ANMELDEN"Apa?!" Zea terperangah kaku di tempatnya dengan mata membelalak lebar, sementara Donna berdiri terpaku tak percaya, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Moara, kamu serius?" tanya Donna pelan, masih tak menyangka. "Tentu saja aku serius, Don! Makanya ayo, kalian berdua siap-siap sekarang juga!" desak Moara bersemangat sambil mendorong pelan bahu Donna. Donna mendadak panik. "A-aduh, sebentar! Aku harus ganti pakaian dulu!" Donna baru saja hendak berlari ke kamarnya ketika matanya mendadak terpaku meneliti penampilan putri bungsunya dari atas ke bawah. Zea masih berdiri kaku memegang tas jinjingnya, hanya mengenakan kaus kebesaran, celana training, dan jaket klub renang biru tua. Donna memegang dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Zea! Kamu juga cepat ganti baju! Masa mau fitting gaun pengantin pake jaket klub dan celana training begitu?! Pakai baju yang jauh lebih pantas dan rapi!" Zea terkekeh canggung, menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kepalanya masih agak
Sinar matahari pagi membias hangat menembus celah gorden, membelai lembut wajah Zea yang masih terkulai lemas di atas ranjang. Zea perlahan mengerjapkan matanya yang terasa agak berat. Jemarinya meraba permukaan kasur yang empuk dan menemukan tubuhnya ditutupi begitu rapi dengan selimut hingga bawah dagu. "M-Marco ...?" bisik Zea parau, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun, kamar tidurnya sepi. Tidak ada sosok tegap Marco di sampingnya di ranjang. Lalu, pandangan Zea mendadak beralih ke jam weker digital di atas meja nakas. Angka di layarnya menunjukkan pukul delapan pagi lewat lima belas menit. "Ya ampun! Aku kesiangan!" jerit Zea panik setengah mati. Ia harusnya sudah berangkat sejak jam setengah delapan pagi bersama Zavian ke pusat pelatihan untuk membantu persiapan tim menjelang pertandingan Final! Tanpa membuang waktu satu detik pun, Zea melompat dari ranjang. Rasa pening yang sempat menyengat kepalanya diabaikan begitu saja. Ia berlari cepat ke kamar mandi,
Deru mesin mobil sport Marco meluncur pelan memasuki pelataran mansion Yozefa. Begitu melangkah melewati pintu utama, suasana ruang tengah masih berpendar hangat oleh cahaya lampu kristal. Di sana, Michael berdiri tegap menunggunya dengan wajah cemas, sementara Moara tetap duduk anggun di atas sofa. Namun, begitu sosok Marco melangkah mendekat di bawah pendar lampu, kedua orang tuanya seketika terperanjat kaku. Lebam merah yang kontras di sepanjang garis rahang kaku milik Marco tak bisa disembunyikan. "Marco?! Kenapa mukamu?!" seru Moara terperanjat, matanya membelalak pelan. Michael ikut memajukan langkahnya dengan dahi berlipat-lipat. "Siapa yang berani membuat mukamu seperti itu?" Marco menatap kedua orang tuanya dengan raut datar tanpa beban. Ia mengusap pelan rahangnya yang terasa agak ngilu. "Hanya kejadian sepele. Nggak apa-apa." "Nggak apa-apa bagaimana?!" pangkas Moara ngotot. Binar matanya memancarkan rasa cemas sekaligus ketegasan seorang ibu yang tak bisa dibantah. "
Setelah pintu kamar tertutup pelan di belakang Donna dan Zavian, Marco tidak membuang waktu. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah pucat Zea yang masih berkeringat dingin. Napas wanita itu pendek-pendek dengan dada naik-turun tidak teratur. Noda basah di kaus kebesaran Zea semakin melebar. ASI yang mulai merembes perlahan membuat kain di bagian depan tubuhnya semakin lembap. Dengan gerakan cepat namun tetap hati-hati, Marco menyibak kaus itu ke atas, sekaligus bra yang sudah basah ditariknya turun dalam satu tarikan. Kedua payudara yang bengkak dan memerah langsung terbebas. Putingnya mengeras, dan cairan putih mulai menetes deras tanpa henti, seolah sudah terlalu lama menahan. Marco langsung menunduk. Bibirnya menempel di puting kanan Zea dan menghisap dalam-dalam dan kuat, tanpa ragu. Lidahnya berputar pelan, lalu menekan, memaksa aliran cairan itu keluar sebanyak mungkin. “Nghh … ahh … Sayang…” desah Zea parau. Tubuhnya sedikit tersentak, dan jari-jarinya refleks me
Keheningan yang amat pekat seketika memburu seluruh sudut ruang tengah mansion Yozefa. Michael Yozefa terpaku total di sofa tunggalnya. Mulut pria itu sedikit terbuka, sepasang matanya membelalak lebar diselimuti rasa syok yang teramat sangat. Pria kaku yang terkenal dingin di dunia bisnis itu bagaikan disambar petir di tengah malam yang sunyi. "P-Pernikahan resmi ...?" bisik Michael parau, suaranya bergetar hebat lantaran tak sanggup mencerna kenyataan yang melompat begitu jauh dari bayangannya. "Tepat setelah Final?!" Bahkan Moara Yozefa yang biasanya selalu tenang dan penuh kendali ikut terperanjat kaku di tempat duduknya. Cangkir teh di tangannya hampir saja goyah. Binar mata anggunnya membelalak pelan, tak mengira bahwa keputusan nekat putranya akan melampaui rencana pertunangan sederhana yang pernah didiskusikan mereka. "Marco ... mau langsung menikahkannya secara resmi?" gumam Moara halus, sebelum senyuman bangga dan haru perlahan merekah luas di wajah cantiknya. "D
Cahaya lampu gantung kristal membiaskan pendar keemasan di atas meja marmer ruang tengah mansion Yozefa yang megah. Keheningan malam yang sunyi hanya dihiasi gesekan halus jemari Moara yang membalik lembaran halaman buku di pangkuannya. Lalu tiba-tiba, langkah kaki yang mantap namun terdengar berat mendadak memecah kesunyian koridor utama. Moara tidak langsung mendongak, namun aroma parfum kayu cendana dan tembakau halus yang sangat ia kenal seketika menyapu udara. Michael Yozefa berjalan masuk. Pria paruh baya yang selalu tampak dominan itu melepas jas gelapnya, menyampirkannya di lengan sofa dengan raut wajah yang menyisakan kelelahan teramat sangat. "Oh, ternyata kamu masih ingat rumah, ya?" sindir Moara halus tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Suaranya mengalun tenang, namun sarat akan intonasi dingin. Michael hanya mendengus pelan, menolak memberikan komentar atas sindiran istrinya. Pandangan matanya menyapu sekeliling ruangan yang lengang. "Marco di mana?" tanya







