Share

3. Desakan Nyonya Widya

Penulis: Dre LA
last update Tanggal publikasi: 2026-07-06 18:26:30

PLAK!

Sebuah map tebal berbahan kulit dilemparkan dengan kasar ke atas meja kayu mahoni, menyebarkan beberapa lembar kertas berisi grafik dan tulisan medis ke segala arah, begitu Dewa masuk ke ruang kerja Nyonya Widya, ibunya.

"Jelaskan padaku apa maksud dari semua ini, Dewa! Sekarang juga!" bentak Nyonya Widya, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Dewa langsung panik saat melihat laporan medisnya dan Naya, kini berhamburan di meja kerja sang ibu.

"Ibu, tenangkan dirimu dulu. Itu... itu kan cuma rekam medis Naya dari rumah sakit kemarin. Bukankah Ibu sendiri yang menyuruhku mengambilnya?" jawab Dewa dengan suara sedikit bergetar, mencoba menghindari tatapan tajam ibunya.

"Tentu saja aku yang menyuruhmu! Dan baguslah aku melakukannya! Mandul? Istrimu divonis nggak bisa memberikan keturunan, dan kamu baru berani memberitahuku sekarang?!" pekik Nyonya Widya, menunjuk ke arah kertas-kertas tersebut dengan jari telunjuknya yang berhias cincin berlian.

"I-itu nggak sepenuhnya benar kok, Bu. Dokter bilang... masih ada kemungkinan kecil jika kami terus mencoba pengobatan. Kami sedang mengusahakannya dengan sangat keras," dusta Dewa. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.

Nyonya Widya tidak tahu bahwa Dewa sengaja membayar mahal seorang dokter bedah untuk memalsukan hasil tes tersebut demi menutupi fakta bahwa dirinyalah yang sebenarnya bermasalah.

"Mengusahakan apa, Dewa?! Obat-obatan hormonal? Terapi konyol yang menguras waktu berbulan-bulan tanpa kepastian?! Dengarkan aku baik-baik, anak sulungku. Keluarga ini butuh penerus darah daging kita. Bukan sekadar alasan murahan!" jawab Bu Widya, tak sabar.

"Kamu harus ingat, Dewa. Kamu memang sekarang sebagai calon pewaris utama, tapi meski begitu, ada Rekha. Meski dia lagi di rahim pelayan, dia semakin hari semakin kompeten! Aku khawatir posisimu suatu hari digeser sama dia, Dewa!"

Nyonya Widya berkata dengan nada tinggi, dia sangat takut posisi anaknya digeser oleh Rekha, jika Dewa terus menerus tak becus seperti ini.

Mendengar lagi-lagi dirinya dibandingkan dengan Rekha, Dewa hanya bisa mendengus sinis dan berkata.

"Aku tahu, Bu. Aku sangat mengerti posisi kita. Tolong beri kami waktu sedikit lagi. Aku berjanji Naya akan hamil dan melahirkan pewaris untuk rumah ini, sungguh, Bu."

"Haaa, waktu? Kamu pikir aku punya sisa umur selamanya untuk menunggu istrimu yang cacat itu memberikan ahli waris untuk keluarga ini?!" teriak Bu Widya, semakin emosi.

"Ibu, tolong jaga bicaramu. Jangan panggil Naya seperti itu di depanku," balas Dewa tak terima, tapi Bu Widya hanya tertawa sinis.

"Jangan berani-beraninya kamu menceramahiku, Dewa! Kamu yang membawa wanita miskin itu ke rumah ini, dan sekarang dia nggak berguna! Apa salahnya aku bicara seperti tadi, dia memang cacat, kan?!! Sekarang, dengar keputusanku baik-baik. Aku hanya akan memberikan waktu tiga bulan untuk kalian."

Mendengar vonis ibunya, mata Dewa seketika terbelalak lebar. "Tiga bulan?! Tapi, Bu, itu waktu yang sangat tidak masuk akal untuk program kehamilan biasa, apalagi—"

"Tiga bulan, Dewa! Nggak ada tawar-menawar! Kalau dalam batas waktu tiga bulan istrimu itu belum juga mengandung anakmu, bersiaplah angkat kaki dari kursi pewaris utama perusahaan!"

"Ibu nggak mungkin serius melakukan itu, kan?! Aku ini putra sulungmu! Hak pewaris itu mutlak milikku!" seru Dewa panik, wajahnya kini pucat pasi.

"Oh, Sayang. Aku juga sangat tidak ingin itu terjadi, tapi ayahmu, dia bisa mencabut posisimu kapan pun dia mau! Kalau kamu sampai gagal memberikan keturunan, seluruh harta, aset, dan posisimu di perusahaan akan dia alihkan sepenuhnya kepada Rekha!"

Mata Dewa menggelap saat mendengar nama Rekha disebut, sejak kecil dia selalu dibanding-bandingkan dengan Rekha, membuat Dewa sangat muak!

"Rekha?! Ibu, dia kan cuma anak pelayan, dia nggak akan—"

"Semua orang tahu, Rekha jauh lebih kompeten darimu dalam mengurus bisnis! Dan yang paling penting, dia juga nggak sebodoh dirimu dengan memberiku menantu mandul yang menyusahkan! Pikirkan cara agar istrimu itu segera hamil dalam sembilan puluh hari, atau kamu benar-benar akan kehilangan segalanya! Keluar dari ruanganku sekarang!"

Dewa membanting pintu ruang kerjanya sendiri dengan napas memburu. Ia melempar vas bunga di atas mejanya hingga hancur berkeping-keping. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponsel dari saku jasnya dan menekan tombol panggilan cepat.

"Halo, Andi! Ini aku!" teriak Dewa begitu panggilannya tersambung.

"Selamat malam, Pak Dewa. Suara Anda terdengar panik. Ada yang bisa saya bantu malam-malam begini?" jawab suara dokter kepercayaannya dari seberang telepon.

"Ibu baru saja mengancamku! Dia memberiku waktu tiga bulan! Tiga bulan, Andi! Jika dalam waktu sesingkat itu Naya tidak kunjung hamil, posisiku sebagai pewaris akan digantikan oleh Rekha!"

"Astaga... lalu bagaimana, Pak? Bukankah rekam medis Nyonya Naya yang menyatakan beliau mandul itu... murni hasil rekayasa kita?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Tamat.

    Malam pengantin yang sesungguhnya akhirnya menyambut mereka setelah semua badai, darah, dan air mata tersapu bersih dari dunia mereka. Di dalam kamar utama *mansion* Adhitama yang kini sepenuhnya aman, tirai beludru tebal ditarik rapat, meredam bisingnya kota Jakarta di luar sana. Hanya ada pendar cahaya kuning temaram dari lampu tidur dan kehangatan dari perapian yang menyala pelan. Rekha membaringkan Naya di atas tempat tidur berseprai sutra putih dengan kelembutan yang teramat sangat. Pria itu menangkup wajah istrinya, menelusuri setiap inci garis rahang Naya yang kini terlihat begitu damai, tanpa sisa-sisa bayangan teror atau ketakutan. "Mulai hari ini, dunia kita hanya milik kita berdua, Naya," bisik Rekha serak. Bibirnya turun, mendaratkan kecupan penuh pemujaan di kening, lalu turun ke kelopak mata, hidung, hingga berhenti di bibir Naya. Naya menyambut ciuman itu dengan desahan penuh cinta. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Rekha, menarik pria itu semakin rapat.

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kamu Harus Mati!

    Dewa menyeringai, sebuah seringai cacat yang mengerikan. Dari balik saku seragamnya, pria itu mengeluarkan sebilah pisau bedah medis yang sangat tajam dan berkilat. "Uang selalu bisa membeli pengkhianat, Naya," desis Dewa, suaranya sengau dan berantakan. "Kau pikir Bianca akan membiarkanku membusuk sendirian sementara jalang kecil ini menikah dengan pria yang membuangnya? Wanita itu mengatur segalanya dari luar. Menyelundupkanku lewat jalur pembuangan limbah tepat ke kamarmu." Dewa melangkah maju perlahan, menyeret kakinya yang cacat, namun pisau bedah di tangannya terarah lurus. Matanya yang merah menyala oleh kegilaan dan obsesi yang tak lagi bisa diselamatkan. "Kau terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu... lagi, Istriku," Dewa terkekeh getir, menatap Naya dari atas hingga ke bawah dengan pandangan penuh gairah yang sakit. "Tapi sayang, gaun putih itu terlalu bersih. Kurasa... warna merah darah akan jauh lebih cocok untuk menyambut pahlawanmu saat dia kembali ke

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Menikahlah Denganku.

    Satu bulan berlalu sejak malam di mana seluruh rantai penderitaan Naya dihancurkan. Dan seperti janji yang dibisikkan Rekha di antara penyatuan napas mereka, sang kaisar bisnis benar-benar meletakkan dunia di bawah telapak kaki Naya. Pesta pernikahan itu digelar dengan kemegahan yang melampaui akal sehat. Seluruh lantai utama dan *ballroom* hotel bintang tujuh tertinggi di Jakarta disewa secara eksklusif. Ribuan mawar putih murni didatangkan langsung dari Belanda, menghiasi setiap pilar dan langit-langit ruangan. Rekha mengerahkan ratusan personel *Shadow Team* di setiap titik buta, menyulap hotel tersebut menjadi benteng tak tertembus. Hari ini, Rekha Adhitama akan memproklamirkan pada dunia bahwa wanita yang dulu dibuang dan dihina oleh keluarganya, kini berdiri sebagai Ratu tunggal pewaris takhta Adhitama. Di dalam *Bridal Suite*—ruang rias pengantin yang sangat luas dan mewah—Naya berdiri menghadap cermin raksasa. Ia nyaris tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Gaun

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Aku Kangen

    Naya menatap sepasang mata Rekha yang berkilat oleh kerinduan dan cinta yang tak tertahankan. Lima tahun memendam perasaan, berminggu-minggu terpisah oleh jarak dan manipulasi mematikan, kini mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tidak ada lagi Dewa. Tidak ada lagi Arga. Tidak ada lagi rasa bersalah yang mengikat kakinya. Naya mengangkat kedua tangannya, merengkuh rahang kokoh Rekha. Jemarinya membelai pelan raut lelah pria itu. "Aku sudah pulang, Mas. Aku di sini. Dan aku... aku sepenuhnya milikmu sekarang." Mendengar penyerahan diri yang diucapkan dengan penuh kerelaan itu, sisa-sisa pertahanan kewarasan Rekha akhirnya runtuh tak bersisa. Rekha menunduk dan meraup bibir Naya dalam sebuah ciuman yang meledak oleh gairah dan keputusasaan yang telah lama ia pendam. Ciuman itu tidak lembut, melainkan menuntut, rakus, dan luar biasa dalam. Rekha mencium Naya seolah wanita itu adalah oksigen terakhir di bumi, melahap bibir Naya dengan intensitas yang membuat lutut Naya seketika l

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dewa Dihukum

    Naya melemparkan dokumen itu tepat ke wajah Dewa hingga kertas-kertasnya berserakan di lantai. "...kau yang mandul, Dewa! Rahimku sehat sempurna. Tapi karena gaya hidupmu yang hancur karena alkohol dan obat-obatan, kau kehilangan kemampuanmu untuk memberikan ahli waris. Dan untuk menutupi kecacatanmu, kau menyiksaku. Kau bahkan dengan teganya mendorongku ke kamar adik kandungmu sendiri agar aku hamil dan menutupi aibmu!" Suara Naya menggelegar, membongkar kebusukan paling menjijikkan dari seorang Dewa Adhitama. Para tetua terkesiap ngeri. Beberapa bibi Naya menutup mulut mereka, tak percaya dengan penderitaan yang selama ini ditanggung oleh Naya sendirian. Dewa terdiam. Mulutnya terbuka, namun tak ada satu pun kebohongan yang bisa ia rangkai lagi. Bukti-bukti itu terlalu absolut. Kebusukannya telah dikuliti habis-habisan di bawah terangnya lampu gantung kristal. Naya menarik napas panjang, melepaskan beban berton-ton yang selama lima tahun menghancurkan pundaknya. Ia merogoh

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hancurkan!

    Rekha berjongkok. Dengan tangan yang masih berlumuran darah Dewa, ia tidak berani menyentuh Naya. Ia takut mengotori wanita itu. "Kita pulang sekarang, Sayang. Semuanya sudah selesai," bisik Rekha lembut, air mata menggenang di pelupuk mata sang kaisar bisnis. Naya tidak peduli pada darah di tangan pria itu. Wanita itu justru menerjang ke depan, mengalungkan kedua lengannya ke leher Rekha, memeluk pria itu dengan sangat erat. Tangisannya pecah—tangisan kelegaan, rasa aman, dan cinta yang akhirnya menemukan tempatnya bernaung. "Terima kasih... terima kasih udah nemuin aku, Mas..." isak Naya di ceruk leher Rekha. "Aku nggak mau lari lagi... aku cuma mau sama Mas Rekha..." Mendengar kalimat itu, pertahanan Rekha runtuh. Ia membalas pelukan Naya tak kalah eratnya, membenamkan wajahnya di bahu wanita yang terbungkus jaket kebesarannya itu. "Tidak akan ada yang memisahkan kita lagi, Naya. Aku bersumpah demi nyawaku, mulai detik ini, akulah yang akan menjadi perisaimu," bisik Rekha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status