MasukAnya langsung mematikan sambungan panggilan video itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia melempar ponselnya ke ujung ranjang seolah benda itu baru saja menyengat kulitnya. Dadanya terasa begitu sesak, seakan pasokan oksigen di dalam kamarnya mendadak habis ditelan bumi.Drrt ... drrt ... drrt.Ponsel di ujung kasur kembali bergetar hebat. Nama "Mas Gusti" berkedip-kedip di layar. Anya hanya menatapnya dengan pandangan kosong, membiarkan air matanya runtuh satu per satu."Kenapa, Mas. Kenapa harus di saat seperti ini?" bisiknya lirih di sela tangis yang ia redam sekuat tenaga.Keesokan paginya, kilas cahaya fajar mulai mengintip dari celah gorden. Anya bangkit dengan tubuh yang terasa remuk dan mata yang bengkak. Begitu ponsel dinyalakan kembali, puluhan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan teks dari Gusti langsung membanjiri layar.“Anya, tolong angkat. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”“Dia hanya mengantarkan berkas rapat dan menumpahkan kopi di bajunya, makanya dia membe
Anya memejamkan mata erat-erat, mencoba menghapus citra pria di lampu merah tadi dari ingatannya. Ia tahu betul itu bukan Bagas. Pria itu sangat mirip dengan seseorang yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam. Seseorang yang memiliki kaitan dengan masa lalu yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun, termasuk Gusti."Tidak mungkin dia di Jakarta. Itu hanya mirip saja," bisik Anya pada dirinya sendiri, jemarinya meremas pinggiran wastafel kamar mandi. "Ini hanya halusinasiku karena terlalu stres. Aku hanya kelelahan."Anya mencoba menenangkan diri dengan membasuh wajahnya berulang kali. Air dingin yang menerpa kulitnya sedikit mengembalikan kesadaran. Ia harus tetap sadar. Ia tidak boleh membiarkan ketakutan yang tak berdasar ini meruntuhkan benteng perlindungan yang sudah ia bangun dengan susah payah.Baru saja ia hendak melangkah menuju tempat tidur, pintu kamarnya diketuk pelan."Non Anya? Ini Reni. Non tidak turun untuk makan malam?" Suara Reni terdengar lembut namun penuh nada
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memaksa Anya untuk membuka matanya yang terasa berat. Hal pertama yang ia lakukan adalah meraba sisi tempat tidur di sampingnya yang kosong. Dingin. Gusti masih di Surabaya, dan kenyataan itu membawa sedikit rasa sesak di dadanya.Anya segera bangkit dan memeriksa ponselnya. Tidak ada notifikasi baru, tidak ada pesan, dan tidak ada panggilan dari Bagas. Sepertinya perintah Mama Anggun dari Malaysia benar-benar manjur untuk menahan langkah pria itu sementara waktu.Anya melangkah turun ke lantai bawah dan mendapati Reni sedang sibuk menyiapkan sarapan, sementara Pak Jono. Suami Reni sekaligus sopirnya, tengah memanaskan mesin mobil di garasi."Pagi, Non Anya. Wah, wajahnya sudah kelihatan lebih segar," sapa Reni ramah sambil menata piring di meja makan."Pagi, Mbak Ren. Bagaimana Pak Jono? Semalam tidurnya nyenyak?"tanya Anya. Tersenyum tipis."Alhamdulillah nyenyak, Non. Katanya lebih tenang kalau bisa ikut jagain Non Anya di rumah ini," jawa
Anya meringkuk di sudut kursi taksi. Membiarkan air matanya mengalir deras seiring dengan menjauhnya gedung kantor dari pandangan. Di hotel bintang empat yang letaknya cukup tersembunyi, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk terdiam di dalam kamar, mencoba mencuci bersih sisa-sisa aroma Bagas yang seolah masih menempel di pori-pori kulitnya.Setelah merasa cukup tenang, Anya meraih ponselnya. Ia menyadari bahwa bersembunyi terus-menerus bukan solusi. Ia harus bertindak secara taktis untuk menutup ruang gerak Bagas tanpa harus berhadapan langsung dengan pria itu.Anya mencari kontak Mama Anggun dan menekan tombol panggil."Halo, Mama? Maaf mengganggu waktu istirahat Mama," ucap Anya, mencoba mengatur suaranya agar terdengar normal dan tenang."Iya, Anya. Ada apa, Sayang? Mama baru saja selesai makan dengan Papa," suara Mama Anggun terdengar hangat namun sedikit lelah."Anya cuma mau tanya, bagaimana hasil kontrol kesehatan Papa di sana, Ma? Apakah semuanya lancar?" tanya Anya tulus,
"Sama-sama, Sayang, kita sampai bersama-sama!" geram Bagas. Ia memberikan beberapa sentakan terakhir yang paling kuat dan paling dalam, seolah ingin menyentuh dasar jiwa Anya. Dalam satu ledakan gairah yang dahsyat, Anya melepaskan longlongan yang sangat panjang, tubuhnya melenting hebat sebelum akhirnya terkulai lemas di pelukan Bagas. Di saat yang sama, Bagas mengerang rendah, menyemburkan seluruh gairahnya.Keheningan yang pekat menyusul setelah badai gairah itu mereda di atas sofa beludru. Bagas masih memeluk tubuh Anya yang terkulai lemas, mencoba mengatur napasnya yang masih menderu kasar. Kesunyian itu pecah oleh getaran ponsel Anya di atas meja rias yang menampilkan nama Mama Anggun."Halo, Ma?" suara Anya terdengar sedikit parau dan gemetar saat ia menjauh dari Bagas untuk menerima panggilan itu."Anya, mohon maaf Mama baru bisa memberi kabar sekarang. Mama baru saja sampai di Malaysia, tadi perjalanannya cukup melelahkan," suara Anggun terdengar dari seberang sana dengan lat
Bagas menyadari bahwa paksaan hanya akan membuat Anya semakin terkunci. Ia meletakkan kedua tangannya di pipi Anya. Memaksa wanita itu untuk menatap dalam ke matanya yang berkilat lapar namun penuh dengan pemujaan."Lihat aku, Anya. Fokus hanya padaku. Jangan pikirkan yang lain. Hanya ada kita di sini," bisik Bagas dengan suara rendah yang menggetarkan sukma Anya.Ia mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di sudut bibir Anya, lalu turun ke rahang, dan memberikan sesapan dalam di leher yang meninggalkan tanda kemerahan. Sementara itu, jemari Bagas kembali bekerja di bawah sana. Ia tidak membiarkan area itu kering; ia kembali memberikan rangsangan telaten Memutar dan menekan pusat gairah Anya hingga wanita itu melenguh pasrah."Nngghh. Bagas, Rasanya sangat sesak. Aku takut," rintih Anya, tubuhnya bergetar hebat di pangkuan Bagas."Sstt. Jangan takut. Tubuhmu diciptakan untuk menerima ini. Lepaskan semuanya," potong Bagas sambil terus memberikan pijatan lembut yang membuat pertahanan Any







