MasukGadis itu melangkah, dan terus melangkah menuju ruangan yang memanggil nama familiar itu tadi. Ia semakin penasaran dan dipenuhi berbagai harapan tinggi di hati.“Lily!” Tapi suara lain memanggil, dan mau tak mau ia segera menoleh ke arahnya saat itu juga.“Laras? Kamu ngapain di sini?” tanya Lily pada teman kuliah yang juga akan wisuda bersamanya sabtu depan.Mereka saling berpelukan penuh rindu, dan rasanya sudah lama sekali tidak bertemu.“Aku bawa ayahku kontrol. Tadi abis ke Lab, terus dari jauh aku lihat kamu. Aku panggil, deh. Kamu mau kemana?” tanya Laras balik padanya, saat lihat bawaan Lily banyak sekali.“Oh, iya. Aku mau ke ruangan kebidanan, temenku dirawat di sana, lagi hamil.” Lily tunjuk ruangan yang ada di atas sebelah kiri.“Oh, gitu.”Tapi karena sibuk masing masing, mau tak mau mereka segera berpisah saat itu. Lily segera naik ke ruangan Silvy dan batal memastikan nama yang dipanggil tadi.Pintu ruangan dibuka, tampak Ane sedang menggantikan Silvy pakaian dengan ya
“Pakde, sarapannya udah siap!” Lily memanggil dari luar, dan Danu sedang bersiap untuk segera pergi ke pabrik hari itu.“Ya, Nduk!” Danu meraih tas selempang miliknya, lalu ia bawa ketika keluar.Sudah sangat tampan bapak kost mereka dengan kemeja abu abunya itu. Lily tersenyum dengan begitu gemas, rasanya ingin ia cubit jenggot Danu yang mulai tumbuh di dagu.“Masak apa hari ini?” tanya Danu padanya sembari jalan ke dapur umum.“Kak Amy masak ayam goreng sama sambel terasi. Ada rebusan juga, buat Pakde yang butuh banyak asupan nutrisi.”Melihat senyum Lily indah bagai mentari, Danu usap rambutnya yang rapi itu. Nyaris saja Lily marah karena membuat semuanya berantakan.“Pakde sudah datang?” sapa Susan yang sedang mempersiapkan sarapan di atas meja. Ada juga gorengan yang ia beli untuk para tukang nanti.“Wah, enak banget ini. Kalian memang rajin!” puji Danu padanya.Semua yang ada di sana tersenyum. Rasanya juga, hari ini terasa begitu damai tanpa ada yang menyinggung, dan huru hara
“Vy, ada mau sesuatu, nggak?” tanya Ane yang menghampirinya di ruang rawat kebidanan.Silvy sedang main hp saat itu, dan ia sibuk menghubungi Danu. Feeling Silvy sepertinya kuat dengan apa yang terjadi pada Danu di tempatnya saat ini.“Silvy,” panggil Ane lagi, yang mendekat dan meraih bahunya agar segera menjawab.“Eh, Ane. Kenapa, Ne?” tanyanya dengan menggigit bibir.“Aku tanya, kamu ada yang dimau apa enggak? Soalnya, aku mau keluar cari makan sebentar.” Ane menawarkan lagi dengan nadanya yang pelan kali ini.“Iya, mau sih. Tapi—”“Pakde ada titip uang ke aku, tapi nggak banyak. Kalau kamu mau, bilang aja.”Silvy tertunduk. Nyatanya meski Danu kesal dan marah, ia tetap perhatian dengannya dan masih mau menuruti apa yang dia mau saat ini. Demi bayi.“Vy, pengen nasi goreng, boleh? Tapi jangan yang pedes, tadi dikasih peringatan sama Dokternya.”“Oh, itu. Iya, Ane tahu. Juga nggak boleh minum es sama minuman yang terlalu manis bepengawet, kan?” Ane menjelaskan, dan Silvy menganggukk
“Sssh! Aah, Pakde!” rintih Amy ketika kepala si Jarot mulai melesak memasuki dirinya saat itu.Milik Amy terasa linu linu sedap, antara menikmati dan juga kesakitan efek sudah lama tidak disambangi oleh bapak kostnya itu. Rasanya sangat nano nano dan itu sulit ia jelaskan dengan kata kata.Sejak pernah dengan Danu, rasanya Amy malas membuka diri pada pria lain lagi. Meski sudah ada beberapa orang yang mendekati.Posisi mereka duduk dengan Amy di pangkuan Danu. Bagian depan piyamanya sudah terbuka dengan sangat rendah sampai delima ranumnya terlihat sempurna. Danu mainkan, Danu hisap dengan begitu gemasnya.“Aaah! Pakde! Oooh!” Amy terus meracau dan ia bergerak pelan sembari menyesuaikan diri dengan yang ada di dalam sana.Gerakan Amy naik turun saat itu. Sesekali ia turunkan wajahnya, ia kecup bibir Danu yang ia rebut tahtanya dari delima ranum yang sedang dinikmati.“Eenghhh! Hhmmpphh! Enak banget, Pakde. Udah lama nggak gini. Aaah!” Amy terus mendesah, dan kini gerakannya berubah me
“Ah, Pakde. Maaf kalau Amy ganggu. Amy cuma mau… mau bangunin Pakde biar pindah ke tempat yang lebih nyaman.” Amy menjawab dengan nada yang gugup, menggigit bibir dan kepalanya tertunduk.Danu kemudian merubah posisinya menjadi duduk, ia usap rambut Amy agar sedikit tenang dan tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi barusan.“Nggak papa, Pakde cuma capek aja. Tadi baca pesan, bablas ketiduran. Ini kopi Pakde?” tanya Danu, menatap kopi yang ada di atas meja saat itu.“Iya, Pakde. Tapi mungkin sudah dingin. Atau, mau Amy buatin lagi?” Amy menawarkan, tapi Danu menggeleng menolaknya dan langsung menyeruput kopi yang sudah jadi hangat kuku.“Nggak papa, masih enak. Yang lain mana?” tanya Danu padanya, karena ia lihat siang yang hampir sore itu terasa sangat sepi.“Kak Susan sama Lily ke butik. Mau cariin Lily kebaya buat wisuda nanti. Katanya sih, kak Susan yang mau kasih kado.”“Ya, dia memang terlalu baik. Kadang pakde takut, dia dimanfaatkan lagi sama orang jahat.” Danu menghela nap
Tok… tok… tok!Pintu ruangan Silvy dirawat itu diketuk, lalu dibuka pelan oleh Ane yang baru datang.Ia sengaja lebih cepat tiba dari jam dinas karena ingin memberi waktu istirahat untuk Danu, karena ia pasti sudah lelah sekali sekarang.“Pakde sudah makan?” tanya Ane dengan begitu perhatian.“Sudah, Neng.” Danu menjawab dengan nada yang sangat pelan.“Oke, syukurlah. Ane dinas sore hari ini, tapi nanti bisa sekalian jaga Silvy dan pulang pagi. Kalau Pakde sorenya mau pulang, nggak papa. Di sini lagi sepi,” ucap Ane padanya.“Ne,” tegur Silvy yang tak setuju dengan perintah itu.“Loh, kenapa? Kamu nggak lihat, Pakde capek banget gitu? Butuh istirahat yang cukup, biar besok bisa seger pas mau kerja lagi.”“Tapi aku lagi dirawat. Kamu masa nggak paham?” Silvy membalas lagi.“Paham. Justru karena paham, Ane minta Pakde untuk kerja dan tawarin diri buat bantu tunggu kamu. Memangnya, kamu bisa bayar Rumah sakit sendiri?” Ucapan yang terdengar kasar, tapi sangat fakta.Harusnya Silvy berfik
Pagi harinya, Danu bangun dari tidur dengan tubuh yang sudah mendingan Untungnya para gadis itu merawatnya dengan sangat baik hingga sakit yang ia rasakan tidak semakin menjadi.Sejak meminum obat yang diberikan oleh Ane tadi malam, ia tenang dan tidur sangat nyenyak. Hingga saat bangun, ia juga l
“Apa kamu bilang, Mas? Kamu berani tolak aku, Mas?” tukas Tina pada suaminya itu.Wanita dengan tubuh cukup berisi tapi padat itu tampak meradang mendengar penolakan yang diberikan oleh sang suami. Wajahnya terlihat sangat marah dan tangannya mengepal sejak tadi.Saat tahu Tina akan masuk, Silvy m
“Pakde, Lily tahu bahwa ini berat. Pakde sabar, ya? Pasti semua akan menemukan titik terang, dan Pakde lebih tahu bagaimana seharusnya nanti.” Lily terus berusaha menghiburnya agar tetap tenang, walau ia tahu bahwa sebenarnya itu sangatlah sulit.Danu hanya diam, meratapi nasibnya yang malang.Lily
“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yan







