MasukAcha melongo beberapa detik, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia buru-buru mematikan mesin motor, seolah ingin memastikan pendengarannya memang tidak salah. Matanya menyipit penasaran. “Gimana? Tadi bilang apa?”“Menikah sama saya.” Ihsan menjawab tegas.Hening. Padahal, kalimat itu sudah terdengar begitu jelas, tetapi Eca masih mencoba mencernanya.Sebelum hari ini datang, ia yang lebih dulu merendahkan harga dirinya, tak tahu malu ngebet minta dinikahi, tetapi hasilnya apa?Ihsan menolaknya. Ya, dia ditolak mentah-mentah.Sekarang, tiba-tiba pria itu yang justru mengajaknya menikah.Jujur saja, Eca tak tahu harus bahagia atau bersikap seperti apa. Rasanya, perubahan ini terlalu mendadak. Mengapa Ihsan pada akhirnya mau menikahinya?Pertanyaan itu terus menggantung tanpa jawaban. Eca lalu turun dari motornya, mendekati Ihsan.Tanpa pikir panjang, tangannya diulurkan begitu saja, menyentuh kening Ihsan. “Kamu sakit?” tanyanya polos. Alis Ihsan langsung be
Tubuh Eca terdorong ke depan. Namun, sebelum sempat kehilangan keseimbangan, genggaman kasar di lengannya mendadak terlepas.Bugh! Salah satu pria itu tiba-tiba tersungkur ke samping.Eca terbelalak kaget, bahkan sebelum sempat ia mencerna apa yang terjadi, pukulan lain yang lebih keras dan cepat datang tanpa jeda.Bugh! Bugh!Pria yang satunya ikut terhuyung mundur, lalu jatuh menimpa tubuh temannya.Di hadapan Eca, seorang pria berhelm berdiri dengan napas sedikit memburu.Tanpa banyak bicara, ia kembali melangkah maju. Bogem mentah berikutnya mendarat telak, membuat salah satu dari mereka mengerang kesakitan.Gerakannya tegas dan terukur, seolah tahu persis ke mana harus menyerang.Eca hanya bisa terpaku di tempatnya.Jantungnya berdebar kencang, tak hanya takut, tetapi juga karena apa yang dilihatnya sekarang benar-benar di luar bayangannya. Tadinya, ia hanya berniat menenangkan diri di pos ronda ini, ternyata bahaya justru mengintai.Pria itu lalu meraih helm di kepalanya saat
Setelah berpikir cukup lama, Eca akhirnya benar-benar memutuskan untuk menemui Ihsan lagi.Hari sudah sore ketika motor Beat Street andalannya melaju menyusuri jalan desa. Angin menerpa wajahnya, tetapi tak sedikit pun mampu menenangkan isi kepalanya yang terasa penuh.Sepanjang perjalanan, pikirannya hanya seputar rumah serta waktunya mencari jalan keluar untuk mempertahankan rumah itu yang kian menyempit.Sampai akhirnya motor itu berhenti tepat di depan rumah Ihsan.Eca turun perlahan, matanya langsung menyapu halaman rumah yang nampak sepi itu.Motor Ihsan pun tak terlihat ada di garasi.Dadanya tiba-tiba tak enak rasanya.“Mungkin dipakai keluar,” ucapnya pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri.Ia melangkah mendekat dan mengetuk pintu beberapa kali.Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul.“Bibi …,” sapa Eca setengah ragu. “Ihsan ada?”Wanita itu sontak menggeleng. “Ihsan dari pagi sudah ke kota, Neng.”Deg.Rasanya seperti ada sesuatu yang menda
Eca masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah jalan setapak yang tadi dilalui Ihsan sampai sosok itu benar-benar menghilang dari pandangan. Suasana berubah sunyi. Hanya angin sore yang berembus pelan, menggerakkan ujung rambut Eca yang terlepas dari ikatan. Namun, yang terasa di dadanya justru sesak yang semakin menekannya. Ia mendengus kesal, sebelum kakinya menghentak tanah, membuat rumput liar di bawahnya terinjak. “Sok banget si Ihsan …,” gerutunya pelan sambil mengerucutkan bibir. “Dulu juga nempel terus ke aku.” Tangannya dilipat di depan dada, wajahnya masih cemberut saking kesalnya. Padahal, tadi ia sudah menurunkan gengsi yang setinggi gunung itu. Sudah mencoba bicara baik-baik. Bahkan, hampir jatuh gara-gara mengejar. Tapi respons Ihsan? Begitu dingin. Seolah tidak melihat usahanya sama sekali. Eca mendengus lagi, kali ini lebih keras. Tak pernah ia sejengkal ini pada orang. “Ih, nyebelin banget!” Namun, semakin lama berdiri di situ, rasa kesal itu perlahan berub
Pertanyaan Eca membuat langkah Ihsan benar-benar terhenti, bahkan pria itu sampai berbalik.Keningnya sedikit terangkat saat menatap wajah gadis di hadapannya, seolah sedang menimbang sesuatu, atau … justru menganggapnya aneh.Beberapa saat, hanya suara angin yang berhembus pelan di antara hamparan sawah. Daun-daun padi bergesekan lembut, seakan ikut menunggu jawaban.Entah kenapa, menunggu jawaban dari Ihsan rasanya jauh lebih menegangkan bagi Eca dibanding saat ia hampir jatuh ke sawah tadi.“Apa kamu ini sudah tidak waras?”“Apa maksudmu?”“Omonganmu barusan,” lanjut Ihsan tanpa ekspresi. “Masuk akal atau tidak, kamu pasti tahu.”Mulut Eca sedikit terbuka. Ia tentu sadar sedang disindir. Tetapi, ia tidak mundur.“Aih!” Eca mendecak kesal. “Aku serius, Ihsan,” balasnya dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.Ihsan menatapnya beberapa detik, nampak seperti berusaha memastikan sesuatu.
Eca mundur satu langkah, namun pria itu tetap saja maju, seakan tak peduli penolakan yang jelas dari gadis itu.Tanpa pikir panjang, kaki Eca langsung terangkat.Bugh!“AAARGH! Sialan!”Tubuh Juragan Dasim seketika membungkuk. Kedua tangannya refleks menutup selangkangan, wajahnya memerah menahan nyeri.Napas Eca memburu. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tak berhenti di situ saja.Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mendorong bahu Juragan Dasim kuat-kuat.“Keluar!” bentak Eca.Dasim terhuyung beberapa langkah ke belakang, nyaris jatuh andai tak sempat berpegangan pada pintu.“Kamu ….” Napasnya tersendat, matanya melotot penuh amarah. “Berani-beraninya kamu melakukan ini pada saya!”“Keluar dari rumah saya!” potong Eca. Suaranya bergetar, tetapi tatapannya tajam, tak sedikit pun gentar.Beberapa detik, hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara mereka.Juragan Dasim akhirnya berdiri tegak, meski wajahnya masih tampak menahan sakit. Ia merapikan bajunya dengan gerakan







