MasukDi sebuah kediaman tersembunyi di wilayah barat, Qiu Hui berdiri di depan peta yang terbentang di atas meja.Beberapa tanda merah telah ditancapkan pada lokasi perguruan-perguruan besar. Di antaranya terdapat perguruan yang terkenal dengan ilmu pedang, kelompok pengguna golok, dan beberapa sekte yang selama bertahun-tahun menjaga wilayah masing-masing.Qiu Lan berdiri di sampingnya.“Empat orang dari utara itu sudah mulai menarik perhatian,” katanya. “Kabar tentang kekuatan mereka menyebar lebih cepat daripada yang kita perkirakan.”Qiu Hui tersenyum tipis.“Bagus. Orang yang memiliki kekuatan besar biasanya ingin membuktikan bahwa dirinya lebih kuat daripada orang lain. Kita hanya perlu memberi mereka tempat untuk melakukannya.”“Apakah mereka akan mengikuti petunjuk kita?”“Mereka tidak perlu mengetahui siapa yang mengarahkan perjalanan mereka. Cukup pastikan mereka mendengar kabar tentang perguruan-perguruan kuat di barat.”Qiu Hui menggeser salah satu penanda di peta.“Ketika mere
Jalan menuju wilayah barat dipenuhi perbukitan tandus dan hutan lebat. Di jalur itu, empat orang dari padang rumput utara berjalan tanpa tergesa-gesa.Altani berada paling depan, sesekali mengayunkan pedangnya untuk menyingkirkan ranting yang menghalangi jalan. Batu berjalan di belakangnya sambil membawa beberapa buntalan barang. Saran mengamati keadaan sekitar, sementara Temur sesekali menghilang dari rombongan hanya untuk muncul kembali di atas batu atau dahan pohon.“Perjalanan ini membosankan,” keluh Altani. “Katanya negeri tengah memiliki banyak pendekar hebat. Mengapa kita hanya menemukan orang-orang lemah?”Saran meliriknya. “Mungkin karena kita baru sampai di jalan utama.”“Kalau begitu, kita cari tempat yang lebih menarik.”Mereka tidak perlu menunggu lama.Di sebuah jalan sempit, sekelompok bandit menghadang kereta pedagang. Beberapa orang menghunus golok, sementara pemimpin mereka memerintahkan para pedagang menyerahkan barang berharga.Altani menghentikan langkah.“Lihat?
Sejak Zhushu meninggalkan Shuanghe, suasana di tempat itu terasa berbeda.Wu Keming duduk di beranda rumah kecil di lereng bukit. Di tangannya ada kendi arak, sedangkan matanya menatap halaman latihan yang masih sepi.Ia menghela napas panjang.“Benar-benar membosankan.”Borise yang sedang memperbaiki sebuah bangku menoleh. “Kalau bosan, berlatihlah.”“Berlatih sendirian? Apa gunanya? Tidak ada yang memasak makanan enak, tidak ada yang mengomel saat aku minum terlalu banyak, dan tidak ada yang bisa kuajak berdebat.”“Kau bisa berdebat denganku.”Wu Keming melirik tubuh besar Borise, lalu menggeleng.“Tidak menarik. Kalau aku menang, kau akan tertawa. Kalau aku kalah, kau juga akan tertawa. Hasilnya sama saja.”Borise tidak membalas. Sejak pagi, ia sudah beberapa kali memandang jalan menuju Desa Miao.Wu Keming akhirnya menyadari kegelisahannya.“Kau mengkhawatirkan Zhushu?”“Dia pergi sendirian.”“Dia tabib hebat, ahli racun, dan berasal dari Desa Miao. Justru kita yang seharusnya kha
Perguruan Pedang Qingyuan pagi itu berjalan seperti biasa. Para murid berlatih pedang di halaman, sementara beberapa tetua mengawasi dari sisi lapangan.Tidak seorang pun menyangka bahwa hari itu akan menjadi awal dari persoalan besar di Jianghu.Empat orang asing muncul di depan gerbang perguruan tanpa mengirim surat ataupun meminta izin berkunjung.Orang pertama adalah seorang gadis muda berpakaian khas padang rumput utara. Di pinggangnya tergantung pedang panjang dengan satu sisi tajam. Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya menunjukkan kepercayaan diri yang hampir menyerupai kesombongan.Di belakangnya berdiri tiga orang.Seorang lelaki bertubuh besar dengan kedua tangan kosong. Seorang lelaki bertubuh sedang dengan otot padat dan sebilah golok melengkung. Sementara yang terakhir bertubuh kecil, membawa belati yang terselip di pinggangnya.Penjaga gerbang segera menghadang mereka.“Siapa kalian? Apa keperluan kalian datang ke Perguruan Qingyuan?”Gadis itu mengangkat dagu.“Kami da
Pagi itu, Zhushu menerima sepucuk surat yang dibawa seorang utusan dari Desa Miao.Ia membaca isinya dua kali. Senyum santainya perlahan menghilang, digantikan ekspresi serius.Borise yang sedang memperbaiki pagar menoleh.“Ada masalah?”“Desa memintaku pulang.”Zhushu menyerahkan surat itu kepadanya. Isinya singkat. Beberapa orang dari Jianghu Barat datang ke wilayah Miao. Mereka tidak menunjukkan niat bermusuhan, tetapi bersikeras ingin bertemu dengan Tetua Aneh.Nama itu membuat Borise mengangkat alis.“Siapa mereka?”“Tidak dijelaskan. Para tetua desa hanya mengatakan bahwa mereka berperilaku aneh dan tidak mau pergi sebelum bertemu denganku.”Wu Keming, yang sedang duduk di bawah pohon sambil memakan buah, ikut menyela.“Kalau mereka tidak berbahaya, mengapa kau harus buru-buru pulang?”Zhushu melipat suratnya.“Karena aku mengenal desaku sendiri. Orang-orang Miao tidak akan mengirim surat seperti ini kalau persoalannya benar-benar sepele.”Ia mulai mengemasi peralatan pengobatan
Pagi hari di Shuanghe selalu dimulai dengan suara tawa dan keluhan.Di halaman luas yang masih dikelilingi pepohonan alami, sejumlah penduduk berlari mengitari lapangan. Sebagian membawa karung pasir, sebagian lainnya mengangkat kayu, sementara beberapa orang berusaha mengikuti langkah Wu Keming yang bergerak ringan di antara bebatuan.“Guru Wu! Mengapa latihan pertama kita bukan berlatih pedang?” tanya seorang pemuda sambil terengah-engah.Wu Keming berjalan mundur dengan santai.“Karena kalau tubuhmu baru berlari tiga putaran saja sudah hampir pingsan, bagaimana kau akan mengayunkan pedang?”“Tapi saya ingin belajar jurus hebat!”“Bagus. Kalau begitu, tambah lima putaran.”Pemuda itu langsung menyesal telah bertanya.Wu Keming tertawa, lalu memperagakan langkahnya. Ia menapak di atas batu-batu kecil, melompat melewati akar pohon, kemudian mendarat tanpa menimbulkan suara berarti.“Perhatikan baik-baik. Kekuatan bukan hanya tentang seberapa keras kau memukul. Kalau tubuhmu kuat, napa







