Share

Bab 9

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-04-08 23:16:10

Setelah berpikir cukup lama, Eca akhirnya benar-benar memutuskan untuk menemui Ihsan lagi.

Hari sudah sore ketika motor Beat Street andalannya melaju menyusuri jalan desa. Angin menerpa wajahnya, tetapi tak sedikit pun mampu menenangkan isi kepalanya yang terasa penuh.

Sepanjang perjalanan, pikirannya hanya seputar rumah serta waktunya mencari jalan keluar untuk mempertahankan rumah itu yang kian menyempit.

Sampai akhirnya motor itu berhenti tepat di depan rumah Ihsan.

Eca turun perlahan, matan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 13

    Setelah sepakat dengan perjanjian nikah yang mereka buat, Eca dan Ihsan langsung menuju rumah pria itu. Eca terpaksa dibonceng menggunakan motor trail Ihsan yang joknya sudah sempit, tinggi lagi. Benar-benar tidak manusiawi untuk ukuran dirinya yang cuma 158 cm. Kakinya sampai nyaris menggantung.Jantung Eca sampai tak benar-benar tenang sepanjang perjalanan dibonceng Ihsan. Deg-degannya minta ampun. Padahal, harusnya biasa saja. Toh, mereka sudah saling kenal sejak kecil. Masalahnya, Ihsan sekarang bukan Ihsan yang dulu. Dia bukan lagi anak laki-laki pendiam yang sering dibully dan diam saja. Sekarang, ah … entah sejak kapan, dia menjelma jadi pria tinggi, rapi, dan … ya ampun, ganteng.Bahkan, dengan sangat terpaksa, dalam hatinya Eca mengakui satu hal yang begitu menyebalkan, kalau dilihat-lihat Ihsan memang lebih tampan dari mantannya.“Ck!” Eca mendecak pelan, cepat-cepat menggeleng, berusaha menepis pikiran konyol itu. ‘Ngapain dibandingin, sih!’Angin pagi menjelang sian

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 12

    Malam itu, Acha hampir tak benar-benar tertidur. Matanya memang sempat terpejam, tetapi isi kepalanya malah semakin semrawut, memaksanya untuk terus membuka mata.Keputusannya menikah dengan Ihsan memang terlihat seperti solusi paling masuk akal saat ini. Namun, apakah itu benar-benar keputusan terbaik? Eca menghela napas pelan. Ia yang kini tidur miring beralih terlentang, menatap langit-langit kamarnya beberapa saat.Bagaimana kalau ini justru membawa masalah baru untuknya?Belum lagi kejadian sore tadi membuatnya was-was sendiri, khawatir orang-orang suruhan Dasim masih mengincarnya. Tubuhnya refleks menegang setiap mendengar suara kecil dari luar. Entah itu bunyi genteng, cicak jatuh, atau ranting tersenggol angin.Eca menarik selimutnya tinggi-tinggi. Matanya memejam kuat-kuat.Sepertinya … ka memang harus segera menikah. Setidaknya, itu bisa jadi tameng agar Juragan Dasim tak lagi mengganggunya.“Dasar tua bangka nggak tahu diri …,” cecar Eca. Ia sungguh kesal setengah mati.S

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 11

    Acha melongo beberapa detik, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia buru-buru mematikan mesin motor, seolah ingin memastikan pendengarannya memang tidak salah. Matanya menyipit penasaran. “Gimana? Tadi bilang apa?”“Menikah sama saya.” Ihsan menjawab tegas.Hening. Padahal, kalimat itu sudah terdengar begitu jelas, tetapi Eca masih mencoba mencernanya.Sebelum hari ini datang, ia yang lebih dulu merendahkan harga dirinya, tak tahu malu ngebet minta dinikahi, tetapi hasilnya apa?Ihsan menolaknya. Ya, dia ditolak mentah-mentah.Sekarang, tiba-tiba pria itu yang justru mengajaknya menikah.Jujur saja, Eca tak tahu harus bahagia atau bersikap seperti apa. Rasanya, perubahan ini terlalu mendadak. Mengapa Ihsan pada akhirnya mau menikahinya?Pertanyaan itu terus menggantung tanpa jawaban. Eca lalu turun dari motornya, mendekati Ihsan.Tanpa pikir panjang, tangannya diulurkan begitu saja, menyentuh kening Ihsan. “Kamu sakit?” tanyanya polos. Alis Ihsan langsung be

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 10

    Tubuh Eca terdorong ke depan. Namun, sebelum sempat kehilangan keseimbangan, genggaman kasar di lengannya mendadak terlepas.Bugh! Salah satu pria itu tiba-tiba tersungkur ke samping.Eca terbelalak kaget, bahkan sebelum sempat ia mencerna apa yang terjadi, pukulan lain yang lebih keras dan cepat datang tanpa jeda.Bugh! Bugh!Pria yang satunya ikut terhuyung mundur, lalu jatuh menimpa tubuh temannya.Di hadapan Eca, seorang pria berhelm berdiri dengan napas sedikit memburu.Tanpa banyak bicara, ia kembali melangkah maju. Bogem mentah berikutnya mendarat telak, membuat salah satu dari mereka mengerang kesakitan.Gerakannya tegas dan terukur, seolah tahu persis ke mana harus menyerang.Eca hanya bisa terpaku di tempatnya.Jantungnya berdebar kencang, tak hanya takut, tetapi juga karena apa yang dilihatnya sekarang benar-benar di luar bayangannya. Tadinya, ia hanya berniat menenangkan diri di pos ronda ini, ternyata bahaya justru mengintai.Pria itu lalu meraih helm di kepalanya saat

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 9

    Setelah berpikir cukup lama, Eca akhirnya benar-benar memutuskan untuk menemui Ihsan lagi.Hari sudah sore ketika motor Beat Street andalannya melaju menyusuri jalan desa. Angin menerpa wajahnya, tetapi tak sedikit pun mampu menenangkan isi kepalanya yang terasa penuh.Sepanjang perjalanan, pikirannya hanya seputar rumah serta waktunya mencari jalan keluar untuk mempertahankan rumah itu yang kian menyempit.Sampai akhirnya motor itu berhenti tepat di depan rumah Ihsan.Eca turun perlahan, matanya langsung menyapu halaman rumah yang nampak sepi itu.Motor Ihsan pun tak terlihat ada di garasi.Dadanya tiba-tiba tak enak rasanya.“Mungkin dipakai keluar,” ucapnya pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri.Ia melangkah mendekat dan mengetuk pintu beberapa kali.Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul.“Bibi …,” sapa Eca setengah ragu. “Ihsan ada?”Wanita itu sontak menggeleng. “Ihsan dari pagi sudah ke kota, Neng.”Deg.Rasanya seperti ada sesuatu yang menda

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 8

    Eca masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah jalan setapak yang tadi dilalui Ihsan sampai sosok itu benar-benar menghilang dari pandangan. Suasana berubah sunyi. Hanya angin sore yang berembus pelan, menggerakkan ujung rambut Eca yang terlepas dari ikatan. Namun, yang terasa di dadanya justru sesak yang semakin menekannya. Ia mendengus kesal, sebelum kakinya menghentak tanah, membuat rumput liar di bawahnya terinjak. “Sok banget si Ihsan …,” gerutunya pelan sambil mengerucutkan bibir. “Dulu juga nempel terus ke aku.” Tangannya dilipat di depan dada, wajahnya masih cemberut saking kesalnya. Padahal, tadi ia sudah menurunkan gengsi yang setinggi gunung itu. Sudah mencoba bicara baik-baik. Bahkan, hampir jatuh gara-gara mengejar. Tapi respons Ihsan? Begitu dingin. Seolah tidak melihat usahanya sama sekali. Eca mendengus lagi, kali ini lebih keras. Tak pernah ia sejengkal ini pada orang. “Ih, nyebelin banget!” Namun, semakin lama berdiri di situ, rasa kesal itu perlahan berub

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 7

    Pertanyaan Eca membuat langkah Ihsan benar-benar terhenti, bahkan pria itu sampai berbalik.Keningnya sedikit terangkat saat menatap wajah gadis di hadapannya, seolah sedang menimbang sesuatu, atau … justru menganggapnya aneh.Beberapa saat, hanya suara angin yang berhembus pela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status