LOGINNamun, gerakannya begitu terampil seolah memang sudah seharusnya begitu.Dia melangkah dengan kaki panjangnya, menggendong Jery masuk ke dalam vila.Shelly ditahan oleh Kakek Yanto dan Nenek Mina untuk mengobrol. Mereka menanyakan apakah segalanya berjalan lancar setelah dia pindah ke Kota Sentara. Pembicaraan akhirnya menyinggung soal Keluarga Gunawan. Nada Nenek Mina pun terdengar penuh belas kasih."Nak, percayalah bahwa semua ini sudah diatur dengan cara terbaik. Kehidupan di panti asuhan memang berat dan perjalananmu sampai di sini juga nggak mudah. Tapi kalau kamu tumbuh besar bersama mereka sejak kecil, hidupmu justru akan jauh lebih susah."Kebaikan hati dan kejujuran Shelly adalah sesuatu yang sudah tertanam dalam dirinya sejak lahir. Kalau dia tumbuh di tengah Keluarga Gunawan, benturan nilai-nilai hidup yang bertolak belakang hanya akan membuatnya habis didera cercaan dan luka di tangan pasangan suami istri itu."Aku memang pernah punya keinginan untuk mencari keluarga kandu
"Baik." Bibi Sari mengeluarkan ponselnya dan menyampaikan pesan dari Nenek Mina kepada Jeffry, kata per kata, tanpa ada yang diubah.Semua anggota Keluarga Anderson tahu betul watak Nenek Mina. Apa yang diucapkannya pasti dilakukannya.Makanya Jeffry bersikeras meminta Shelly untuk datang.Dia tahu bahwa hak asuh Jery belum sepenuhnya selesai diputuskan. Hubungannya dengan Shelly baru saja mencair sedikit dan Shelly belum siap untuk jujur sepenuhnya.Jery terlalu penting bagi Shelly.Bahkan lebih penting dari sebelum dia tahu asal-usul dirinya sendiri.Sebab, Jery adalah satu-satunya keluarga kandung yang benar-benar dimiliki Shelly di dunia ini.Sepanjang perjalanan, Shelly terus diam. Keheningan di dalam mobil terasa begitu berat hingga dada Jeffry serasa tersumbat.Sesampainya di depan rumah Keluarga Anderson, Shelly menarik napas panjang. Seperti seorang prajurit yang bergerak menuju medan perang dan sudah siap mati, dia melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil."Tunggu dulu."J
"Ke mana Shelly dan Jeffry?" tanya Nenek Mina sambil menoleh ke arah Bibi Sari.Bibi Sari menggeleng. "Nggak tahu. Kemarin Tuan Muda bilang beliau mau kerja dari rumah beberapa hari, jadi minta saya datang ke sini untuk jaga Anda dan Tuan Besar."Kakek Yanto langsung cemberut. "Anaknya masih sekecil ini, dia malah main tinggal begitu saja. Nggak takut anaknya nggak betah? Bagaimana kalau rewel?""Pasti ada urusan penting. Kalau nggak, Tuan Muda nggak mungkin mau meninggalkan Jery. Biasanya beliau mengurus Jery dengan penuh perhatian."Bibi Sari sendiri tak menyangka Jeffry bisa sesabar dan seteliti itu dalam mengurus bayi."Tapi …."Kakek Yanto masih mau melanjutkan protesnya, tapi belum sempat kalimat itu keluar, Nenek Mina sudah memotongnya, "Kamu benar-benar bawel amat. Kalau Jeffry nggak titip anaknya di sini, mana mungkin kamu punya kesempatan untuk lihat cicit?"Nenek Mina memelototi suaminya sekilas, lalu menggeser posisi duduknya sambil menggendong Jery menjauh sedikit."Jery .
"Ini nggak ada hubungannya dengan apa yang dikatakan Johan padaku."Shelly memang sempat terpengaruh oleh ucapan Johan, tapi dia masih punya akal sehat. Kebenaran kata-kata itu masih perlu dibuktikan.Namun, Jeffry sudah bertindak sepihak dengan mengirim Jery ke rumah Keluarga Anderson begitu saja tanpa bilang apa-apa"Hak asuh Jery belum selesai diputuskan, kamu nggak takut mereka saking panik dan khawatir, lalu kesehatan mereka malah anjlok?"Dibanding Jeffry yang tahu soal asal-usul Jery, apa yang justru lebih ditakutkan Shelly adalah kalau Kakek Yanto dan Nenek Mina sampai tahu.Dia lebih paham dari siapa pun betapa besar keinginan pasangan tua itu untuk dapat cicit.Mereka pasti akan terus mendesak kapan Jery bisa diakui secara resmi. Usia mereka sudah tidak muda, kondisi kesehatan pun makin hari makin menurun. Ini sama sekali tidak baik untuk mereka.Ekspresi Jeffry perlahan melunak. "Mereka belum tahu soal asal-usul Jery."Segumpal kata-kata protes tersangkut di tenggorokan Shel
Elora tidak bisa punya anak, tapi dia pernah menyelamatkan nyawa Jeffry.Jeffry membalasnya dengan menikahinya, tapi rupanya belum cukup. Itu harus ditambah dengan memberinya seorang anak?Shelly melahirkan Jery, tanpa sadar telah menyodorkan dirinya sendiri tepat ke mulut senjata, pas sekali untuk menambal kekurangan orang lain."Kasih uangnya ke aku, aku jalan dulu."Johan tak peduli Shelly masih terpaku setengah sadar. Dia langsung mendesak."Semua yang kamu bilang tadi, siapa yang cerita ke kamu?"Shelly ingin memastikan lagi. "Semua itu benar?""Elora tinggal di rumah Keluarga Gunawan selama itu, memangnya aneh kalau aku tahu hal-hal begini? Dia yang bilang sendiri. Soal benar atau tidaknya, aku nggak tahu."Melihat Shelly tak bereaksi, Johan langsung menyambar tas itu dengan satu tangan, menariknya keras, lalu kabur.Shelly tak sempat mempertahankan tasnya. Lututnya membentur sudut meja. Rasa sakit yang menusuk hampir membuat air matanya tumpah.Namun, rasa sakit itu seolah tak a
Layar ponsel meredup, memantulkan wajah Shelly yang diliputi keraguan.Johan hanya menginginkan uang. Kata-katanya tidak bisa dipercaya begitu saja.Wajah mungilnya semakin mengeras. Pikiran-pikiran liar itu datang tanpa bisa dia bendung."Kenapa?"Suara Jeffry terdengar dari belakangnya.Tangan yang mencengkeram kemeja itu seketika mengendur dan kemeja itu pun jatuh ke lantai."Nggak ada apa-apa."Dia menyembunyikan ponsel di balik punggung, lalu berbalik, dan baru menyadari bahwa Jery sudah tertidur.Jeffry menggendongnya untuk dibawa ke kamar."Biar aku saja."Belum sempat kalimatnya selesai, Jeffry sudah melewatinya, membaringkan Jery di atas kasur dan menaikkan pagar pengaman.Kemudian dia berbalik, menatap Shelly tanpa sepatah kata pun.Shelly bertahan dalam tatapan itu beberapa detik, lalu berkata jujur, "Tadi Johan meneleponku. Katanya ada yang mau dia bicarakan dan dia minta bertemu.""Kamu mau pergi?" Nada Jeffry tenang.Shelly ragu sejenak, lalu mengangguk. "Iya."Alis Jeffr
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb







