Home / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Matahari yang Terbit di Barat

Share

Matahari yang Terbit di Barat

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-10-21 15:18:39

Sejak Zhushu meninggalkan Shuanghe, suasana di tempat itu terasa berbeda.

Wu Keming duduk di beranda rumah kecil di lereng bukit. Di tangannya ada kendi arak, sedangkan matanya menatap halaman latihan yang masih sepi.

Ia menghela napas panjang.

“Benar-benar membosankan.”

Borise yang sedang memperbaiki sebuah bangku menoleh. “Kalau bosan, berlatihlah.”

“Berlatih sendirian? Apa gunanya? Tidak ada yang memasak makanan enak, tidak ada yang mengomel saat aku minum terlalu banyak, dan tidak ada yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Matahari yang Terbit di Barat

    Sejak Zhushu meninggalkan Shuanghe, suasana di tempat itu terasa berbeda.Wu Keming duduk di beranda rumah kecil di lereng bukit. Di tangannya ada kendi arak, sedangkan matanya menatap halaman latihan yang masih sepi.Ia menghela napas panjang.“Benar-benar membosankan.”Borise yang sedang memperbaiki sebuah bangku menoleh. “Kalau bosan, berlatihlah.”“Berlatih sendirian? Apa gunanya? Tidak ada yang memasak makanan enak, tidak ada yang mengomel saat aku minum terlalu banyak, dan tidak ada yang bisa kuajak berdebat.”“Kau bisa berdebat denganku.”Wu Keming melirik tubuh besar Borise, lalu menggeleng.“Tidak menarik. Kalau aku menang, kau akan tertawa. Kalau aku kalah, kau juga akan tertawa. Hasilnya sama saja.”Borise tidak membalas. Sejak pagi, ia sudah beberapa kali memandang jalan menuju Desa Miao.Wu Keming akhirnya menyadari kegelisahannya.“Kau mengkhawatirkan Zhushu?”“Dia pergi sendirian.”“Dia tabib hebat, ahli racun, dan berasal dari Desa Miao. Justru kita yang seharusnya kha

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Empat Orang yang Meminta Kemenangan

    Perguruan Pedang Qingyuan pagi itu berjalan seperti biasa. Para murid berlatih pedang di halaman, sementara beberapa tetua mengawasi dari sisi lapangan.Tidak seorang pun menyangka bahwa hari itu akan menjadi awal dari persoalan besar di Jianghu.Empat orang asing muncul di depan gerbang perguruan tanpa mengirim surat ataupun meminta izin berkunjung.Orang pertama adalah seorang gadis muda berpakaian khas padang rumput utara. Di pinggangnya tergantung pedang panjang dengan satu sisi tajam. Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya menunjukkan kepercayaan diri yang hampir menyerupai kesombongan.Di belakangnya berdiri tiga orang.Seorang lelaki bertubuh besar dengan kedua tangan kosong. Seorang lelaki bertubuh sedang dengan otot padat dan sebilah golok melengkung. Sementara yang terakhir bertubuh kecil, membawa belati yang terselip di pinggangnya.Penjaga gerbang segera menghadang mereka.“Siapa kalian? Apa keperluan kalian datang ke Perguruan Qingyuan?”Gadis itu mengangkat dagu.“Kami da

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Surat dari Desa Miao

    Pagi itu, Zhushu menerima sepucuk surat yang dibawa seorang utusan dari Desa Miao.Ia membaca isinya dua kali. Senyum santainya perlahan menghilang, digantikan ekspresi serius.Borise yang sedang memperbaiki pagar menoleh.“Ada masalah?”“Desa memintaku pulang.”Zhushu menyerahkan surat itu kepadanya. Isinya singkat. Beberapa orang dari Jianghu Barat datang ke wilayah Miao. Mereka tidak menunjukkan niat bermusuhan, tetapi bersikeras ingin bertemu dengan Tetua Aneh.Nama itu membuat Borise mengangkat alis.“Siapa mereka?”“Tidak dijelaskan. Para tetua desa hanya mengatakan bahwa mereka berperilaku aneh dan tidak mau pergi sebelum bertemu denganku.”Wu Keming, yang sedang duduk di bawah pohon sambil memakan buah, ikut menyela.“Kalau mereka tidak berbahaya, mengapa kau harus buru-buru pulang?”Zhushu melipat suratnya.“Karena aku mengenal desaku sendiri. Orang-orang Miao tidak akan mengirim surat seperti ini kalau persoalannya benar-benar sepele.”Ia mulai mengemasi peralatan pengobatan

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Warisan yang Belum Menemukan Pewaris

    Pagi hari di Shuanghe selalu dimulai dengan suara tawa dan keluhan.Di halaman luas yang masih dikelilingi pepohonan alami, sejumlah penduduk berlari mengitari lapangan. Sebagian membawa karung pasir, sebagian lainnya mengangkat kayu, sementara beberapa orang berusaha mengikuti langkah Wu Keming yang bergerak ringan di antara bebatuan.“Guru Wu! Mengapa latihan pertama kita bukan berlatih pedang?” tanya seorang pemuda sambil terengah-engah.Wu Keming berjalan mundur dengan santai.“Karena kalau tubuhmu baru berlari tiga putaran saja sudah hampir pingsan, bagaimana kau akan mengayunkan pedang?”“Tapi saya ingin belajar jurus hebat!”“Bagus. Kalau begitu, tambah lima putaran.”Pemuda itu langsung menyesal telah bertanya.Wu Keming tertawa, lalu memperagakan langkahnya. Ia menapak di atas batu-batu kecil, melompat melewati akar pohon, kemudian mendarat tanpa menimbulkan suara berarti.“Perhatikan baik-baik. Kekuatan bukan hanya tentang seberapa keras kau memukul. Kalau tubuhmu kuat, napa

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Perguruan Paling Aneh di Shuanghe

    Suara palu terdengar sejak pagi di tepi Sungai Kembar.Di atas tanah yang sebelumnya hanya berupa halaman kosong, beberapa tiang kayu mulai berdiri. Sebuah bangunan sederhana sedang didirikan, lengkap dengan ruang latihan, tempat beristirahat, dan halaman yang cukup luas untuk berlatih silat.Di tengah kesibukan itu, Wu Keming berdiri sambil memegang gulungan gambar bangunan.“Borise, tiang yang sebelah kiri sepertinya terlalu pendek.”Borise, yang sedang mengangkat sebatang kayu besar di atas bahunya, meliriknya.“Kalau begitu, kenapa kau tidak mengukurnya sebelum dipasang?”Wu Keming mengerutkan kening.“Bukankah tugas seorang ahli bangunan adalah memastikan semuanya sesuai?”“Aku bukan ahli bangunan.”“Tapi tubuhmu cocok untuk pekerjaan ini.”Borise menurunkan kayu itu dengan suara keras.Wu Keming segera mundur dua langkah, pura-pura memeriksa tanah.“Bagus. Sekarang panjangnya sudah sesuai.”Borise menatapnya tanpa ekspresi.Di dekat mereka, beberapa penduduk yang pernah ditolong

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Putri dari Padang Rumput Utara

    Angin dingin bertiup melintasi padang rumput di utara.Di bawah langit luas, empat penunggang kuda bergerak menuju perbatasan kerajaan tengah. Pakaian mereka terbuat dari kulit dan kain tebal, cocok untuk menghadapi musim dingin serta perjalanan panjang. Penampilan mereka berbeda dari para pendekar yang biasa terlihat di kota-kota kerajaan.Pemimpin rombongan itu adalah seorang perempuan muda bernama Altani.Ia merupakan putri kerajaan utara, dibesarkan di antara padang rumput, kuda, dan perburuan. Sebuah pedang lurus panjang dengan satu sisi tajam tergantung di pinggangnya. Meski berasal dari keluarga kerajaan, ia tidak pernah puas hanya duduk di dalam tenda besar sambil mendengarkan laporan para panglima.Ia ingin melihat dunia sendiri.“Akhirnya kita akan memasuki kerajaan tengah!” serunya sambil menarik tali kekang. “Aku sudah bosan mendengar cerita para pedagang. Katanya, kota-kota mereka memiliki bangunan tinggi, pasar yang ramai, makanan yang berlimpah, dan perguruan silat di h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status