Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 01. Pertemuan Dengan Teman Masa Kecil.

Share

Partner Pemanasan Sang Atlet
Partner Pemanasan Sang Atlet
Author: Amaleo

01. Pertemuan Dengan Teman Masa Kecil.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-07-06 13:13:27

"Aduh … dadaku ngilu banget," rintih Zea pelan. Ia sedang duduk sendirian di tepi ranjang sambil menekan alat pompa ASI ke dadanya.

Setiap kali melakukan rutinitas itu, rasa malu dan bingung yang menjalar di tubuhnya. Ini tidak masuk akal, bahkan sungguh di luar logika dan nalar manusia!

Padahal gadis itu belum pernah menikah. Seumur hidupnya pun belum pernah merasakan hamil. Tidak ada janin yang ia kandung, tidak ada pula bayi yang ia susui.

Ini semua dimulai dua minggu lalu ketika dadanya tiba-tiba terasa berat dan penuh, sampai akhirnya ia dan ibunya panik dan langsung dibawa ke dokter.

Hasilnya, dokter hanya menyebutnya sebagai gangguan hormon yang langka, tapi tidak berbahaya. Jadi tak perlu dikhawatirkan.

Tidak perlu khawatir? Mudah sekali Dokter itu mengatakannya!

Zea masih dua puluh dua tahun! Belum setahun ia lulus kuliah di jurusan Psikologi, belum ada pemikiran untuk menikah, atau melahirkan anak dan menyusui.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dua kali sebelum langsung terbuka.

"Zea, Mama bawain bra baru." Donna masuk sambil memegang tas belanjaan, lalu berhenti sejenak melihat anaknya. "Oh, lagi pumping. Ya sudah, Mama taruh di sini dulu."

Ia meletakkan tas itu di atas kasur. Dari dalamnya terlihat beberapa kotak bra baru dengan ukuran yang jelas lebih besar dari ukuran dada Zea sebelumnya.

"Mama beli berapa bra?" tanya Zea.

"Jangan tanya." Donna menjatuhkan diri di sisi kasur dengan ekspresi seorang ibu yang dompetnya baru saja mengalami musibah. "Enam, karena semua bra lamamu sudah nggak muat."

Zea meringis. "Maaf, Ma."

"Kamu ini. Baru lulus kuliah, belum kerja, eh malah bikin Mama keluar uang buat bra, alat pompa, botol, storage bag …." Ia menghitung dengan jari sambil mendengus. "Harusnya kamu sekalian punya bayi sekarang, Zea. Kasih Mama cucu!"

Zea hanya mendengus kesal. Ia tahu ibunya hanya bercanda, tapi tidak dipungkiri, Zea merasa bersalah karena kondisi tubuhnya merepotkan orang lain.

Beberapa menit kemudian setelah selesai pumping dan berganti baju, Zea pun keluar kamar untuk bergabung di meja makan untuk sarapan.

“Zea, kamu masih nganggur kan?”

Ucapan Zavian, kakak laki-laki Zea, membuat gadis itu mendongak dengan sedikit kaku.

“Iya, Kak. Tapi aku lagi cari kerja, kok.”

“Bagus. Kamu nggak ada kegiatan hari ini, kan? Ikut Kakak ke pusat pelatihan. Bantu Kakak di sana, Kakak butuh asisten.”

Zea tercengang sejenak. Zavian adalah mantan atlet renang yang pernah meraih gelar juara nasional saat masih aktif. Sekarang, ia berprofesi sebagai pelatih renang yang menangani sebuah klub renang elit.

Lalu tiba-tiba, ia merekrut adiknya menjadi asisten?

Zea menoleh ke arah Donna yang muncul dari arah dapur. "Iya tuh. Kamu ikut Kakakmu saja. Daripada di rumah, pumping terus."

Tentu saja mamanya setuju dengan kakaknya!

Zavian mengangguk. "Kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Kamu siap-siap."

Beberapa saat kemudian, perjalanan ke pusat pelatihan ditempuh kurang dari dua puluh menit.

Pusat pelatihan renang itu ternyata lebih besar dari yang Zea bayangkan. Gedung indoor dengan langit-langit tinggi, kolam berukuran olimpik, dan bau klorin yang langsung menusuk begitu pintu dibuka.

Tapi, yang tidak Zea bayangkan adalah betapa banyaknya laki-laki di dalam sana.

Para atlet yang sedang berlatih, staf pendamping, pelatih-pelatih lain … semuanya laki-laki!

Zea berjalan di belakang Zavian, berusaha sembunyi di balik punggung lebar kakaknya. Ia sedikit malu karena ia satu-satunya perempuan di sini.

Mata Zea melirik ke ujung kolam. Seorang pria yang baru saja berenang, dan naik ke tepi kolam.

Air menetes dari rambut basahnya, mengalir deras melewati dada bidang dan otot perut yang terpahat sempurna.

Pria itu berhenti di depan Zavian.

"Coach. Pagi," sapa pria itu. Suaranya terdengar dalam. Lalu tatapan tajamnya berpindah ke perempuan yang berdiri di sisi pelatihnya.

"Pagi," jawab Zavian singkat. "Ini Zea, hari ini dia ikut dan jadi asisten saya."

Zea menelah ludah saat iris mata gelap atlet itu menyorot ke arahnya. Zea kenal pria ini.

Wajah pria itu terlihat lebih dewasa, lebih tajam, dan lebih tegas. Tubuhnya juga lebih tinggi dan menjulang dari yang Zea ingat.

“Marco…?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   137. Selena Murka.

    Zea mundur lagi, tapi punggungnya sudah mentok ke dinding. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri.“Selena, dengerin aku dulu,” ucapnya cepat, suaranya gemetar. “Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Beritanya nggak benar—”“Nggak benar?” Selena tertawa getir, tanpa sedikit pun humor di dalamnya. “Kamu mau bilang itu bukan kamu di foto itu? Bukan kamu yang keluar dari lift bareng Marco?”Zea tidak bisa menjawab. Setiap kata yang ingin diucapkan terasa tercekat di tenggorokan.Melihat keheningan itu, Selena mendengus sinis. Ia berjalan mendekat dan mencengkram kedua bahu Zea dengan kuat, menahannya di tempat.“Lepasin aku!” Zea meronta, tapi cengkeraman itu tidak melonggar sedikit pun.Selena menatapnya dari jarak dekat, jari-jarinya menekan keras di bahu Zea. “Kamu pikir bisa kabur begitu saja setelah semua yang kamu lakukan? Aku sudah dengar semuanya, Zea. Ada saksi yang lihat kalian berdua keluar dari lift. Bahkan dia bilang

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   136. Viral. (pt. 2)

    Di tepi kolam, Marco masih basah kuyup, menerima tepukan di bahu dari beberapa rekan tim yang mengucapkan selamat. Senyum kecil masih tersungging di wajahnya, meski pikirannya sudah mulai teralihkan sejak beberapa menit lalu. Ia melirik ke arah tribun keluarganya. Kursi Papanya kosong, membuat alisnya berkerut dalam. Sejak kapan? Ia baru saja hendak bertanya pada salah satu staf ketika matanya menangkap sosok Moara yang masih duduk di tempatnya, tapi raut wajah wanita itu sudah jauh berbeda dari kebanggaan yang tadi ia tunjukkan. Wajah cemas, khawatir, dan sesuatu yang menyerupai kekecewaan bercampur jadi satu, tergambar jelas di wajahnya. Moara menggenggam ponselnya erat-erat. Beberapa kali ia melirik ke arah Marco, seolah ingin memanggil, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Marco makin merasa ada yang salah. Ia mulai berjalan mendekat ke arah tribun VIP, mengabaikan tepukan-tepukan sel

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   135. Viral. (pt. 1)

    Zea terdiam. Matanya terpaku pada layar ponsel, membaca satu per satu judul yang bermunculan. Wajahnya perlahan kehilangan warna.Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Jarinya yang semula sibuk menggulir layar kini berhenti di tempat. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya seperti kosong.Untuk beberapa detik, Zea hanya bisa menatap layar dalam diam. Lidahnya kelu, bahkan untuk sekadar memanggil nama seseorang pun ia tidak sanggup.Ponsel Feby pun bergetar tanpa henti sejak beberapa menit lalu, tapi ia baru sempat mengeceknya sekarang, di sela-sela kesibukan membereskan tas.Ia menggeser layar, membuka salah satu notifikasi dari grup teman kuliahnya. Alisnya berkerut, lalu jarinya bergerak cepat men-scroll ke bawah.Kolom komentar di bawah unggahan berita itu sudah dipenuhi ratusan komentar dalam hitungan menit. Sebagian menuduh perselingkuhan, sebagian lain menyebut nama Selena dengan nada iba. Dan beberapa yang lain mulai berhasil mengi

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   134. Skandal di Tengah Euphoria.

    Marco menyentuh dinding kolam lebih dulu. Angka di papan skor langsung menyala. Catatan waktu yang muncul jauh lebih cepat dari performa ‘anjlok’ beberapa hari terakhir, bahkan rekor pribadi baru. Sorak-sorai penonton langsung pecah serentak. Di tepi kolam, Zavian hampir melompat sambil mengepalkan tangan di udara. Wajahnya penuh kelegaan yang jarang sekali terlihat. Sementara di tribun, Donna langsung berdiri. “Ya Tuhan! Marco menang, Zea!” jeritnya sambil bertepuk tangan histeris. Feby ikut melompat-lompat kecil dan merangkul Zea erat. “Marco tadi berenangnya kayak dikejar setan! Gila!” Zea tersenyum lebar. Untuk sesaat, semua rasa bersalah dan kelelahan semalam terasa terbayar. Usahanya tidak sia-sia. Di kejauhan, tepatnya di deretan VIP, Michael Yozefa berdiri tegak. Tepuk tangannya terdengar formal, tetapi ada kebanggaan yang jarang ia tunjukkan di wajahnya. Keha

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   133. Semifinal Dimulai.

    Venue kolam renang indoor itu sudah dipenuhi ratusan penonton sejak pagi. Suara riuh obrolan bercampur pengumuman dari pengeras suara memenuhi udara, sementara aroma klorin yang khas menyapu setiap sudut venue. Zea, Donna, dan Feby baru saja sampai di lokasi dan duduk berdampingan di tribun penonton, tepat di baris ketiga dari tepi kolam. "Ya ampun, rame banget!" seru Feby sambil celingukan, matanya berbinar menatap sekeliling. "Aku baru tahu kalau semifinal renang bisa seramai ini.” Donna mengangguk, matanya sibuk menyapu deretan atlet yang sedang pemanasan di tepi kolam. "Iya, apalagi ini semifinal penting. Ada sponsor besar yang nonton juga." "Itu Marco, kan?" Feby menunjuk kecil ke arah salah satu atlet berkaos klub biru tua yang sedang melakukan peregangan. "Ya ampun, keliatan makin gagah kalau lagi serius gini.” Zea hanya tersenyum tipis sambil tangannya diam-diam meremas ujung baju di pangkuannya. Jant

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   132. Setelah Malam Panas, Menuju Hari Pertandingan!

    Zea ragu sejenak, tapi tetap menurut. Ia menempatkan diri di atas Marco sambil memandu kejantanan yang masih setengah tegang itu masuk kembali. Rasa penuh di dalam tubuhnya membuat Zea menggigit bibir. Marco memegang pinggangnya. “Gerak perlahan dulu.” Zea mulai bergerak naik-turun. Awalnya kaku dan malu, tapi semakin lama semakin berani. Marco menopang payudaranya, menghisap bergantian sambil menyaksikan cairan putih di puting Zea menetes ke dadanya. “Ahhn … Marco …” desah Zea pelan, dengan suara tercekat. Setiap kali Zea turun lebih dalam, Marco mengerang rendah. “Zea… terus … gerakan ....” Zea menungganginya dengan gerakan yang perlahan semakin cepat, tangan menutup mulut sendiri setiap kali desahan hampir lolos. “Hah … ahh … ngghh .…” Marco menahan pinggangnya posesif, sesekali menariknya turun lebih dalam. Matanya gelap oleh nafsu sekaligus kekhawatiran. “Fuck … Zea … kamu masih saja begitu ketat ….” Meski ini sudah ronde kedua, tubuh Zea masih terasa sangat keta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status