Home / Rumah Tangga / Panasnya Ranjang Kakak Ipar / 1. Burungmu Terlalu Kecil, Mas!

Share

Panasnya Ranjang Kakak Ipar
Panasnya Ranjang Kakak Ipar
Author: Dre LA

1. Burungmu Terlalu Kecil, Mas!

Author: Dre LA
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-06 13:46:13

"Bisa nggak sih kamu tuh luwes sedikit? Gimana kita bisa punya anak kalau kelakuanmu nggak pernah bisa bikin aku beringas?!" bentak Dewa, menghempaskan tubuhnya ke sandaran ranjang dengan kasar sambil melotot ke arah istrinya, Naya.

Naya merapatkan pakaian tidur tipisnya, menahan sesak di dada. "Mas, kok kamu malah nyalahin aku? Aku udah coba goda kamu duluan, aku udah ngikutin semua maumu malam ini."

Hari ini, sebelum Dewa pulang kerja, Naya sudah membersihkan tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, mencukur semua bulu di tubuhnya, bahkan mengoleskan lotion lembut di sekujur tubuhnya, hanya untuk melayani dan membuat puas Dewa.

Awalnya, Dewa tampak sangat bergairah saat dia membuka pintu kamar dan mendapati istrinya yang cantik itu sudah duduk di ranjang dengan gaun tidur tipis dan pose begitu mengoda.

Apalagi saat Naya mendatangi Dewa duluan dan memeluk serta mencium sang suami, nafsu Dewa langsung bergejolak.

Namun... saat mereka selesai pemanasan dan Dewa mulai melucuti pakaian Naya, kejantanannya tiba-tiba loyo. Tidak bisa berdiri sama sekali.

"Gimana aku nggak nyalahin kamu, kalo kamu nggak bisa bikin aku nafsu, Naya! Tiap kali dekat kamu, aku nggak bisa nafsu, ini semua pasti salah kamu yang kurang menggairahkan!" Dewa lagi-lagi membentak, suaranya yang menggelegar membuat Naya ketakutan.

"Terus mas pengen apa biar mas nafsu ke aku? Apa aku perlu melepas semua pakaian aku dan nari di depan mas? Gitu?"

Balasan Naya bukannya membuat Dewa senang, tapi justru semakin marah. "Halah, pake nawarin nari tanpa baju segala! Kamu mau ngelakuin apa pun, nyatanya barangku tetap nggak mau bangun, kan? Itu karena kamu nggak becus melayani suami! Badanmu tuh kaku, nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Pantes aja aku muak lihatnya! Kayak patung, nggak punya jiwa!"

Rentetan penghinaan keluar dari mulut Dewa, dia memandang sinis ke arah Naya, seakan-akan istrinya itu benar-benar wanita gagal, hal itu membuat Naya lama-lama tak terima.

"Mas Dewa, cukup! Ini bukan salahku ya, Mas!" bantah Naya dengan mata berkaca-kaca. "Dari bulan lalu kamu yang selalu gagal begini, kenapa ujung-ujungnya aku yang terus dihina? Kalau memang kamu yang bermasalah, periksa ke dokter, Mas, bukan malah melampiaskannya ke aku!"

Plakk!

Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Naya. Tubuhnya sampai terhuyung ke tepi ranjang, sementara sudut bibirnya langsung terasa kebas dan menyisakan rasa anyir darah.

"Berani kamu ngelawan aku, hah?! Sekarang kamu mulai ngelunjak, ya!" Dewa menunjuk wajah Naya dengan tatapan penuh kebencian.

"A-aku cuma ngomong kenyataan, Mas. Kalau mas ada masalah nggak bisa nafsu lihat cewek, mas harus—"

PLAKKKK!!!

Tamparan kedua mendarat di pipi Naya, lebih kencang sampai membuat pipi wanita cantik itu lebam dan tubuhnya jatuh tersungkur.

"Denger ya, perempuan miskin! Kalau bukan karena aku yang berbaik hati bayarin biaya rumah sakit bapakmu yang penyakitan itu, kamu udah jadi gembel di jalanan! Jangan sok pintar ngajarin aku, apalagi nyuruh aku periksa! Yang bermasalah itu kamu, ya! Bukan aku!"

"Mas, teganya kamu mukul aku, Mas..." Naya memegangi pipinya yang memanas, air matanya tak lagi bisa ditahan, selama ini dia terus bertahan menghadapi suaminya yang mulutnya kasar, tapi tamparan kalo ini benar-benar membuat hatinya hancur.

"Hahhh!!! Nyesel aku nikah sama kamu! Bikin hancur mood aja!" umpat Dewa. Ia berbalik, melangkah keluar kamar dan membanting pintu dengan sangat keras.

Brak!

Tubuh Naya luruh ke lantai, menangis sendirian dalam keheningan kamar. Pipinya berdenyut nyeri hingga ke telinga. Merasa butuh es batu untuk meredakan bengkaknya, Naya perlahan bangkit dan berjalan gontai menuruni tangga menuju dapur di lantai bawah untuk mengambil es batu di lemari es.

Saat ia baru saja berbalik dari depan kulkas sambil membawa segumpal es batu, tiba-tiba...

Dug.

"Aduh!" Naya terkesiap saat keningnya menabrak dada bidang seseorang, dia pun refleks mengusap kening sambil mengaduh kecil.

"Hati-hati," sebuah suara berat dan familier mengalun di atas kepalanya.

Naya mendongak, matanya seketika membulat lebar. "Mas Rekha? K-kapan pulang dari London?"

Rekha adalah kakak tiri Dewa, meskipun Dewa terkenal tampan dan idola banyak wanita, Rekha benar-benar tak ada tandingannya dengan Dewa, selain sangat tampan, tinggi dan memiliki tubuh tegap, Rekha juga memancarkan aura dingin yang begitu mendebarkan sekaligus menggoda, membuat Naya tak pernah berani berada dekat dekat dengannya karena auranya yang begitu menekan.

Bukannya menjawab pertanyaan gugup Naya, tatapan tajam Rekha justru terkunci pada sudut bibir Naya yang memar. Pria itu mengikis jarak di antara mereka, mengangkat tangan kanannya perlahan.

"Mas Rekha... m-mau apa?" cicit Naya panik, jantungnya berdebar tak karuan mendapat perlakuan sedekat ini dari kakak iparnya yang dingin dan tak pernah bicara dengannya semenjak Naya menginjakkan kaki di rumah ini.

Ibu jari Rekha menyentuh sudut bibir Naya, mengusap noda darah di sana dengan gerakan lambat dan sangat berhati-hati. "Bibirmu ... berdarah."

"I-ini... tadi aku nggak sengaja kebentur pintu lemari, Mas," kilah Naya terbata-bata, mencoba memundurkan tubuhnya tapi punggungnya sudah terhimpit pintu kulkas.

Rekha tiba-tiba menunduk. Aroma maskulin langsung menyergap indera penciuman Naya. Wajah pria itu kini berada tepat di samping telinganya, membuat jantung Naya berdegup dengan aneh.

"Lemari nggak punya tangan buat menampar orang, Naya," bisik Rekha dengan suara rendah dan serak, tatapan tajamnya seakan mampu melelehkan kaki Naya, sehingga Naya hanya terdiam mematung.

"Dewa... mukul kamu lagi?"

Naya membeku mendengar pertanyaan mendadak Rekha. Dia... tahu kalau Dewa sering bersikap kasar?

"Naya, jawab. Memar ini... gara-gara dipukul Dewa? Iya?"

Naya masih tidak menjawab, mulutnya sedikit terbuka, tapi sebelum dia sempat merangkai kebohongan lain untuk membalas ucapan kakak iparnya, terdengar suara langkah kaki bergegas dari arah lorong depan, saat suara itu semakin mendekat....

"M-maaf, Mas. Aku... aku harus pergi!"

Naya langsung segera melarikan diri dari hadapan Rekha. Dewa sangat pencemburu, dia tak mau mendapat masalah baru, hanya karena ketahuan bicara berdua dengan kakak iparnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Tamat.

    Malam pengantin yang sesungguhnya akhirnya menyambut mereka setelah semua badai, darah, dan air mata tersapu bersih dari dunia mereka. Di dalam kamar utama *mansion* Adhitama yang kini sepenuhnya aman, tirai beludru tebal ditarik rapat, meredam bisingnya kota Jakarta di luar sana. Hanya ada pendar cahaya kuning temaram dari lampu tidur dan kehangatan dari perapian yang menyala pelan. Rekha membaringkan Naya di atas tempat tidur berseprai sutra putih dengan kelembutan yang teramat sangat. Pria itu menangkup wajah istrinya, menelusuri setiap inci garis rahang Naya yang kini terlihat begitu damai, tanpa sisa-sisa bayangan teror atau ketakutan. "Mulai hari ini, dunia kita hanya milik kita berdua, Naya," bisik Rekha serak. Bibirnya turun, mendaratkan kecupan penuh pemujaan di kening, lalu turun ke kelopak mata, hidung, hingga berhenti di bibir Naya. Naya menyambut ciuman itu dengan desahan penuh cinta. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Rekha, menarik pria itu semakin rapat.

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kamu Harus Mati!

    Dewa menyeringai, sebuah seringai cacat yang mengerikan. Dari balik saku seragamnya, pria itu mengeluarkan sebilah pisau bedah medis yang sangat tajam dan berkilat. "Uang selalu bisa membeli pengkhianat, Naya," desis Dewa, suaranya sengau dan berantakan. "Kau pikir Bianca akan membiarkanku membusuk sendirian sementara jalang kecil ini menikah dengan pria yang membuangnya? Wanita itu mengatur segalanya dari luar. Menyelundupkanku lewat jalur pembuangan limbah tepat ke kamarmu." Dewa melangkah maju perlahan, menyeret kakinya yang cacat, namun pisau bedah di tangannya terarah lurus. Matanya yang merah menyala oleh kegilaan dan obsesi yang tak lagi bisa diselamatkan. "Kau terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu... lagi, Istriku," Dewa terkekeh getir, menatap Naya dari atas hingga ke bawah dengan pandangan penuh gairah yang sakit. "Tapi sayang, gaun putih itu terlalu bersih. Kurasa... warna merah darah akan jauh lebih cocok untuk menyambut pahlawanmu saat dia kembali ke

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Menikahlah Denganku.

    Satu bulan berlalu sejak malam di mana seluruh rantai penderitaan Naya dihancurkan. Dan seperti janji yang dibisikkan Rekha di antara penyatuan napas mereka, sang kaisar bisnis benar-benar meletakkan dunia di bawah telapak kaki Naya. Pesta pernikahan itu digelar dengan kemegahan yang melampaui akal sehat. Seluruh lantai utama dan *ballroom* hotel bintang tujuh tertinggi di Jakarta disewa secara eksklusif. Ribuan mawar putih murni didatangkan langsung dari Belanda, menghiasi setiap pilar dan langit-langit ruangan. Rekha mengerahkan ratusan personel *Shadow Team* di setiap titik buta, menyulap hotel tersebut menjadi benteng tak tertembus. Hari ini, Rekha Adhitama akan memproklamirkan pada dunia bahwa wanita yang dulu dibuang dan dihina oleh keluarganya, kini berdiri sebagai Ratu tunggal pewaris takhta Adhitama. Di dalam *Bridal Suite*—ruang rias pengantin yang sangat luas dan mewah—Naya berdiri menghadap cermin raksasa. Ia nyaris tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Gaun

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Aku Kangen

    Naya menatap sepasang mata Rekha yang berkilat oleh kerinduan dan cinta yang tak tertahankan. Lima tahun memendam perasaan, berminggu-minggu terpisah oleh jarak dan manipulasi mematikan, kini mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tidak ada lagi Dewa. Tidak ada lagi Arga. Tidak ada lagi rasa bersalah yang mengikat kakinya. Naya mengangkat kedua tangannya, merengkuh rahang kokoh Rekha. Jemarinya membelai pelan raut lelah pria itu. "Aku sudah pulang, Mas. Aku di sini. Dan aku... aku sepenuhnya milikmu sekarang." Mendengar penyerahan diri yang diucapkan dengan penuh kerelaan itu, sisa-sisa pertahanan kewarasan Rekha akhirnya runtuh tak bersisa. Rekha menunduk dan meraup bibir Naya dalam sebuah ciuman yang meledak oleh gairah dan keputusasaan yang telah lama ia pendam. Ciuman itu tidak lembut, melainkan menuntut, rakus, dan luar biasa dalam. Rekha mencium Naya seolah wanita itu adalah oksigen terakhir di bumi, melahap bibir Naya dengan intensitas yang membuat lutut Naya seketika l

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dewa Dihukum

    Naya melemparkan dokumen itu tepat ke wajah Dewa hingga kertas-kertasnya berserakan di lantai. "...kau yang mandul, Dewa! Rahimku sehat sempurna. Tapi karena gaya hidupmu yang hancur karena alkohol dan obat-obatan, kau kehilangan kemampuanmu untuk memberikan ahli waris. Dan untuk menutupi kecacatanmu, kau menyiksaku. Kau bahkan dengan teganya mendorongku ke kamar adik kandungmu sendiri agar aku hamil dan menutupi aibmu!" Suara Naya menggelegar, membongkar kebusukan paling menjijikkan dari seorang Dewa Adhitama. Para tetua terkesiap ngeri. Beberapa bibi Naya menutup mulut mereka, tak percaya dengan penderitaan yang selama ini ditanggung oleh Naya sendirian. Dewa terdiam. Mulutnya terbuka, namun tak ada satu pun kebohongan yang bisa ia rangkai lagi. Bukti-bukti itu terlalu absolut. Kebusukannya telah dikuliti habis-habisan di bawah terangnya lampu gantung kristal. Naya menarik napas panjang, melepaskan beban berton-ton yang selama lima tahun menghancurkan pundaknya. Ia merogoh

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hancurkan!

    Rekha berjongkok. Dengan tangan yang masih berlumuran darah Dewa, ia tidak berani menyentuh Naya. Ia takut mengotori wanita itu. "Kita pulang sekarang, Sayang. Semuanya sudah selesai," bisik Rekha lembut, air mata menggenang di pelupuk mata sang kaisar bisnis. Naya tidak peduli pada darah di tangan pria itu. Wanita itu justru menerjang ke depan, mengalungkan kedua lengannya ke leher Rekha, memeluk pria itu dengan sangat erat. Tangisannya pecah—tangisan kelegaan, rasa aman, dan cinta yang akhirnya menemukan tempatnya bernaung. "Terima kasih... terima kasih udah nemuin aku, Mas..." isak Naya di ceruk leher Rekha. "Aku nggak mau lari lagi... aku cuma mau sama Mas Rekha..." Mendengar kalimat itu, pertahanan Rekha runtuh. Ia membalas pelukan Naya tak kalah eratnya, membenamkan wajahnya di bahu wanita yang terbungkus jaket kebesarannya itu. "Tidak akan ada yang memisahkan kita lagi, Naya. Aku bersumpah demi nyawaku, mulai detik ini, akulah yang akan menjadi perisaimu," bisik Rekha

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status