Share

#005 Aku Dimana?

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-06-26 10:37:35

Untung saja arah yang ditunjuk Heba sangat sederhana, karena Lea sebenarnya buta arah. Dia mudah sekali tersesat jika berada di tempat baru dengan lorong-lorong yang tampak serupa.

Lea kini berlari menyusuri lorong di luar kamarnya, tanpa peduli beberapa orang berseru kaget. 

Prajurit yang berjaga dan juga pelayan lain, kebingungan melihat Lea, dan Heba--yang coba menghentikannya--ikut berlari di belakangnya.

Lea terus berlari, melintasi taman yang tadi dilihatnya dari kamar, mencapai gerbang kecil, yang dijaga dua prajurit.

Mereka seharusnya menghentikan Lea, tapi karena terkejut, mereka malah diam dengan mulut ternganga.

Lea dengan mudah menerobos gerbang itu, dan kakinya yang tak beralas menginjak permukaan lembut dan hangat. Permukaan pasir yang segera melambatkan langkah Lea, karena kakinya terbenam.

Lea menatap lautan pasir tak berujung yang membentang di depan matanya. Tak ada satupun benda yang menandakan kehidupan. Hanya padang kosong yang mati.

Kulitnya yang sebagian besar terbuka, hangat oleh terpaan angin kering yang terasa sedikit kasar, karena butiran pasir halus yang ikut terbang bersama angin. Dunia yang terlihat jauh berbeda dengan apa yang biasa dia lihat. Perbedaan yang mengirim ketakutan.

Mata Lea kembali pedih dan berair, bukan hanya karena butiran pasir yang beterbangan. Air matanya terbit tanpa bisa dicegah.

Dia ada di suatu tempat asing, yang dikelilingi gurun pasir. Meski katakanlah dia berusaha lari atau apa, dia tak mungkin bisa mengarungi gurun pasir itu dalam keadaan hidup.  Gurun pasir itu adalah kematiannya.

Lutut Lea lemas, dan dia jatuh bersimpuh. 

“Di mana aku? Di mana aku sebenarnya?!” Lea memekik putus asa.

“Anda di negeri Tamiat.” Heba yang berhasil menyusul, menjawab seadanya dengan napas terengah. 

Memandang bingung kepada Lea, yang terlihat berduka memandang gurun pasir. Dari semua misteri hari ini, mungkin ini yang paling aneh bagi Heba.

Namun Lea sudah tidak mengingat niatnya untuk bersikap wajar, tidak peduli jika Heba menganggapnya gila. Niat itu terlupakan, begitu melihat padang pasir itu.

Kemarin Lea berharap dia masih bisa menemukan jalan untuk menjauhi semua kerumitan, tapi kini itu tak mungkin.

“MOM?!” panggil Lea, meski tahu tak akan mendapat jawaban. “Fred?” 

Lea memandang kaki langit, sambil terus menggumamkan kedua nama itu. Air mata putus asa, turun tanpa henti. "Aku harus bagaimana?" isaknya.

 

***

 

“Aku tahu itu bukan tubuhmu, tapi bisakah kau tidak memamerkannya dengan bebas?!” Suara dingin yang sekarang sudah sangat Lea kenal, menegur keras di belakangnya.

Heba yang tersentak, langsung duduk bersimpuh dan bersujud. Sementara Lea tak menoleh, tak ingin memandangnya. 

Dia tak peduli lagi dengan apapun, dia hanya ingin pulang. Tapi Lea berdiri, mencoba untuk tidak terlalu terlihat mengenaskan.

“Apa kau tuli?! SOPANLAH SEDIKIT DAN JAGA KEHORMATAN NAE!” bentak Rasui.

“NAE?.. NAE?! Dia saja yang kau pikirkan? Lalu bagaimana dengan aku? Kau pikir aku gembira dengan keadaan ini?!” pekik Lea, berpaling memandang Rasui, dengan wajah basah.

Rasui yang tidak menyangka akan mendapat perlawanan, mundur dua langkah. Teriakan itu adalah bentuk frustrasi dan kesal, yang sejak kemarin Lea tahan. 

Dia berada sendirian di tanah asing, tanpa mengenal siapapun, tidak tahu kapan dan dimana, entah apakah setelah ini dia masih bisa bertemu dengan keluarganya lagi. 

Dan lebih mengenaskan lagi, dia bahkan tidak memiliki tubuhnya sendiri. Keadaan itu sudah sangat bisa membuat siapapun putus asa dan menjadi gila. 

Kini Rasui berhasil mengusik kesabaran Lea yang sudah habis tanpa sisa, dengan terus menanyakan Nae. Dia iba pada Nae yang memilih mati, tapi ketidakpedulian Rasui pada perasaannya, dengan mudah mendorong amarah Lea ke permukaan. 

Dia juga berada dalam situasi yang dipaksakan padanya. Lea juga merasa berhak marah, berhak merasa sedikit egois dan memikirkan nasibnya sendiri.

“Aku punya keluarga! Aku punya pekerjaan! Aku punya kehidupan, meski tanpa budak yang berlutut padaku! Aku punya rencana masa depan! Cita-cita dan banyak lagi!” 

Dada Lea naik turun, napasnya tersengal akibat berteriak. Tapi adrenalin dari amarah itu, dengan cepat kalah oleh putus asa. Lea menutup wajah dengan kedua tangan. Dia ingin sekali memaki Rasui, tapi percuma saja. 

“Pria bebal itu tak akan pernah mengerti!” batin Lea.

“Aku tak tahu cita-citamu apa, tapi apa itu termasuk memamerkan tubuh pada orang banyak?” Rasui masih sinis, tapi tak lagi berteriak.

Lea tersentak, saat bahunya tertimpa kain. Dia mendongak, melihat Rasui telah membuka jubah yang dia kenakan, dan menyelimuti tubuhnya.

Lea menunduk memandang tubuhnya, lalu terkesiap. Lea menyilangkan tangan di depan dada, baru menyadari penampilannya tak pantas.

Dia masih memakai baju tipis minim, yang dipakainya tidur tadi, kakinya juga tak tertutup.

Jika masih berada dalam tubuhnya yang lama, mungkin tidak akan terlalu tampak mencolok. Tubuhnya tipis, tanpa lekukan berarti, tapi Nae adalah apa yang disebut wanita bentuk tubuh S.

Sebutan yang menggambarkan keseimbangan antara bagian tubuh depan dan belakang, sama-sama menonjol dan padat. Saat dilihat dari samping, tubuh wanita seperti itu, akan tampak seperti huruf S.

Nae akan dengan mudah  lolos menjadi model peragaan Victoria’s Secret jika ingin. Tubuh itu yang tadi membuat penjaga hanya bisa memandang heran, saat dia berlari.

“Kalian yang memberiku baju seperti ini sejak kemarin!” Lea tak terima dengan tuduhan sengaja memamerkan tubuh itu.

Dia tadi tak mampu berpikir sehat, dan sejak kemarin Nae memang memakai baju yang terbuka. Gaun yang dia pakai sesaat sebelum pingsan tidak kalah sexy dan terbuka. Karena itu Lea menyimpulkan memang kebiasaan Nae dan yang lain untuk berbaju terbuka.

“Itu baju khusus untuk kau pakai di dalam Serail. Apa perlu aku jelaskan apa maksudnya juga?!” Rasui membentak.

Lea ingin menjawab jika dia memang perlu penjelasan, dia tak tahu apa itu Serail. Namun, Rasui telah berpaling pada Heba.

“Bawa dia masuk, dan ajari segala hal kebiasaan di sini. Dan lupakan semua yang kau dengar tadi, jika masih sayang dengan nyawamu!” Rasui memberi perintah yang separuh melegakan, separuhnya lagi menyebalkan bagi Lea. 

Melegakan karena dia menyuruh Heba untuk mengajarkan segala macam kebiasaan asing. Menyebalkan karena dia mengancam Heba.

“Hamba mengerti, Pangeran. Hamba akan diam.” Heba bersujud, sampai keningnya berhias butiran pasir, saat mengangkat kepala. Dia baru berani mengangkat kepala saat Rasui pergi.

“Putri Nae. Kita kembali saja ke dalam,” bujuk Heba. Nyaris memohon, agar keributan ini selesai.

Lea menghapus air mata, lalu menarik nafas panjang. 

Rasui memang datang bukan untuk menghibur, tapi bahasan soal kepantasan berpakaian, cukup ampuh meredakan histeria Lea. Dia kini sedikit malu.

Sambil merapatkan jubah Rasui, Lea melangkah kembali ke dalam lingkungan istana. Pilihan apalagi yang dia punyai? Saat pilihan lainnya adalah gurun pasir mematikan itu.

“Heba?”

“Ya, Tuan Putri?” Heba bergeser ke samping, bersiap menerima perintah, yang tidak akan datang, karena Lea hanya ingin bertanya.

“Kemana semua orang?” Lea menjulurkan leher dengan heran melihat keadaan bangunan kosong di depannya. Keadaan istana itu cukup padat tadi.

Meski tak terlalu memperhatikan, tapi Lea masih ingat beberapa orang berseru terkejut saat melihatnya lari tadi, dua penjaga yang menjaga gerbang juga sudah tidak ada.

Heba memandang sekitar sekilas. “Hamba rasa, Pangeran menyuruh semua orang menyingkir sampai Tuan Putri kembali ke Serail.”

“Perhatian mengharukan,” batin Lea. Sinis. Perhatian itu, dilakukan karena Rasui tak ingin dirinya semakin mempermalukan tubuh Nae. 

Keinginannya menjaga kehormatan Nae, membuat Lea ingin mengacungkan jempol, tapi saat mengingat sikap Rasui pada dirinya, Lea tetap memilih jari tengah untuk diacungkan padanya.

“Apa itu Serail?” Lea teringat ketidaktahuannya, mendengar Heba menyebut kata itu tadi. Pertanyaan Lea kini terdengar wajar bagi Heba, meski seharusnya aneh.

“Serail adalah kediaman khusus bagi para istri pangeran atau pharaoh, melayani suami. Kamar tempat Anda tidur tadi adalah bagian Serail Pangeran Rasui.”

“Fantastic!” gumam Lea. Mendapatkan pemahaman yang terasa bagai tamparan.

“Apa itu panpastik?” Heba bertanya polos, mendengar Lea menggumamkan bahasa asing. 

“Oh.. Lupakan!” tukas Lea. Penjelasannya akan panjang, dan Lea sedang sibuk, menyatukan segala puzzle di otaknya. 

Kini jelas baginya alasan Nae selalu mengenakan pakaian terbuka: ia sedang menunggu suaminya. Dan baju itu khusus untuk dipakai di lingkungan itu. 

“Kau tadi menyebut ‘para istri’?” Lea akhirnya juga menyadari potongan kalimat Heba yang janggal.

“Benar, Tuan Putri. Tapi saat ini Anda tak perlu khawatir. Anda satu-satunya penghuni Serail. Pangeran Rasui, baru mengambil Anda sebagai istri.”

Lea memejamkan mata sambil mendesis kesal. Penjelasan Heba hanya membuat keinginan Lea untuk meninggalkan istana ini semakin tebal.

Masa depannya kini ‘secerah’ langit London pada musim dingin di bulan desember. Abu-abu, dan akan hitam jika badai datang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yanti
nano nano rasanya ya Lea
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
frustasi banget rasanya ya..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #397 Ini Semua Beracun!

    Ra tersenyum. Tidak terlalu terkejut. Meski ceroboh, Lea tidak bodoh. “Aku boleh mencoba, asal bisa membelinya. Itu berarti aku hanya bisa mentraktir dari deret yang ini. Bukan di sebelah sana.”Ra menunjuk deretan wine berusia muda. Meski bisa, tentu saja Ra tidak dengan bodoh menawarkan wine mahal. Dia tetap berakting sebagai pegawai. Lea akan kembali curiga jika dia menawarkan wine mahal.“Anggap saja ucapan selamat datang. Aku senang akhirnya tidak harus tinggal di sini sendiri lagi.”Lea ingin menangis, tapi kali ini sebabnya jelas. Ra tersenyum padanya, membujuk. Lea tahu benar kepalanya tak akan menggeleng. Tapi karena hatinya merasa tidak seharusnya dia menerima penawaran itu, kepala Lea juga tidak mengangguk.Namun Ra tetap menerjemahkan sikap diam itu sebagai iya.Dia bangkit, mengambil salah satu botol yang menurutnya cukup lumayan. Tidak terlalu murah, tapi tidak mahal luar biasa. Dengan gerakan tangan yang cekatan, Ra mengambil pembuka botol dan dua buah gelas.“Warnanya

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #396 Selamat Datang

    “Apa kau baik-baik saja? Kenapa kedua telingamu merah sekali?” tanya Ra, sambil mengerutkan kening.Tangannya terangkat, ingin menyentuh telinga Lea, dan memeriksa apa yang salah, tapi tangan itu berhenti di udara lalu mengepal. Ra sadar betapa buruknya ide untuk menyentuh Lea saat ini.Lea tidak melihat gerakan canggung itu, karena dia sibuk menggeleng. Mengumpulkan akal sehat.“Aku baik.” Lea menggosok telinganya yang sangat hangat, sambil menunduk. Kali ini Lea sama sekali tidak berani memandang Ra. Dia mungkin tidak menangis lagi, tapi telinga memerah juga bukan hal yang pantas untuk ditunjukkan di hadapan pria manapun.“Mmm… Apa kau mau berkeliling sekarang atau nanti saja? Kau masih lelah?” Ra mengutarakan maksud panggilannya tadi.“Oh... Sekarang saja. Aku tidak lelah!” Lea setuju dengan sangat cepat. Dia siap mengisi kepalanya dengan tugas dan tanggung jawab. Agar pikiran kotor dan nakal itu lekas hilang dari otaknya.“Kalau begitu, mari.” Ra mendahului Lea melangkah untuk m

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #395 Aku Tidak Mengerti!

    “Benar. Rumah ini kosong sebenarnya, jadi siapa saja boleh menempati kamar mana saja.”Bantahan yang telah Ra siapkan sejak kemarin, mengantisipasi jika Lea curiga. Dan memang benar dia curiga.“Oh... Apa tidak ada kamar khusus pegawai atau apa?” Meski bebas menempatinya, Lea merasa tidak nyaman.Dia merasa aneh jika harus menempati kamar semewah ini, dan masih dibayar. Lea merasa wajib membayar, jika menempati kamar semewah ini.Ra menggeleng. “Semua kamar di rumah ini seperti ini.”Tentu saja ada kamar tamu yang lebih sederhana, tapi untuk apa mengatakannya pada Lea sekarang? Dia hanya harus membiasakan Lea tinggal di kamar ini. “Apa kau ingin aku membantu membereskan barang?” tanya Ra.Lea yang masih bingung melihat keadaan kamarnya yang terlalu mewah, menggeleng seketika.“Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Dan terima kasih atas bantuannya.” Lea mengangguk dan tersenyum.Ra membalas senyuman itu hampir seketika. Lea menelan ludah. Senyum itu pastilah tidak menyehatkan, karena jantung

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #394 Aku Ingat!

    “Kamarmu akan ada di sebelah sana.”Ra menunjuk pintu kamar kayu, yang ada di sebelah ruang duduk. Kamar yang memang sudah disiapkan untuk Lea. Kamar yang memiliki pemandangan paling bagus di rumah ini. Dan tentu saja paling luas.Tapi tentu kenyataan itu tidak perlu dikatakan, karena sudah pasti Lea justru akan menolak kamar itu jika tahu kamar itu istimewa.Lea mengangguk, dan kini mengamati Ra, yang sedang menjelaskan detail rumah, soal dapur dan lain sebagianya.Melihat wajahnya dengan lebih normal, saat kabut pesona tak lagi mengganggu otaknya. Lea menyadari sesuatu, wajah Ra terlihat akrab. Ini bukan pertama kali dia bertemu dengannya.“Apa kita pernah bertemu sebelum ini?” tanya Lea.Ra terdiam saat itu juga, dan berpaling memandangnya. “Kau mengenaliku?”Ra mencoba menekan antusias yang muncul dalam hatinya, karena hal ini akan terlalu indah untuk menjadi nyata. Lea mengenalinya adalah hal mustahil yang terus dia harapkan akan menjadi nyata, setiap harinya.“Aku ingat! Aku t

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #393 Tinggal Bersamanya!

    “Terima kasih.”Lea mengucapkan sekali lagi, kepada dua orang yang membantu dan juga mengantar barangnya sampai ke rumah itu.Lea tadi sempat menolak angkutan truk mereka, karena barangnya sangat minim. Kursi belakang dan bagasi mobilnya sudah cukup untuk menampung barangnya. Barang Lea hanya berwujud dua kardus dengan besaran sedang dan satu koper. Lea merasa mengangkut dengan truk sedikit berlebihan.Tapi mereka bersikeras, karena itu adalah pekerjaan yang harus mereka lakukan, dan mereka sudah dibayar untuk itu. Lea mengalah. Sekarang Lea merasa jika tawaran itu ternyata sangat berguna, karena meski hanya dua buah kardus, keduanya sangat berat. Kardus itu berisi buku novel koleksi Lea. Tak mungkin Lea bisa mengangkatnya sendiri. Kopernya sendiri bukan masalah, karena hanya berisi baju.Untuk laptop, dan juga barang-barang kecil lainnya, dengan mudah Lea bisa memasukkannya pada tas tangan, yang saat ini dia tenteng.Saat melihat betapa minimnya barang yang dia bawa, Lea yang menyad

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #392 Selamat Datang!

    Lea menurunkan kaca mobilnya, karena sopir truk yang ada di depannya turun. "Ya?""Katanya Anda punya kuncinya.""OH! Iya!" Wajah Lea langsung memerah, malu. Ia benar-benar lupa.Lea bergegas turun, mengambil kunci yang kemarin diserahkan padanya begitu menandatangani kontrak pekerjaan tambahan ini. Ada dua kunci, yaitu kunci terbang dan kunci pintu utama rumah. Seharusnya sejak tadi Lea turun dan membuka gerbang, bukan malah ikut menunggu gerbang terbuka.Lea memasukkan kunci besi itu, lalu membuka gerbang yang sedikit berat, tapi dia berhasil mendorongnya sendiri.“Holy fu---molly!”Lea tidak sengaja menggumamkan umpatan, saat melihat bentuk rumah yang ada di depannya. Rumah itu sesuai dengan apa yang ada di deskripsi, tapi melebihi dari apa yang Lea bayangkan. Pertama rumah itu lebih besar daripada yang Lea bayangkan. Kedua, Lea tadinya mengira akan menemukan keadaan rumah yang terlihat seperti rumah hantu yang ditelantarkan.Tapi ternyata jauh dari itu.Rumah itu atapnya berwarna m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status