Share

Bab 11

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-04-10 07:13:43

Acha melongo beberapa detik, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia buru-buru mematikan mesin motor, seolah ingin memastikan pendengarannya memang tidak salah.

Matanya menyipit penasaran. “Gimana? Tadi bilang apa?”

“Menikah sama saya.” Ihsan menjawab tegas.

Hening.

Padahal, kalimat itu sudah terdengar begitu jelas, tetapi Eca masih mencoba mencernanya.

Sebelum hari ini datang, ia yang lebih dulu merendahkan harga dirinya, tak tahu malu ngebet minta dinikahi, tetapi hasil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 37

    Tatapan penghulu sempat beralih ke arah Eca, membuat gadis itu refleks menelan ludah. Ia mengangguk pelan, seolah memang sudah tahu tatapan itu ditujukan untuk meminta persetujuannya. Saat mic berpindah tangan ke Ua Jajang, dadanya seketika ikut mengencang. Eca mengangkat pandangannya sedikit. Pamannya itu sudah menegakkan tubuh, menarik napas dalam sebelum mengulurkan tangan ke arah Ihsan. Ihsan menyambutnya tanpa ragu, bahkan nampak tersenyum tipis. Wajahnya tenang seperti biasa. Telapak tangan Ua Jajang dan Ihsan kini saling bertaut. Dan, dalam sekejap, suasana benar-benar menjadi hening dan tegang. “Bismillahirrahmanirrahim.” Ua Jajang membuka ijab. Suaranya terdengar jelas dan mantap, meski ada getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang benar-benar memperhatikan. Eca menunduk. Pandangannya jatuh ke lipatan kebayanya sendiri. Dalam hati, ia hanya bisa berdoa satu hal, semoga semuanya berjalan tanpa hambatan, agar setelah ini semua yang menjadi tujuan pernikahan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 36

    “Udah selesai ngomongnya?” tanyanya datar.Tawa yang tadi memecah kesunyian perlahan mereda. Sejenak, suasana kamar menjadi canggung.Di balik cermin, Eca masih menatap mereka tanpa ekspresi.“Ya ampun, bercanda atuh.” Wulan buru-buru mengangkat tangan, setengah menyerah. “Biar kamu nggak tegang-tegang pisan.”Eca tak menanggapi lagi, hanya mengembuskan napas agak kasar. Pandangannya turun ke pangkuannya sendiri.Tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin. Ia memang sangat tegang.Tak sekadar gugup, tetapi seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak tadi. Perasaannya tidak bisa dijelaskan. Namun, itu terus saja mengusik.Bagaimana kalau Ihsan tidak datang?Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benaknya.Eca menelan ludah. Bayangan buruk di masa lalunya datang lagi. Di mana, hari itu … saat semuanya sudah siap, dekorasi, bahkan undangan hampir disebar, tetapi calon suaminya mengalami kecelakaan dan pernikahannya langsung dibatalkan sepihak.Eca tahu itu sudah jadi takdir

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 35

    Seperti yang sudah Eca duga, begitu sampai di rumah, ibunya langsung syok melihat kondisi Adit. “Ya Allah, ini anak kenapa jadi kayak gini?!” seru Nani panik.“Dia nyemplung di kubangan sawah orang, Mah,” jawab Eca datar sambil melepas sandalnya.Ia bahkan tidak berhenti di teras. Langsung masuk ke dalam rumah, membiarkan ibunya mengurus Adit yang sudah mulai merengek saat disuruh mandi.“Nggak mau mandi, Mah!” teriak bocah itu.“Harus mandi! Lihat badan kamu kotor!”Eca hanya mengembuskan napas pelan ketika suara tangisan Adit, omelan ibunya, dan langkah kaki yang saling kejar-kejaran bercampur jadi satu di telinganya.Rasanya … rumah ini ramai sekali. Padahal, mereka hanya bertiga di rumah.Hari itu pun akhirnya berlalu tanpa ada drama lagi, tetapi sejak saat itu, semuanya seakan bergerak lebih cepat dari biasanya.Waktu terus bergulir tanpa terasa. Dua minggu sejak lamaran lewat, kini hari pernikaha

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 34

    Eca bahkan tidak menunggu jawaban. Ia langsung bergerak, nyaris melompat turun ke pematang.Kakinya baru saja menapak, tetapi tanah yang becek membuat langkahnya goyah. Hampir saja terpeleset kalau tidak cepat-cepat menyeimbangkan tubuh.“Adit!” panggilnya keras.Napasnya langsung memburu. Jantungnya berdegup tak karuan.Pematang yang tadi terasa biasa saja saat dilewati, kini seperti jalur sempit yang menguji kesabarannya, licin dan becek.Sungguh menyebalkan.Di belakangnya, suara langkah kaki menyusul cepat. Ihsan, Maman, dan beberapa kru ikut turun, wajah mereka sama tegangnya.“Adit!” teriaknya lagi, kali ini suaranya mulai bergetar.Ia mempercepat langkah, hampir berlari kecil menuju tempat terakhir ia melihat adiknya tadi.Kalau terjadi apa-apa sama bocah itu … tentu ini salahnya.Dia yang bawa Adit ke sini. Dia juga yang mengizinkan ikut. Harusnya dia yang jaga. Lantas, kenapa bisa sampai luput begini?Dadanya langsung sesak hanya dengan membayangkan kemungkinan terburuk terja

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 33

    “Hati-hati.”Begitu suara Ihsan terdengar dekat di telinganya, Eca langsung tersadar. Ia sontak menjauh, sambil memalingkan pandangan.Panas di seluruh tubuhnya kini berpusat di pipinya. Bahkan bukan lagi sekadar hangat, rasanya sudah seperti terbakar.“I—iya,” ucap Eca terbata. “Terima kasih … sudah nolongin.”Tangan Ihsan yang tadi menahan pinggangnya sempat bertahan sepersekian detik lebih lama, sebelum akhirnya dilepas. Tatapannya sempat turun ke wajah Eca, lalu kembali datar seperti biasa.Belum sempat ia mengatakan apa-apa lagi, tawa kecil disusul siulan menggoda terdengar dari arah kru pemotretan.“Nah, gitu, dong. Dapat banget ini momen romantisnya!” celetuk fotografer sambil menurunkan kamera.Eca melongo. “Hah? Tadi itu—”“Bagus, Teh. Hasilnya. Natural pisan.”Natural?Kakinya terpeleset, hampir nyungsep ke sawah, jantungnya hampir saja lepas, itu dibilang natural?Astaga … mereka ini fotografer beneran, kan?Eca mendecak sebal. Ia buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 32

    Eca menarik napas panjang sebelum mengangkat kepala dengan perlahan. Tatapannya lurus ke arah ibunya, penuh pertimbangan.“Mah, aku percaya Papa orangnya baik banget,” ujarnya pelan. “Tapi tetap aja… aku nggak enak.”Ia menunduk, jemarinya memainkan ujung baju tidurnya.“Neng bukan anak kandungnya Papa Arif. Sekarang Neng juga sudah bisa cari uang sendiri. Harusnya .…” Ucapannya menggantung sesaat, suaranya terasa tercekat di tenggerokan. “Sudah bukan tanggung jawabnya lagi. Neng ngerasa nggak pantes nerima apa pun dari Papa.”Alis Nani langsung berkerut. Tatapannya langsung mengunci wajah putrinya itu.“Kamu ngomong apa, sih, Neng?”Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup tegas untuk membuat Eca menahan napas.“Dari dulu, Papamu selalu berusaha bikin Neng nyaman. Nggak pernah dibeda-bedain sama anak kandungnya. Dia nikahin Mamah, itu artinya dia juga nerima kamu sebagai tanggung jawabnya. Bukan karena kasihan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status