LOGINLea membuka matanya yang sembab dan perih, saat telinganya mendengar panggilan. Bukan memanggil namanya. Tapi memanggil nama yang kembali membuat Lea ingin menangis.
"Hayya qumii, ya Amirotu Nae!" (Putri Nae, hamba mohon bangun)
Lea menggosok wajahnya sebentar, lalu menyingkirkan rambut dari telinga, karena mendengar ucapan aneh lagi.
"Tuan Putri?"
Kini Lea membuka mata sempurna, dan telinganya terbuka sempurna pula.
Dengan mata sembab dan tebal itu, Lea bisa melihat jika dia masih berada di kamar yang aneh, bukan kamarnya sendiri. Tidak mengherankan jika dia mendengar panggilan nama Nae.
“Ucapan aneh tadi sepertinya hanya mimpi”, putus Lea dalam hati. Lea bergerak, dan bangun. Melawan kepalanya yang sakit berdenyut, akibat tangisan hebatnya tadi malam.
"Putri Nae?"
Lea menoleh dan melihat seorang wanita berdiri di dekat ranjang, terpisah oleh kain tipis kelambu berwarna putih. Tidak terlalu jelas, tapi tubuhnya mungil seperti gadis remaja. Mungkin enam belas atau tujuh belas.
Rambut panjang berkepang kecil-kecil. Lea tak bisa melihat wajahnya dia menundukkan kepala.
"Siapa?" Lea sungguh berharap dia tidak mengenal Nae. Pertanyaan seperti itu akan membuatnya heran.
Tapi Lea tak punya pilihan selain bertanya. Dia tidak ingin melakukan kesalahan di tanah asing ini. Lebih baik bertanya meski terdengar gila, daripada salah.
Lea sedikit bergeser mundur, saat melihat gadis itu tiba-tiba bersimpuh dan menunduk kembali. Gerakan yang aneh tentu saja.
"Maafkan kelancangan hamba. Seharusnya hamba memperkenalkan diri terlebih dulu." Dia menjawab, dengan punggung semakin bungkuk.
"Oh.. Tidak apa. Maksudku, tidak masalah. Tidak perlu minta maaf." Lea lega sekaligus gugup. Setidaknya dia tidak mengenal Nae, jadi pertanyaannya tidak aneh.
Namun, Lea gugup karena sadar jika sikap sopan berlebihan disertai duduk bersimpuh itu, dilakukan dengan alasan Nae adalah istri dari Pangeran. Lea melupakan status barunya dengan mudah.
Pangeran itu... Lea ingin mengacungkan jari tengah, saat bertemu dengannya lagi nanti. Tapi kemudian sadar, belum tentu dia mengerti apa maksud dari jari tengah teracung. Meski gampang nekat, tapi bukan kebiasaan Lea untuk menjadi kasar sebenarnya.
Kekasaran kemarin itu, hanya terbit karena keadaan aneh, putus asa dan kecewa. Lalu pria itu mendorongnya sampai ke titik emosi tak tertahankan, saat menciumnya. Ciuman itu jelas membuat Lea lepas kendali.
Pangeran menyebalkan itu, semakin memperburuk catatan rekor ciuman Lea, yang sebelumnya sudah buruk. Pengalamannya mencium pria, hanya membutuhkan sebelah jari tangan untuk dihitung, dan jumlah itu sudah termasuk ciuman pertama yang membuat bibirnya bengkak, karena lawannya adalah teman sekelas Lea yang terlalu bernafsu.
Tapi ciuman itu yang bertanggung jawab atas payahnya kehidupan percintaan Lea. Bisa dikatakan trauma, karena setelah itu, Lea merasa semua ciuman yang dia terima adalah payah. Dan karena itu juga, hubungannya tidak pernah berjalan lama.
Lea hanya pernah menjalani hubungan asmara dengan empat pria, dan salah satunya dengan berani menyebut jika Lea terlihat jijik saat berciuman dengannya.
Lea baru menyadarinya saat itu. Tanpa sengaja dia selalu menampakkan wajah jijik saat ada pria yang menciumnya.
Setelahnya, Lea praktis membujang, dan memutuskan tak ingin terlibat dalam urusan percintaan, ingin hidup sendiri selamanya. Dia malas berpikir cara untuk mengatasi masalah ‘wajah menjijikkan’ itu.
Dan kini semua keinginan itu terasa konyol. Tak hanya ada pria yang baru menciumnya secara paksa, dia juga telah menikah dengannya.
Tapi setelah memikirkannya di pagi yang terang benderang ini, tubuh yang dicium oleh pangeran itu adalah Nae, bukan dirinya. Ini sedikit membuat Lea merasa lebih baik.
"Maaf, Tuan Putri. Apa hamba boleh memperkenalkan diri sekarang?"
Pertanyaan itu mengejutkan Lea. Dengan panik dia menatap gadis itu yang masih bersimpuh. Padahal entah berapa lama dia melamun tadi.
"Silahkan, tentu saja."
"Nama..."
"Tunggu, apa kau harus terus bersimpuh seperti itu?" Lea heran dia betah. Duduk dengan dua kaki tertindih badan, tidak mungkin akan nyaman.
"Anda belum menyuruh hamba bangun," jawabnya.
Lea nyaris mengumpat. Ternyata, dialah sumber ketidaknyamanan itu. Usahanya untuk tidak melakukan kesalahan sudah gagal total.
"Bangunlah." Lea berusaha terdengar seanggun mungkin. Dia tidak tahu bagaimana caranya bersikap seperti seorang putri.
Gadis itu bangun, tapi masih dengan membungkuk. "Perkenalkan, nama hamba Heba. Hamba yang akan menjadi pelayan tuan putri mulai hari ini."
"Mmm.. ya. Baik." Lea mengangguk paham. Istri seorang pangeran tentu mendapat pelayan pribadi, ini wajar. Lea mencoba berpikir dari sudut kehidupan Nae."Baiklah, lalu apa yang harus aku lakukan?" Lea bermain aman, dan kembali bertanya. Dia memutuskan akan bertanya setiap kali kebingungan.
"Eh..." Heba terdengar bingung, kepalanya yang masih menunduk, menekuk ke samping sedikit. Mempertanyakan kegiatan hidup sehari-harinya kepada orang lain yang baru saja dia temui, tentulah terdengar bodoh.
"Itu terserah anda, Tuan Putri." Heba menjawab setelah mempertimbangkan baik buruk.
"Apa yang biasanya aku lakukan.... Maksudku apa yang biasanya seorang putri lakukan?"
“Hmm...” Heba kembali bergumam bingung. Pertanyaan Lea sudah jauh melebihi aneh. Karena baru bertemu hari ini, Heba tentu tidak tahu kebiasaan Nae.
"Maaf, Putri. Apa Anda sedang sakit?" Heba menyimpulkan, ocehan tak jelas Lea sebagai igauan karena sakit.
"Tidak. Aku sehat, dan hanya ingin tahu apa kebiasaan putri yang ada di istana ini. Aku ingin cepat menyesuaikan diri." Lidah Lea berhasil membentuk kebohongan dengan lancar.
Bukan kebiasaannya untuk berbohong, tapi dia tidak keberatan melakukannya jika terpojok. Berada di tempat entah kapan di masa lalu, tentu termasuk keadaan terpojok.
“Oh...” Heba perlahan mengangguk. Alasan Lea sepertinya masuk akal baginya.
“Bagaimana jika mandi? Kata Pangeran Anda sakit, jadi hamba hanya sempat mengganti baju yang anda pakai kemarin,” usul Heba.
Lea memandang baju yang dipakainya tidur itu dengan mata menyipit. Dia ingin bertanya pada Heba, kenapa dia memilihkannya baju yang kurang bahan seperti itu Tapi pertanyaan itu, sepertinya berlebihan.
Memandang Heba, dia juga memakai pakaian yang berjenis sama. Hanya bagian dada lebih tertutup, mirip tunik berbahan ringan. Lalu Lea masih ingat betul, penampilan Rasui yang membuat Lea malu saat memandangnya.
Lea bisa menyimpulkan jika baju minim adalah kebiasaan orang di situ. Meski sedikit mengerti, Lea kini bertanya-tanya.
“Aku sebenarnya ada dimana? Kebiasaan berpakaian mereka unik sekali.”
Namun, pertanyaan itu hanya bisa dia tanyakan dalam hati saat ini. Hanya Rasui yang bisa menjadi tempatnya bertanya hal itu.
Seperti Heba tadi, orang lain akan menganggapnya sakit, jika mendengarnya bertanya hal yang sudah seharusnya jelas itu.
Memikirkan harus bertanya pada pria itu, membuat mulut Lea terkatup erat. Dia memilih untuk mencari jawaban sendiri, meski prosesnya mungkin akan lama. Lea tidak akan memaafkannya dengan mudah.
Perlahan, Lea turun dari ranjang, menapaki lantai yang terbuat dari batu itu.
“Sebentar. Hamba akan mengambil sandal untuk anda.”
Heba bergerak dengan terburu-buru ke sudut kamar. Dia lalu menyibak tirai dan kembali berlutut.
“TIDAK! Jangan!” Lea panik saat tangan Heba meraih kakinya mencoba untuk memasangkan sandal itu. Jenis penghambaan yang berlebihan, menurut Lea, tapi Heba berubah pucat saat mendengar penolakan Lea.
Dia melepas sandal, lalu bersujud rendah, dengan kening menempel pada tanah. “Maafkan hamba Tuan Puteri. Apakah hamba melakukan kesalahan?”
Suara Heba gemetar ketakutan, kali ini Lea menyadari kesalahannya dengan sangat cepat. Penolakan tadi, rupanya dianggap amarah oleh Heba.
“Kau tidak salah,” keluh Lea. “Bangunlah.”
Heba tak lagi bersujud, tapi dia kembali duduk bersimpuh, belum berani memandang Lea.
“Aku hanya terkejut tadi. Maaf ya.”
Heba kini memandang Lea dengan mata membulat lebar. Keheranan terlukis jelas di wajahnya.
“Anda apa?” tanya Heba.
“Aku terkejut, jadi berteriak. Kau tak perlu takut. Itu tadi salahku.”
Tapi penjelasan itu semakin membuat Heba heran, dia menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan, karena terkejut.
“Ada apa?” Lea menyadari jika dia pasti telah melakukan kesalahan besar. Reaksi Heba tidak normal.
“Anda.. Anda.. Maksud saya..Mmm.. Anda meminta maaf pada hamba.” Heba sampai terbata.
“Ya. Aku mengejutkanmu tadi. Apa aku tak boleh meminta maaf?” Lea heran.
Reaksi Heba yang berikut, sangat mengejutkan Lea. Air mata Heba perlahan turun.
“Tapi hamba hanyalah budak,” lirih Heba.
Saat mendengar kata budak, Lea paham. Ada sistem kasta atau kelas di negeri ini.
Sistem kasta yang membuat orang dengan kedudukan seperti Heba, tidak pernah mendengar permintaan maaf dari tuannya. Dia heran dan terharu sampai menangis, hanya karena Lea meminta maaf padanya.
“Ini menyedihkan,” kata Lea, dalam hati, sambil menghela nafas panjang.
“Apa karena budak itu berarti kau bukan manusia? Budak atau bukan, kau adalah manusia yang tentu saja berhak untuk mendapat ucapan maaf jika ada yang bersalah padamu.”
Tangis Heba semakin kencang. Lea tak tahu apakah harus menangis atau tertawa karena ini. Siapa sangka ucapan maaf bisa berbuntut hal rumit seperti ini.
“Kita jadi akan mandi bukan?” Lea merasa lebih baik dia mengalihkan perhatian Heba.
Gadis itu mengangguk, lalu berdiri. Dia menghapus air mata, lalu menunjuk ke arah barat.
“Hamba akan mengantar,” katanya.
Lea turun, dan menggeliat meregangkan otot. Kejadian beruntun yang sangat intens semenjak kemarin, membuatnya merasa pegal.
Saat baru saja melangkah, pandangan mata Lea tertuju ke arah jendela, yang membuka, tanpa penutup di sebelah ranjangnya. Sedari tadi dia tidak menyadarinya.
Lea berdiri mematung, matanya berkedip pelan menatap sesuatu di luar sana.
“Heba? Itu apa?” Lea menunjuk keluar jendela.
Heba melongok ke jendela. “Taman?”
Ada taman kecil di bawah jendela itu. Tapi Lea menggeleng.
“Itu. Tanah luas cokelat tak ada apa-apa?”
“Padang pasir?” Heba memandang Lea dengan heran. Pertanyaan itu terasa sangat tidak perlu.
“Kenapa ada di sana?” Pertanyaan bodoh yang lain dari Lea. Otaknya seakan membeku setelah melihat gurun pasir itu.
“Karena Yamu memang berada di dekat gurun pasir.” Heba kini menyerah untuk heran, dan hanya menjawab pertanyaan Lea sebisa mungkin.
Lea mendekat ke jendela, berharap jika lebih dekat, maka pemandangan akan berubah. Tapi tentu tidak, gurun pasir kosong dan gersang itu tetap ada di sana.
“Bagaimana aku bisa kesana?” tanya Lea.
“Keluar dari pintu itu dan lurus saja, Tuan Putri.” Heba menunjuk pintu, dan Lea segera berlari keluar, tidak peduli dengan Heba yang berteriak mencegah.
Kaki telanjang dan baju minim yang Lea pakai, sangat tidak pantas dipakai keluar kamar.
Sambil berlari kecil, Ra memasuki area gawat darurat, tapi usahanya menemui Lea tidak mulus. Baru beberapa langkah berjarak dari pintu masuk, seorang perawat menghentikannya.“Maaf ada apa? Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya.Ra menunjuk ke dalam ruang gawat darurat.“Apa Anda salah satu keluarga dari korban yang dibawa ke sini malam ini? Siapa namanya? Aku akan…”Ra menggeleng. Dia tidak punya hal untuk memasuki ruang gawat darurat karena dia bukan keluarga dari Lea. Dia tak bisa berbohong begitu saja, karena pastinya akan mereka akan mencatat namanya nanti. Namanya tidak boleh muncul dalam hal yang berkaitan dengan Lea sebelum dia kembali dari Tamiat.“Mmm... Gadis yang baru saja dibawa masuk dengan luka di kepala, apa kau tahu bagaimana keadaannya?” Ra menyerah mencoba masuk, dia hanya ingin tahu keadaan Lea.Perawat itu mengerutkan kening. “Apakah anda keluarganya?” Dia juga tidak mungkin memberi tahu keadaan pasien kepada orang asing.“Ya, dia keluarganya.”Osiris versi dewasa m
“Say what?!”Kalau bisa, Marin pastinya mengumpat. Setelah perintah kepindahan yang absurd kemarin, itu tadi adalah perintah tak masuk akal kedua yang terdengar tidak masuk akal di telinga Marin.“Kau ingin apa?”“Saham British Food!” Ra mengulang dengan jelas.Marin terdengar menghela nafas. Ra mengucapkan keinginan itu dengan sangat mudah, seperti saat dia ingin membeli permen atau camilan, bukan transaksi yang akan melibatkan uang ratusan ribu bahkan jutaan poundsterling. Yah… dia punya uangnya. Mungkin itu juga yang membuat Marin akhirnya menghela nafas, maklum.“Apa kau ingin mengembangkan bisnis disini? Kau mengatakan kemarin tidak ingin melakukan bisnis yang melibatkan perusahaan lokal di sini.” Marin mengingatkan niat Ra, yang berusaha tidak sibuk saat di London.“Sekarang aku ingin, dan aku ingin British Food.”“Apa kau tahu jika British Food saat ini sahamnya sedang lesu? Kau yakin? Memang bisa sedikit lebih murah, tapi akibatnya bisa fatal.”“Aku ingin British Food!”Ra ba
“Apa maksudmu kau harus mampir untuk minum kopi?” tanya Marin dari airpod yang menempel di telinganya.“Kau bisa minum kopi di kantor!” protesnya berlanjut, tapi Ra sudah turun dari mobil, dan berjalan menuju salah satu kedai kopi favoritnya.“Kopi yang ada di kantor tidak enak!” kata Ra dengan jujur, lalu memutus panggilan begitu saja. Tidak ingin mendengar omelan lanjutan dari Marin. Dia memang terlambat karena letak rumah orang tuanya yang cukup jauh dari kota.Karena itu dia akan sampai di kantor setelah makan siang. Pastilah Marin mengamuk. Tapi dia hanya akan mampir sebentar di kedai ini, dengan begitu keterlambatannya tidak akan semakin parah.Atau begitulah setidaknya harapan Ra. Namun sayangnya, dia datang saat makan siang. Kedai kopi itu penuh sekali.Dengan terpaksa Ra mengantre. Paling tidak ada sepuluh orang di depannya. Hanya bisa pasrah, Ra mengambil ponsel. Dia tidak ingin membuang waktu, dan memutuskan untuk memeriksa beberapa laporan.“Kenapa kau tidak menolaknya?! Ji
Ra menyesap kopi yang pahit dari cangkir sambil menghela nafas panjang. Dia baru saja membaca laporan dari Marin soal pencarian Lea yang tak berujung pangkal.Nama Azalea ternyata lebih umum daripada yang diperkirakan Ra, dan orang suruhannya tidak menemukan Azalea dengan nama belakang Caldwell.Ini membuat mereka harus memeriksa satu demi satu nama Azalea, dan nama itu tidak unik. Ada ratusan wanita bernama Azalea di London saja.Satu-satunya kemajuan yang didapat oleh Ra setelah dua bulan ini mencoba menata kehidupannya beserta ingatan lamanya adalah, dia berhasil pindah ke London dengan sukses.Marin mengatur agar pekerjaannya bisa dilakukan dari London. Dan karena dia memang sudah sangat jarang turun ke lapangan, jadi hal itu tidak terlalu bermasalah. Dia punya beberapa orang kepercayaan di Spanyol. Hanya satu orang yang ikut bersamanya ke Inggris, yaitu Marin. Di sini dia mempekerjakan beberapa orang, tapi kantornya belum terlalu ramai, karena dia memang ke London bukan untuk bek
“Apa aku harus juga ikut berpikir hal seperti itu? Apa kau punya otak untuk berpikir sendiri? Pakai otakmu, jangan sampai berkarat!” Osiris sepertinya sudah benar-benar kesal, karena keluhan Ra yang terkesan tidak puas dengan hasil kerjanya sejak tadi.“Aku tidak bertanya padamu! Aku bertanya pada diri sendiri!” tukas Ra.“Puh!” Osiris mendengus, tapi memilih untuk menyesap wine.Wine yang dia bawa lezat, karena dia memang sengaja memilih wine yang paling mahal dan paling tua yang bisa ditemukan di rumah ini. Ra meraih ponsel yang tergeletak di sebelahnya, lalu memilih nama Marin di sana. Saat ini pukul dua pagi, bukan waktu pantas untuk menghubungi siapa saja, tapi dia tidak peduli.Setelah cukup lama mendengarkan nada panggil, akhirnya ada sahutan dengan suara mengantuk.“Raff? Apakah ada sesuatu yang terjadi?”Dia menelpon tengah malam, tentu saja akan mengundang pertanyaan.“Aku ingin pindah ke London.”Kata-kata yang membuat lawan bicaranya terjaga sempurna.“Maaf, apa maksudmu?”
“Bukan salahku! Kau sendiri yang berniat untuk pindah ke Spanyol saat berumur dua puluh tiga. Sebelumnya kau ada di London seperti janjiku.” Osiris balik menuding, menyalahkan Ra.“Oh!” Ra menepuk kening, lalu menyandarkan punggung pada kepala ranjang.“Ya, tentu saja,” batin Ra. Dia menyusun ingatannya yang lain. Kehidupannya sebagai Raffael Navaro. Kehidupannya yang sekarang. Sedikit campuran ingatan masa lalu, membuatnya bingung sesaat. Sebagai Raffael, dia merasa jika pindah ke Spanyol--ke tempat kakeknya--adalah keputusan yang tepat, karena dia membuka bisnis yang cukup berhasil di sini. Tapi sekarang keputusannya itu terasa bodoh.Keputusan itu membuatnya jauh dari Lea.“Kau seharusnya membuatku ingat lebih cepat! Kenapa kau tidak membuatku ingat begitu lahir?” gerutu Ra. Dengan begitu dia tak akan membuat keputusan bodoh.“Ungrateful bastard!” maki Osiris, dengan bahasa Inggris sempurna, bahkan dengan logat.‘“Kau akan menjadi bayi aneh jika mengingat semua kehidupanmu yang du







