Share

#004 Apa Itu?

Penulis: aisakurachan
last update Tanggal publikasi: 2026-06-26 10:33:21

Lea membuka matanya yang sembab dan perih, saat telinganya mendengar panggilan. Bukan memanggil namanya. Tapi memanggil nama yang kembali membuat Lea ingin menangis.

"Hayya qumii, ya Amirotu Nae!" (Putri Nae, hamba mohon bangun)

Lea menggosok wajahnya sebentar, lalu menyingkirkan rambut dari telinga, karena mendengar ucapan aneh lagi.

"Tuan Putri?"

Kini Lea membuka mata sempurna, dan telinganya terbuka sempurna pula. 

Dengan mata sembab dan tebal itu, Lea bisa melihat jika dia masih berada di kamar yang aneh, bukan kamarnya sendiri. Tidak mengherankan jika dia mendengar panggilan nama Nae. 

“Ucapan aneh tadi sepertinya hanya mimpi”, putus Lea dalam hati. Lea bergerak, dan bangun. Melawan kepalanya yang sakit berdenyut, akibat tangisan hebatnya tadi malam.

"Putri Nae?"

Lea menoleh dan melihat seorang wanita berdiri di dekat ranjang, terpisah oleh kain tipis kelambu berwarna putih. Tidak terlalu jelas, tapi tubuhnya mungil seperti gadis remaja. Mungkin enam belas atau tujuh belas.

Rambut panjang berkepang kecil-kecil. Lea tak bisa melihat wajahnya dia menundukkan kepala.

"Siapa?" Lea sungguh berharap dia tidak mengenal Nae. Pertanyaan seperti itu akan membuatnya heran. 

Tapi Lea tak punya pilihan selain bertanya. Dia tidak ingin melakukan kesalahan di tanah asing ini. Lebih baik bertanya meski terdengar gila, daripada salah.

Lea sedikit bergeser mundur, saat melihat gadis itu tiba-tiba bersimpuh dan menunduk kembali. Gerakan yang aneh tentu saja.

"Maafkan kelancangan hamba. Seharusnya hamba memperkenalkan diri terlebih dulu." Dia menjawab, dengan punggung semakin bungkuk.

"Oh.. Tidak apa. Maksudku, tidak masalah. Tidak perlu minta maaf." Lea lega sekaligus gugup. Setidaknya dia tidak mengenal Nae, jadi pertanyaannya tidak aneh.

Namun, Lea gugup karena sadar jika sikap sopan berlebihan disertai duduk bersimpuh itu, dilakukan dengan alasan Nae adalah istri dari Pangeran. Lea melupakan status barunya dengan mudah. 

Pangeran itu... Lea ingin mengacungkan jari tengah, saat bertemu dengannya lagi nanti. Tapi kemudian sadar, belum tentu dia mengerti apa maksud dari jari tengah teracung. Meski gampang nekat, tapi bukan kebiasaan Lea untuk menjadi kasar sebenarnya. 

Kekasaran kemarin itu, hanya terbit karena keadaan aneh, putus asa dan kecewa. Lalu pria itu mendorongnya sampai ke titik emosi tak tertahankan, saat menciumnya. Ciuman itu jelas membuat Lea lepas kendali. 

Pangeran menyebalkan itu, semakin memperburuk catatan rekor ciuman Lea, yang sebelumnya sudah buruk. Pengalamannya mencium pria, hanya membutuhkan sebelah jari tangan untuk dihitung, dan jumlah itu sudah termasuk ciuman pertama yang membuat bibirnya bengkak, karena lawannya adalah teman sekelas Lea yang terlalu bernafsu.

Tapi ciuman itu yang bertanggung jawab atas payahnya kehidupan percintaan Lea. Bisa dikatakan trauma, karena setelah itu, Lea merasa semua ciuman yang dia terima adalah payah. Dan karena itu juga, hubungannya tidak pernah berjalan lama. 

Lea hanya pernah menjalani hubungan asmara dengan empat pria, dan salah satunya dengan berani menyebut jika Lea terlihat jijik saat berciuman dengannya.

Lea baru menyadarinya saat itu. Tanpa sengaja dia selalu menampakkan wajah jijik saat ada pria yang menciumnya. 

Setelahnya, Lea praktis membujang, dan memutuskan tak ingin terlibat dalam urusan percintaan, ingin hidup sendiri selamanya. Dia malas berpikir cara untuk mengatasi masalah ‘wajah menjijikkan’ itu. 

Dan kini semua keinginan itu terasa konyol. Tak hanya ada pria yang baru menciumnya secara paksa, dia juga telah menikah dengannya.

Tapi setelah memikirkannya di pagi yang terang benderang ini, tubuh yang dicium oleh pangeran itu adalah Nae, bukan dirinya. Ini sedikit membuat Lea merasa lebih baik.

"Maaf, Tuan Putri. Apa hamba boleh memperkenalkan diri sekarang?" 

Pertanyaan itu mengejutkan Lea. Dengan panik dia menatap gadis itu yang masih bersimpuh. Padahal entah berapa lama dia melamun tadi.

"Silahkan, tentu saja."

"Nama..."

"Tunggu, apa kau harus terus bersimpuh seperti itu?" Lea heran dia betah. Duduk dengan dua kaki tertindih badan, tidak mungkin akan nyaman.

"Anda belum menyuruh hamba bangun," jawabnya.

Lea nyaris mengumpat. Ternyata, dialah sumber ketidaknyamanan itu. Usahanya untuk tidak melakukan kesalahan sudah gagal total.

"Bangunlah." Lea berusaha terdengar seanggun mungkin. Dia tidak tahu bagaimana caranya bersikap seperti seorang putri. 

Gadis itu bangun, tapi masih dengan membungkuk. "Perkenalkan, nama hamba Heba. Hamba yang akan menjadi pelayan tuan putri mulai hari ini."

"Mmm.. ya. Baik." Lea mengangguk paham. Istri seorang pangeran tentu mendapat pelayan pribadi, ini wajar. Lea mencoba berpikir dari sudut kehidupan Nae.

"Baiklah, lalu apa yang harus aku lakukan?" Lea bermain aman, dan kembali bertanya. Dia memutuskan akan bertanya setiap kali kebingungan.

"Eh..." Heba terdengar bingung, kepalanya yang masih menunduk, menekuk ke samping sedikit. Mempertanyakan kegiatan hidup sehari-harinya kepada orang lain yang baru saja dia temui, tentulah terdengar bodoh.

"Itu terserah anda, Tuan Putri." Heba menjawab setelah mempertimbangkan baik buruk.

"Apa yang biasanya aku lakukan.... Maksudku apa yang biasanya seorang putri lakukan?" 

“Hmm...” Heba kembali bergumam bingung. Pertanyaan Lea sudah jauh melebihi aneh. Karena baru bertemu hari ini, Heba tentu tidak tahu kebiasaan Nae.

"Maaf, Putri. Apa Anda sedang sakit?" Heba menyimpulkan, ocehan tak jelas Lea sebagai igauan karena sakit.

"Tidak. Aku sehat, dan hanya ingin tahu apa kebiasaan putri yang ada di istana ini. Aku ingin cepat menyesuaikan diri." Lidah Lea berhasil membentuk kebohongan dengan lancar. 

Bukan kebiasaannya untuk berbohong, tapi dia tidak keberatan melakukannya jika terpojok.  Berada di tempat entah kapan di masa lalu, tentu termasuk keadaan terpojok.

“Oh...” Heba perlahan mengangguk. Alasan Lea sepertinya masuk akal baginya.

“Bagaimana jika mandi? Kata Pangeran Anda sakit, jadi hamba hanya sempat mengganti baju yang anda pakai kemarin,” usul Heba.

Lea memandang baju yang dipakainya tidur itu dengan mata menyipit. Dia ingin bertanya pada Heba, kenapa dia memilihkannya baju yang kurang bahan seperti itu Tapi pertanyaan itu, sepertinya berlebihan. 

Memandang Heba, dia juga memakai pakaian yang berjenis sama. Hanya bagian dada lebih tertutup, mirip tunik berbahan ringan. Lalu Lea masih ingat betul, penampilan Rasui yang membuat Lea malu saat memandangnya.

Lea bisa menyimpulkan jika baju minim adalah kebiasaan orang di situ. Meski sedikit mengerti, Lea kini bertanya-tanya.

“Aku sebenarnya ada dimana? Kebiasaan berpakaian mereka unik sekali.”

Namun, pertanyaan itu hanya bisa dia tanyakan dalam hati saat ini. Hanya Rasui yang bisa menjadi tempatnya bertanya hal itu. 

Seperti Heba tadi, orang lain akan menganggapnya sakit, jika mendengarnya bertanya hal yang sudah seharusnya jelas itu. 

Memikirkan harus bertanya pada pria itu, membuat mulut Lea terkatup erat. Dia memilih untuk mencari jawaban sendiri, meski prosesnya mungkin akan lama. Lea tidak akan memaafkannya dengan mudah. 

Perlahan, Lea turun dari ranjang, menapaki lantai yang terbuat dari batu itu. 

“Sebentar. Hamba akan mengambil sandal untuk anda.”

Heba bergerak dengan terburu-buru ke sudut kamar. Dia lalu menyibak tirai dan kembali berlutut.

“TIDAK! Jangan!” Lea panik saat tangan Heba meraih kakinya mencoba untuk memasangkan sandal itu. Jenis penghambaan yang berlebihan, menurut Lea, tapi Heba berubah pucat saat mendengar penolakan Lea. 

Dia melepas sandal, lalu bersujud rendah, dengan kening menempel pada tanah. “Maafkan hamba Tuan Puteri. Apakah hamba melakukan kesalahan?” 

Suara Heba gemetar ketakutan, kali ini Lea menyadari kesalahannya dengan sangat cepat.  Penolakan tadi, rupanya dianggap amarah oleh Heba.

“Kau tidak salah,” keluh Lea. “Bangunlah.”

Heba tak lagi bersujud, tapi dia kembali duduk bersimpuh, belum berani memandang Lea.

“Aku hanya terkejut tadi. Maaf ya.”

Heba kini memandang Lea dengan mata membulat lebar. Keheranan terlukis jelas di wajahnya.

“Anda apa?” tanya Heba.

“Aku terkejut, jadi berteriak. Kau tak perlu takut. Itu tadi salahku.”

Tapi penjelasan itu semakin membuat Heba heran, dia menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan, karena terkejut.

“Ada apa?” Lea menyadari jika dia pasti telah melakukan kesalahan besar. Reaksi Heba tidak normal.

“Anda.. Anda.. Maksud saya..Mmm.. Anda meminta maaf pada hamba.” Heba sampai terbata.

“Ya. Aku mengejutkanmu tadi. Apa aku tak boleh meminta maaf?” Lea heran.

Reaksi Heba yang berikut, sangat mengejutkan Lea. Air mata Heba perlahan turun.

“Tapi hamba hanyalah budak,” lirih Heba.

Saat mendengar kata budak, Lea paham. Ada sistem kasta atau kelas di negeri ini.

Sistem kasta yang membuat orang dengan kedudukan seperti Heba, tidak pernah mendengar permintaan maaf dari tuannya. Dia heran dan terharu sampai menangis, hanya karena Lea meminta maaf padanya.

“Ini menyedihkan,” kata Lea, dalam hati,  sambil menghela nafas panjang.

“Apa karena budak itu berarti kau bukan manusia? Budak atau bukan, kau adalah manusia yang tentu saja berhak untuk mendapat ucapan maaf jika ada yang bersalah padamu.”

Tangis Heba semakin kencang. Lea tak tahu apakah harus menangis atau tertawa karena ini. Siapa sangka ucapan maaf bisa berbuntut hal rumit seperti ini.

“Kita jadi akan mandi bukan?” Lea merasa lebih baik dia mengalihkan perhatian Heba.

Gadis itu mengangguk, lalu berdiri. Dia menghapus air mata, lalu menunjuk ke arah barat.

“Hamba akan mengantar,” katanya. 

Lea turun, dan menggeliat meregangkan otot. Kejadian beruntun yang sangat intens semenjak kemarin, membuatnya merasa pegal.

Saat baru saja melangkah, pandangan mata Lea tertuju ke arah jendela, yang membuka, tanpa penutup di sebelah ranjangnya. Sedari tadi dia tidak menyadarinya.

Lea berdiri mematung, matanya berkedip pelan menatap sesuatu di luar sana.

“Heba? Itu apa?” Lea menunjuk keluar jendela.

Heba melongok ke jendela. “Taman?”

Ada taman kecil di bawah jendela itu. Tapi Lea menggeleng.

“Itu. Tanah luas cokelat tak ada apa-apa?”

“Padang pasir?” Heba memandang Lea dengan heran. Pertanyaan itu terasa sangat tidak perlu.

“Kenapa ada di sana?” Pertanyaan bodoh yang lain dari Lea. Otaknya seakan membeku setelah melihat gurun pasir itu.

“Karena Yamu memang berada di dekat gurun pasir.” Heba kini menyerah untuk heran, dan hanya menjawab pertanyaan Lea sebisa mungkin.

Lea mendekat ke jendela, berharap jika lebih dekat, maka pemandangan akan berubah. Tapi tentu tidak, gurun pasir kosong dan gersang itu tetap ada di sana.

“Bagaimana aku bisa kesana?” tanya Lea.

“Keluar dari pintu itu dan lurus saja, Tuan Putri.” Heba menunjuk pintu, dan Lea segera berlari keluar, tidak peduli dengan Heba yang berteriak mencegah.

Kaki telanjang dan baju minim yang Lea pakai, sangat tidak pantas dipakai keluar kamar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
seru nih...baeu nemu karyamu lagi kk Ai
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #393 Tinggal Bersamanya!

    “Terima kasih.”Lea mengucapkan sekali lagi, kepada dua orang yang membantu dan juga mengantar barangnya sampai ke rumah itu.Lea tadi sempat menolak angkutan truk mereka, karena barangnya sangat minim. Kursi belakang dan bagasi mobilnya sudah cukup untuk menampung barangnya. Barang Lea hanya berwujud dua kardus dengan besaran sedang dan satu koper. Lea merasa mengangkut dengan truk sedikit berlebihan.Tapi mereka bersikeras, karena itu adalah pekerjaan yang harus mereka lakukan, dan mereka sudah dibayar untuk itu. Lea mengalah. Sekarang Lea merasa jika tawaran itu ternyata sangat berguna, karena meski hanya dua buah kardus, keduanya sangat berat. Kardus itu berisi buku novel koleksi Lea. Tak mungkin Lea bisa mengangkatnya sendiri. Kopernya sendiri bukan masalah, karena hanya berisi baju.Untuk laptop, dan juga barang-barang kecil lainnya, dengan mudah Lea bisa memasukkannya pada tas tangan, yang saat ini dia tenteng.Saat melihat betapa minimnya barang yang dia bawa, Lea yang menya

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #392 Selamat Datang!

    Lea menurunkan kaca mobilnya, karena sopir truk yang ada di depannya turun. "Ya?""Katanya Anda punya kuncinya.""OH! Iya!" Wajah Lea langsung memerah, malu. Ia benar-benar lupa.Lea bergegas turun, mengambil kunci yang kemarin diserahkan padanya begitu menandatangani kontrak pekerjaan tambahan ini. Ada dua kunci, yaitu kunci terbang dan kunci pintu utama rumah. Seharusnya sejak tadi Lea turun dan membuka gerbang, bukan malah ikut menunggu gerbang terbuka.Lea memasukkan kunci besi itu, lalu membuka gerbang yang sedikit berat, tapi dia berhasil mendorongnya sendiri.“Holy fu---molly!”Lea tidak sengaja menggumamkan umpatan, saat melihat bentuk rumah yang ada di depannya. Rumah itu sesuai dengan apa yang ada di deskripsi, tapi melebihi dari apa yang Lea bayangkan. Pertama rumah itu lebih besar daripada yang Lea bayangkan. Kedua, Lea tadinya mengira akan menemukan keadaan rumah yang terlihat seperti rumah hantu yang ditelantarkan.Tapi ternyata jauh dari itu.Rumah itu atapnya berwarna

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #391 Jangan Melewatkan!

    “Ini gila.” Lea bergumam, membayangkan pekerjaan itu akan sangat melelahkan.“Memang, tapi tetap penawaran yang cukup menarik. Sejak buletin ini dikeluarkan kemarin, ada beberapa penghuni lantai lima yang melamar. Tapi semua..”Michelle memberi isyarat mengiris leher dengan tangan, yang artinya belum ada yang diterima. “Tunggu! Tapi ini bagian dari British Food? Merawat taman?” Lea heran, kenapa pekerjaan seperti itu harus dimuat di buletin kantor.“Menurut rumor, rumah itu milik salah satu petinggi perusahaan yang telah lama ditinggalkan. Jadi mereka ingin mencari pegawai dari dalam British Food untuk merawatnya. Kau tetap terikat kontrak dengan British Food jika bekerja di sana. Bukankah jelas? Kau melakukan pekerjaan itu sebagai sambilan, pekerjaan utamamu tetap di sini.” Michelle menunjuk satu bagian artikel yang paling bawah. “Oh... jadi ini seperti pekerjaan tambahan.” Michelle mengangguk. “Ya. Seperti pekerjaan lembur yang dilakukan di luar kantor.”“Hmm… Ini bukan pekerja

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #390 Ini Cocok!

    Lea baru saja merasa sangat beruntung, karena bisa bekerja biasa setelah sekian lama koma, tapi kemudian begitu saja kesialan datang menerpa. Terlalu ironis menurutnya.“Kau diusir dari mana?” Michelle mendekati Lea, dan berbisik. Tak ingin dua rekan kerjanya yang ada di ruangan itu ikut mendengar cerita Lea.Tapi Lea tak ingin bercerita. Dia menunjukkan pesan yang baru saja diterima kepada Michelle“Maaf, Ms. Caldwell, dengan penuh penyesalan kami mengabarkan... terpaksa meminta anda keluar secepatnya, DALAM WAKTU DUA HARI?!”Awalnya Michelle hanya membaca dalam gumaman, tapi kemudian tak sengaja berseru, karena perintah pengusiran yang diterima Lea sangat absurd.Inti dari pesan itu adalah, gedung apartemen yang Lea tempati telah berganti pemilik, dan pemilik yang baru akan merobohkannya segera. Jadi seluruh penghuninya diminta pindah. Tidak merugikan, karena seluruh biaya sewa yang telah dibayar dimuka akan dikembalikan.Tapi masalahnya adalah waktu. Dua hari adalah waktu yang sang

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #389 Aku Diusir

    “LEA!”Michelle berteriak nyaring, saat melihat Lea sedang mengantri lift.Tanpa peduli pandangan orang disekitarnya, Michelle berlari menyambut Lea, sementara jas laboratorium berkelebat di sekitar tubuhnya. Dia memang punya kebiasaan memakai jas itu begitu turun dari mobil.Lea sendiri, menyimpan jasnya dengan rapi di tas, dan baru akan memakainya nanti setelah sampai di ruangannya.Michelle adalah teman akrab Lea, dan dia juga bekerja sebagai peneliti di laboratorium yang sama dengan Lea. Pelukan hangat adalah hadiah wajar setelah akhirnya melihat Lea kembali bekerja setelah sekian lama.Pelukan itu terlalu hangat malah, karena terlalu erat, dan selangkah lagi meremukkan tubuh Lea. Lea sudah mengambil jeda waktu tiga hari, dari hari kepulangannya dari rumah sakit, sebelum kembali bekerja, agar tubuhnya lebih kuat. Tapi tetap saja, tubuh Lea yang sedikit tipis kalah telak oleh pelukan Michelle yang tebal.Tubuh Michelle tidak kecil, dia sedikit gempal. Tapi tidak gemuk, Lea akan men

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #388 Kau Menangis!

    “Aku tidak akan pernah lelah memintamu meninggalkannya lagi, karena aku ingin kau meninggalkannya dengan berani. Aku ingin kau merasa menang darinya, Mom. Bukan melarikan diri.”Lea tidak bisa menyeret ibunya untuk keluar dari rumah itu begitu saja, karena keadaan mental Daisy yang tidak stabil.Lea pernah melakukan ini sekali, tapi dengan mudah ayahnya meminta ibunya kembali dan dia patuh karena takut. Perasaan inferior yang dimiliki Daisy, membuatnya sangat sulit melepaskan diri dari racun Mark. Lea menyadari ini, saat melihat bagaimana ibunya dengan gemetar memilih untuk kembali, padahal tahu hanya neraka yang menunggunya jika kembali bersama dengan Mark.Sayangnya Daisy sudah merasa terbiasa dengan neraka itu. Dia terbiasa oleh rasa panas dan api yang ada di rumah itu, karena sudah menjalaninya selama bertahun-tahun. Jadi meski saat dia terluka atau sakit, Daisy sudah terbiasa dan menganggapnya bagian dari hidup.Semenjak itu Lea tahu jika pekerjaan membujuk ibunya meninggalkan ay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status