Share

2. Kamu Tuh Miskin!

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-07-06 14:15:09

Begitu sampai kamar, Naya bergegas masuk dan segera mengunci pintu dari dalam. Tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di lantai berkarpet.

"Astaga... tatapannya tadi," gumam Naya pada dirinya sendiri, menyandarkan punggungnya pada daun pintu. "Aku beneran harus ngejauh dari Rekha."

Entah kenapa Naya merasa pandangan Rekha ke arahnya agak berbeda, seperti ada perhatian khusus di mata pria itu.

"Apa jangan-jangan Rekha suka sama aku?" batin Naya sejenak, tapi buru-buru ia menggelengkan kepalanya pelan. "Duh, sadar Naya, jangan geer dulu. Bisa aja itu cuma perasaanku doang, kan? Nggak mungkin juga dia ada rasa sama istri kakaknya sendiri. Mending nggak usah mikir yang aneh-aneh deh."

***

Keesokan paginya, sinar matahari menembus celah gorden, namun Naya masih duduk terdiam di depan meja rias.

Tok. Tok.

"Non Naya, sarapannya udah siap. Nyonya Besar udah nunggu di bawah," panggil pelayan dari luar kamar.

"Iya, Bi! Bentar lagi aku turun!" balas Naya.

Dia menatap pantulan wajahnya di cermin, tangannya dengan cepat mengoleskan riasan tebal. "Semoga concealer ini bisa nutupin semuanya," bisiknya pelan, meratakan krim di atas memar kebiruan di tulang pipinya. "Mas Dewa pasti bakal ngamuk besar kalau Ibu sampai lihat luka ini."

Suasana ruang makan keluarga pagi itu terasa membeku sesaat setelah Naya melangkah masuk dan menarik kursinya dengan canggung.

"Wah, lihat nih siapa yang akhirnya sudi gabung sama kita," sindir Karina begitu melihat adik iparnya duduk. "Gimana rasanya tidur di ranjang mewah kita, Nay? Saking nyenyaknya sampe telat datang sarapan?"

"Maaf, Kak Karin. Tadi ada yang harus aku beresin dulu di kamar jadi aku agak telat," jawab Naya menunduk.

"Beresin apaan? Kamu kan punya pelayan khusus cuma buat nyusun baju kamu doang!" Karina tertawa sinis, menyesap teh chamomile-nya. "Denger ya, nggak usah sok-sokan bertingkah kayak nyonya besar di rumah ini. Jangan lupa asal-usul kamu, Naya. Kamu itu cuma cewek miskin yang dibeli sama adikku!"

"Karin, suaramu bisa dipelanin dikit nggak," tegur Dewa tanpa repot-repot mengalihkan pandangannya dari layar tablet.

"Kenapa aku harus pelan-pelan? Aku ngomong fakta kok!" sergah Karina kesal, suaranya makin melengking.

"Setahun lalu, kalau kamu nggak bayarin biaya operasi jantung bapaknya yang penyakitan itu, nih cewek mana berani nginjekin kaki di sini! Kamu sengaja kan nikahin dia cuma buat dapet istri penurut yang gampang diatur?"

"Kak Karin, tolong... jangan bawa-bawa ayahku," pinta Naya, suaranya bergetar menahan air mata, dia mencengkeram serbet di pangkuannya.

"Kenapa? Kamu tersinggung? Kamu tuh harus sadar kalau kamu bakal utang budi secara finansial seumur hidup sama keluarga ini, Naya!"

"Omongan Karina benar," Suara dingin Nyonya Widya ikut menyela dari ujung meja. "Mental pengemis emang susah hilangnya, biarpun udah dipakain baju mahal sekalipun. Kamu tuh harusnya lebih tahu diri, Naya. Mending kamu fokus ngurus suami yang bener, bukan cuma duduk manis nikmatin kekayaan kita."

"Maaf, Bu," cicit Naya, semakin menundukkan kepalanya, sejak menikah dengan Dewa, perlakuan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, tapi entah kenapa, sampai detik ini, Naya belum juga terbiasa.

Melihat sang ibu membela dirinya, Karina semakin besar kepala dan berniat melontarkan hinaan lain untuk Naya.

"Nah, dengerin apa yang ibu bilang! Beban keluarga kayak kamu tuh...!"

TANG!

Semua orang tersentak saat Rekha tiba-tiba membanting garpu peraknya dengan keras ke atas piring. Pria itu bersandar di kursinya dengan santai, menatap lurus ke arah Karina.

"Beban keluarga seperti apa yang kalian maksud?" Suara berat Rekha memecah keheningan, menggema penuh ancaman.

"Apa maksud kamu, Rekha?" tanya Karina, matanya menyipit waswas.

"Karin, laporan butikmu, sungguh aneh!" ucap Rekha tajam.

Begitu masalah butik diungkit Rekha, tubuh Karina seketika menegang. "I-itu bukan urusan kamu, Rekha!"

"Rugi tiga kuartal itu bukan urusanku?" sahut Rekha santai, mengambil serbet dan mengelap sudut bibirnya perlahan.

"Rugi? Karin, bener yang diomongin Rekha?" tuntut Nyonya Widya, suaranya langsung berubah tajam saat mendengar kata 'rugi'.

"Ibu, itu bohong! Rekha asal jeplak aja! Butikku baik-baik aja kok!" seru Karina dengan wajah pucat pasi, menatap penuh marah ke adik nomor duanya itu.

"Baik-baik aja?" Rekha tersenyum merendahkan. "Satu, defisit miliaran. Dua,Karin menguras dana cadangan perusahaan keluarga buat nutupin kebangkrutan. Tiga, kebusukanmu terlalu rapi. Begitu, kan?"

Ekspresi nyonya Widya langsung tegang, begitu juga Dewa, yang baru mendengar informasi itu pagi ini, dari mulut Rekha.

"Kamu... kamu berani beraninya nuduh aku, Rekha! Jangan bicara macam-macam kalau memang kamu nggak ada bukti!" teriak Karina panik.

"Di atas meja kerjaku, semua bukti sudah ada? Kalau mau, biar kita ambil sama-sama bukti itu," balas Rekha, seraya mencondongkan tubuh ke depan.

Karina terdiam seribu bahasa, bibirnya gemetar tanpa bisa mengeluarkan satu kata pembelaan pun.

"Karina! Berani-beraninya kamu menggelapkan uang keluarga?!" bentak Nyonya Widya, urat lehernya menonjol menahan amarah yang meledak, dia berdiri sambil menunjuk ke arah Karina dengan amarah luar biasa.

"Ibu, aku bisa jelasin semuanya—"

"Cukup!" potong Nyonya Widya. Napas wanita paruh baya itu memburu, menahan malu. Ia lantas memutar kepalanya, menatap tajam ke arah Dewa dengan sorot mata mematikan. "Dewa! Ke ruang kerja Ibu. Sekarang juga."

"Bu, aku bahkan nggak tahu apa-apa soal dana yang diambil diem-diem sama Karina," protes Dewa, buru-buru meletakkan tabletnya dan berdiri dari kursi.

"Itu dia masalah utamanya!" desis Nyonya Widya dengan nada mengancam. "Kita harus ngomongin posisimu sebagai pewaris. Kalau kamu aja nggak bisa ngawasin pengeluaran saudari kamu atau ngendaliin istrimu, Ibu mulai ragu apa kamu pantes mimpin perusahaan ini!"

Ucapan Rekha tentang defisit butik Karina benar-benar mengganggunya, dia sangat marah, bagaimana mungkin, Dewa yang dia harapkan sebagai pewaris, tak mengerti sama sekali tentang masalah ini.

Gontai, Dewa pun mengikuti langkah sang ibu ke ruang kerja, begitu dia masuk, nyonya Widya yang sudah menunggu, melempar sesuatu ke meja.

"JELASKAN APA INI, DEWA!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lil Seven
seruuu aku suka
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Aku Hamil?!

    Tiga hari berturut-turut Naya merasa seperti hidup di ruang hampa. Sikap Rekha yang mendadak dingin dan terus menghindar membuat hatinya hancur. Perasaan habis manis sepah dibuang itu menggerogoti pikirannya setiap malam, memicu stres yang tanpa sadar mulai menghantam kondisi fisiknya. Puncaknya terjadi pagi itu, di ruang makan yang bising oleh obrolan dan dentingan sendok. Naya duduk dengan wajah pucat pasi. Matanya sempat mencuri pandang ke arah Rekha di seberang meja, tapi laki-laki itu hanya fokus pada ponsel dan secangkir kopinya, seolah Naya sama sekali tidak eksis. Rasa sesak di dada Naya perlahan berubah menjadi gejolak aneh di perutnya. Asam lambungnya naik, menekan kerongkongan. "Naya, kok diam saja? Ayo dimakan rotinya," tegur Karina, ipar Naya yang terus mencari kesalahan Naya sebagai bahan hiburan pribadi. Belum sempat Naya menjawab, perutnya bergejolak hebat. Ia refleks membekap mulutnya dengan kedua tangan. Matanya terbelalak panik. "Huek!" Kursi kayu itu be

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Burungnya Tak Berfungsi

    "Suami? Dewa bahkan nggak peduli padaku, Mas! Dia mengabaikan aku!"Naya menjawab dengan suara bergetar, meski Rekha terus bersikap dingin, entah kenapa dia malah ingin mendapatkan perhatian pria itu, Naya hanya ingin mendapatkan tatapan hangat dari Rekha, tapi, Rekha malah menjawab.... "Kalau begitu urus suamimu yang nggak berguna itu, perbaiki pernikahanmu, dan berhenti mengemis perhatian dariku."Dan lebih kejamnya lagi, tanpa menunggu balasan, Rekha membalikkan badan. Tubuh jangkung nan atletisnya berjalan menjauh tanpa menoleh lagi, meninggalkan Naya yang mematung dengan hati hancur lebur berserakan di atas lantai marmer."Mas, kenapa? Kenapa tiba-tiba berubah? aku salah apa?"Dengan langkah terseok-seok, Naya pun pergi ke kamarnya, tapi sayang, belum genap Naya menyeka air matanya yang jatuh menahan penghinaan, ponsel di saku gaunnya bergetar hebat. Nama Siska, sahabat dekatnya, berkedip di layar. "Halo, Sis?" sapa Naya dengan suara parau. Naya mengenal Siska sejak kuliah, m

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Ditinggal Setelah Puas

    "Menangislah yang keras, Naya," bisik Rekha, napasnya yang panas menerpa telinga Naya. "Keluarkan semuanya." "Kamu... benar-benar monster..." Naya tersengal, dadanya naik turun dengan liar, meski begitu, tubuhnya seakan-akan terus meminta untuk dihajar Rekha. "Anggap saja aku ini monster yang selalu berhasil membuatmu memohon, Sayang." Rekha melepaskan diri, merapikan pakaiannya dengan gerakan presisi yang mematikan. Pria itu berdiri tegak. Dada bidangnya yang terbalut kemeja putih kusut masih memancarkan dominasi absolut. Wajah tampannya yang bersudut tajam bak pahatan dewa Yunani tak menyiratkan secuil pun rasa bersalah. Rahangnya yang kokoh mengeras, menunjukkan otoritas murni tanpa celah. Ia tampak seperti penguasa lalim yang baru saja menaklukkan wilayahnya tanpa ampun. "Mau ke mana kamu, Mas?" suara Naya bergetar hebat saat melihat Rekha menyambar jasnya, pergi begitu saja. "Menemui Bianca. Bukankah kamu dengar sendiri di telepon tadi? Aku harus hadir di butik sore ini

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kehadiran Bianca

    Bianca. Nama itu meledak di kepala Naya seperti bom. Wanita dari keluarga konglomerat. Calon istri sah Rekha. Bulan depan. Pertunangan.Rasa dingin menyiram sekujur tubuh Naya bukan hanya dari satu arah, tapi dari seribu arah sekaligus—dari ujung rambut hingga ujung kakinya yang kini gemetar tak terkendali. Realitas menamparnya dengan kekuatan yang membuat kepalanya serasa pecah. Dia baru saja hendak mendorong dada bidang Rekha untuk menjauh, ingin melepaskan diri dari cengkeraman yang selama ini terasa begitu hangat tapi kini berubah menjadi api neraka. Namun Rekha, dengan insting predatornya yang tajam, langsung menyadari perubahan sekecil apa pun pada tubuh Naya.Alih-alih melepaskan, Rekha justru menyeringai. Senyum sinis itu merekah di bibirnya yang tipis, membuat wajah tampannya berubah menjadi topeng iblis yang kejam. Tangan kirinya mencengkeram rahang Naya dengan kekuatan yang membuat tulang rahangnya terasa hendak retak, memaksanya diam dalam keheningan yang mencekik. Seme

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kecanduan

    Rekha menarik rambut belakang Naya dengan cengkeraman yang kasar namun membuai, memaksa wanita itu mendongak dan menoleh sedikit ke arahnya. Di tengah keremangan cahaya rembulan yang menembus celah tirai dapur, mata elang Rekha menatap Naya dengan kilat kepuasan yang luar biasa arogan. Keringat maskulin menetes dari rahang tegas pria itu, jatuh membasahi kulit bahu Naya yang terbuka. "Katakan padaku," perintah Rekha mutlak, gerakannya semakin mendesak, membuat Naya nyaris kehilangan pijakan akan realitas. "Katakan di depan wajahku, milik siapa kamu sebenarnya. Jawab aku, Naya, atau aku bersumpah akan membuatmu berteriak kencang hingga Dewa turun ke sini sekarang juga!" Rasa takut tertangkap basah yang sempat mereda, kini kembali meledak bercampur aduk dengan gairah yang sudah berada di puncaknya. Otak Naya tidak lagi mampu berpikir rasional. Tubuhnya telah sepenuhnya dikhianati oleh hasrat, dan hatinya telah lama dirampas oleh pria gila di belakangnya ini. "Aku... aku milikmu...

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hampir Ketahuan!

    Air mata Naya menetes saking paniknya. Kakinya lemas, tubuhnya meremang hebat. Ia harus mengerahkan seluruh kekuatan tekadnya agar tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun, sementara Rekha dengan kejam terus memaksanya berada di puncak kenikmatan dalam keheningan yang mencekik. Sensasi hampir tertangkap basah oleh orang lain ini membuat adrenalinnya melonjak gila-gilaan, menghasilkan intensitas gairah yang membuat Naya nyaris pingsan. "Non Naya?" Suara bergumam Bi Sumi tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian. Langkah kaki pelayan itu bergerak perlahan, sepertinya menyadari ada botol air dingin milik Rekha yang tertinggal di atas meja *kitchen island*. Naya mematung. Tubuhnya membeku sempurna. Jika Bi Sumi berjalan memutari meja itu sejengkal saja, mereka berdua akan tamat. Naya akan hancur. Pernikahannya akan hancur malam ini juga. Naya meremas bahu Rekha sekuat tenaga, kuku-kukunya menancap di kemeja pria itu. Rekha akhirnya menghentikan gerakannya. Wajah pria itu ikut menegan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status