Masuk“Kalau saja masih ada sedikit harapan dari pihak Harrison, aku nggak mungkin mempertimbangkan persoalan kembali ke Grup Dominion.”Kalimat itu terus berputar di kepala Jeffry seperti gema yang mengganggu.Setiap kali terulang, wajah Jeffry menjadi semakin dingin.Mata tajamnya menatap Shelly yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.Di sisi lain, Saryna juga setuju dengan ucapan Shelly.Setelah mengeluh panjang lebar, dia kembali mengingatkan Shelly agar berhati-hati kalau kembali bekerja di Grup Dominion.Shelly hanya mendengarkan dengan hati yang rumit.Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan anak dari ujung lain telepon.Barulah Shelly membuka suara lagi. “Sudahlah, kamu urus anakmu dulu.”Telepon ditutup.Shelly memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu berbalik hendak pergi.Namun tiba-tiba, punggungnya terasa dingin.Tatapannya tanpa sadar mengarah ke satu sisi.Detik berikutnya, dia langsung bertemu dengan pandangan mata Jeffry yang tajam dan membakar.Tenggorokan She
Setelah berbincang singkat, Shelly meninggalkan kamar rawat.Karena lift penuh sesak, dia memilih turun lewat tangga sampai ke lantai satu.Namun baru berjalan sampai tengah lobi, dia langsung melihat Jeffry mendorong kursi roda Elora keluar dari lift.Kaki Elora masih dibalut gips. Dia mengenakan gaun putih dengan selimut merah muda menutupi kakinya.Pria di belakang memakai setelan hitam pekat. Seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin yang membuat orang enggan mendekat.Para pengawal membuka jalan di tengah lobi yang penuh sesak.Sialnya, Shelly berdiri tepat di ujung jalur itu.Begitu sadar, dia buru-buru ingin pergi.Sayangnya, waktu sudah terlambat.“Shelly.”Elora lebih dulu memanggilnya dengan suara lembut.Langkah Shelly berhenti.Dia menoleh, lalu menyapa dengan sopan, “Pak Jeffry. Nona Elora.”“Kak Jeffry, ayo kita ke sana.” Elora menarik pelan tangan Jeffry.Jeffry hanya menjawab singkat, “Hm.” Lalu mendorong kursi roda mendekati Shelly.Elora mendongak dan menatap Shelly. “
Keesokan harinya, Shelly menerima telepon dari Bibi Yanti.Rumah sakit meminta pembayaran biaya pengobatan awal sebesar 400 juta.Shelly segera pergi ke bank untuk mencairkan deposito miliknya, lalu mentransfer uang itu ke rekening Bibi Yanti.Karena jatah cutinya masih tersisa dua hari dan dia belum tahu harus bagaimana kembali ke kantor, dia pun memutuskan pergi lagi ke rumah sakit untuk melihat Jessica.Satu jam kemudian, Shelly membawa sekeranjang buah sambil mendorong pintu kamar rawat.Ibu dan ayah Kevin sedang duduk di ranjang pasien.Saat melihat Shelly datang, mereka tersenyum saling menyapa.Shelly melewati ranjang mereka, lalu berjalan beberapa langkah ke depan.Begitu melihat sosok yang berdiri di samping Jessica, langkahnya langsung terhenti.“Lyly?” Bibi Yanti tampak panik sejenak, lalu buru-buru turun dari ranjang. “Bukannya sudah kubilang nggak usah datang lagi?”Shelly berjalan mendekat dan meletakkan buah di meja. “Aku masih punya dua hari cuti, jadi aku datang lihat
“Begitu aku mendapatkan kesempatan, aku pasti akan membuat Shelly meminta maaf padamu di depan semua orang. Mau atau nggak, dia tetap harus memikul beban kesalahan ini!”Masalah ini memang harus memiliki kambing hitam.Keberadaan Livia justru akan membuat semua orang tahu bahwa Elora sendiri yang bodoh karena sudah salah percaya orang.Pada akhirnya, itu tetap akan mempermalukan Elora.Hanya dengan mendorong semua kesalahan kepada Shelly, Elora bisa tetap menjadi korban dan mempertahankan harga dirinya.Elora tampak sedikit khawatir. “Bagaimana kalau Keluarga Anderson tahu soal ini ….”“Sekalipun mereka tahu, Tante Melly tetap akan memihakmu.”Marina menepuk tangan Elora berkali-kali. “Kamu ini calon menantu favoritnya. Dia bahkan saking sakit hatinya melihatmu terluka.”Wajah Elora langsung dipenuhi kegembiraan samar. “Asal Shelly bisa disingkirkan, sebesar apa pun penderitaan yang harus kutanggung, semuanya tetap sepadan.”Saat keduanya asyik membicarakan hal-hal yang tidak pantas di
“Pak Harrison.” Tatapan kosong di mata Shelly perlahan menghilang dan kembali jernih.Namun, Harrison tetap bisa langsung melihat kalau dia sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa? Kamu masih pusing dengan urusan Elora?”Shelly tersenyum tipis sambil menggeleng. “Nggak.”Sikap sopan dan dinginnya tentu tidak mungkin luput dari perhatian Harrison.“Aku sudah menyelidiki semuanya. Orang yang berulah memang wanita bernama Livia itu. Dia main curang dan mengambil keuntungan diam-diam sampai menyinggung orang lain. Ujung-ujungnya, Elora yang kena imbas. Livia memang orangnya Elora, jadi Elora pantas menanggungnya.”Jadi, jatuhnya Elora waktu itu bukan kecelakaan?Shelly langsung tercengang. Begitu mendengar nama Livia, rasa terkejutnya makin besar.“Aku juga sudah memperingatkan Elora. Dia nggak akan mencari masalah denganmu lagi.”Harrison merasa Elora pasti takut reputasi rusak sehingga pasti akan mendengarkan ancamannya.“Kamu menemui Elora?”“Tentu saja.” Harrison menepuk dadanya sendiri. “
“Meskipun dia nggak punya keluarga sedarah, kemungkinan cocok dengan donor lain tetap cukup besar. Nggak akan apa-apa.”Shelly akhirnya membuka suara.Saryna yang sedang jongkok sambil bersandar di dinding itu mengangkat kepala untuk menatap Shelly. “Masalahnya ada pada uang. Perkiraan paling minim sebesar 1,2 miliar. Kalau uang kita habis untuk ini, bagaimana mungkin kita masih bisa pergi dari Tavira?”Ucapan itu membuat jantung Shelly langsung menegang.Firasat buruk yang beberapa hari terakhir terus menghantuinya kini membesar sampai puncaknya.Kalau tidak punya uang, bagaimana mereka bisa pergi? Bagaimana dia bisa mengundurkan diri?Bibir Shelly bergetar. Dia menunduk menatap Saryna.Kerutan di dahinya semakin dalam hingga wajahnya tampak rapuh.Keduanya saling diam.Waktu berlalu sedetik demi sedetik, hati Shelly tenggelam sedikit demi sedikit.Beberapa saat kemudian, Saryna berdiri dan berjalan mendekati Shelly. “Lyly … kita nggak mungkin abaikan. Kita ….”Dia menggigit bibir. Ti







