LOGINSuara pria itu rendah dan penuh wibawa, membawa tekanan yang seolah sudah melekat sejak lahir.Dalam sekejap, suasana di dalam toko membeku.Para pelayan bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.Shelly menoleh.Saat melihat Jeffry, jantungnya tanpa sadar berdegup lebih cepat selama beberapa detik.Namun tidak lama kemudian, dia kembali tenang.Dia menundukkan pandangan, lalu bergeser sedikit ke samping.Shanen menatap langsung ke arah Jeffry. Wajahnya tampak sedikit gugup.“Pak Jeffry, apa maksud Bapak?”“Cuma mengatakan yang sebenarnya,” jawab Jeffry singkat.“Bapak membelanya?” Shanen mendengus. “Bapak nggak takut kalau aku memberitahu Elora?”“Silakan.” Jeffry melirik ke arah Shelly.Hari itu Shelly mengenakan gaun rajut panjang berwarna merah muda.Warna dan model gaun itu sangat tergantung pemakainya.Namun saat dikenakan Shelly, rasanya seperti dibuat khusus untuknya.Bahu tegaknya membuat potongan gaun itu terlihat sempurna.Tubuhnya yang ramping, ditambah perut yang mulai me
Melihat Shelly tampak tertarik, pelayan itu segera berkata, “Barusan ada dua pelanggan lain yang juga melihat ranjang bayi ini. Mereka bilang mau kembali lagi setelah pertimbangkan.”“Kalau begitu, saya ambil.” Shelly membuka tasnya dan hendak mengeluarkan ponsel untuk membayar.Tiba-tiba, sebuah tangan yang memegang kartu hitam terulur melewati hadapannya dan menyerahkannya kepada pelayan itu.“Ranjang bayi ini saya yang beli.” Shelly mendongak.Sekilas saja dia langsung mengenali tangan dengan kuku berwarna cokelat kemerahan milik Shanen.Pelayan itu tampak canggung.“Eh … tapi Ibu ini tadi sudah memutuskan untuk beli.”Shanen tersenyum tipis. “Baru berniat membeli, kan? Belum benar-benar beli dan juga belum membayar.”“Ini .…” Pelayan itu tampak serba salah.“Nyonya Shanen, bagi orang seperti Anda, ranjang bayi semurah ini seharusnya tidak menarik. Nggak perlu membuang uang hanya demi mencari gara-gara denganku.”Harga ranjang bayi itu enam belas juta. Melihat harganya saja, Shelly
Shelly ingin membeli semua perlengkapan bayinya sebelum memasuki trimester akhir kehamilan.Karena itu, dia meluangkan satu hari untuk pergi ke pusat perbelanjaan.Awalnya Saryna juga ingin ikut. Namun sebelum berangkat, Nana terus merengek mencarinya, bahkan tanpa sengaja kepala Nana terbentur.Shelly pun menyuruh Saryna tetap di rumah saja. Di luar dugaan, Saryna langsung setuju tanpa banyak protes.Baru setelah Shelly selesai bersiap dan keluar rumah, lalu melihat mobil Harrison terparkir di pinggir jalan, dia akhirnya mengerti kenapa Saryna begitu mudah setuju.“Shelly, kamu mau pergi ke mana? Naik saja, biar aku antar!”Harrison menaikkan atap mobil balapnya, lalu menjulurkan setengah badan keluar sambil melambai ke arah Shelly.“Hari ini aku jadi sopir pribadimu!”Shelly berhenti di depan mobil balap Harrison yang mencolok. “Ke mana aku mau pergi, seharusnya kamu sudah tahu.”“Hm ….” Harrison mengusap hidungnya dengan canggung. “Kamu ini … Saryna bahkan sudah menganggapku teman.
Saryna langsung bersemangat. “Sebentar, aku buat daftar dulu.”Shelly tersenyum sambil menggeleng. “Nggak usah. Untuk yang bisa dibeli online, kita beli online. Kalau memang nggak bisa, nanti aku beli sendiri. Kamu fokus menemani Nana saja. Akhir-akhir ini sedang banyak flu, jangan sampai kalian sakit.”Waktu Nana sakit kemarin, itu bukan hanya si kecil yang menderita.Saryna juga hampir kehilangan setengah jiwanya.Bahkan sama sekali tidak berlebihan kalau kondisinya beberapa hari itu dibilang seperti orang gila.Sebentar menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal menjaga anak. Sebentar lagi malah curiga anaknya mengidap penyakit serius.“A … aku waktu itu memang sedang mau datang bulan. Jangan menertawakan aku. Nanti setelah kamu melahirkan, kamu juga bakal begitu!”Mengingat tingkahnya beberapa hari itu, Saryna merasa sangat malu.Shelly mengejeknya beberapa kali, lalu mulai memilih perlengkapan persalinan dari daftar yang dibuat Saryna melalui toko online.Untuk barang-barang sep
Bukan tidak mau mengizinkan Shelly keluar, tapi tidak bisa.Empat miliar. Bagi Jeffry, posisi Shelly jelas tidak bernilai sebesar itu.Wajah Shelly seketika memucat.“Maaf, saya malah merepotkan Pak Jeffry lagi. Saya akan menelepon Ne … Nyonya Mina dan menjelaskan bahwa saya nggak menginginkan uang itu.”Dibanding uang kompensasi, Shelly lebih memilih untuk mengundurkan diri.Tatapan Jeffry semakin dalam.“Shelly, kamu sungguh pintar memanfaatkan hati orang lain. Bahkan di tempat yang begitu jauh, kamu tetap bisa membuat nenek terus mengkhawatirkanmu. Menurutmu, apa dia akan mendengarkanku?”Apa yang dikatakan Jeffry memang benar. Namun, kebenaran itu begitu menusuk.Seolah-olah Shelly sengaja memainkan perasaan orang demi mencapai tujuannya.“Pak Jeffry, Anda bisa saja bilang kepada Nyonya Mina bahwa uang empat miliar itu sudah diberikan kepada saya. Saya nggak akan membongkarnya.”Shelly membenci cara berbicara seperti ini dengan Jeffry, selalu saling menusuk tanpa ada yang mau menga
Namun, Saryna pura-pura tidak mengerti. “Jujur soal apa?”“Maksudku, jujur bahwa anak yang dia kandung milik ….”“Dokter Herman, aku nggak paham maksudmu.”Saryna menggertakkan gigi, tetapi nada bicaranya terdengar polos. “Memangnya ada apa dengan bayi yang dikandung Lyly sampai harus jujur segala?”Di seberang telepon, Herman terdiam beberapa detik sebelum berkata, “Mungkin aku yang salah paham. Maaf sudah mengganggu waktumu, Nona Saryna.”“Nggak apa-apa. Aku cukup senang bisa diganggu Dokter Herman.” Nada suara Saryna penuh sindiran. “Tapi, Dokter Herman agak aneh. Bahasa Indonesia saja bisa salah paham, sampai-sampai harus menelepon aku hanya untuk itu ….”Herman hanya mendengarkannya dalam diam. Sindiran Saryna memang selalu tajam.Baru setelah Saryna selesai menyindir, dia mengakhiri panggilan.…Di lantai paling atas kantor cabang Grup Dominion.Shelly datang di waktu yang kurang tepat. Jeffry sedang membicarakan pekerjaan dengan Wesley.Shelly pun menunggu di ruang kerjanya. Sek
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan







