로그인Shelly menggeser layar ponselnya, mengangkat panggilan itu sambil melangkah keluar dari ruang teh."Kamu buru-buru sekali mau kembali bekerja untuk apa? Ceritakan padaku, apa Jeffry menyulitkanmu? Atau dia sudah mengetahui asal-usul Jery?"Suara Harrison yang heboh langsung terdengar dari ujung telepon.Shelly berdiri di luar jendela ruang teh, mengecilkan suaranya. "Tidak ada hal seperti itu, aku murni ingin bekerja saja.""Hah?" Drama besar yang sudah dibayangkan Harrison tentang Jeffry menyiksa Shelly mendadak terhenti begitu saja.Dia menenangkan diri sejenak, lalu meredakan suaranya. "Perusahaan sudah aku beri tahu, posisimu masih aman disimpan. Tidak perlu buru-buru kembali, Jery masih sangat kecil.""Aku ingin kembali kerja lebih awal," tegas Shelly. "Bantu aku mengajukan sistem kerja setengah hari dari rumah, dan kalau bisa, tolong carikan satu kamar di asrama karyawan."Royal Haven Residence terlalu jauh dari Grup Vantara, tidak praktis jika dia harus bolak-balik ke sana setia
"Laki-laki biasa saja belum tentu mau menggantikan popok anaknya sendiri."Saryna menyilangkan tangan, memperhatikan Jeffry dari kejauhan. "Dia adalah laki-laki yang berdiri di puncak. Sekali dia mengentakkan kaki, seluruh dunia bisnis bisa bergetar. Sepasang tangan itu semestinya digunakan untuk menandatangani kontrak bernilai triliunan, bukan untuk menggantikan popok bayi!"Dia berbicara sambil berdecak kagum berkali-kali."Dia …." Shelly refleks ingin menjelaskan sesuatu.Baru buka mulut, dia bingung harus mulai dari mana."Dia lumayan baik, ‘kan? Kamu nggak mau terus terang ke dia saja?" Mata Saryna berputar sedikit, lalu dia menarik napas untuk menutupi rasa canggung yang tiba-tiba muncul. "Menurutku kalian lumayan cocok."Shelly, “???”Dulu waktu dia ingin bercerai, Saryna yang paling bersemangat mendukungnya, yang selalu mencaci bahwa Jeffry tak berperikemanusiaan, selalu menegaskan bahwa hubungan tanpa perasaan tidak perlu dipertahankan. Di mana Saryna yang dulu itu?"Aku cuma
Jeffry menendang kursi lipat di bawah bokong Herman hingga langsung penyok.Herman pun jatuh ke lantai dengan tumpahan piring buah menghantam mukanya.Nana yang masih mengunyah berjalan mendekat, mencomotkan satu potongan mangga dari muka Herman dan memasukkannya ke mulut sendiri."Dia hanya boleh melahirkan anak untukku." Jeffry mengucapkannya pelan.Herman memijat bokongnya sambil berdiri. "Kamu ini … sudahlah. Jangan menghalanginya untuk hidup lebih baik. Menurutku, dia mending ikut Harrison saja. Setidaknya Harrison lebih paham soal perasaan .… Aduh!"Herman berhasil menghindar dari satu bungkus tisu yang dilempar Jeffry. Saat melihat sorot mata Jeffry sudah menyala, dia buru-buru mengangkat Nana dan kabur.Suara pintu yang terbanting terlalu keras sampai mengagetkan Jery yang tidur. Si kecil mulai menggeliat dan merengek.Jeffry menarik napas, menenangkan diri, lalu mengangkat Jery, mengganti popoknya, dan membuat susu. Gerakannya sudah lebih terampil.Di jalur berkuda, Shelly dan
Jery tertidur nyenyak di dalam kereta dorong bayi sehingga keberadaannya pun hampir tidak terasa.Jeffry bersandar di kursi, mencicipi teh, raut muka agak masam.Sinar matahari siang yang terik menyinari wajahnya, tapi tetap tidak bisa mengusir kemuraman yang terpancar dari ekspresinya."Belakangan ini ada masalah pekerjaan?"Shelly mempertimbangkan sebentar sebelum membuka mulut. Jangan-jangan urusan Pak Hansen ada yang tidak beres?Jeffry meliriknya sekilas. "Nggak ada.""Lalu kenapa kamu pasang muka masam, tengah malam menyeret para petinggi untuk rapat, setiap hari minum-minum dengan Dokter Herman?"Shelly belum pernah melihat Jeffry separah ini."Dengan status apa kamu menanyakan urusanku?" Jeffry meletakkan cangkir teh. Pandangannya menatap lurus pada Shelly tanpa berkedip.Setelah terdiam sejenak, Shelly mengembalikan hubungan yang rumit di antara mereka ke posisi yang tepat."Maaf, aku sudah terlalu ikut campur."Hubungan kontrak, mantan istri, mantan bawahan .… Status manapun
Topik yang datang tiba-tiba itu membuat Shelly tidak bisa memprosesnya. Ekspresinya langsung kaku.Betul juga. Dua tahun tidak mencoba, sekarang malah jauh lebih kuat dari sebelumnya!"Ekspresi apa itu?" Saryna menyadari ada yang tidak beres. Dia memelototinya. "Bagaimana dia membantumu?"Apa Jeffry membantu Shelly menghindar dari Keluarga Gunawan sampai dengan cara naik ke ranjang?"Maksudku, dulu dia sering lembur untuk bekerja. Beberapa hari saja nggak ada apa-apanya."Shelly menjelaskan.Herman mengangguk. "Benar juga. Pekerjaan nggak akan pernah bisa meruntuhkannya, kecuali orang."Api yang baru dipadamkan Shelly malah disulut oleh Herman lagi.Saryna terlambat menangkap kejanggalan tersebut. "Sebenarnya bagaimana situasinya sekarang? Kenapa kedengarannya seolah-olah kamu dan Jeffry adalah satu kesatuan?""Nggak tahu." Shelly langsung menggelengkan kepala. "Aku seduh teh bunga. Kalian bicara dulu."Dia mengambil sebotol teh bunga dari lemari, menyeduh teh dengan air panas, memanfa
"Hanya secara hukum."Bibir tipis Jeffry menuturkan tiga kata itu.Di sela-sela kata-katanya tersirat aroma cemburu yang kental.Herman yang berada sejauh itu dan bahkan terhalang gagang telepon pun masih bisa merasakannya."Besok pagi jam sepuluh, Lapangan Berkuda Sinly."Setelah melempar informasi penting itu, Herman menutup telepon.Jeffry melempar ponselnya ke samping, berdiri di depan jendela kaca lebar, memandangi pemandangan malam Kota Sentara yang gemerlap.Cahaya ribuan rumah terpantul dalam kedalaman matanya yang hitam gelap, tapi tetap tidak mampu mengusir warna kelam di sudut matanya.Cukup lama kemudian, dia berbalik mengambil ponsel dan menelepon Maxwell. "Besok pagi antar beberapa kaleng susu formula ke kantorku.""Baik, apa boleh pada jam sembilan saat saya masuk kerja?" tanya Maxwell."Jam delapan." Jeffry memberi waktu yang pasti, lalu menutup telepon.Mobil Maxwell bahkan belum keluar dari jalan depan Grup Dominion. Dia menampar mulutnya sendiri. "Makanya jangan tany
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan
Setiap kali bertemu di acara seperti ini, Harrison selalu mencari masalah dengan Jeffry.Namun karena dia bukan saingan Jeffry, dia pun memilih cara lain, yaitu mempersulit orang-orang di sekitar Jeffry.Salah satunya … Shelly.Shelly berbalik dan mengganti arah, berniat keluar lewat pintu belakang.
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan







