LOGINNana jatuh ke tangan Johan, itu sudah cukup membuktikan bahwa Rendy memang bukan tandingan Johan.Shelly nggak bisa tenang.Jeffry mengangguk pelan. "Oke, aku suruh Maxwell tetap di sana. Besok ikuti arahanku.""Baik."Hati Shelly campur aduk. Tanpa sadar, dia melirik Jeffry sekali lagi.Keluarga Gunawan bikin kepalanya pening.Jeffry bikin hatinya kacau balau.Rasa lelah tiba-tiba menyerbu. Shelly membuang semua pikiran itu jauh-jauh, yang ada di kepalanya sekarang hanya Jery. Hidup sederhana yang jadi impian orang kebanyakan, tapi di tangannya malah jadi sesuatu yang begitu sulit diraih.Royal Haven Residence.Begitu mobil berhenti, Shelly langsung mendorong pintu dan turun. Gerakannya begitu cepat sampai Jeffry hampir nggak sempat bereaksi, yang tertangkap matanya hanya bayangan punggung Shelly yang sudah lenyap ke dalam vila.Jeffry melepas sabuk pengaman, meraih ponsel dari konsol tengah, lalu menekan sebuah nomor."Besok, kamu ke rumah Keluarga Gunawan."Dari ujung telepon, suara
Johan memaksakan senyum, pipinya hampir menempel di kaca jendela mobil, seolah masih ada yang ingin dia katakan.Jeffry menginjak gas. Bodi mobil nyaris menyerempet tubuh Johan saat melaju pergi.Johan terhuyung mundur, wajahnya pucat seperti abu. Matanya mengikuti kepergian mereka, dan firasat buruk merayap naik dari dalam dadanya."Kamu biarkan mereka pergi begitu saja?" Agnes melangkah maju, hendak memapah suaminya."Lalu mau apa?" Johan menstabilkan tubuhnya, lalu menepis tangan Agnes. "Jeffry sungguh-sungguh begitu membela dia! Apa yang harus aku lakukan, menyentuh Jeffry?"Kalau hari ini sehelai rambut Jeffry jatuh di rumah ini, seluruh aset Keluarga Gunawan pun tidak akan cukup untuk menebus konsekuensinya."Sekarang kita hanya bisa berharap Jeffry menepati kata-katanya dan nggak mengincar harta Keluarga Gunawan."Agnes berkata demikian, lalu nada suaranya mengeras sedikit, lebih yakin. "Dia seharusnya nggak akan melirik harta kita. Grup Dominion semuanya milik dia."Johan melot
"Kenapa?" Suara Jeffry dingin dan berat. "Takut aku mengincar saham Keluarga Gunawan itu?"Nilai pasar saham keluarga itu memang mencapai ratusan juta, angka yang tidak terbayangkan bagi orang biasa. Tapi bagi Jeffry, itu bukan apa-apa. Aset Keluarga Anderson jauh lebih besar, tidak tertandingi.Johan buru-buru menggeleng. "Tentu bukan begitu maksudku ...."Yang dia khawatirkan adalah kalau Shelly pergi dan tidak kembali, semua saham itu masih ada di tangan Shelly.Jeffry menggandeng Shelly, hendak melanjutkan langkah ke arah pintu keluar.Tapi Shelly justru berhenti. Dia berpaling menatap Johan."Saham Keluarga Gunawan juga bukan sesuatu yang aku minati. Setelah ini, kita kembali jadi orang asing."Selesai bicara, dia berbalik dan mengikuti langkah Jeffry keluar.Langit mulai menggelap. Angin malam berembus tipis, membawa hawa dingin.Malam akhir musim gugur di Kota Sentara memang bisa tiba-tiba menusuk. Begitu keduanya melangkah keluar dari pintu vila, hawa dingin langsung menyergap.
"Tebak." Shelly menolak menjawab pertanyaannya secara langsung.Johan didera rasa jengkel yang memuncak. Yang dia inginkan adalah mengendalikan Shelly. Namun sejak awal, dia bahkan nggak pernah bisa memegang kendali, malahan justru terus disetir oleh wanita itu."Anakmu ... ada di tangan Jeffry, kan?" Agnes melangkah maju dari belakang, menatap lekat-lekat ke arah Shelly. "Atau lebih tepatnya, anak itu memang darah daging Jeffry, kan?"Shelly melangkah santai menuju sofa lalu duduk. Tubuh rampingnya tegak lurus, mengabaikan pasangan suami istri Keluarga Gunawan itu sepenuhnya.Johan dan Agnes saling melempar pandang, bertukar isyarat lewat mata."Mungkin kamu merasa kami memperlakukanmu kurang baik, tapi hubunganmu dengan Jeffry juga nggak lebih baik dari itu. Kalau kamu terpaksa harus memilih antara kami atau Jeffry, menurutku sebaiknya kamu pertimbangkannya dengan matang. Setidaknya, kami nggak akan memisahkanmu dari darah dagingmu sendiri."Agnes melangkah mendekat lalu ikut duduk d
Johan menatap dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah gelap dan penuh ancaman. "Jalan!"Sopir menginjak gas dalam-dalam. Mobil pun melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya.Saryna yang masih mencengkeram jendela mobil tak mau melepaskan genggamannya, tapi gaya inersia menyeretnya sejauh 2 meter, dan akhirnya dia terbanting keras ke aspal."Saryna!"Shelly memaku pandangannya pada kaca spion belakang.Rendy dan Diana berlari menghampiri, membantu Saryna berdiri. Meski kulit di lengannya sudah sobek dan berdarah, Saryna tetap memaksakan diri bangkit dan hendak mengejar."Nggak usah dikejar. Nggak bakal terkejar."Diana menatap luka di lengan Saryna. Wajahnya pucat pasi ketakutan. "Kita cari cara lain untuk selamatkan dia, ya? Tapi, obati lukamu dulu!"Mobil membelok di ujung jalan. Bayangan ketiga orang itu perlahan lenyap dari kaca spion.Hati Shelly serasa diremas hingga mengerut. Dia menggigit rahangnya rapat-rapat, memaksa dirinya tetap tenang, sama sekali tidak boleh men
"Nona, tolong jaga Nyonya sebentar!"Melihat Shelly menyusul, pelayan langsung menghentikan langkahnya dan menghadang jalan. "Itu ibu kandung Anda. Kalau sampai terjadi apa-apa … ah!"Shelly tak bisa melewatinya. Tanpa pikir panjang, dia mengangkat tangan dan menampar keras pipi pelayan itu."Awas!"Pelayan itu sempoyongan, menutup wajah dengan kedua tangan sambil mundur terhuyung.Shelly tak memberinya kesempatan untuk bereaksi. Dia langsung berbalik hendak berlari kembali ke parkiran. Pada saat itulah, dia melihat Maxwell datang sambil menggendong Nana.Sang sopir, dengan satu mata tertutup dan satu kaki yang pincang, mengejar dari belakang.Di sisi lain, Saryna berlari besar-besar menghampiri Maxwell, meraih Nana dari pelukannya."Nana, sayang, ibu sudah di sini. Ini semua salah ibu. Ibu sudah bikin kamu ketakutan begini!"Nana langsung menghambur ke pelukan ibunya. Semua rasa takut dan kesedihan yang tertahan seketika meledak. Dia menangis sampai seluruh wajahnya memerah.Sopir itu
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal







