LOGINAnya segera menarik tangannya, jantungnya masih berdebar kencang akibat sentuhan dan ciuman singkat Bagas yang tak terduga. Ia mundur beberapa langkah, menatap Bagas dengan tatapan memohon agar pria itu tidak melangkah lebih jauh."Paman, tolong jangan begini. Di rumah ini ada Mama Anggun," bisik Anya dengan suara gemetar. "Paman sudah disiapkan kamar tamu. Sebaiknya Paman istirahat di sana. Aku juga mau istirahat. Selamat malam, Paman."Tanpa menunggu jawaban Bagas, Anya bergegas menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Ia masuk ke kamar dan segera mengunci pintu, menyandarkan punggungnya di sana sambil mencoba mengatur napasnya yang sesak.***Tengah malam, Anya terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering. Ia meraih botol air di meja nakas, namun kosong. Saat memeriksa dispenser di sudut kamarnya, ternyata airnya pun sudah habis. Rasa haus yang tak tertahankan memaksanya untuk turun ke lantai bawah.Karena merasa semua orang sudah tidur, Anya tidak mengganti pakaian
Udara pagi yang dingin menyusup masuk melalui celah ventilasi, membawa aroma tanah basah setelah embun semalam. Anya sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Meski tubuhnya terasa kaku dan perih akibat perlakuan kasar Gusti sebelum keberangkatannya. Dengan gerakan perlahan, Anya menyiapkan segala keperluan suaminya yang akan bertolak ke Surabaya.Di lantai bawah, suasana tampak sibuk namun sunyi. Bi Sarmi sudah rapi dengan tas jinjingnya. Matanya sembap karena mencemaskan kondisi ibunya yang kritis."Non, Bibi pamit ya. Hati-hati di rumah," bisik Bi Sarmi saat Anya membantunya membawakan tas ke teras."Bibi juga hati-hati. Kabari Anya kalau sudah sampai di rumah sakit ya, Bi," Anya mengangguk haru.Sesuai rencana, sopir pribadi keluarga mengantar Bi Sarmi ke stasiun kereta api terlebih dahulu. Tak lama kemudian, sopir itu kembali untuk menjemput Gusti dan Anya menuju Bandara Soekarno-Hatta.***Perjalanan menuju bandara terasa sangat menyesakkan. Gusti duduk di samping Anya dengan waj
Kamar yang luas itu terasa semakin mencekam. Anya melangkah dengan kaki yang gemetar menuju lemari besar di sudut ruangan. Jemarinya yang dingin menyentuh kain sutra merah menyala. Gaun yang dibenci sekaligus menakutkan. Dengan napas yang sesak, ia menanggalkan pakaian santainya dan mengenakan gaun tipis yang membalut tubuhnya dengan sangat ketat. Tidak lupa, ia memaksakan kakinya masuk ke dalam sepatu hak tinggi berwarna senada.Anya menatap pantulannya di cermin. Ia tampak seperti mawar yang dipaksa mekar di tengah badai. Merah. Warna yang seharusnya melambangkan gairah, kini baginya hanya melambangkan luka yang menganga.Ceklek.Pintu terbuka. Gusti melangkah masuk dengan santai. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas kristal berisi wiski cair berwarna amber yang berkilauan tertimpa lampu kamar. Ia tidak langsung mendekat ke ranjang, melainkan berjalan menuju sofa kulit di seberang tempat tidur."Berdiri di depanku, Anya," perintahnya dingin.Anya melangkah ragu, suara hak se
"Ada apa lagi, Bi? Saya sedang pusing, besok pagi-pagi sekali saya harus berangkat ke Surabaya," sentak Gusti, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengancam."Anu, Tuan, Bibi baru saja mendapat kabar dari kampung. Si Mbok masuk rumah sakit di Surabaya. Kondisinya kritis, Tuan. Bibi mohon izin untuk pulang kampung malam ini juga." Bi Sarmi menunduk dalam, meremas ujung celemeknya dengan tangan yang gemetar hebat. Menunggu jawab Tuannya.Suasana di ruang tamu seketika membeku. Gusti terdiam mematung, matanya membelalak menatap asisten rumah tangga seniornya itu. Bukannya rasa empati yang muncul, wajah Gusti justru memerah padam karena amarah yang tertahan."Pulang ke Surabya?!" suara Gusti meninggi, membuat Anya yang mengintip dari balik pilar lantai dua tersentak. "Besok saya berangkat ke Surabaya untuk urusan kantor! Kalau bibi pergi sekarang, siapa yang menjaga Anya? Dia baru saja keluar dari rumah sakit, masih lemas!""Mohon maaf, Tuan, tapi ini Ibu kandung Bibi," isak Bi Sar
"Cari siapa, Bu?" tanya Bi Sarmi dengan nada ragu."Apa Gusti ada? Katakan padanya, ini Devy. Dia pasti ingat," jawab orang itu dengan nada suara tinggi yang penuh percaya diri.Anya mencengkeram pegangan tangga. Devy? Nama itu asing, namun nada bicaranya menunjukkan kedekatan yang tidak biasa. Bi Sarmi segera berjalan menuju ruang kerja Gusti. Tak lama kemudian, pintu di bawah sana berderit terbuka. Gusti muncul dengan wajah yang awalnya tegang. Mungkin mengira Maura yang nekat datang. Namun ekspresinya berubah menjadi terkejut saat melihat siapa yang berdiri di ruang tamunya."Tante Devy?" suara Gusti terdengar heran sekaligus segan. "Kapan Tante kembali ke Indonesia?"Anya menajamkan pendengarannya. Tante? Jadi wanita ini adalah bagian dari masa lalu keluarga besar Gusti, atau mungkin teman dekat orang tua Gusti."Baru beberapa hari, Gusti. Jakarta sudah banyak berubah, ya?" Devy tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dibuat-buat. "Tante langsung terpikir untuk mencarimu.
Setelah makan siang yang penuh kepura-puraan itu berakhir. Suasana rumah perlahan kembali sunyi. Anggun bangkit dari kursinya, merapikan tas tangannya dengan gerakan santun yang menjadi ciri khasnya. Ia menatap menantunya dengan tatapan teduh, seolah ingin memberikan sisa kekuatan yang ia miliki."Anya, Mama pulang ke rumah dulu, ya. Ada beberapa berkas yang harus Mama tanda tangani segera," ucap Anggun sambil mengusap lembut pipi Anya. "Besok Mama kembali lagi ke sini untuk menemanimu. Gusti, pastikan istrimu tidak kelelahan.""Iya, Ma. Hati-hati di jalan," jawab Gusti patuh. Ia mengantar ibunya sampai ke pintu depan dengan sikap anak berbakti yang sempurna.Anya perlahan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Tubuhnya terasa berat, bukan hanya karena sisa sakitnya, tapi karena beban pikiran yang kian menumpuk. Begitu pintu depan tertutup, suasana hangat yang tadi dipaksakan seketika menguap. Gusti tidak langsung menyusul ke kamar. Ia memilih melangkah menuju ruang kerjanya di lan







