LOGINTiga hari berturut-turut Naya merasa seperti hidup di ruang hampa. Sikap Rekha yang mendadak dingin dan terus menghindar membuat hatinya hancur. Perasaan habis manis sepah dibuang itu menggerogoti pikirannya setiap malam, memicu stres yang tanpa sadar mulai menghantam kondisi fisiknya. Puncaknya terjadi pagi itu, di ruang makan yang bising oleh obrolan dan dentingan sendok. Naya duduk dengan wajah pucat pasi. Matanya sempat mencuri pandang ke arah Rekha di seberang meja, tapi laki-laki itu hanya fokus pada ponsel dan secangkir kopinya, seolah Naya sama sekali tidak eksis. Rasa sesak di dada Naya perlahan berubah menjadi gejolak aneh di perutnya. Asam lambungnya naik, menekan kerongkongan. "Naya, kok diam saja? Ayo dimakan rotinya," tegur Karina, ipar Naya yang terus mencari kesalahan Naya sebagai bahan hiburan pribadi. Belum sempat Naya menjawab, perutnya bergejolak hebat. Ia refleks membekap mulutnya dengan kedua tangan. Matanya terbelalak panik. "Huek!" Kursi kayu itu be
"Suami? Dewa bahkan nggak peduli padaku, Mas! Dia mengabaikan aku!"Naya menjawab dengan suara bergetar, meski Rekha terus bersikap dingin, entah kenapa dia malah ingin mendapatkan perhatian pria itu, Naya hanya ingin mendapatkan tatapan hangat dari Rekha, tapi, Rekha malah menjawab.... "Kalau begitu urus suamimu yang nggak berguna itu, perbaiki pernikahanmu, dan berhenti mengemis perhatian dariku."Dan lebih kejamnya lagi, tanpa menunggu balasan, Rekha membalikkan badan. Tubuh jangkung nan atletisnya berjalan menjauh tanpa menoleh lagi, meninggalkan Naya yang mematung dengan hati hancur lebur berserakan di atas lantai marmer."Mas, kenapa? Kenapa tiba-tiba berubah? aku salah apa?"Dengan langkah terseok-seok, Naya pun pergi ke kamarnya, tapi sayang, belum genap Naya menyeka air matanya yang jatuh menahan penghinaan, ponsel di saku gaunnya bergetar hebat. Nama Siska, sahabat dekatnya, berkedip di layar. "Halo, Sis?" sapa Naya dengan suara parau. Naya mengenal Siska sejak kuliah, m
"Menangislah yang keras, Naya," bisik Rekha, napasnya yang panas menerpa telinga Naya. "Keluarkan semuanya." "Kamu... benar-benar monster..." Naya tersengal, dadanya naik turun dengan liar, meski begitu, tubuhnya seakan-akan terus meminta untuk dihajar Rekha. "Anggap saja aku ini monster yang selalu berhasil membuatmu memohon, Sayang." Rekha melepaskan diri, merapikan pakaiannya dengan gerakan presisi yang mematikan. Pria itu berdiri tegak. Dada bidangnya yang terbalut kemeja putih kusut masih memancarkan dominasi absolut. Wajah tampannya yang bersudut tajam bak pahatan dewa Yunani tak menyiratkan secuil pun rasa bersalah. Rahangnya yang kokoh mengeras, menunjukkan otoritas murni tanpa celah. Ia tampak seperti penguasa lalim yang baru saja menaklukkan wilayahnya tanpa ampun. "Mau ke mana kamu, Mas?" suara Naya bergetar hebat saat melihat Rekha menyambar jasnya, pergi begitu saja. "Menemui Bianca. Bukankah kamu dengar sendiri di telepon tadi? Aku harus hadir di butik sore ini
Bianca. Nama itu meledak di kepala Naya seperti bom. Wanita dari keluarga konglomerat. Calon istri sah Rekha. Bulan depan. Pertunangan.Rasa dingin menyiram sekujur tubuh Naya bukan hanya dari satu arah, tapi dari seribu arah sekaligus—dari ujung rambut hingga ujung kakinya yang kini gemetar tak terkendali. Realitas menamparnya dengan kekuatan yang membuat kepalanya serasa pecah. Dia baru saja hendak mendorong dada bidang Rekha untuk menjauh, ingin melepaskan diri dari cengkeraman yang selama ini terasa begitu hangat tapi kini berubah menjadi api neraka. Namun Rekha, dengan insting predatornya yang tajam, langsung menyadari perubahan sekecil apa pun pada tubuh Naya.Alih-alih melepaskan, Rekha justru menyeringai. Senyum sinis itu merekah di bibirnya yang tipis, membuat wajah tampannya berubah menjadi topeng iblis yang kejam. Tangan kirinya mencengkeram rahang Naya dengan kekuatan yang membuat tulang rahangnya terasa hendak retak, memaksanya diam dalam keheningan yang mencekik. Seme
Rekha menarik rambut belakang Naya dengan cengkeraman yang kasar namun membuai, memaksa wanita itu mendongak dan menoleh sedikit ke arahnya. Di tengah keremangan cahaya rembulan yang menembus celah tirai dapur, mata elang Rekha menatap Naya dengan kilat kepuasan yang luar biasa arogan. Keringat maskulin menetes dari rahang tegas pria itu, jatuh membasahi kulit bahu Naya yang terbuka. "Katakan padaku," perintah Rekha mutlak, gerakannya semakin mendesak, membuat Naya nyaris kehilangan pijakan akan realitas. "Katakan di depan wajahku, milik siapa kamu sebenarnya. Jawab aku, Naya, atau aku bersumpah akan membuatmu berteriak kencang hingga Dewa turun ke sini sekarang juga!" Rasa takut tertangkap basah yang sempat mereda, kini kembali meledak bercampur aduk dengan gairah yang sudah berada di puncaknya. Otak Naya tidak lagi mampu berpikir rasional. Tubuhnya telah sepenuhnya dikhianati oleh hasrat, dan hatinya telah lama dirampas oleh pria gila di belakangnya ini. "Aku... aku milikmu...
Air mata Naya menetes saking paniknya. Kakinya lemas, tubuhnya meremang hebat. Ia harus mengerahkan seluruh kekuatan tekadnya agar tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun, sementara Rekha dengan kejam terus memaksanya berada di puncak kenikmatan dalam keheningan yang mencekik. Sensasi hampir tertangkap basah oleh orang lain ini membuat adrenalinnya melonjak gila-gilaan, menghasilkan intensitas gairah yang membuat Naya nyaris pingsan. "Non Naya?" Suara bergumam Bi Sumi tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian. Langkah kaki pelayan itu bergerak perlahan, sepertinya menyadari ada botol air dingin milik Rekha yang tertinggal di atas meja *kitchen island*. Naya mematung. Tubuhnya membeku sempurna. Jika Bi Sumi berjalan memutari meja itu sejengkal saja, mereka berdua akan tamat. Naya akan hancur. Pernikahannya akan hancur malam ini juga. Naya meremas bahu Rekha sekuat tenaga, kuku-kukunya menancap di kemeja pria itu. Rekha akhirnya menghentikan gerakannya. Wajah pria itu ikut menegan







