang tamu."Papa apa-apaan sih?" Suara istrinya terdengar lebih dulu, wajahnya menyiratkan keheranan yang begitu ketara. Sedangkan Rachel masih terdiam. Ia yakin anak perempuan itu begitu terkejut karena ia memang tak pernah sekalipun membentak atau bersuar keras kepada Rachel."Apa kamu tahu, Ma kalau anak kesayangan kita ini punya otak kriminal?" Tanya Pak Januar dengan penuh kemarahan. Namun pertanyaan itu jelas terdengar seperti tuduhan bagi istrinya."Papa sadar dengan apa yang Papa ucapkan itu? Rachel itu anak kita, Pa. Tega sekali Papa menuduh anak kita seperti itu."Rachel yang sedari tadi terdiam mencoba membuka mulutnya, namun Pak Januar lebih dulu bergerak membuka ponselnya dan memutar rekaman suara yang ia dapatkan dari orang suruhannya."Kalau Jagat nggak bisa jad
"Kamu sedang apa? Tolong kamu kirimi nomor rekening yang kamu pakai di Singapura, saya mau transfer buat makan siang kamu." Satu pesan dari Jagat siang ini membuat Sekar tersenyum tak jelas. Setelah pertemuan mereka di Bogor minggu lalu, ia memang telah membuka blokir untuk Jagat. Ia akhirnya luluh juga setelah malam itu Jagat terus membujuknya agar ia mau membuka komunikasi lagi dengan pria itu. Jagat menjelaskan segala yang terjadi setelah kandasnya hubungan mereka setengah tahun lalu. Bagaimana pria itu hanya fokus pada pekerjaannya dan mencari banyak investor untuk mau menanamkan modal pada perusahaannya. Setelah stabil, Jagat cepat-cepat mengundurkan diri dari AYT Tech. Pria itu juga bercerita tentang Bu Dian yang telah berubah sejak Jagat resmi mengundurkan diri dari AYT Tech. Sang Mama tak lagi memaksanya untuk mau menerima perjodohan dengan Rachel dan menikahi wanita itu. Akhirnya Sekar pun menceritakan bahwa Bu Dian juga menghubungi Mamanya untuk meminta maaf tentang ancam
Devan berlutut di hadapan Sisil dengan cincin berlian yang begitu indah setelah wanita pujaannya itu menerima buket bunga darinya. "Maaf karena udah bikin kamu kesal, maaf karena udah bohongi kamu. Semua aku lakukan biar semua rencana ini berhasil. I really love you, Sil. You're the only one for me now and forever. Will you marry me?"Sisil masih berdiri di depan Devan, matanya berkaca-kaca tak menyangka bahwa kekasihnya ini sedang melamarnya. Karena sejujurnya dari awal memiliki hubungan dengan Devan, ia tak terlalu berharap untuk bisa berlanjut sampai ke jenjang serius meskipun pria itu berulang kali selalu mengatakan ingin menikahinya. Makanya setiap orang yang bertanya tentang hubungannya akan selalu ia jawab "Doakan saja."Sisil tak mau sesumbar mengatakan bahwa ia akan dinikahi oleh seorang Devan, terlebih dengan track record pria itu yang sebelum dengannya selalu mudah berganti pasangan. Kata kedua orang tua dan kakak Devan, ia adalah wanita pertama dengan durasi terlama yang d
Satu minggu telah berlalu sejak curhatan Sisil pada Sekar malam itu dan kini mereka sudah berada di puncak Bogor untuk merealisasikan liburan yang tadinya direncakan oleh Sisil dan Devan."Sumpah gue masih sebel banget sama Devan. Rasa keselnya masih ada sampai sekarang. Gue udah mencoba pengertian tapi ternyata gue nggak bisa. Nggak ikhlas banget karena ini rencana udah dari berbulan-bulan lalu." Ucap Sisil dengan wajah yang bersungut-sungut."Gue paham kok perasaan lo, Sil. Tapi coba deh ambil sisi positifnya - kesempatan kita bisa ngumpul kek gini." Sebenarnya dalam hati Sekar tertawa terlebih saat melihat ekspresi di wajah Sisil. Namun tetap ia harus bersikap biasa saja agar semua yang Devan rencanakan berhasil.Ah... tapi ada hal yang sampai saat ini masih membuat Sekar kesal, bukan pada Sisil atau Devan, melainkan pada Jagat karena sepertinya pria itu berbohong padanya.Ia masih ingat betul saat pertemuan mereka, Jagat bilang Devan meminta tolong untuk menyampaikan padanya tenta
Sekar duduk di sofa panjang tepat di samping Mamanya. Televisi di depannya masih menyala karena setelah beberapa saat sang Mama masih fokus menonton acara yang sedang ditayangkan dan ia lebih memilih diam menunggu Mamanya berbicara terlebih dahulu."Mama tahu kamu pulang dengan Jagat dan malam ini bukan untuk yang pertama kalinya. Benar kan?"Sekar tercekat. Selama ini ia berusaha menutupi pertemuannya dengan mantan kekasihnya itu dari sang Mama, namun ternyata Mamanya malah sudah tahu.Meski Mamanya tak pernah bertanya atau berusaha ingin tahu tentang kehidupan pribadinya, namun ia tetap merasa telah mengkhianati sang Mama karena menyembunyikan pertemuannya dengan Jagat.Bukan tanpa alasan ia merasa seperti itu. Semua karena ia teringat bagaimana Bu Dian pernah mengancamnya dan mengancam sang Mama demi bisa memisahkan dirinya dengan Jagat. Dan kini dengan bertemunya ia dan Jagat kembali seolah membuka ingatan dan luka yang terjadi saat itu."Ma, Sekar bisa jelasin. Ini nggak seperti
Sekar tak menjawab jalimat yang beberapa saat lalu keluar dari mulut Jagat. Meski sedari tadi ia berharap pria itu mengajaknya jalan, nyatanya kalimat rindu dari Jagat tetap terasa menyakitkan untuknya karena ia kenyataan tentang hubungan mereka yang tidak direstui oleh Bu Dian kembali berputar di pikirannya.Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Bu Dian mengancamnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Jagat. Ia juga masih ingat saat Arjuna memberitahunya bahwa Mamanya juga diancam oleh Bu Dian.Rasanya sulit untuk ia dan Jagat kembali bersama jika tak ada restu dari ibu pria itu. Ia juga tak mungkin rela membuat keluarganya terluka atau celaka hanya karena keegoisan cintanya untuk Jagat."Saya pamit pulang, Pak. Terima kasih atas minumannya." Setelah beberapa saat hanya berdiri diam di tempatnya, akhirnya Sekar memilih berpamitan tanpa menanggapi ucapan Jagat."Saya antar." Ucap Jagat begitu saja.Sekar akhirnya menoleh untuk mengatakan bahwa ia bisa pulang sendiri, tapi ucapannya te
Sekar masih terdiam di tempatnya. Wanita itu tak menyangka akan di lamar oleh Jagat di restoran mewah dengan dekorasi yang super romantis. Untuk sesaat otaknya tak bisa berpikir, terlebih saat pria itu memasangkan cincin di jari manisnya. Sampai_"Permisi, Pak. Ini hasil fotonya.""Hah?"Seketika s
Sekar memandangi pesan itu tanpa berniat untuk membalas. Ia tahu siapa pemilik nomor yang tak ia simpan itu - David. Ia masih hafal nomornya.Setelah Sekar tahu nomornya diblokir oleh David, ia juga menghapus nomor pria itu di kontak ponselnya, termasuk menghapus semua pesan-pesan di antara mereka.
"Kamu mau tahu siapa dia?"Mendengar pertanyaan itu, jantung Sekar berdegup kencang. Ia penasaran, tapi juga ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Tapi bukankah lebih baik ia tahu sekarang dari mulut Jagat sendiri? Daripada tahu nanti saat harapan di hatinya sudah terlanjur besar."Kalau memang
Sekar membeku. Untuk sesaat ia terpaku seolah tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang, Jagat berpelukan dengan Rachel yang kata pria itu hanyalah wanita dari masa lalunya.Dengan tangan gemetar, ia memegang kemudi dan memundurkan mobilnya lalu berbalik melaju menjauhi rumah Jagat. Hati







