Share

#145 Yang Mana?

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-08-12 08:39:27
“Aku mendapatkan semua benih itu dari Ra. Dia yang menyediakan benih, dan aku yang menanamnya. Alasan cukup bukan untuk mencoret Daka dari daftar tersangka?”

Rana tidak mengangguk, wajahnya masih pucat. Sepertinya kenyataan jika Ra ikut terlibat dalam penanganan kebun Lea, bukan kabar baik baginya.

“Kita beranjak pada nama selanjutnya, yaitu Ra.”

Rana tak menunduk, tapi matanya memandang tanah. Lea sebenarnya tidak perlu mengatakan kenapa Ra tidak melakukan itu, tapi Lea akan mengatakannya.

“Sel
aisakurachan

najis Mbak :))

| 5
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
nah loh..ada pangeran..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #383 Apa Dia Tampan?

    “Hentikan!” Ahmose membentak Giza, dan kelengahan itu dimanfaatkan oleh Ra.Ra mengayunkan pukulan, dan tentu saja Ahmose menghindar dengan mudah. Meski berusaha untuk menggerakkan tangan dan tubuhnya dengan reflek, tapi saat menyerang terlebih dahulu seperti ini, mau tidak mau tersusun rencana dalam kepala Ra. Rencana yang tentu saja terbaca oleh Ahmose, meski dengan bersusah payah, akibat gangguan dari Giza.Tapi bukan berarti Ra akan menyerah, meski banyak serangannya bisa dihindari, Ra terus menyerang sambil berusaha menjejalkan pengetahuan soal pengolahan biji wijen ke dalam kepala Ahmose.Pengolahan yang sedikit rumit dengan proses panjang berbelit. Dengan senang hati Ra memikirkan setiap detail mulai awal proses mengekstrak minyak wijen.Berkonsentrasi pada hal itu, gerakannya kini murni dituntun oleh insting dan reflex tubuh yang terbiasa berlatih bersama Osiris. Serangan yang akhirnya membuat Ahmose terdesak. Dia berusaha menangkis pukulan dari Ra, tapi tinju dan juga tendan

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #382 Di Mana Ayahmu?

    Ahmose menggeram marah, karena merasa terganggu.“Kalian berani sekali!” serunya, sambil menyibak tirai tipis yang ada di sekitar tempat tidurnya.“Kenapa juga kami harus tidak berani?” Ra membalas hampir seketika.Tirai tersibak semakin lebar saat dia mendengar uara Ra. Tirai itu sebenarnya menyembunyikan apapun, karena semua orang bisa melihat apa yang terjadi di atas ranjang.Giza mengeluarkan dengkur puas, saat melihat apa yang ada di sana, terutama saat Ahmose terlihat. Jelas dia puas dengan apa yang diperlihatkan oleh tubuh telanjang Ahmose, meski hanya sekilas.Ahmose sedikit lebih sopan dari Giza, karena dia menyambar selimut dan membalut bagian bawah tubuhnya, agar tidak terpampang bebas begitu tahu ada tamu tidak diundang.Dan seringai muncul pada wajah Ahmose, saat melihat Ra.“Rupanya aku ada tamu agung. Aku tidak mendengarmu sejak tadi.” Ahmose sedikit mengernyit.“Itu karena aku memang berusaha tidak memikirkan apapun sejak tadi.”Semenjak masuk dalam jangkauan kekuatan A

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #381 Di Mana Kamarnya?

    Tempat itu bahkan lebih besar daripada aula istana Yamu yang baru.Jika hanya ukuran lebar atau luas, tidak jauh berbeda sebenarnya, tetapi yang membuat perbedaan begitu mencolok adalah tinggi langit-langitnya. Mungkin karena dibangun di dalam gua, langit-langit itu terbentuk secara alami. Ruangan itu terlihat seperti membuka ke atas, karena langit-langitnya tidak terlihat. Cahaya obor tidak sampai menerangi langit-langit, hanya ada kegelapan pada bagian atas.Dan seperti biasa, suasana di dalam sangat kacau balau. Ra bisa mengendus aroma heqet yang sangat pekat.“Cari segera di mana Ahmose! Kita harus menjauhinya jika masih ada di keramaian,” bisik Ra, kepada Amun, yang segera membuka mata lebih lebar lagi.Mereka harus segera menemukan Ahmose dan menjauhinya saat ini. Karena kemampuannya untuk bisa membaca pikiran sangat berbahaya.Mereka akan dengan mudah terpergok jika sampai dia menangkap salah satu pikiran dari mereka berempat. Padahal Ra ingin mereka menyerang saat Ahmose sendi

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #380 Kau Tidak Tahu Siapa Aku?

    Giza menyingkirkan Amun yang ada di depannya, lalu mengacakkan tangan di pinggang, tepat di depan penjaga itu.Tubuh Giza lebih tinggi, mata penjaga itu hanya setinggi leher Giza. Tapi karena gerakan tangan Giza, otomatis mata penjaga itu tidak lagi terarah ke leher, tapi turun menatap benda membusung, yang hanya separuh tertutup karena baju Giza yang kekecilan.“Apa maksudmu siapa?” Giza melotot marah dengan sangat meyakinkan.“Kami sudah susah payah datang ke sini dan kau masih bertanya kami siapa? Kau tidak mengenaliku?!” Giza memicingkan mata dengan galak.Penjaga itu berusaha mengalihkan pandangan, untuk melihat wajah Giza dengan lebih baik, tapi sedikit kesulitan, karena --dengan tidak mengherankan-- matanya terus berusaha menatap ke bawah. Tubuh Giza terlalu menggiurkan untuk diabaikan.“Kau siapa?” Penjaga di sisi yang satu akhirnya ikut campur dalam keributan, atau lebih tepatnya ikut campur dalam kontes menatap tubuh Giza.“Aku kesini karena diundang, dan sekarang kalian tida

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #379

    “Maaf… Maafkan aku…”“Berhenti minta maaf!” Ra membentak tak sabar.Giza sudah sejak pagi mengucap maaf atas kelakuannya malam kemarin, dan kini sore hari, dia memulai ucapan maaf lagi. Bersiap karena sebentar lagi dia akan kembali kurang ajar.Kehidupannya benar-benar melelahkan.“Dia menggelar upacara pernikahan yang sangat megah sekali,” kata Amun sambil menatap ke depan.Kali ini dia bisa melihat lebih jelas, karena mereka telah berpindah ke kota. Mereka masuk ke kota dengan cukup mudah, karena seperti yang diharapkan, semua keriaan di istana Ahmose membuat kewaspadaan turun.Tidak ada yang terlalu memperhatikan, saat empat orang asing masuk ke kota yang cukup padat itu.Siang tadi, mereka dengan mudah membaur dengan tamu di penginapan yang saat ini mereka tempati.Mereka butuh mencari info tentang apa yang terjadi di istana, dan itu adalah tugas Urhi. Dia yang paling ramah diantara mereka semua.Urhi dengan mudah berteman dengan pelayan di rumah makan yang ada di bagian lain pengi

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #378 Siapa Yang Akan Menemaniku?

    “Bagaimana jika kita melupakan ini semua, dan bersenang-senang saja di bawah? Aku yakin pria Byblos bisa memuaskanku lebih dari kalian.” Giza mendecak tak sabar.“DIAM! Atau aku akan memindahkan batu ke dalam mulutmu!” Ra membentak, kesal dengan gangguan itu.Mereka tidak harus mengikat Giza Malam, karena dia tidak mencoba menyentuh mereka bertiga. Sepertinya dia tahu, jika mereka bertiga takkan mungkin tergoda oleh tubuhnya lagi. Mereka kebal karena terlalu dekat dengan Giza Siang.Bagaimana mungkin mereka bisa mengalihkan pikiran, jika wanita yang di depannya itu bisa dikatakan seratus persen mirip dengan Giza Siang? Hanya versi wajah dan tubuhnya memang sangat feminim. Intinya, meskipun Giza versi malam itu menari telanjang di hadapan mereka semua, takkan ada yang tertarik.Giza malam sadar dengan ini, dan memilih untuk bersikap menyebalkan daripada merayu mereka bertiga. Dia kerap kali berkomentar kurang ajar setiap mereka bertiga mencoba untuk berdiskusi soal apa yang harus dil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status