Share

Paviliun Tanpa Pemimpin

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-10-10 13:11:45

Kereta kuda melaju meninggalkan jalan utama, diiringi beberapa pengawal berpakaian gelap. Di dalamnya, Qiu Hui duduk tenang sambil membaca laporan yang baru saja diterimanya.

Paviliun Awan Patah.

Organisasi itu dahulu memiliki jaringan informasi yang tersebar luas, mulai dari penginapan, rumah makan, pedagang, hingga para pengembara yang melintasi berbagai wilayah. Tidak banyak peristiwa di jianghu yang luput dari pengamatan mereka.

Namun, setelah Huang Liang menghilang, keadaan organisasi itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Harimau Ganas atau Kucing Manis?

    Aula pertemuan Gunung Li semakin gaduh.Hao Huma mengayunkan lengannya, membuat dua pendekar terpental hingga menabrak meja di belakang mereka. Seorang lainnya mencoba menyerang dari samping, tetapi sebuah tendangan menghantam perutnya dan membuatnya terlempar mundur.Dalam waktu singkat, belasan pendekar telah mengepung satu orang.Namun, tak seorang pun mampu mendekat dengan mudah.Hao Huma bertubuh besar, tetapi gerakannya sama sekali tidak lamban. Pukulan dan tendangannya datang silih berganti. Setiap orang yang mencoba menerobos pertahanannya selalu berakhir terlempar atau terpaksa mundur sambil menahan sakit.“Dasar bandit! Berani sekali kau membuat keributan di sini!”“Kalau ingin menangkapku, maju saja!” raung Hao Huma.Ia memutar tubuh, menyapu kaki dua orang sekaligus, lalu mendorong seorang pendekar hingga terhuyung menabrak kawannya.Di sisi lain aula, Wu Keming justru terlihat sangat menikmati pemandangan tersebut.Ia jongkok di atas meja, memegang kendi arak sambil meneg

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Darah di Balik Pembelaan

    “Kalau kalian ingin mengetahui mengapa bandit semakin banyak, sebaiknya kalian melihat keadaan wilayah barat terlebih dahulu!”Suara berat seorang pendekar menggema di tengah pertemuan.Seorang ketua dari wilayah barat berdiri dengan wajah muram.“Bukan hanya para ketua dari wilayah tengah dan timur yang menghilang dalam ekspedisi itu. Beberapa pemimpin kami juga tidak pernah kembali. Banyak perguruan kehilangan pemimpin, sebagian terpaksa ditutup, dan wilayah yang dahulu memiliki penjaga kini tidak lagi memiliki orang yang mampu mengatur keadaan.”Ia mengepalkan tangan.“Ketika perguruan kehilangan pemimpinnya, siapa yang menjaga desa? Siapa yang melindungi jalur perdagangan? Kekacauan menyebar, dan para bandit memanfaatkan kesempatan itu. Lalu kalian datang ke sini dan menyalahkan kami karena bandit semakin banyak?”Beberapa pendekar barat mengangguk keras.“Benar! Kami juga kehilangan saudara seperguruan!”“Banyak keluarga tidak tahu nasib anggota mereka yang pergi dalam ekspedisi!

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Luka Lama yang Kembali Terbuka

    Pertemuan Jianghu yang semula berlangsung tenang perlahan berubah ketika beberapa ketua perguruan dari wilayah tengah mulai mengangkat persoalan baru.“Wilayah barat semakin tidak terkendali,” ujar seorang ketua berjubah cokelat. “Bandit merampok rombongan pedagang, jalur perdagangan terganggu, dan beberapa desa kehilangan persediaan makanan. Jika keadaan ini dibiarkan, bukan hanya wilayah barat yang akan menderita.”Seorang ketua lain segera menyambung, menyebutkan sejumlah perampokan yang terjadi di jalur pegunungan.Beberapa orang mengangguk setuju.Namun, ketika seorang pemimpin perguruan hendak membicarakan serangan terhadap desa-desa suku Miao, suaranya segera dipotong.“Persoalan bandit lebih mendesak. Kita harus membahas ancaman yang berdampak pada seluruh Jianghu terlebih dahulu.”“Namun, ada bukti bahwa beberapa perguruan terlibat dalam penyerangan desa Miao—”“Kita belum memiliki bukti yang cukup!”Perdebatan itu berakhir sebelum persoalan tersebut sempat dibahas lebih jauh

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Serangga Pembawa Rahasia

    Pertemuan Jianghu di Gunung Li kembali berlangsung.Setelah keributan sebelumnya, para pendekar mulai menempati tempat masing-masing. Meski suasana masih menyimpan ketegangan, kali ini tidak banyak orang yang berani melontarkan tuduhan sembarangan.Qiu Lan juga kembali muncul di antara para pemimpin perguruan. Berbeda dengan sebelumnya, wajahnya tampak lebih percaya diri. Ia bahkan mampu tersenyum ketika menyapa beberapa tetua, seolah kegagalan rencana sebelumnya tidak pernah terjadi.Namun, di sisi lain ruangan, Wu Keming dan rombongannya memiliki kesibukan sendiri.Li Huatang sedang menggendong Xianhua, sementara Zhushu berusaha menenangkannya dengan menggoyangkan mainan kecil. Borise berdiri di samping mereka, sesekali membuat wajah aneh untuk menghibur bayi itu.Sayangnya, Xianhua tetap rewel.“Kenapa dia menangis lagi?” Wu Keming menggaruk kepalanya. “Tadi sudah minum, sudah digendong, sudah diajak bermain. Apa dia ingin ikut menghadiri pertemuan?”“Kalau kau terus bicara seperti

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Tangisan di Balik Rencana

    Sebuah kamar kecil di sudut bangunan Perguruan Pedang Li terasa sunyi.Qiu Lan berdiri sendirian dengan wajah muram. Sejak keributan di arena mereda, kegelisahan terus menggerogoti pikirannya. Rencana untuk memecah belah para pendekar gagal mencapai hasil yang diharapkan. Alih-alih saling mencurigai tanpa arah, sebagian orang justru mulai mempertanyakan siapa yang sebenarnya berada di balik semua tuduhan.Jika mereka menyelidiki lebih jauh, bukan tidak mungkin jejaknya akan mengarah kepadanya.Qiu Lan merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah belati merah.Senjata itu berkilat di bawah cahaya lampu.Ia mengepalkan tangan, lalu membanting belati tersebut ke lantai.“Brengsek!”Suara benturan logam menggema di kamar kecil itu.Qiu Lan menahan teriakan kesal. Ia tidak hanya memikirkan kegagalan rencana hari ini, tetapi juga nasibnya sendiri. Kakak tirinya, Qiu Hui, telah memberinya begitu banyak tugas berbahaya. Jika ia gagal lagi, apakah Qiu Hui masih akan melindunginya?Pikiran lai

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Mereka yang Dihormati

    Hong Liangyau tiba-tiba mengangkat tangannya.“Cukup. Aku tidak ingin melanjutkan.”Huang Liang menghentikan langkahnya. Ia masih memegang pedang, tetapi tidak segera menurunkannya.“Kenapa? Bukankah kita belum menentukan siapa yang menang?”Hong Liangyau memasukkan belati merahnya kembali ke tempat penyimpanan, lalu menguap kecil.“Menentukan siapa yang lebih kuat? Membosankan.”Ucapan itu membuat beberapa pendekar dari wilayah tengah dan timur mengerutkan kening. Sikap Hong Liangyau terdengar seolah-olah pertarungan tadi sama sekali tidak layak diperhitungkan.Seorang tetua mendengus. “Jangan berpura-pura hebat. Kau hanya takut kalah!”Hong Liangyau meliriknya sekilas.“Kalau kau ingin mencoba, silakan maju. Aku masih punya waktu untuk bermain.”Tetua itu langsung terdiam.Hong Liangyau tersenyum tipis, lalu menoleh kepada Huang Liang.“Gerakanmu cukup bagus. Namun, aku tidak datang ke Gunung Li untuk menghabiskan waktu beradu jurus dengan setiap orang yang meragukan sektemu.”Huang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status