LOGINMarco tidak menjawab, hanya melirik Zea sekilas, sebelum pandangannya berpindah lagi ke pelatihnya.
“Coach, set selanjutnya target berapa detik?” Zea mengatupkan bibirnya dengan kikuk. Ia baru saja diabaikan oleh pria ini! Padahal, mereka sudah saling kenal sejak kecil. Tapi, kini suara Marco terdengar dingin sekaligus tegas. Ia berdiri tegak dengan bahu lebar dan rahang mengeras, memancarkan aura yang mengintimidasi. “Lupakan soal target. Saya lebih khawatir sama cara kamu renang barusan,” jawab Zavian menepuk bahu Marco. “Kamu terlalu tegang. Bahu kiri kamu kaku, masuk air juga kurang lepas. Dari dua putaran pertama saja sudah kelihatan.” “Kamu juara nasional dua kali, bukan pemula. Tidak usah buru-buru. Sekarang, ulangi pemanasan sampai badanmu rileks.” “Baik, Coach,” jawab Marco, sebelum berlalu ke tepian kolam untuk melakukan pemanasan. Begitu Marco menjauh, Zea langsung menepuk bahu kakaknya dan berbisik. “Kak, itu Marco … Marco Yozefa, kan? Kakak yang melatih dia?” “Iya. Baru-baru ini Kakak latih sejak dia transfer ke klub ini. Kenapa?” Zavian bertanya balik. Zea mengernyit heran. Apa kakaknya ini tidak sadar kalau Marco yang mereka kenal dari kecil sekarang seperti orang lain? Anak laki-laki pendiam lima belas tahun lalu kini telah menjelma menjadi atlet bertubuh tinggi dengan aura intimidasi yang pekat. “Kenapa kamu bengong? Kamu juga kerja, Zea. Siapkan protein shake untuk anak-anak. Tambahin pisang dan sedikit madu. Tiga puluh menit lagi istirahat.” Zea mengedip. “Eh? I-iya, Kak.” Perempuan itu pun berbalik dengan perasaan campur aduk. Ia lalu pergi ke ruangan lounge sambil menyeret tas carrier berisi botol-botol untuk menyiapkan minuman mereka. Meski tangannya sibuk menyiapkan protein shake, pikirannya masih tertinggal pada Marco. Anehnya, bentuk badan atletis pria itu terus terbayang di pikirannya. Di tengah kesibukannya, Zea tiba-tiba merasakan denyut di dadanya kembali datang. Payudaranya terasa berat, penuh, dan nyeri. Zea mau tak mau buru-buru meraih tas besar berisi perlengkapan pompa ASI. Untungnya, ia selalu membawanya setiap saat, karena rasa nyeri itu selalu datang di saat tidak tepat! Ruangan lounge itu sepi, dan Zea sudah tidak kuat menahan sakit di dadanya, ia pun duduk di sofa dan menyingkap bajunya, lalu langsung memasang alat pumping itu ke dadanya. “Ah …” desisnya pelan. Isapan mesin itu mulai bekerja, dan cairan putih mulai mengisi botol kecil di pompa itu. Lalu aroma vanila menguar di sekujur ruangan. Jantung Zea berdebar kencang. Kenapa harus di tempat ini? Kalau ada yang masuk ruangan ini dan melihatnya sedang memompa … Pikiran Zea tak tenang, ia buru-buru menyelesaikan pumping meski belum selesai sempurna. Pikirnya, yang penting dadanya terasa sedikit lebih lega. Lagipula, jam istirahat sebentar lagi. Zea melanjutkan pekerjaan membuat protein shake, lalu memasukkan botol-botol itu ke dalam carrier bag, sementara satu botol ASI-nya masih ia pegang. Saat keluar dari lounge, Zea berniat membuang isi botol ASI di toilet sebelum kembali, tapi para atlet sudah mulai naik ke tepi kolam untuk istirahat. “Zea, minumannya udah siap? Kamu bagikan ke anak-anak, ya,” ucap Zavian begitu melihat Zea di sana. Zea kewalahan saat para atlet mulai mengerubunginya dan meminta botol dari carrier bag. Zea letakkan botol ASI di tangan ke bangku, lalu terburu-buru membuka dan mengeluarkan botol satu per satu berjejeran agar para atlet mudah mengambilnya. “Wah, disiapin Zea, pasti rasanya makin enak,” goda Rafi, salah satu atlet didikan kakaknya, yang membuat para laki-laki di sekelilingnya meninju bahunya pelan. “Eh, jangan macem-macem, ini adeknya Coach!” Para atlet di sekeliling Zea sibuk berkelakar. Sementara itu, Marco baru saja keluar dari kolam. Rambut basah menempel di dahinya, air menetes di sepanjang dada dan perutnya yang terpahat. Pria itu tidak bergabung dengan kawan-kawannya, ia menyambar sembarang botol yang ada di ujung bangku, lalu langsung meneguk isinya. Cairan kental berwarna putih susu meluncur ke tenggorokannya. Ia mengernyit, menjilat sisa cairan yang menetes di bibir bawahnya dengan lidah. “Hm?” gumamnya pelan. “Ini bukan protein shake.”Donna menarik napas dalam-dalam. Ia menggenggam tangan Zavian erat, seolah mencari kekuatan sebelum mulai berbicara. “Zav … Mama akan ceritakan semuanya. Dari awal.” Zavian hanya menatapnya dengan mata yang masih sembab. Bahu masih sedikit turun, tapi ia tidak menyela. Donna mulai menjelaskan. Tentang hari pertama Zea bekerja di klub, botol ASI yang tertukar dengan protein shake, dan bagaimana Marco tanpa sengaja meminumnya. “Sejak saat itu,” lanjut Donna pelan, “Marco tahu. Dan karena pompa sering tidak cukup … dia yang membantu Zea dengan cara langsung.” Keheningan menyelimuti keduanya. Zavian terdiam sangat lama. Wajahnya pucat, dan tangannya gemetar di pangkuan. “Jadi …” suaranya hampir tidak keluar. “Selama ini … Marco yang .…” Zavia tak mampu melanjutkan perkataannya. Ia menoleh sejenak, dengan mata menyelidik.
Donna menatap Dimas cukup lama. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada banyak yang ingin ia katakan, tapi ia tidak rela membuat putrinya semakin malu di depan orang lain.“Zea … punya kelainan hormonal,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan. “Kelainan yang cukup langka. Tubuhnya memproduksi ASI, meski dia belum menikah atau hamil. Itu yang membuat kondisinya mudah memburuk kalau terlalu stres.”Dimas terdiam. Bukan karena merasa risih, melainkan karena sebaliknya. Wajahnya justru dipenuhi kekhawatiran yang tulus..Donna memperhatikan ekspresi itu, lalu tersenyum kecil, meski matanya masih basah. “Kamu terlihat khawatir sekali sama Zea.”Dimas mengangguk. “Aku nggak tahu banyak soal apa yang terjadi antara Zea dan Marco … tapi …,” ia menarik napas dalam, “setelah lihat dia tadi, aku merasa nggak tega. Karena tadi dia terlihat begitu tak berdaya saat pingsan di tangan Marco, di depan Selena … dan di depan aku.”Donna langsung menegang begi
Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya berhenti tepat di depan UGD. Dimas bergerak cepat, turun lebih dulu untuk membuka pintu dan membantu menggendong Zea masuk, tanpa banyak bicara. Suasana UGD yang terang dan steril terasa kontras tajam dengan kekacauan yang baru saja mereka tinggalkan di venue. Seorang perawat segera mendekat begitu melihat kondisi Zea, membawa brankar dan mendorongnya cepat menuju ruang periksa. "Dokter Nancy," Donna berseru, mengikuti di samping brankar. "Tolong, panggilkan Dokter Nancy. Dia yang biasa menangani anak saya." Sebelum pintu ruang periksa tertutup, mata Zea sempat menangkap sosok Dimas yang berdiri mematung di lorong. Matanya menatap Zea dengan sorot yang sulit dibaca. Antara khawatir, syok, dan sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti. Pintu tertutup, memisahkan Zea dari dunia luar untuk sementara. Dokter Nancy bersama perawatnya datang tidak lama kemudian. Begitu meliha
Zavian terdiam sesaat mendengar ancaman Selena. Napasnya masih memburu, tapi tatapannya perlahan berubah. Dari amarah membara, menjadi sorot mata yang lebih dingin dan menusuk.Ia tertawa pendek dan sinis, tanpa sedikit pun humor di dalamnya.“Jadi begitu, ya, Selena?" ucapnya, suaranya rendah. "Selama ini, setiap kali adik saya berhadapan sama kamu, selalu berakhir seperti ini.”Ia menatap wanita itu lekat, seolah baru benar-benar melihatnya untuk pertama kali.“Sekarang saya mulai ngerti,” lanjut Zavian dingin. “Kamu pintar sekali bermain kata-kata. Seolah semua kesalahan ini murni milik adik saya.”Ingatan tentang ucapan Selena yang sempat mengomentari fisik Zea yang ‘molek’ di depan banyak orang tiba-tiba melintas jelas di kepalanya. Dulu ia hanya merasa risih. Sekarang, ia paham betul apa yang sebenarnya sedang terjadi.Zavian mengalihkan tatapannya ke Marco yang masih berdiri babak belur, lalu kembali ke Selena."J
Selena menoleh dengan tubuhnya masih gemetar. “Ah … Marco, aku nggak apa-apain dia. D–dia yang tiba-tiba—”Marco tidak menjawab. Ia berjalan cepat mendekati Zea, mengabaikan Selena sepenuhnya. Tatapannya yang menggelap dan rahangnya yang mengeras menyampaikan lebih banyak daripada kata-kata apa pun.Selena menegang dan mundur lagi tanpa sadar, seolah aura di sekeliling Marco cukup untuk membuatnya gentar.Tubuh Zea tiba-tiba limbung. Marco menangkapnya tepat waktu, lalu buru-buru melepas jaketnya dan membalutkannya menutupi tubuh Zea yang basah di dada.Saat menyentuh pelan pipi gadis itu, matanya menangkap sesuatu. Pipi Zea bengkak. Jelas bekas tamparan.Marco langsung menoleh tajam ke Selena. “Jadi kamu yang tampar dia?”Selena terbata, dengan wajah memucat. “A–aku … dia yang duluan—”Marco tak menunggu respons Selena, dan kembali menatap gadis itu yang kini pingsan.“Zea.” Marco mengelus pelan pipi gadis itu,
Zea mundur lagi, tapi punggungnya sudah mentok ke dinding. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri.“Selena, dengerin aku dulu,” ucapnya cepat, suaranya gemetar. “Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Beritanya nggak benar—”“Nggak benar?” Selena tertawa getir, tanpa sedikit pun humor di dalamnya. “Kamu mau bilang itu bukan kamu di foto itu? Bukan kamu yang keluar dari lift bareng Marco?”Zea tidak bisa menjawab. Setiap kata yang ingin diucapkan terasa tercekat di tenggorokan.Melihat keheningan itu, Selena mendengus sinis. Ia berjalan mendekat dan mencengkram kedua bahu Zea dengan kuat, menahannya di tempat.“Lepasin aku!” Zea meronta, tapi cengkeraman itu tidak melonggar sedikit pun.Selena menatapnya dari jarak dekat, jari-jarinya menekan keras di bahu Zea. “Kamu pikir bisa kabur begitu saja setelah semua yang kamu lakukan? Aku sudah dengar semuanya, Zea. Ada saksi yang lihat kalian berdua keluar dari lift. Bahkan dia bilang







