Mag-log inJeffry tertawa karena saking kesalnya. “Berarti aku harus berterima kasih padamu karena sudah menghentikan niat ibuku.”Herman mengangkat bahu. “Ini memang harus kulakukan. Dulu kalau bukan karena dia mengancamku, aku juga nggak mungkin bantu dia memalsukan semuanya hanya untuk menipumu.”“Aku nyaris lupa.” Senyum Jeffry seketika lenyap. “Kamu sudah jadi dokter selama ini, tapi malah nggak pernah periksa otak sendiri? Kamu sendiri nggak tahu kondisi tubuhmu?”Herman menggaruk kepala. Raut wajahnya canggung. “Waktu itu aku masih muda. Ditambah lagi, aku minder gara-gara ayahku. Semua orang menjauhiku, kecuali kamu yang masih mau membantuku. Aku sendiri nggak bisa membedakan apakah itu rasa terima kasih atau apa.”Wajah Jeffry langsung berubah muram. “Omong kosong. Bagaimana mungkin ada orang yang nggak bisa membedakan rasa terima kasih dan rasa cinta? Hidupmu selama dua puluhan tahun ini sia-sia? Mending mati saja biar nggak bikin aku kena reputasi jelek.”Setelah berkata begitu, dia be
Jantung Elora serasa melompat sampai ke tenggorokan. Dia menatap Herman dengan kerongkongan menegang dan napas yang berantakan.“Dulu Nona Elora terluka parah demi menyelamatkan Jeffry, meninggalkan dampak permanen, dan seumur hidup nggak bisa punya anak. Nggak ada kemungkinan bisa sembuh ...”Herman mengucapkannya kata demi kata, jelas, dan tegas.Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Elora sudah buru-buru memotong, “Kamu bohong! Herman, kamu sengaja? Tubuhku jelas-jelas nggak bermasalah ….”“Maaf, Nona Elora. Memang ada sedikit kelemahanku yang dipegang olehmu, tapi Jeffry adalah sahabat terbaikku. Aku nggak boleh membohonginya. Aku juga nggak setuju dengan caramu yang menekannya supaya dia bertanggung jawab.”Ucapan Herman bagai petir yang meledak di siang bolong, membuat wajah Melly seketika membiru oleh amarah.Dia berdiri, lalu menampar Elora keras-keras.“Kamu mempermainkanku berkali-kali, sekarang masih mau menyuap Herman untuk menipuku? Elora, sejak kecil sampai sekarang,
Kenapa kamu memasukkan tanganmu ke mulutku?Pertanyaan itu memang terdengar tidak sopan, tapi kalau tangan Jeffry tidak mendekat, bagaimana mungkin dia bisa menggigitnya?Di dalam mimpi tadi, dia benar-benar menggigit sekuat tenaga. Kalau saja giginya sedikit lebih tajam, jari Jeffry mungkin sudah tidak selamat.Jeffry turun dari ranjang, lalu berjalan ke kamar mandi.“Kamu mau pergi ke mana?” Shelly ikut turun, berniat mengambil kotak obat untuk merawat lukanya.“Cuci pakai sabun,” kata Jeffry.Gerakan Shelly yang hendak mengambil kotak obat langsung terhenti.Seharusnya tadi dia menggigitnya lebih kuat lagi.Setengah jam kemudian, Shelly turun ke bawah bersama Jery.“Shelly, coba kamu lihat. Ini Saryna, ‘kan?”Kak Ratih datang sambil memegang ponsel. “Ternyata dia putri Keluarga Gunawan yang hilang. Benar-benar beruntung sekali.”Judul halaman depan Koran Pagi Kota Sentara memberitakan bahwa besok Rendy akan mengadakan jamuan untuk memperkenalkan putrinya kepada semua orang.Di foto
Pasti dia Cuma pikir terlalu jauh.Ujung telinga Shelly memang memerah, tetapi dalam hatinya terus meyakinkan diri bahwa pasti dirinya yang berpikir terlalu jauh.“Nggak boleh, nggak pantas.”Dia menarik seprai, memberi isyarat agar Jeffry turun dari ranjangnya, menjauh dari Jery.Namun, Jeffry tetap berbaring di sana, tidak bergerak sedikit pun. “Kenapa nggak pantas?”Secara hukum, mereka suami istri yang sah. Apa yang tidak pantas?“Shelly, kamu seharusnya paham aku.”Paham seberapa kuat staminanya, paham kemampuannya bertarung 800 ronde semalaman.Paham juga bahwa dalam hal seperti ini, kebutuhannya memang selalu besar.Baru belakangan Shelly sadar, rujuk rupanya tidak sesederhana yang dibayangkannya.Hari itu terjadi terlalu banyak hal. Dalam keadaan panik, dia sama sekali tidak memikirkan bahwa setelah rujuk, artinya mereka kembali menjadi suami istri yang sah.Dia pun lupa menetapkan dengan jelas batas kewajiban suami istri.Setelah bersama Jeffry selama bertahun-tahun, dia terla
Sambil berkata begitu, Kak Ratih pergi ke ruang makan mengambil ponsel Shelly, lalu menyelipkannya ke tangan Shelly.“Telepon sendiri.”Setelah itu Kak Ratih berbalik masuk ke dapur dan kembali sibuk.Layar ponsel yang gelap memantulkan raut wajah Shelly yang rumit.Setelah lama terdiam, dia menarik napas dalam-dalam lalu berjalan ke balkon.Shelly menelepon Saryna. Belum sampai dua kali berdering, panggilannya sudah diangkat.“Siapa ini?” Suara yang terdengar dari seberang bukan suara Saryna, melainkan seorang anak laki-laki.“Aku mau bicara dengan Saryna.”Di seberang sana hening beberapa detik, lalu terdengar suara anak itu yang tidak senang. “Aku tahu kamu. Kamu satu-satunya teman kakakku, tapi ayah dan ibuku nggak mengizinkan kakakku main sama kamu.”Untuk sesaat Shelly tidak tahu harus mengatakan apa.“Kakakku nggak bakal main sama kamu. Mulai sekarang jangan telepon dia lagi.”Setelah melontarkan kalimat itu, anak laki-laki itu langsung menutup telepon.“Eh ….” Shelly belum semp
Dibanding kabar Rendy menemukan putrinya, media jauh lebih tertarik pada satu hal. Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini, orang yang memanipulasi dari balik layar hingga membuat Rendy terpisah dari darah dagingnya sendiri selama lebih dari dua puluh tahun.Berita datang bertubi-tubi dari segala arah. Di antara begitu banyak spekulasi, terang-terangan maupun tersirat, semuanya mengarah pada Johan.“Coba tebak, langkah Johan berikutnya apa?”Ujung jari Jeffry mengetuk pelan tepi meja, sekali demi sekali.Shelly meletakkan koran pagi di tangannya. Setelah terdiam sejenak, dia berkata, “Menjadikan dirinya juga sebagai korban. Bilang kalau dia juga pernah kehilangan seorang putri.”“Begitu berita seperti itu menyebar, langkah berikutnya Johan pasti membawa banyak orang ikut mencari putrinya, lalu menemukanmu di depan semua mata.”Alis Jeffry sedikit terangkat. “Nanti, apa rencanamu?”Saryna lebih dulu mengakui hubungan keluarga dengan Rendy. Sebanyak apa pun, tetap akan ada banyak oran
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb







