แชร์

#109 Milik Siapa?

ผู้เขียน: aisakurachan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-03 08:43:24
Tidak salah jika Lea memberi gelar acara ini sebagai sebuah pesta gila. Karena semakin malam, semakin banyak heqet yang ditelan oleh semua tamu, dan semakin gila saja suasananya.

Dalam usahanya mencari letak pintu keluar, Lea beberapa kali harus memalingkan wajah. Para tamu itu seolah tak lagi ingat tempat dan melakukan beberapa hal yang seharusnya dilakukan di dalam kamar, berdua saja.

Lea mulai menyesal karena tak menerima penawaran dari Ra tadi.

“Tenang, Lea… Coba ingat dari mana kau masuk ta
aisakurachan

😏😏 kasih paham lea!

| 6
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Yanti
kan Heba memang HebaT, sampai mantannya Ras aja iri Lea dpt Heba
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
mulai memantik api nih kayaknya
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #425 Aku Sudah Malas Menebak!

    “Kau yakin? Kau sudah beberapa hari di rumah sendirian?” tanya Lea, sambil membungkuk dan menatap mata keemasan cantik yang membuatnya takjub karena indah.“Aku baik-baik saja!” Osiris nyaris membentak, tapi dia berhasil membuat nada suaranya masih terdengar seperti anak-anak.“Aku yakin sekali!” Osiris mengulang jawaban itu untuk kesekian kali, sementara Ra yang duduk di belakang Lea, bersusah payah menahan tawa. Penyebab utamanya karena dia sangat puas, melihat bagaimana Osiris begitu kesal akibat khawatir berlebihan yang ditunjukkan oleh Lea.Kekhawatiran itu karena timbul karena akting Osiris sebagai anak-anak begitu meyakinkan. Ra sangat tergoda untuk menunjuk ke wajah Osiris, dan mengatakan ‘rasakan hasil perbuatanmu’.Tapi tentu Lea akan curiga. Jadi sebisa mungkin, Ra berpura-pura membaca berita di ponsel, sambil menahan tawa. Sudah sejak tadi, dia belum membalik halaman sama sekali. Menikmati bagaimana Osiris jengkel karena diperlakukan terlalu seperti anak-anak.“Ayo kita

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #424 Sampai Jumpa Lain Waktu!

    “Red? Hmm… Aku rasa jawabannya adalah iya. Kalau begitu cukup.” *merahBibir Lea mungkin diam, tapi wajahnya menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Wajah Lea memerah sampai ke leher. Hati Lea mungkin tidak siap, tapi tubuhnya bereaksi jujur.Wanita itu mengamati Lea. “Kau kurus sekali, Sayang. Tapi tidak apa. Aku akan mengurus nanti.”“Mengurus apa?” Lea tidak tahan lagi dengan segala tanda tanya. Tapi wanita itu menggeleng, tidak ingin menjelaskan.“Sampai jumpa lain waktu!”“Tunggu! Tunggu sebentar!” Lea sudah turun dari tempat tidur, ingin mengejar wanita itu, yang tiba-tiba berpamitan, dan keluar dari kamarnya begitu saja.Tapi langkah Lea tertahan oleh tarikan nyeri pada lengannya, ada infus yang masih menempel di sana.“Tunggu!” Lea kembali ke tepi ranjang, dan berusaha melepaskan infus itu, tapi kemudian berhenti bergerak.Waktu dia berhasil melepaskan infus dari gantungan, wanita itu sudah pasti akan jauh. Meninggalkan Lea yang setengah mati penasaran.Wanita itu seperti badai

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #423 Salah Kamar!

    “Tunggu!” Lea memandang sekitar, mengamati hal yang tadi luput dia perhatikan. Dia berada di kamar yang dulu dia pakai saat koma. Hanya letak furniturnya saja berbeda. “Apa aku ada di ruang VVIP lagi?” tanya Lea.“Oh.. Iya.” Ra berpikir sejenak setelahnya. Dia tak menimbang kecurigaan ini kemarin.“Kenapa?” Lea punya asuransi, tapi tak mungkin mereka menempatkannya pada ruangan ini jika hanya berdasar itu.“Karena aku yang meminta.”“Kenapa kau harus meminta?”“Karena aku ingin kau mendapatkan pelayanan terbaik tentu saja.”“Tapi kenapa kau ingin aku mendapat pelayanan… Lupakan!”Lea urung bertanya, karena tahu jawaban apa yang akan dia dengar dan saat ini dia tak ingin mendengar itu. Sudah cukup hatinya gelisah sejak tadi. Lea butuh berpikir jernih, dan jawaban Ra sudah pasti akan membuatnya tambah gelisah.“Kenapa apa?” Ra tidak mungkin mengabaikan kesempatan untuk menggoda Lea.“Lupakan, dan jangan dibahas lagi!” sergah Lea.Ra terkekeh sambil menurunkan lipatan pada lengan kemej

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #422 Dia Tidak Nyata!

    “Aku rasa kau harus membawa istrinya keluar. Dia akan mengancamnya untuk tidak menuntut.”Ra memberi bocoran pada penjaga di depan, yang bergegas masuk. Dia mengizinkan Daisy masuk karena status istri. Akan berbeda jika dia juga bagian dari korban tersangka. Dia harus dijauhkan.Ra meneruskan langkah, dengan sedikit bergegas, ingin menemui Lea. Tidak jauh. Sesuai apa dengan apa yang dimintanya, Lea sekarang menempati salah satu kamar VVIP rumah sakit itu.Ini adalah rumah sakit dokter Stefan. Rumah sakit yang sama tempat Lea dirawat dulu. Ra sekali lagi menghubungi Stefan tadi.Selain memastikan Lea mendapat perawatan yang paling baik, dia ingin meminta dokter Stefan memberi sedikit bocoran tentang keadaan Mark, karena tidak mungkin polisi membocorkan hal itu padanya, meski dengan menggunakan nama Navaro.Menurutnya luka Mark memang cukup parah. Ada beberapa patah tulang rusuk, dan juga tangan, tapi dia akan sembuh. Keadaan yang membahagiakan, karena setelah itu polisi akan membawanya

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #421 Dengarkan Baik-Baik!

    Ra sudah cukup gembira melihat polisi yang berjaga di luar kamar rawat Mark. Itu berarti dia dikategorikan sebagai tersangka, bukan korban.Saat di kantor polisi, Ra sudah menegaskan pada Gail -pengacara yang dikirim ayahnya-untuk secara khusus membuat tuntutan atas Mark. Dan sepertinya sudah berhasil, karena status tersangka itu.Ra menunjukkan kartu namanya sekali lagi, kepada polisi yang berjaga. Tidak mungkin dia boleh masuk tanpa itu.Polisi itu membacanya sejenak, kemudian mengangguk lalu menyingkir dari pintu.Ra ingin menyumpah saat itu juga, saat melihat Daisy di dalam. Ra tidak percaya dia memilih ada di sini, daripada bersama Lea.Wajah Mark masih sama buruknya seperti saat Ra melihatnya tadi, hanya tak lagi penuh darah. Memar dan sobek di beberapa tempat.“Dia bangun?” tanya Ra. Pada Daisy yang terlihat kaget dengan kedatangannya. Sepertinya dia tak tahu soal keterlibatan Ra pada kejadian ini.“Y...Ya.” Daisy sedikit tergagap.Mark yang mendengar suara Ra, membuka matanya y

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #420 Alasannya!

    “Oh... itu... Dia hanya teman yang aku bawa untuk membantu. Tidak perlu dipikirkan, kau tidak akan bertemu lagi dengannya.” Ra tidak bisa menyebutnya saudara lagi.“Kenapa? Aku ingin berterima kasih padanya.” Lea heran. Melihat Ra terkesan mencegahnya bertemu dengan pria itu.Lea tidak tahu bantuan apa yang diberikan pria itu, tapi tentu dia tetap merasa berhutang budi. Bagaimanapun dia telah menolongnya bersama dengan Ra.“Aku akan sampaikan pesanmu padanya nanti. Aku yakin dia sudah pergi sekarang.”Ra dengan mulus memberi alasan. Dia tidak akan membiarkan Lea bertemu dengan versi dewasa dewa bermulut kotor itu.“Kau sekarang tidur saja.”Lea mengangguk, lalu merasa aneh, karena entah kenapa dia merasa harus menuruti semua bujukan Ra. Memang apa yang dikatakan Ra sangat masuk akal, tapi seharusnya Lea tidak merasakan keharusan. Bahkan sebelum memutuskan jika apa yang dikatakan Ra adalah masuk akal, Lea tak banyak berpikir, dan ingin menurut saja.Lea tidak menyukai perasaan in, kar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status