LOGINShelly menasihatinya, “Kalau sudah menemukan pengasuh anak yang cocok, aku akan meluangkan satu hari untuk menemanimu jalan-jalan dan menyegarkan pikiran.”Begitu mendengar itu, Saryna langsung kembali bersemangat. “Aku dengar kantor pusat Mal Bonava ada di Kota Sentara. Nanti kita jalan-jalan ke sana, ya?”“Baik.”Hanya dengan beberapa kalimat penghiburan dari Shelly, semangat Saryna kembali membara. Dia langsung antusias membicarakan rencana jalan-jalan.Setengah jam kemudian, mereka tiba di Pusat Perawatan Pascapersalinan Waver.Shelly turun dari mobil, mengunci mobilnya, lalu bersama Saryna mendorong kereta bayi Nana masuk ke dalam.Petugas resepsionis mengenakan seragam kerja katun berwarna ungu, menyambut mereka dengan senyum ramah.Setelah menghampiri mereka, petugas berjongkok di samping Nana. Sambil mengajak si kecil bermain, dia bertanya kepada mereka, “Keduanya datang untuk melihat-lihat pusat perawatan pascapersalinan atau memilih pengasuh bayi?”“Melihat ….”“Memilih penga
Herman membuka pintu. Saat melihat orang yang datang adalah Jeffry, wajahnya menunjukkan keterkejutan, tetapi juga seolah merasa lega.“Aku sudah tahu, cepat atau lambat kamu pasti akan menemukan tempat ini.”Pintu baru terbuka sedikit celah. Jeffry langsung menendangnya hingga terbuka lebar.Herman mundur memberi jalan, melihat Jeffry masuk dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.Rumah kontrakan dua kamar itu sangat sempit. Dengan dua pria bertubuh tinggi berdiri di dalamnya, ruangan terasa semakin sesak.Jeffry berdiri di tengah ruangan, berbalik menatap Herman.“Kalau jujur, hukumannya bisa lebih ringan. Kalau nggak, akibatnya akan sangat berat. Herman, aku hanya memberimu satu kesempatan.”Herman tahu Elora tidak akan berani benar-benar menghancurkan segalanya.Namun, Jeffry adalah orang yang sangat cerdas.Kalau dia sudah menemukan tempat ini dan mengucapkan kata-kata tadi, artinya dia sudah menyadari sesuatu.“Aku nggak punya apa pun untuk dijelaskan.”Namun, Herman
Elora menggigit bibirnya erat. Kepanikan di hatinya perlahan berubah menjadi kesedihan.“Belum tentu hasilnya buruk.” Nada suara Jeffry tetap tenang.“Kalau … kalau hasilnya baik-baik saja, apakah pernikahan kita akan tetap dilanjutkan?”Elora refleks bertanya.Begitu pertanyaan itu keluar, dia melihat tatapan Jeffry berubah menjadi penuh selidik.“Aku hanya berusaha berpikir positif. Aku takut akan muncul berita yang membuatmu kesulitan lagi.” Elora buru-buru menjelaskan.Jeffry berdiri tegak. Wajah tampannya yang tegas disinari cahaya matahari pagi. Tatapannya yang dingin memancarkan hawa sejuk yang sulit didekati.Dia tidak menjawab pertanyaan Elora. Keheningan ini membuat hati Elora perlahan tenggelam.Saat Elora hendak mengatakan sesuatu lagi, Maxwell bergegas kembali.“Pak Jeffry, dokter sudah siap. Nona Elora bisa masuk sekarang.”Elora menelan ludah, refleks menoleh ke belakang.Hari ini, seluruh lantai rumah sakit telah dikosongkan khusus untuk pemeriksaannya.Di ujung lorong
Di balik niat menyatukan sebuah pasangan selalu ada alasan lain yang tersembunyi.Shelly menarik sudut bibirnya tipis. “Situasi di Kota Sentara memang rumit. Pak Jeffry sampai rela menemui Pak Hartono karena takut terjadi sesuatu padaku.”Selain itu, Shelly juga merasa Jeffry mungkin masih ingin menebus kesalahannya.Meski menurutnya pernikahan yang sudah berakhir itu tidak lagi membutuhkan penebusan apa pun.“Benarkah begitu?” Kevin tidak pernah bertanya seperti apa sebenarnya hubungan Shelly dan Jeffry.Dia tahu batas. Hubungan mereka belum sedekat itu.Namun, kali ini dia tetap tidak bisa menahan diri. “Pak Jeffry bukan orang yang mudah dibohongi. Kalau suatu hari nanti beliau tahu semuanya, apa kamu sudah memikirkan akibatnya?”Shelly belum pernah memikirkannya.Namun, ada beberapa hal yang meski tidak dipikirkan lebih dalam, dia sudah bisa menebak bagaimana akhirnya.Justru karena tahu, dia tidak berani memikirkannya.Dia memang berjanji kepada Kevin akan segera menyelesaikan masa
Hartono tetap berdiri di samping kursi Jeffry dengan tubuh sedikit membungkuk.“Aku mau Kevin.” Jeffry langsung menyebut nama itu dengan nada datar.Ekspresi Hartono seketika berubah.Wajahnya berganti pucat lalu memerah berkali-kali. Setelah terdiam cukup lama, dia bertanya dengan hati-hati, “U … untuk … Bu Shelly?”Jeffry mengangkat sedikit alisnya. Jawabannya sudah sangat jelas.Kemampuan Kevin memang cukup baik. Namun, dia jelas belum sampai pada tingkat yang membuat Jeffry rela datang sendiri demi merekrutnya.“Pak Jeffry, menurut saya … beberapa hal sebaiknya dibiarkan mengalir apa adanya. Urusan mereka berdua … sepertinya kita nggak perlu ikut campur.”Keringat dingin membasahi punggung Hartono.Namun, dia tetap memberanikan diri menyampaikan penolakan secara halus.Jeffry langsung menangkap maksud tersembunyi dari ucapannya. “Setahuku, Weik Company sudah membuka proyek di Kota Sentara. Aku kira Pak Hartono akan memindahkan Kevin ke sana.”“Saya sudah pernah menanyakan pendapat
Kalau dihitung-hitung, Shelly baru pergi ke Kota Sentara selama satu minggu.Cuma tujuh hari, tapi rasanya seolah mereka sudah terpisah selama setengah abad.Layar yang memisahkan mereka membuat Jeffry merasa seakan-akan mereka hidup di dua dunia yang berbeda.Jakunnya bergerak pelan. Dia berkata dengan suara berat, “Aku tiba-tiba menyesal karena sudah membiarkanmu pergi ke Kota Sentara.”Bibir Shelly sedikit bergerak. Saat menatap mata Jeffry yang begitu dalam, dia justru kehilangan kata-kata.Jeffry menatapnya beberapa detik, lalu mengambil sebungkus rokok di atas meja, mengeluarkan sebatang, dan menyalakannya.Asap tipis perlahan mengepul, menyelimuti wajah tampannya.“Situasi di Kota Sentara lebih rumit daripada yang kubayangkan. Aku khawatir kamu nggak sanggup menghadapinya.”Suaranya terdengar berat.Shelly berdeham pelan sebelum akhirnya berkata, “Pak Jeffry, jangan khawatir. Saya akan menjaga keselamatan saya sendiri. Mengenai kejadian kali ini, saya akan memberikan penjelasan
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas







