LOGINDua jam kemudian, mobil mereka berhenti di depan Pusat Perawatan Pascapersalinan Waver.Shelly tertidur selama perjalanan dan baru terbangun saat Saryna memanggilnya.Dia membuka mata dan memandang sekeliling. Tempat itu terasa agak familiar. Butuh beberapa saat hingga akhirnya dia teringat di mana mereka berada.“Kenapa kamu membawaku ke sini?”Saryna mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tasnya, lalu mengibaskannya di depan Shelly sambil mengangkat alis. “Aku sudah siapkan uangnya. Masa nifasmu nanti dijalani di sini saja!”Dia turun dari mobil, berjalan memutar ke sisi Shelly, lalu membukakan pintu. “Ayo turun. Kita masuk dan langsung bayar.”“Nggak.” Shelly tetap duduk di dalam mobil. “Nggak perlu habiskan uang sebanyak itu.”Saryna menghentakkan kaki pelan. “Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Tempat ini dekat dengan rumah sakit. Setelah melahirkan, ibu yang sedang menjalani masa nifas bisa mengalami kondisi darurat kapan saja. Kalau sampai terjadi sesuatu, nanti sudah terlambat ….”
Shelly menggeleng. “Nggak usah. Terlalu mahal. Aku sudah menemukan tempat yang menurutku cocok.”“Benarkah?” Saryna memutar bola matanya sambil bertanya, “Kisaran harganya berapa?”“Aku lihat ada satu pusat perawatan pascapersalinan yang biayanya 60 juta.”Selama dua hari terakhir, perhatian Shelly sepenuhnya tertuju pada bayinya.Tanpa perlu keluar rumah, hampir semua persiapan untuk melahirkan sudah dia selesaikan.Kalau ada yang belum bisa dilakukan, dia akan mencari informasi sedetail mungkin.Pusat perawatan pascapersalinan itu adalah pilihan yang dia putuskan setelah berkali-kali membandingkan berbagai tempat.Saryna mengendus pelan.“Kalau begitu, nanti kita pergi lihat dulu. Sekalian aku tunjukkan hadiah besar yang sudah aku siapkan buatmu.”“Hadiah besar?” Shelly yang sedang mengunyah potongan nanas langsung berhenti. Dia segera menelan buah itu. “Apa hadiahnya?”“Nanti juga kamu tahu.” Saryna mengedipkan mata sambil tersenyum jahil. “Tapi jangan sampai terlalu terharu, ya. A
“Bu Melly salah paham. Anak ini bukan anak Pak Jeffry.”Shelly berusaha menjelaskan, “Saya baru hamil setelah enam bulan bercerai dengan Pak Jeffry.”Melly justru tertawa sinis karena terlalu marah.“Kalau soal kelicikan, memang nggak ada yang mengalahkanmu. Kamu tahu selama ini aku nggak pernah benar-benar menerimamu. Kalau kamu hamil saat masih menikah, aku juga nggak akan membiarkanmu melahirkan anak Jeffry. Jadi kamu sengaja bercerai dulu supaya aku lengah .…”Shelly benar-benar tidak tahu dari mana Melly mendapatkan alur cerita sehebat itu.Saking tidak masuk akalnya, dia sampai ingin tertawa.Namun harus diakui … kalau cerita seperti itu tersebar ke kalangan atas, banyak orang pasti akan mempercayainya.Karena bagi keluarga kaya … mereka selalu merasa siapa pun yang mendekati mereka pasti punya tujuan.“Saya tidak serakah terhadap uang maupun status seperti yang Ibu pikirkan. Saya juga tidak mencintai Jeffry sedalam itu. Saya tidak mungkin menghabiskan begitu banyak usaha hanya d
“Apa kamu punya masalah dengan Keluarga Gunawan?”Shelly tertegun, lalu tanpa sadar mengernyit. “Selain hubunganku yang memang tidak baik dengan Shanen, aku tidak pernah berurusan dengan Keluarga Gunawan.”Kalau Keluarga Gunawan memang ingin membela Shanen dan menyelamatkan harga dirinya, seharusnya mereka tidak perlu menyelidikinya.Mereka cukup memanfaatkan fakta bahwa anak yang dikandung Shelly tidak memiliki ayah.Dengan itu saja, Shelly sudah tidak akan mampu melawan.“Kalau begitu, coba pikirkan baik-baik. Selama berhubungan dengan Keluarga Gunawan, apa ada sesuatu yang terasa janggal?”Jeffry memang sudah menyuruh Maxwell mengawasi Keluarga Gunawan.Namun dia tetap mengingatkan, “Kondisimu sekarang berbeda. Jangan sampai ada orang memanfaatkan kelengahanmu.”Memanfaatkan … kelengahannya?Yang dimaksud Jeffry adalah anak yang sedang dikandungnya.Nyawa kecil itu. Dia harus selalu waspada.Sekecil apa pun hal yang terasa janggal, dia harus berhati-hati.Shelly mengangguk pelan.Di
Suara pria itu rendah dan penuh wibawa, membawa tekanan yang seolah sudah melekat sejak lahir.Dalam sekejap, suasana di dalam toko membeku.Para pelayan bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.Shelly menoleh.Saat melihat Jeffry, jantungnya tanpa sadar berdegup lebih cepat selama beberapa detik.Namun tidak lama kemudian, dia kembali tenang.Dia menundukkan pandangan, lalu bergeser sedikit ke samping.Shanen menatap langsung ke arah Jeffry. Wajahnya tampak sedikit gugup.“Pak Jeffry, apa maksud Bapak?”“Cuma mengatakan yang sebenarnya,” jawab Jeffry singkat.“Bapak membelanya?” Shanen mendengus. “Bapak nggak takut kalau aku memberitahu Elora?”“Silakan.” Jeffry melirik ke arah Shelly.Hari itu Shelly mengenakan gaun rajut panjang berwarna merah muda.Warna dan model gaun itu sangat tergantung pemakainya.Namun saat dikenakan Shelly, rasanya seperti dibuat khusus untuknya.Bahu tegaknya membuat potongan gaun itu terlihat sempurna.Tubuhnya yang ramping, ditambah perut yang mulai me
Melihat Shelly tampak tertarik, pelayan itu segera berkata, “Barusan ada dua pelanggan lain yang juga melihat ranjang bayi ini. Mereka bilang mau kembali lagi setelah pertimbangkan.”“Kalau begitu, saya ambil.” Shelly membuka tasnya dan hendak mengeluarkan ponsel untuk membayar.Tiba-tiba, sebuah tangan yang memegang kartu hitam terulur melewati hadapannya dan menyerahkannya kepada pelayan itu.“Ranjang bayi ini saya yang beli.” Shelly mendongak.Sekilas saja dia langsung mengenali tangan dengan kuku berwarna cokelat kemerahan milik Shanen.Pelayan itu tampak canggung.“Eh … tapi Ibu ini tadi sudah memutuskan untuk beli.”Shanen tersenyum tipis. “Baru berniat membeli, kan? Belum benar-benar beli dan juga belum membayar.”“Ini .…” Pelayan itu tampak serba salah.“Nyonya Shanen, bagi orang seperti Anda, ranjang bayi semurah ini seharusnya tidak menarik. Nggak perlu membuang uang hanya demi mencari gara-gara denganku.”Harga ranjang bayi itu enam belas juta. Melihat harganya saja, Shelly
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su







