LOGIN😚😚 ya itu rumah dia Lea
“Tapi aku ingin…”“Tunggu! Kau belum menjawabku, bagaimana kau bisa ada di sini?! Bagaimana dengan Nef dan Yamu? Kau meninggalkan semuanya?!”Lea menemukan bahasan penting yang akan mengalihkan Ra dari mocca. Penjelasan atas banyak hal!Dalam hati Ra bersyukur saat mendengar pertanyaan itu. Ia lega rencana menyusul Lea dengan terburu-buru, tidak benar-benar terjadi. Dari nada pertanyaan itu saja, Ra bisa merasakan Lea akan marah jika benar-benar meninggalkan Nef sendiri saja saat bayi.“Aku tidak meninggalkan semuanya, aku datang kesini setelah meninggal karena sakit.”Kening Lea berkerut.“Aku akan jelaskan, tapi aku harus berbaring.” Ra merebahkan diri perlahan. Sejak tadi Lea memeluk bagian dadanya terluka.“Astaga!” Lea baru melihat perban besar yang menutup tubuh Ra saat itu.“Kau terluka tadi malam! Bagaimana lukamu?” Kepanikan Lea sangat amat terlambat. Lea mengusap wajah dan leher, tempat darah mengotori tubuhnya.Sudah tidak ada tentunya. Stefan yang membersihkan dengan alkoh
“Itu… Aku tertidur tadi. Aku… aku baru saja bangun.”Ra menjelaskan dengan gugup dan gagap. Teringat jika sebelum semua kejadian itu, Lea sedang marah padanya. Amat sangat marah.Dia bahkan menyatakan hubungan mereka telah berakhir. Dia jelas akan marah melihat Ra ada di dalam kamarnya. “Lea.. Mmm….”“Kenapa kau ada di sini?” Lea mengulang untuk ketiga kalinya, tapi perlahan wajahnya memerah, dan bulir air mata perlahan menuruni pipinya.“Aku mohon jangan marah, Lea. Akh…” Ra ingin melangkah, tapi gerakannya terlalu cepat. Nyeri menyerang dadanya.“Bagaimana bisa kau ada di sini?!” Isakan Lea semakin kencang, sementara Ra mulai merasa aneh. Pertanyaan Lea tidak lagi sesuai dengan skenario bayangannya. Ini karena Lea seharusnya marah, tapi kenapa malah mendekatinya? Lea berdiri di depan Ra, lalu mengulurkan kedua tangan menyentuh pipi Ra. Tangan Lea terasa lembab saat menyentuh pipi Ra akibat dari usahanya menghapus air mata dan gagal. Air mata Lea malah mengalir semakin deras.Lea
“Coba berdiri.”Stefan meminta Ra berdiri, untuk mengecek apakah pergerakan motorik Ra ada yang terganggu,tapi Ra bisa berdiri dengan cukup mudah.Masih nyeri tentu saja, tapi balutan perban dan obat penghilang rasa sakit yang Stefan berikan telah bekerja dengan sangat baik.“Kalau begitu cukup.” Stefan mulai membereskan peralatannya, lalu meletakkan antibiotik di meja, untuk mencegah infeksi lebih lanjut pada luka Ra.“Untuk Azalea, kau tunggu saja sampai dia sadar. Dia akan baik-baik saja.”Ra mengangguk, dan dia juga tahu Lea akan baik-baik saja. Ra meminta Stefan memeriksanya terlebih dulu tadi. Ingin memastikan Lea memang hanya pingsan karena melihat darah. Ada luka dan memar kecil, tapi tidak ada yang dalam.“Aku permisi dulu!” Stefan melambai, lalu berjalan keluar dari kamar Lea.“Hati-hati!” pesan Ra.Perjalanan kembali ke London cukup jauh, dan akan berbahaya jika dia mengantuk. Saat ini tengah malam lewat. Pertarungan di padang lavender itu berakhir saat tengah malam.“Dia d
Kesempatan itu datang dari Lea.Saat berada di atas tadi, Lea mungkin tidak terlalu menyadari apa yang dilakukan oleh makhluk itu, tapi sekarang dia bisa melihat dengan jelas jika dirinya adalah halangan yang membuat Ra tidak bisa menyerang makhluk itu dengan bebas.Dan karena pemahaman ini, Lea tidak tinggal diam. Dia sebisa mungkin ingin mengganggu pergerakan dari burung itu.Mata Lea jatuh pada sayap yang terkulai tidak berguna. Sayap itu beberapa kali berkelebat di depannya, saat makhluk itu bergerak menghindari serangan.Memanfaatkan keadaan itu, pada saat yang tepat, Lea meraih sayap itu, lalu menariknya sekuat tenaga. Makhluk itu kembali mengeluarkan pekik mengerikan, seperti teriakan burung yang diperkeras beberapa kali lipat.“Nice!”Ra memuji dengan riang gembira, ia melihat celah itu, dan memberi kesempatan padanya untuk menyerang.Ra berhasil menusukkan pisaunya pada lengan yang memeluk tubuh Lea, lalu dengan secepat kilat, Ra meraih bahu Lea, menariknya terlepas dari cen
Diantara rambutnya yang kini menutupi wajah, Lea menatap dengan ngeri bagaimana angin itu perlahan berubah menjadi tornado.Lea terlalu takut untuk berteriak, karena pusaran itu begitu dekat. Bahu dan wajahnya terasa pedas akibat diterpa partikel tanah dan kerikil. Pusaran angin itu berputar sambil membawa entah berapa batang tanaman lavender.“Apa dia tidak bisa datang dengan cara biasa?” Ra mengeluh melihat kekacauan yang timbul. Akan ada berita menghebohkan yang timbul akibat ini semua.“Tentu saja tidak. Aku mungkin suka pamer, tapi dia lebih parah lagi. Kau hanya perlu mengenalnya lebih dekat untuk tahu sifatnya itu.” Osiris menjawab dengan santai.“Terima kasih. Tapi aku tidak ingin mengenalnya.” Ra menolak, sambil menatap tornado yang kini semakin mengecil, dan mengumpul di sebelah makhluk burung aneh.Lea hanya bisa kembali menganga, saat guguran bunga lavender yang menandai berhenti pusaran anginnya itu, diikuti oleh penampakan sesosok manusia, yang membuat Lea berpikir otakny
Lea membuka mata, merasakan lonjakan saat tubuhnya terpelanting, dan sekali lagi dia merasa sedang bermimpi. Saat matanya terbuka dia masih saja melihat sesuatu yang tidak mungkin. Tapi kali ini Lea bereaksi lebih cepat, dan menyadari kalau semua itu bukan mimpi. Tangannya segera mencakar, berusaha untuk melepaskan cengkraman yang mengunci tubuhnya.“Woaa! Sweaty, jika itu aku, aku tak akan mencoba kenekatan itu. Aku bisa menangkapmu saat jatuh, tapi seperti yang kau lihat, aku sibuk!”Seruan peringatan membuat Lea menoleh dan mendapati, seorang pria tampan… sangat tampan, sedang meluncurkan serangan pada makhluk yang membawanya. Lea merasa perlu meralat pendapat tampan itu, walau hanya dalam kepalanya. Ketampanan pria yang sedang berjungkir balik di udara itu melebihi pria manapun, bahkan juga Ra. Dan ini menakutkan, karena ketampanan itu hampir membuatnya tidak terlihat seperti manusia.Kulitnya seperti berpendar dalam kegelapan, tidak berbeda dari matanya yang berpijar warna emas







