Home / Zaman Kuno / Pangeran, Aku Bukan Istrimu / #186 Siapa Yang Membawa?

Share

#186 Siapa Yang Membawa?

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-08-22 06:50:47

“Buntu.. Lagi-lagi buntu..” Luz duduk dan menghempaskan punggungnya, lelah dengan misteri ini.

“Tapi satu-satunya musuhmu hanya tinggal Kebi dan Han. Itu berarti mereka bukan dalangnya?” tanya Lea.

“Bisa jadi seperti itu, tapi masalahnya kita tak bisa membuktikan siapa yang memberikan kepada malk kepada Luz dan Nour. Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan pengadilan seperti yang ada di depan.”

Ra mengernyit, dia harus menyelesaikan misteri malk ini secara ‘ajaib’ dan tak tahu bagaimana cara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yanti
Ra kok dilawan, nanti posisinya pasti naik lagi. tenang aja
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
lega banget ......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #Extra 11 Kita Telah Memilih

    Nef berencana untuk terus melihat keadaan Giza tapi proses itu ternyata terlihat menyakitkan.Nef akhirnya berpaling saat mendengar nafas Giza tertahan. Dia tidak berteriak, hanya mengetatkan rahang, dengan tangan mencengkram erat.Nef kembali ingin marah kepada ‘ayah’ Giza yang membuatnya menjadi seperti ini. Dia membuat Giza mengalami kesakitan itu selama puluhan tahun. Nef sangat ingin bertemu dengannya.“Dasar gadis keparat murahan! Kau terdengar seperti gadis murahan saja, sampai harus menawarkan diri pada pria! Sudah berapa pria yang kau ajak tidur? Sepuluh? atau mungkin justru dua puluh?” Giza Malam memaki dengan lancar, sambil mengguncang rantai yang mengikat tubuhnya. Pada keadaan biasa Nef akan melayangkan tamparan untuk membungkam mulut siapapun yang berani mengatakan hinaan seperti itu padanya, tapi ini adala keadaan khusus. Dia tidak boleh marah, hanya harus menahan diri, karena tujuan awalnya adalah untuk berbicara.“Sayangnya kau salah, aku belum pernah tidur dengan pri

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #463 Extra 10 Kita Perlu Persetujuan

    “Oh!” Nef melirik keluar jendela. Sore hampir menjelang, tapi masih ada waktu yang lumayan.“Memang kenapa dia akan menjadi bahaya? Kita akan ‘melakukannya’ saat siang bukan? Dia akan hilang begitu kita…”“YA!” Giza memotong dengan geli, dan kembali sedikit heran dengan keberanian Nef membahas hal itu.“Nah! Kalau begitu kita tinggal menikah!” Nef kembali menegaskan kalau ia tidak keberatan.“Tidak semudah itu, dia mungkin akan mencoba membunuhmu lagi jika tahu aku memilihmu. Nanti malam mungkin dia akan mencoba membunuhmu! Mungkin ada bagian dirinya yang terganggu karena perasaanku kemarin, jadi dia berhenti sebelum kau mati. Dia mengira aku tak akan pernah memilikimu.”Giza menghela nafas panjang. Itu adalah pikiran yang ada di benaknya kemarin, jadi Giza Malam jelas berpikiran sama. Tapi kehadiran Nef di kamarnya, mengubah situasi dengan drastis.“Tapi sekarang dia akan tahu kau adalah bagian ‘rencana’ untuk membuat dirinya musnah. Dia tak akan menjadi pemurah lagi. Dia akan menye

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #462 Extra 9 Kita Akan Mendapat Masalah

    Giza menatap mata hijau Nef yang terlihat begitu tajam dan jernih. Semakin sadar jika mata itu ditunjang oleh otak yang lebih pintar dari ibunya.Kesimpulan Nef tidak ada celah kecerobohan, dan benar adanya. ‘Saudaranya’ itu mungkin selalu bertindak liar, dan tidak bisa diatur, tapi jelas tahu perasaannya terhadap Nef, karena mereka berbagi otak yang sama.Karena itu, meski amarah menguasai, pada akhirnya tangannya luluh pada permohonan Nef. Tangan itu mengendur saat Nef memohon padanya.“Apakah akan terus seperti itu?” Nef akhirnya mulai membahas keadaan aneh dari Giza, karena tak lagi penasaran dengan perasaan.Giza menggeleng. “Tidak. Keadaan itu akan berhenti jika aku menikah….”Giza berhenti, sejenak ragu, tapi Nef memintanya meneruskan matanya yang masih penasaran. “Jika aku menikah, dan tidur dengan wanita atau pria keturunan dewa.”“Pria? Kau tidur dengan pria?”“Bukan aku, Nef. Tapi dia, sisi diriku yang malam. Aku akan tidur dengan wanita saja.” Giza menahan senyum.“Oh maaf.

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #461 Extra 8 Kita Sama

    Masih sambil tersenyum getir, Giza duduk pada kursi yang tidak jauh dari ranjangnya.“Aku lupa kau sangat pintar,” gumam Giza. Nef hanya bertemu sekali dengan sisi dirinya yang lain, tapi sudah berhasil menyimpulkan dengan benar. Walau belum sempurna.“Aku tahu masih akan ada penjelasan panjang lain soal kemampuanmu itu. Tapi yang aku ingin ketahui di sini adalah kenapa kau sengaja menghindariku selama ini?”Nef bangkit, lalu berdiri di depan Giza, yang perlahan mundur sampai batas kursinya mengizinkan. Posisi mereka terlalu dekat menurutnya. “Aku rasa kau salah paham. Aku tidak pernah menghindarimu,” elak Giza dengan mata memandang jendela yang ada di belakang Nef. Apapun asal tidak menatap Nef.“Pharaoh Giza Yang Mulia, aku rasa kita bisa berhenti berpura-pura menjadi anak kecil. Aku tahu perbedaan orang yang sengaja menghindar, dengan orang yang benar-benar sibuk. Jadi tolong kau jawab saja!” Nef menyebut gelar untuk menyindir.“Aku tidak punya alasan untuk menghindarimu!” Bantahan

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #460 Kita Perlu Bicara

    “Ebo? Tolong air hangat. Aku ingin mencuci muka.”“Baik, Yang Mulia.” Ebo beranjak ke pojok kamar, mengambil air hangat yang pasti sudah tersedia di sana.Giza melepaskan tunik yang kotor terciprat lumpur, lalu menghampiri baskom air yang disiapkan Ebo, dan mulai membersihkan kotoran di wajahnya. Baju dan wajahnya terciprat lumpur karena hari ini dia menunjukkan pada Ra jenis rami paling bagus untuk diolah menjadi linen. Ladang rami selalu berlumpur. Perjalanan panjang mengelola linen belum selesai. Meski sudah dimulai hampir dua puluh tahun lalu bersama Nae.Proyek itu sempat berhenti lama, karena Ra sama sekali tidak menyentuhnya. Dan Giza mengerti kenapa. Tidak mudah bagi Ra untuk memulai proyek itu karena selalu mengingatkannya akan Nae.Ra baru memiliki keberanian untuk meneruskan proyek itu beberapa lama ini, dan saat ini sudah hampir selesai, setelah berjuang lebih dari empat musim.“Hai. Akhirnya kau kembali. Aku mulai mengantuk menunggumu.”BRANG!Terlalu terkejut, Giza meny

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #459 Kita Memang Saling Mengenal

    “Aku akan membunuhnya, karena ayahnya telah berani mengurungku!”Wanita itu terus meneriakkan ancaman yang hanya membuat Nef semakin bingung.“Aku akan membunuhnya!” Tapi, seiring ancaman seram itu, Nef bisa merasakan cengkraman tangannya justru semakin mengendur.“TIDAK! Aku tidak menyukainya!” “Aku tidak menginginkannya!” “Aku tidak menginginkannya! Dia tidak boleh!”“Dia tidak boleh! Dia wanita yang terlarang untuk dimiliki!”“Dia tidak boleh diinginkan!”Semua teriakan itu keluar dari bibir wanita itu dengan nada histeris. Dia sama sekali melepaskan leher Nef, lalu membanting diri ke samping. Tidak lagi menindih Nef.Dia meneruskan gumaman aneh itu sambil menekuk tubuh seperti bersujud. Kedua tangannya memeluk lengannya sendiri.“Kau tidak boleh menginginkannya! Kau tidak boleh menginginkannya!”Hujan ucapan yang terdengar seperti igauan dan omong kosong itu, membuat Nef mematung. Tidak tahu harus melakukan apaBeberapa detik yang lalu, wanita itu ingin membunuhnya. Dan sekarang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status