MasukTanpa membuang waktu lagi, Bagas memutar tubuh Anya menghadapnya. Dengan satu gerakan sigap, ia menyambar tubuh molek yang masih basah itu ke dalam gendongan kekarnya, mengangkatnya dengan mudah seolah Anya tidak berbobot sama sekali."Mas, kita mau ke mana lagi? Kenapa tidak di sini saja?" tanya Anya parau dengan suara yang terputus-putus. Kedua tangannya mengalung lemas di leher kokoh sang CEO, merasa tubuhnya sudah terlanjur telanjang dan pasrah di dalam area mandi.Bagas hanya terkekeh serak, mempererat dekapannya pada tubuh polos wanitanya sembari melangkah mantap keluar dari kamar mandi. "Di sini areanya terlalu sempit untuk kepuasan yang mau saya berikan, Sayang. Saya punya tempat yang jauh lebih baik untuk membuatmu memohon," jawab Bagas beringas penuh gairah saat membawa Anya menuju ruang kerja privat yang berada di sudut suite room.Bagas tidak membawa Anya ke ranjang besar yang empuk. Dengan dominasi penuh, ia justru menidurkan tubuh polos Anya di atas meja kerja Anya yang
Secara mengejutkan, Bagas mendadak menarik lidahnya menjauh dari keintiman Anya yang sudah basah kuyup, tepat sebelum asisten cantiknya itu menyentuh puncak klimaks yang sudah di depan mata. Pria itu menyudahi permainannya di dalam bathtub, menegakkan tubuh tegapnya yang basah dengan napas yang teratur namun menyiratkan dominasi mutlak yang tak terbantahkan.Anya seketika tersentak, matanya terbuka lebar dengan pupil yang berkabut pekat. Rasa panas dan kehangatan yang tiba-tiba hilang di saat ia sudah berada di ujung tanduk pelepasan membuat tubuhnya bagai dijatuhkan dari tebing tinggi. Ia merintih frustrasi, merasakan siksaan gairah yang menggantung di udara menuntut tumpahan yang nyata. Tubuhnya gemetar hebat, menatap Bagas dengan pandangan memohon yang teramat dalam, kehilangan seluruh harga diri formalnya sebagai seorang sekretaris."M-Mas Bagas ahh, kenapa berhenti? Tolong, Mas, sedikit lagi. Saya mohon," ratap Anya pasrah. Jemarinya yang gemetar bergerak liar meremas ujung celan
Anya tidak menjawab sedikitpun. Ia masih merasakan kenikmatan yang diciptakan Bagas. Pikirannya melayang jauh.“Sayang, masih kuat ditusuk pakai lidah saya?” tanya Bagas kembali, suaranya terdengar teramat parau, berat, dan basah di sela-sela paha Anya yang gemetar hebat.Matanya yang menggelap pekat menatap ke atas, menyaksikan bagaimana asisten cantiknya mencengkeram erat tepi bathtub marmer dengan kuat. Anya tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa melenguh panjang, menggelengkan kepalanya pasrah dengan air mata kepuasan yang kian deras membasahi pipi meronanya." Ahh, M-Mas Bagas, ahhh, emhh! " cicit Anya di sela napasnya yang terputus-putus. Tubuh moleknya masih menyentak halus, sisa-sisa gelombang pelepasan masif tadi membuat seluruh urat sarafnya terasa lumpuh sekaligus teramat peka. "T-Tolong jangan lepas dulu, jilat lagi lubang saya yang basah ini, Mas, ahh."Bagas menyunggingkan seringai sensual yang teramat beringas. Alih-alih menyudahi atau memberikan waktu
Tubuh Anya bergetar hebat di atas wajah Bagas. Puncak pelepasan yang dipicu oleh jilatan beringas sang CEO sudah berada di ujung urat sarafnya. Air matanya menetes, tangannya meremas rambut hitam Bagas kian erat seiring lenguhan panjang yang siap lolos dari belahan bibirnya." Ahhh! Mas Bagas, sedikit lagi, emhh, ahhh! " rintih Anya dengan suara yang terputus-putus.Bagas semakin gencar menyesap titik peka itu, menikmati bagaimana asisten cantiknya sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendalinya. Kamar mandi mewah itu benar-benar dipenuhi oleh kabut gairah yang teramat pekat.Drttttt! Drttttt! Drttttt!Samar-samar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara getaran keras ponsel Bagas yang tertinggal di atas meja nakas luar terdengar berdering tanpa ampun. Nada dering khusus itu terus berbunyi, seolah menandakan ada urusan yang teramat mendesak di luar sana.Bagas sempat menghentikan gerakan lidahnya sejenak. Rahangnya mengeras, menyadari bahwa panggilan di jam seperti ini bi
“Mas, aku masih mau. Tapi lemas,” jawab Anya, menutup wajahnya.Dengan dominasi yang tak terbantahkan, Bagas memegang pinggang Anya dan perlahan mendorongnya untuk bangkit."Berdirilah di hadapan saya!" perintah Bagas dengan suara bariton yang teramat serak dan dalam.Anya melenguh pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri tegak di dalam bathtub yang licin, tepat di hadapan Bagas yang kini perlahan merebahkan diri, merebahkan punggung kekarnya dengan santai di dalam lengkungan marmer.Bagas menatap ke atas, memandangi setiap jengkal keindahan tubuh polos Anya dari sudut pandang bawah yang teramat intim. Tatapannya kemudian terkunci pada mahkota keintiman Anya yang masih memerah dan basah pasca pelepasan."Mas Bagas ... kenapa saya diminta berdiri seperti ini?" tanya Anya dengan suara parau yang bergetar, tangannya refleks bergerak sedikit ke depan untuk menutupi rasa malunya yang mendadak kembali membuncah.Bagas tersenyum sensual, meraih kedua pergelangan tangan Anya d
Bagas benar-benar sudah berada di batas ketahanannya. Hasrat yang sedari tadi ditahan dan diulur kini berontak hebat, menuntut pelepasan yang sesungguhnya. Tanpa menunggu Anya kembali menurunkan kepalanya, Bagas mencengkeram pinggang ramping asisten cantiknya itu dengan kedua tangan kekarnya, lalu mengangkat tubuh Anya sedikit ke atas.Anya melenguh pelan, kedua tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Bagas yang kokoh untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dari posisi saling berhadapan di atas pangkuan, Anya bisa merasakan ujung kejantanan Bagas yang panas dan menegang sempurna kini kembali mengintip di depan gerbang keintimannya. Anya merasakan getaran dalam hatinya, bersama Bagas ia merasakan keindahan dalam kebersamaan."Mas Bagas, ahh," desah Anya parau, menatap langsung ke dalam manik mata elang Bagas yang berkilat beringas sekaligus penuh puja. "Masukkan, Mas, saya sudah tidak sanggup menahannya lagi. Mas, ayo Mas, Mas Bagas sayang, ayo!""Sesuai keinginanmu, permaisuriku," geram Ba
"Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka
Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. "Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, menc
“Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata
[Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang.







