Home / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Jebakan yang Mulai Terbuka

Share

Jebakan yang Mulai Terbuka

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-10-22 14:53:06

Di sebuah kediaman tersembunyi di wilayah barat, Qiu Hui berdiri di depan peta yang terbentang di atas meja.

Beberapa tanda merah telah ditancapkan pada lokasi perguruan-perguruan besar. Di antaranya terdapat perguruan yang terkenal dengan ilmu pedang, kelompok pengguna golok, dan beberapa sekte yang selama bertahun-tahun menjaga wilayah masing-masing.

Qiu Lan berdiri di sampingnya.

“Empat orang dari utara itu sudah mulai menarik perhatian,” katanya. “Kabar tentang kekuatan mereka menyebar lebi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Tangisan di Gunung Li

    Perguruan Shuanghe akhirnya selesai dibangun.Aula latihan berdiri sederhana di tengah halaman hijau yang luas. Rumah kecil di lereng bukit menjadi tempat Wu Keming, Borise, dan Zhushu beristirahat ketika mereka tidak sibuk. Meski belum memiliki murid resmi, tempat itu sudah cukup ramai oleh penduduk yang datang untuk belajar memperkuat tubuh.Namun, setelah semua pekerjaan selesai, Wu Keming justru kehilangan kesibukan.Ia berbaring di atas bangku panjang, menatap langit sambil menggoyangkan kendi araknya.“Tidak ada yang perlu diperbaiki, tidak ada yang perlu dibangun. Beginikah kehidupan orang yang sudah menyelesaikan pekerjaannya?”Borise sedang mempelajari peta di atas meja.“Kau bisa mengajari penduduk lebih banyak jurus.”“Sudah.”“Kau bisa menulis buku ilmu bela diri keduamu.”“Sedang kupikirkan.”“Kalau begitu, pikirkan sambil menulis.”Wu Keming duduk dan menatapnya dengan wajah kecewa.“Borise, kau semakin mirip Zhushu. Bedanya, dia akan memaksaku minum obat, sedangkan kau

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Jebakan yang Mulai Terbuka

    Di sebuah kediaman tersembunyi di wilayah barat, Qiu Hui berdiri di depan peta yang terbentang di atas meja.Beberapa tanda merah telah ditancapkan pada lokasi perguruan-perguruan besar. Di antaranya terdapat perguruan yang terkenal dengan ilmu pedang, kelompok pengguna golok, dan beberapa sekte yang selama bertahun-tahun menjaga wilayah masing-masing.Qiu Lan berdiri di sampingnya.“Empat orang dari utara itu sudah mulai menarik perhatian,” katanya. “Kabar tentang kekuatan mereka menyebar lebih cepat daripada yang kita perkirakan.”Qiu Hui tersenyum tipis.“Bagus. Orang yang memiliki kekuatan besar biasanya ingin membuktikan bahwa dirinya lebih kuat daripada orang lain. Kita hanya perlu memberi mereka tempat untuk melakukannya.”“Apakah mereka akan mengikuti petunjuk kita?”“Mereka tidak perlu mengetahui siapa yang mengarahkan perjalanan mereka. Cukup pastikan mereka mendengar kabar tentang perguruan-perguruan kuat di barat.”Qiu Hui menggeser salah satu penanda di peta.“Ketika mere

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Jejak Empat Pendekar dari Utara

    Jalan menuju wilayah barat dipenuhi perbukitan tandus dan hutan lebat. Di jalur itu, empat orang dari padang rumput utara berjalan tanpa tergesa-gesa.Altani berada paling depan, sesekali mengayunkan pedangnya untuk menyingkirkan ranting yang menghalangi jalan. Batu berjalan di belakangnya sambil membawa beberapa buntalan barang. Saran mengamati keadaan sekitar, sementara Temur sesekali menghilang dari rombongan hanya untuk muncul kembali di atas batu atau dahan pohon.“Perjalanan ini membosankan,” keluh Altani. “Katanya negeri tengah memiliki banyak pendekar hebat. Mengapa kita hanya menemukan orang-orang lemah?”Saran meliriknya. “Mungkin karena kita baru sampai di jalan utama.”“Kalau begitu, kita cari tempat yang lebih menarik.”Mereka tidak perlu menunggu lama.Di sebuah jalan sempit, sekelompok bandit menghadang kereta pedagang. Beberapa orang menghunus golok, sementara pemimpin mereka memerintahkan para pedagang menyerahkan barang berharga.Altani menghentikan langkah.“Lihat?

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Matahari yang Terbit di Barat

    Sejak Zhushu meninggalkan Shuanghe, suasana di tempat itu terasa berbeda.Wu Keming duduk di beranda rumah kecil di lereng bukit. Di tangannya ada kendi arak, sedangkan matanya menatap halaman latihan yang masih sepi.Ia menghela napas panjang.“Benar-benar membosankan.”Borise yang sedang memperbaiki sebuah bangku menoleh. “Kalau bosan, berlatihlah.”“Berlatih sendirian? Apa gunanya? Tidak ada yang memasak makanan enak, tidak ada yang mengomel saat aku minum terlalu banyak, dan tidak ada yang bisa kuajak berdebat.”“Kau bisa berdebat denganku.”Wu Keming melirik tubuh besar Borise, lalu menggeleng.“Tidak menarik. Kalau aku menang, kau akan tertawa. Kalau aku kalah, kau juga akan tertawa. Hasilnya sama saja.”Borise tidak membalas. Sejak pagi, ia sudah beberapa kali memandang jalan menuju Desa Miao.Wu Keming akhirnya menyadari kegelisahannya.“Kau mengkhawatirkan Zhushu?”“Dia pergi sendirian.”“Dia tabib hebat, ahli racun, dan berasal dari Desa Miao. Justru kita yang seharusnya kha

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Empat Orang yang Meminta Kemenangan

    Perguruan Pedang Qingyuan pagi itu berjalan seperti biasa. Para murid berlatih pedang di halaman, sementara beberapa tetua mengawasi dari sisi lapangan.Tidak seorang pun menyangka bahwa hari itu akan menjadi awal dari persoalan besar di Jianghu.Empat orang asing muncul di depan gerbang perguruan tanpa mengirim surat ataupun meminta izin berkunjung.Orang pertama adalah seorang gadis muda berpakaian khas padang rumput utara. Di pinggangnya tergantung pedang panjang dengan satu sisi tajam. Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya menunjukkan kepercayaan diri yang hampir menyerupai kesombongan.Di belakangnya berdiri tiga orang.Seorang lelaki bertubuh besar dengan kedua tangan kosong. Seorang lelaki bertubuh sedang dengan otot padat dan sebilah golok melengkung. Sementara yang terakhir bertubuh kecil, membawa belati yang terselip di pinggangnya.Penjaga gerbang segera menghadang mereka.“Siapa kalian? Apa keperluan kalian datang ke Perguruan Qingyuan?”Gadis itu mengangkat dagu.“Kami da

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Surat dari Desa Miao

    Pagi itu, Zhushu menerima sepucuk surat yang dibawa seorang utusan dari Desa Miao.Ia membaca isinya dua kali. Senyum santainya perlahan menghilang, digantikan ekspresi serius.Borise yang sedang memperbaiki pagar menoleh.“Ada masalah?”“Desa memintaku pulang.”Zhushu menyerahkan surat itu kepadanya. Isinya singkat. Beberapa orang dari Jianghu Barat datang ke wilayah Miao. Mereka tidak menunjukkan niat bermusuhan, tetapi bersikeras ingin bertemu dengan Tetua Aneh.Nama itu membuat Borise mengangkat alis.“Siapa mereka?”“Tidak dijelaskan. Para tetua desa hanya mengatakan bahwa mereka berperilaku aneh dan tidak mau pergi sebelum bertemu denganku.”Wu Keming, yang sedang duduk di bawah pohon sambil memakan buah, ikut menyela.“Kalau mereka tidak berbahaya, mengapa kau harus buru-buru pulang?”Zhushu melipat suratnya.“Karena aku mengenal desaku sendiri. Orang-orang Miao tidak akan mengirim surat seperti ini kalau persoalannya benar-benar sepele.”Ia mulai mengemasi peralatan pengobatan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status