Masuk
"Aduh … dadaku ngilu banget," rintih Zea pelan. Ia sedang duduk sendirian di tepi ranjang sambil menekan alat pompa ASI ke dadanya.
Setiap kali melakukan rutinitas itu, rasa malu dan bingung yang menjalar di tubuhnya. Ini tidak masuk akal, bahkan sungguh di luar logika dan nalar manusia! Padahal gadis itu belum pernah menikah. Seumur hidupnya pun belum pernah merasakan hamil. Tidak ada janin yang ia kandung, tidak ada pula bayi yang ia susui. Ini semua dimulai dua minggu lalu ketika dadanya tiba-tiba terasa berat dan penuh, sampai akhirnya ia dan ibunya panik dan langsung dibawa ke dokter. Hasilnya, dokter hanya menyebutnya sebagai gangguan hormon yang langka, tapi tidak berbahaya. Jadi tak perlu dikhawatirkan. Tidak perlu khawatir? Mudah sekali Dokter itu mengatakannya! Zea masih dua puluh dua tahun! Belum setahun ia lulus kuliah di jurusan Psikologi, belum ada pemikiran untuk menikah, atau melahirkan anak dan menyusui. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dua kali sebelum langsung terbuka. "Zea, Mama bawain bra baru." Donna masuk sambil memegang tas belanjaan, lalu berhenti sejenak melihat anaknya. "Oh, lagi pumping. Ya sudah, Mama taruh di sini dulu." Ia meletakkan tas itu di atas kasur. Dari dalamnya terlihat beberapa kotak bra baru dengan ukuran yang jelas lebih besar dari ukuran dada Zea sebelumnya. "Mama beli berapa bra?" tanya Zea. "Jangan tanya." Donna menjatuhkan diri di sisi kasur dengan ekspresi seorang ibu yang dompetnya baru saja mengalami musibah. "Enam, karena semua bra lamamu sudah nggak muat." Zea meringis. "Maaf, Ma." "Kamu ini. Baru lulus kuliah, belum kerja, eh malah bikin Mama keluar uang buat bra, alat pompa, botol, storage bag …." Ia menghitung dengan jari sambil mendengus. "Harusnya kamu sekalian punya bayi sekarang, Zea. Kasih Mama cucu!" Zea hanya mendengus kesal. Ia tahu ibunya hanya bercanda, tapi tidak dipungkiri, Zea merasa bersalah karena kondisi tubuhnya merepotkan orang lain. Beberapa menit kemudian setelah selesai pumping dan berganti baju, Zea pun keluar kamar untuk bergabung di meja makan untuk sarapan. “Zea, kamu masih nganggur kan?” Ucapan Zavian, kakak laki-laki Zea, membuat gadis itu mendongak dengan sedikit kaku. “Iya, Kak. Tapi aku lagi cari kerja, kok.” “Bagus. Kamu nggak ada kegiatan hari ini, kan? Ikut Kakak ke pusat pelatihan. Bantu Kakak di sana, Kakak butuh asisten.” Zea tercengang sejenak. Zavian adalah mantan atlet renang yang pernah meraih gelar juara nasional saat masih aktif. Sekarang, ia berprofesi sebagai pelatih renang yang menangani sebuah klub renang elit. Lalu tiba-tiba, ia merekrut adiknya menjadi asisten? Zea menoleh ke arah Donna yang muncul dari arah dapur. "Iya tuh. Kamu ikut Kakakmu saja. Daripada di rumah, pumping terus." Tentu saja mamanya setuju dengan kakaknya! Zavian mengangguk. "Kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Kamu siap-siap." Beberapa saat kemudian, perjalanan ke pusat pelatihan ditempuh kurang dari dua puluh menit. Pusat pelatihan renang itu ternyata lebih besar dari yang Zea bayangkan. Gedung indoor dengan langit-langit tinggi, kolam berukuran olimpik, dan bau klorin yang langsung menusuk begitu pintu dibuka. Tapi, yang tidak Zea bayangkan adalah betapa banyaknya laki-laki di dalam sana. Para atlet yang sedang berlatih, staf pendamping, pelatih-pelatih lain … semuanya laki-laki! Zea berjalan di belakang Zavian, berusaha sembunyi di balik punggung lebar kakaknya. Ia sedikit malu karena ia satu-satunya perempuan di sini. Mata Zea melirik ke ujung kolam. Seorang pria yang baru saja berenang, dan naik ke tepi kolam. Air menetes dari rambut basahnya, mengalir deras melewati dada bidang dan otot perut yang terpahat sempurna. Pria itu berhenti di depan Zavian. "Coach. Pagi," sapa pria itu. Suaranya terdengar dalam. Lalu tatapan tajamnya berpindah ke perempuan yang berdiri di sisi pelatihnya. "Pagi," jawab Zavian singkat. "Ini Zea, hari ini dia ikut dan jadi asisten saya." Zea menelah ludah saat iris mata gelap atlet itu menyorot ke arahnya. Zea kenal pria ini. Wajah pria itu terlihat lebih dewasa, lebih tajam, dan lebih tegas. Tubuhnya juga lebih tinggi dan menjulang dari yang Zea ingat. “Marco…?”Zavian terdiam sejenak, memaksakan senyum tipis di wajah kakunya demi menutup kebenaran yang tak boleh bocor ke pihak mana pun."Zea cuma sedang kurang enak badan, Vin," kilah Zavian tenang, memasang kebohongan formal setenang mungkin. "Dia lagi butuh istirahat penuh di rumah."“Oh, ya?” Vincent seketika memajukan langkahnya dengan raut cemas yang dipasang amat natural di balik kacamata berbingkai tipisnya. “Kalau begitu, jika memungkinkan ... boleh saya datang menjenguk Zea nanti sore? Sekalian saya bawakan buah-buahan dan vitamin untuk dia."Belum sempat Zavian merespons tawaran itu, getaran kencang dari saku celana training-nya mendadak memecah keheningan lounge. Zavian merogoh ponselnya, menatap nama sang ibu yang tertera di layar."Maaf sebentar, Vin. Ini telepon dari Mama saya," izin Zavian singkat."Silakan, Coach," sahut Vincent sopan.Zavian menggeser tombol hijau, berbalik selangkah membelakangi Vincent. Baru saja ia menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya, suara riang
"Apa?!" Zea terperangah kaku di tempatnya dengan mata membelalak lebar, sementara Donna berdiri terpaku tak percaya, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Moara, kamu serius?" tanya Donna pelan, masih tak menyangka. "Tentu saja aku serius, Don! Makanya ayo, kalian berdua siap-siap sekarang juga!" desak Moara bersemangat sambil mendorong pelan bahu Donna. Donna mendadak panik. "A-aduh, sebentar! Aku harus ganti pakaian dulu!" Donna baru saja hendak berlari ke kamarnya ketika matanya mendadak terpaku meneliti penampilan putri bungsunya dari atas ke bawah. Zea masih berdiri kaku memegang tas jinjingnya, hanya mengenakan kaus kebesaran, celana training, dan jaket klub renang biru tua. Donna memegang dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Zea! Kamu juga cepat ganti baju! Masa mau fitting gaun pengantin pake jaket klub dan celana training begitu?! Pakai baju yang jauh lebih pantas dan rapi!" Zea terkekeh canggung, menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kepalanya masih agak
Sinar matahari pagi membias hangat menembus celah gorden, membelai lembut wajah Zea yang masih terkulai lemas di atas ranjang. Zea perlahan mengerjapkan matanya yang terasa agak berat. Jemarinya meraba permukaan kasur yang empuk dan menemukan tubuhnya ditutupi begitu rapi dengan selimut hingga bawah dagu. "M-Marco ...?" bisik Zea parau, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun, kamar tidurnya sepi. Tidak ada sosok tegap Marco di sampingnya di ranjang. Tentu saja, semalam pria itu kembali pulang ke mansion-nya. Lalu, pandangan Zea mendadak beralih ke jam weker digital di atas meja nakas. Angka di layarnya menunjukkan pukul delapan pagi lewat lima belas menit. "Ya ampun! Aku kesiangan!" jerit Zea panik setengah mati. Ia harusnya sudah berangkat sejak jam setengah delapan pagi bersama Zavian ke pusat pelatihan untuk membantu persiapan tim menjelang pertandingan Final! Tanpa membuang waktu satu detik pun, Zea melompat dari ranjang. Rasa pening yang sempat menyengat kepalany
Deru mesin mobil sport Marco meluncur pelan memasuki pelataran mansion Yozefa. Begitu melangkah melewati pintu utama, suasana ruang tengah masih berpendar hangat oleh cahaya lampu kristal. Di sana, Michael berdiri tegap menunggunya dengan wajah cemas, sementara Moara tetap duduk anggun di atas sofa. Namun, begitu sosok Marco melangkah mendekat di bawah pendar lampu, kedua orang tuanya seketika terperanjat kaku. Lebam merah yang kontras di sepanjang garis rahang kaku milik Marco tak bisa disembunyikan. "Marco?! Kenapa mukamu?!" seru Moara terperanjat, matanya membelalak pelan. Michael ikut memajukan langkahnya dengan dahi berlipat-lipat. "Siapa yang berani membuat mukamu seperti itu?" Marco menatap kedua orang tuanya dengan raut datar tanpa beban. Ia mengusap pelan rahangnya yang terasa agak ngilu. "Hanya kejadian sepele. Nggak apa-apa." "Nggak apa-apa bagaimana?!" pangkas Moara ngotot. Binar matanya memancarkan rasa cemas sekaligus ketegasan seorang ibu yang tak bisa dibantah. "
Setelah pintu kamar tertutup pelan di belakang Donna dan Zavian, Marco tidak membuang waktu. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah pucat Zea yang masih berkeringat dingin. Napas wanita itu pendek-pendek dengan dada naik-turun tidak teratur. Noda basah di kaus kebesaran Zea semakin melebar. ASI yang mulai merembes perlahan membuat kain di bagian depan tubuhnya semakin lembap. Dengan gerakan cepat namun tetap hati-hati, Marco menyibak kaus itu ke atas, sekaligus bra yang sudah basah ditariknya turun dalam satu tarikan. Kedua payudara yang bengkak dan memerah langsung terbebas. Putingnya mengeras, dan cairan putih mulai menetes deras tanpa henti, seolah sudah terlalu lama menahan. Marco langsung menunduk. Bibirnya menempel di puting kanan Zea dan menghisap dalam-dalam dan kuat, tanpa ragu. Lidahnya berputar pelan, lalu menekan, memaksa aliran cairan itu keluar sebanyak mungkin. “Nghh … ahh … Sayang…” desah Zea parau. Tubuhnya sedikit tersentak, dan jari-jarinya refleks me
Keheningan yang amat pekat seketika memburu seluruh sudut ruang tengah mansion Yozefa. Michael Yozefa terpaku total di sofa tunggalnya. Mulut pria itu sedikit terbuka, sepasang matanya membelalak lebar diselimuti rasa syok yang teramat sangat. Pria kaku yang terkenal dingin di dunia bisnis itu bagaikan disambar petir di tengah malam yang sunyi. "P-Pernikahan resmi ...?" bisik Michael parau, suaranya bergetar hebat lantaran tak sanggup mencerna kenyataan yang melompat begitu jauh dari bayangannya. "Tepat setelah Final?!" Bahkan Moara Yozefa yang biasanya selalu tenang dan penuh kendali ikut terperanjat kaku di tempat duduknya. Cangkir teh di tangannya hampir saja goyah. Binar mata anggunnya membelalak pelan, tak mengira bahwa keputusan nekat putranya akan melampaui rencana pertunangan sederhana yang pernah didiskusikan mereka. "Marco ... mau langsung menikahkannya secara resmi?" gumam Moara halus, sebelum senyuman bangga dan haru perlahan merekah luas di wajah cantiknya. "D







