LOGIN“Neng, Nduk. Mumpung kalian kumpul di sini, ada hal yang pakde mau katakan.” Danu mendadak serius, dan mereka semua langsung memperhatikannya dengan seksama.“Ada apa, Pakde?” Lily memberi perhatian penuh padanya.Keadaan hening sejenak, kemudian Danu perlihatkan isi chatnya pada Wawan petang tadi yang menindaklanjuti tentang penjualan tanahnya.“Wah! Sudah laku, Pakde?” tanya Susan yang terlihat antusias.“Iya, Wawan yang bantu jualkan.. Dan untungnya, dia memang pintar nego harga tanah.” Danu tersenyum senang.“Jadi, kejual berapa? Sudah cukup untuk bayar tuntutan itu?” tanya Ainun.Danu mengangguk pelan. “Masih ada sisa sedikit. Niatnya, nanti pakde mau cari motor biar pergi kerjanya gampang. Yang murah aja,” jawab Danu.Mereka semua tersenyum. Ane yang sudah turun saat itu langsung memeluk Danu dengan begitu sedih karena nasibnya yang malang.“Udah, nggak papa. Ini salah pakde juga yang sembarangan,” ucap Danu pada mereka semua.“Tapi, ada satu lagi.” Danu melanjutkan obrolan itu
Danu duduk sendirian di kursi rotan. Ia merasakan sepi, ada yang belum pulang dan ia menunggunya dengan perasaan yang cukup gelisah.Ainun kebetulan keluar, dan ia lewat di depan Danu saat akan isi tumbler di dapur umum. Ia celingukan, dan ia langsung hampiri Danu dengan langkah pelan.“Pakde, nungguin siapa? Kak Susan, ya?” tanya Ainun..Danu yang sejak tadi melamun itu sontak kaget dengan suara yang mendadak terdengar di telinganya.“Eh, Neng?” Danu langsung menurunkan kakinya dari kursi dan menatap Ainun. “Pakde nggak nungguin, tapi pakde cuma bingung karena Susan nggak ada kabar,” balasnya.“Oh, gitu. Ini akhir bulan, biasanya dia juga sibuk buat pembukuan. Ai juga lagi lembur terus belakangan.”“Oh, gitu?” Danu seperti lupa hari karena kesibukanya belakangan ini.“Iya, Pakde. Maklumin aja, nanti juga pulang. Atau kalau enggak, ya nginep di butiknya yang gede itu. Kan ada kamarnya,” balas Ainun lagi..Danu mengangguk. Seketika isi fikirannya teringat tentang masa masa mereka bers
Mobil berhenti sesuai perjanjian, tepat di depan gang. Itu pun karena Danu mengingatkan, dan hari sudah nyaris malam. Tak enak dengan Fatma yang harus mengantarnya.“Makasih, Bu. Maaf, nggak bisa tawarin mampir,” ucap Danu.“Ya, Pak. Sampai ketemu besok, ya?” balas Fatma padanya.Danu tersenyum, dan ia melambaikan tangan ketika Fatma pergi darinya hingga perlahan hilang dari pandangan mata.Danu kemudian membalik badan, ia harus jalan agak jauh dari pertigaan hingga tiba di rumah dan kostnya. Pasti, para gadis sudah menunggu saat itu.“Dan, kok jalan?” tanya Wawan yang lewat dengan motor dan melihat sahabatnya itu. Ia segera berhenti.“Eh, kamu, Wan. Dari mana?” Danu balik bertanya.“Aku dari toko tadi, cek barang. Kamu baru pulang kerja? Ayo, tak anter.” Pria itu menawarkan diri.“Eh, kamu udah mau pulang. Masa balik lagi cuma karena mau anter aku. Ndak usah, ah!” Danu segera menolak karena tak enak.“Ayo! Ada yang mau aku bicarain ke kamu!” paksa pria itu.Mau tak mau Danu naik, dan
Hari sudah sore, Danu bersiap untuk pulang dari kantornya dan ia sudah merapikan semua bagian gudang. Ia tatap sejenak, ia berfikir keras menatap apa yang kurang dari semuanya.“Sepertinya sudah pas!” Danu mengacungkan jempol pada hasil kerjanya sendiri.Tapi hari ini Susan tidak ada menghubungi. Ini bukan perkara ia mau nebeng, tapi memang sudah terbiasa dengan perhatian janda cantik itu padanya. Saat perhatian itu hilang, dunia Danu seketika sepi.Untung masih ada gadis lain yang tak lama kemudian hubungi Danu lewat chat. Dia lah Ainun, yang cuek tapi perhatian dengan keadaan Danu. Hanya kata katanya saja yang sering terdengar judes.“Halo, Neng?” Danu menelponnya sambil jalan keluar pabrik.“Eh, Pakde nelpon. Lagi apa, Pakde?” tanya Ainun dengan ramah dan suara yang cukup keras. Ia seolah tak peduli jika Silvy dengar dan kemudian menatapnya dengan penuh kecemburuan.“Ya, Neng. Ini, Pakde baru keluar dari pabrik. Baru saja bisa pulang,” jawab Danu padanya.Ainun tersenyum mendengar
“Aku Cuma—”“Sudah, sudah!” Amy kembali melerai mereka berdua. Rasanya pusing karena ia hanya sendiri saat ini.“Vy, kamu itu kenapa? Sekali lagi aku tanya, kamu kenapa sampai harus begini banget sama kak Susan dan yang lain? Mereka itu sayang sama kamu, dan nggak ada yang mau musuhan sama kamu.”Amy berusaha bicara saat ini, ketika Silvy sedang ada di sana dan saat ia tak ada celah untuk menghindar karena Lily juga ada. Bukan untuk menekan, tapi hanya penasaran. Siapa tahu, jadi jalan penyelesaian.“Kalian cuma nggak tahu aja, mereka itu munafik! Mereka baik di depan, tapi menikam di belakang!” ujar Silvy.Mereka berdua langsung kaget dengan pengakuan itu, dan anggap pasti Silvy sedang sensi untuk kesekian kali.“Susan yang selalu kalian bilang baik, polos dan lembut itu, aslinya adalah penggoda. Di belakang kalian, dia selalu godain pakde. Aku lihat sendiri, meski aku nggak tahu sudah berapa kali mereka tidur bareng!”“Silvy!” Lily langsung membentaknya dengan keras.“Kamu yang terl
“Ah! Pak Danu!” Fatma memekik, dan ia segera menyilangkan kedua tanganya di dada saat itu.“Ah! Maaf, Bu Fatma.” Danu menghentikan mobilnya saat itu, dan langsung cemas menghadap Fatma.“Ada yang sakit, nggak?” tanya Danu yang menatapnya dengan seksama.Melihat Danu yang sangat khawatir padanya, entah kenapa jantung Fatma berdebar dengan kencang. Baru pertama kali ia lihat sosok pria yang begitu tulus, tak pernah mengambil kesempatan apapun terhadap sebuah situasi.“Enggak, Pak Danu. Tadi, Fatma hanya kaget saja, jadinya Fatma memekik. Makasih, sudah lindungi Fatma tadi. Fatma salah karena tidak pakai sabuk pengaman,” ucapnya dengan nada suara yang lembut.Danu menarik napas lega. Tadinya ia fikir Fatma akan marah, tapi rupanya berterimakasih.“Ya, Bu. Maaf, tadi saya spontan aja, jadinya-““Nggak papa. Saya tahu kalau Pak Danu nggak sengaja. It’s oke,” ucap wanita itu.Danu mengangguk, dan kemudian ia jalankan kembali mobilnya untuk menuju perusahaan pak Jon. Mereka sudah ditunggu, d
“Pakde, kami berangkat kerja dulu, ya!” Dua gadis cantik lewat dengan motornya, berboncengan, yang seketika membuat suasana warkop jadi heboh.Silvy dan Amidya. Gadis manis itu sama-sama merantau cukup jauh dari Daerah asal, dan orang tua mereka bahkan sempat datangi Danu untuk menitipkan keduanya
“Pakde, Lily tahu bahwa ini berat. Pakde sabar, ya? Pasti semua akan menemukan titik terang, dan Pakde lebih tahu bagaimana seharusnya nanti.” Lily terus berusaha menghiburnya agar tetap tenang, walau ia tahu bahwa sebenarnya itu sangatlah sulit.Danu hanya diam, meratapi nasibnya yang malang.Lily
“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yan
Ting!Ting!Suara notifikasi pesan di Hp itu membangunkan Danu yang pada akhirnya bisa tidur jam tiga pagi. Saat dicek, ia terkejut karena banyak sekali isi chat di grup kost Melati.Rupanya kabar kemarin sudah cepat menyebar di antara mereka semua hingga menjadi hot topic sejak semalam. Tampak jug







