Share

Bab 62

Author: Ratih Larasati
“Aku tidak akan membiarkannya sendirian. Dia tidak akan hidup tanpa sandaran.”

Jeffry sama sekali tidak terpengaruh. “Kamu sebaiknya pikirkan dulu … setelah aku menyelesaikan penyelidikan, bagaimana kamu akan menjelaskan ini ke dewan direksi.”

“Kamu …!” Melly menarik napas tajam, wajahnya memucat karena emosi.

Sesampainya di rumah, Shelly menenangkan diri sejenak.

Lalu dia mengambil ponselnya dan akhirnya membalas pesan Harrison dari semalam.

Tidak lama kemudian, Harrison langsung mengirim stike
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Westi
masuk mulut biaya dong, tapi kalau untuk bantu keluar dari jeffry boleh juga
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 251

    Shelly tidak melihat siapa pun di luar. Dengan hati-hati, dia membuka sedikit celah.“Taraaa!”Saryna menyembulkan kepala sambil mengangkat dua es krim di tangannya. “Mau makan?”“Kenapa kamu datang?”Shelly membuka pintu sepenuhnya, menerima es krim itu, lalu berkata, “Bukannya kamu bilang aku nggak boleh makan yang beginian?”“Nggak boleh terlalu banyak. Sesekali nggak masalah.”Saryna masuk ke dalam rumah dan langsung menarik koper Shelly. “Kamu sedang hamil. Mana mungkin aku tega membiarkanmu beres-beres sendirian? Ayo, aku jemput kamu pulang.”Dia memberi isyarat agar Shelly segera mengganti sepatu.Setelah berganti sepatu, Shelly membawa es krimnya dan mengikuti Saryna turun.Dia menggigit sedikit demi sedikit. Rasa dingin dan manis perlahan meleleh di dalam mulutnya.Matanya tanpa sadar menyipit penuh kepuasan.“Tadi aku menemani Nana tidur sebentar, jadi sekarang tenagaku penuh lagi. Nanti kita cari tempat makan, ya?”Saryna memasukkan koper Shelly ke bagasi mobil.Shelly membu

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 250

    Garis rahang Jeffry tampak tegas. Urat-urat di tangan yang bertumpu di tepi meja terlihat menonjol, sementara ujung jarinya masih sedikit basah oleh teh yang tumpah.“Siapa orang yang baru saja kamu temui?”Herman duduk di hadapannya. “Oh, aku sampai lupa. Itu sekretarismu. Seharusnya tadi aku memanggilnya masuk untuk menyapamu.”Napas Jeffry seketika tertahan.Alisnya yang semula hanya sedikit berkerut kini mengatup rapat.Shelly?Hamil 22 minggu?Perkembangan janin lebih kecil dari seharusnya?Trimester akhir sama sekali tidak boleh melakukan hubungan suami istri?Soal pengetahuan kehamilan, Jeffry tidak tahu apa pun.Dari percakapan yang barusan didengarnya, satu-satunya hal yang terasa akrab hanyalah suara Shelly.Semua yang lain terdengar asing. Begitu asing hingga dia merasa wanita itu bukan Shelly, melainkan hanya seseorang yang memiliki suara serupa.Namun ….Bagaimana mungkin dia salah mengenali suara yang begitu dikenalnya?“Aku dengar dia akan dipindahkan ke luar kota karena

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 249

    Ruang VIP itu terbagi menjadi dua bagian. Pintu ruangan di bagian dalam terbuka setengah.Herman duduk di depan meja berbentuk persegi. Tangannya menyeduh teh dengan gerakan terampil.“Dokter Herman.” Shelly melangkah masuk.“Maaf sudah merepotkan Nona Shelly datang sejauh ini.”Herman mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Shelly duduk.Shelly tidak melihat berkas rekam medisnya. Dengan sopan dia berkata, “Aku nggak ingin mengganggu waktu Anda. Tolong berikan berkasnya saja.”“Maaf, berkasnya ada di mobil. Aku sudah meminta pelayan untuk mengambilnya.”Herman mendorong kacamatanya ke atas pangkal hidung, lalu menuangkan teh hingga memenuhi cangkir di depan Shelly.“Mohon tunggu sebentar. Tenang saja, teh ini aman untuk ibu hamil. Kebetulan ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan.”Dari ruangan di balik pintu yang terbuka setengah itu terdengar suara pelan.Sepertinya ada seseorang di dalam. Mungkin tamu yang sebelumnya diundang Herman.Shelly tanpa sadar mengernyitkan al

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 248

    Jeffry tidak menghentikan gerakannya yang mendorong pintu.“Sesama pria, kenapa banyak sekali drama? Kalau kamu berani membohongiku, aku habisi nyawamu.”Nada bicaranya terdengar santai. Ini menunjukkan keyakinannya terhadap persahabatan mereka, sekaligus kepercayaannya kepada Herman.Herman kembali duduk di kursinya.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit.Setelah lama terdiam, sorot matanya perlahan berubah semakin dalam dan suram.Elora, tunggu saja!…Sehari sebelum akhir pekan, Shelly menerima pesan dari Herman yang mengajaknya bertemu di sebuah kafe di pinggiran kota keesokan harinya.“Dia mengajakmu bertemu?”Begitu mendengar cerita itu, Saryna hampir meloncat dari tempat tidur. “Dia tertarik padamu? Aku yang sudah punya anak saja sudah terdengar nggak masuk akal, apalagi kamu yang sedang hamil!”Shelly mematikan layar ponselnya, lalu menepuk pelan kepala Saryna.“Dia hanya ingin memberikan berkas rekam medisku.”Saryna mengusap dahinya. “Oh ….” Lalu kembali menjatuhkan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 247

    Elora menarik napas dalam-dalam. Jangan-jangan … dia benar-benar dipermainkan oleh Herman?“Silakan berbaring. Jangan tegang. Ini hanya pemeriksaan biasa.”Dokter asing itu mendorong kacamatanya ke atas pangkal hidung.Elora tetap berdiri di tempat.Secara refleks dia meraba kantong bajunya, tetapi kantong itu kosong.Tasnya berada di tangan Jeffry dan ponselnya ada di dalam tas itu.Dia ingin menelepon Herman untuk memastikan semuanya, tetapi .…“Nona Elora, tidak perlu terlalu gugup.” Melihat Elora tetap tidak bergerak, dokter asing itu menepuk pelan ranjang pemeriksaan. “Silakan berbaring dulu, ya? Masih ada pasien lain yang sedang menunggu di luar.”Elora menarik napas panjang.Dengan susah payah dia menahan keinginan untuk berlari keluar dari ruangan, lalu perlahan berbaring di atas ranjang.“Tolong angkat bajunya.”Dokter asing itu menyiapkan alat pemeriksaan.Melihat Elora masih diam, dia kembali mengingatkan.Elora menggenggam ujung bajunya erat-erat.“Dokter … tiba-tiba saya t

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 246

    Bibi Yanti tiba-tiba menerobos masuk.Shelly dan Jessica sama-sama terkejut.Mereka menoleh bersamaan ke arah Bibi Yanti.Saat itu, Bibi Yanti sudah berjalan hingga berdiri di depan mereka.“Mau pergi ke mana?”Nada suaranya tajam dan penuh ketidakpuasan, seolah-olah Shelly baru saja melakukan kesalahan besar.“Belum pasti.” Shelly melepaskan genggaman tangan Jessica, lalu berdiri sambil merapikan pakaiannya dan berjalan keluar.Dengan keadaan Bibi Yanti sekarang, tidak pantas membahas hal itu di depan Jessica.Baru saja Shelly keluar, Bibi Yanti langsung mengikutinya.“Setiap kali ditanya jawabannya selalu belum pasti. Berarti kamu sendiri juga belum punya rencana. Dengan perut yang sedang mengandung, sebenarnya kamu mau pergi ke mana?”“Soal kehamilanmu juga belum selesai kita bicarakan. Mumpung perutmu belum terlalu terlihat dan bayinya masih kecil, lebih baik segera digugurkan. Kamu juga tidak akan terlalu menderita nanti .…”Shelly langsung berhenti melangkah.Dia berbalik dan mem

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 222

    Wajah Jeffry sama sekali tidak menunjukkan apakah dia sedang marah atau tidak.Hidungnya yang mancung, garis bibirnya yang tegas …Semakin lama semakin jelas terpantul di mata Shelly.Jeffry berhenti tepat di hadapannya.Dengan postur yang lebih tinggi, dia menatap Shelly dari atas.Shelly menundukk

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 221

    Telepon pun terputus.Suhu di Negara M memang lebih tinggi daripada di dalam negeri.Cuaca yang sudah panas terasa semakin menyengat setelah percakapan itu.Rasa kesal perlahan memenuhi hati Elora.Satu-satunya hal yang membuatnya sedikit lega adalah berita mengenai Shelly dan Harrison akhirnya terb

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 216

    Begitu Jeffry berdiri di sana, Maxwell langsung terdiam.Dia memandang Shelly dengan penuh rasa bersalah.Jelas tidak apa-apa kalau dia hanya bercanda berdua dengan Shelly agar tidak berpacaran sampai mengganggu pekerjaan.Namun, dia tak sengaja mengatakannya di depan atasan ….Bukankah itu sama saj

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 215

    Bersamaan dengan beban yang akhirnya terlepas dari dadanya, air mata yang selama beberapa hari ditahannya pun jatuh perlahan dari pelupuk mata Shelly.“A-aku tarik kembali ucapanku tadi!”Saryna memeluknya sambil tertawa bahagia. “Anaknya memang kuat dan sejak awal tidak apa-apa. Bukan karena kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status