Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 11. Aku Butuh Kamu Sekarang.

Share

11. Aku Butuh Kamu Sekarang.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-07-08 23:52:39
Setelah wanita itu pergi meninggalkan gedung pelatihan dengan mobil mewahnya, Marco berjalan masuk dan mulai bergabung dengan para atlet lainnya.

Kenji, Dimas, maupun Rafi mulai mengerumuni Marco dengan ekspresi penasaran dan senyum-senyum jahil yang sangat ketara.

“Bro, tumben dianter Selena? Lagi sayang-sayangnya, ya?” tanya Kenji sambil merangkul Marco. “Jadi, kalian udah official?”

Rafi tampak menyikut Kenji. “Kemarin main di loker sama adiknya Coach. Eh, sekarang kamu dianter sama Selena
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   176. Kemunculan Marco.

    Zea masuk perlahan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apartemen itu sudah tertata rapi. Perabotannya lengkap, dapurnya bersih, bahkan beberapa kebutuhan dasar sudah tersedia. Semuanya terlihat seperti memang sudah dipersiapkan untuk seseorang yang akan tinggal di sana. “Untuk sementara, kamu tinggal di sini dulu,” ujar Moara. “Anggap saja ini rumah kamu. Kamu bisa istirahat dan menenangkan diri tanpa perlu memikirkan hal lain.” Zea menelan ludah sebelum mengangguk kecil. “Makasih, Tante.” Moara kemudian menyerahkan kartu akses kepada Zea. “Kalau kamu butuh apa-apa, telepon Tante. Jangan sungkan.” Zea menerima kartu itu dengan kedua tangannya. “Iya, Tante.” Moara melanjutkan, “Kalau Tante sedang nggak bisa dihubungi, kamu bisa menghubungi Adrian. Dia asisten Marco. Nanti Tante kirim nomor hapenya.” Zea terdiam sesaat mendengar nama itu, tetapi segera mengangguk. “Iya. Nanti aku hubungi kalau ada apa-apa.” Moara tersenyum tipis. “Sekarang kamu istirahat dulu. Pasti capek

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   175. Apartemen untuk Zea.

    Setelah telepon dengan Moara berakhir, Zea masih duduk terdiam di ruang meja makan, dan ponsel tergeletak di mejanya. Tawaran wanita itu terus berputar di kepala Zea—pindah ke apartemen, tinggal di sana untuk sementara, menerima bantuan dari keluarga Marco. Semuanya terdengar mudah saat dibicarakan lewat telepon. Namun begitu panggilan berakhir, keraguan itu kembali muncul. “Telepon dari ibunya Marco?” tanya Henny, yang masih duduk di kursi roda. Zea mengangguk pelan. Henny diam sebentar. “Dia ngomong apa sama kamu sampai kamu kelihatan ragu begitu?” Zea terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Dia nawarin aku tempat tinggal, Tan. Apartemen milik keluarganya.” Zea menunduk. “Katanya aku bisa tinggal di sana untuk sementara.” Henny mengangkat alis. “Terus?” “Aku masih ragu.” Zea memainkan ujung jarinya. “Rasanya ... aneh aja nerima bantuan sebesar itu dari ibunya Marco. Takutnya nanti aku malah kelihatan kayak manfaatin, atau bantuan itu malah jadi beban buat aku sendiri.” Henn

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   174. Panggilan yang Tak Diangkat.🥲

    Napas Zea tertahan. Jemarinya mengencang di tepi kertas yang sudah menguning. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa sesak. Gadis itu melanjutkan membaca. Marco kecil menulis tentang rumahnya yang sepi, tentang Mamanya yang sering sibuk dengan urusannya sendiri dan Papanya yang hampir selalu bekerja. Dan tentang bagaimana suasana rumah Zea justru terasa jauh lebih hangat. [Aku lebih suka di rumahmu. Entah kenapa, rasanya lebih nyaman kalau ada kamu.] Zea menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia melanjutkan membaca. Marco menulis tentang kolam renang, tentang Zavian yang galak tetapi sebenarnya baik, juga tentang tatapan mengancam Zavian setiap kali Marco duduk terlalu dekat dengannya. [Padahal, aku cuma suka ada di dekat kamu.] Air mata Zea mulai jatuh, menetes pelan ke atas kertas yang sudah menguning itu. Ia terus membaca. Marco menulis tentang dirinya sendiri yang bingung, yang tidak tahu kenapa selalu ingin dekat dengan Zea, yan

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   173. Panggilan yang Tak Terjawab.🥲

    Saat Zea mengangkat tutup kotak itu perlahan, bau kayu tua dan kertas lama langsung menguar begitu tutupnya terbuka sepenuhnya. Di dalamnya, benda-benda kecil tersusun rapi, seolah sengaja disimpan dengan hati-hati selama bertahun-tahun. Bunga kertas yang warnanya sudah memudar. Beberapa origami berbentuk hati dan burung, lipatannya masih rapi meski kertasnya sudah menguning. Lalu miniatur kecil dari stik es krim yang disusun jadi bentuk rumah sederhana. Bungkus permen lama yang sudah pudar, sebagian ada permen rasa susu yang sudah kadaluarsa Zea mengambil bunga kertas itu lebih dulu dan mengamatinya dengan rasa penasaran yang belum sepenuhnya ia pahami sendiri. Lalu ia membalikkannya. Di bagian belakang, ada tulisan kecil dengan tinta yang hampir pudar: [Zea.] Ia terdiam sebentar, lalu meletakkan bunga itu dan mengambil sebuah origami. Saat membaliknya, ia menemukan tulisan tangan anak-anak yang masih berantakan di bagian belakangnya: [Untuk Zea] Ia mengambil satu per satu bend

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   172. Zea Membuka Kenangan Marco.

    Moara tidak mampu membantah satu kata pun. Ia menundukkan pandangan, menyadari bahwa permintaan maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menebus semua yang sudah terjadi. “Aku ... ingin membantu Zea melewati semua ini,” ucapnya pelan, lalu menoleh pada Zea. “Kalau kamu butuh bantuan, Tante bisa carikan psikolog untuk—” “Aku nggak butuh itu, Tante,” potong Zea cepat. Moara langsung terdiam. Zea menarik napas dalam. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk bicara. “Aku tahu aku lagi nggak baik-baik saja,” katanya lirih. “Dan masalahku adalah … aku kehilangan rumah, aku kehilangan rasa aman ...” Suaranya bergetar. “Dan yang paling sakit … aku kehilangan kepercayaan Kakakku sendiri sampai akhirnya dia yang mengusir aku.” Ia menatap Moara dengan mata yang masih basah. “Itu yang harus aku hadapi setiap hari, Tante.” Suara Zea bergetar, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Moara. “Dan semua itu terjadi karena ulah anak Tante.” Kalimat Zea menghantam telak. Mo

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   171. Permintaan Maaf Moara.

    Sejenak suasana hening. Feby kemudian menoleh pada Zea dan Donna, seolah memberi mereka kesempatan untuk berbicara tanpa dirinya ikut campur. “Zea, Tante,” panggilnya pelan. “Aku tunggu di mobil, ya. Biar kalian bisa ngobrol dulu.” Zea menatap sahabatnya, lalu mengangguk kecil. “Oke, Feb.” Feby sempat melirik Moara sebelum akhirnya beranjak meninggalkan mereka. Ia berjalan menuju mobil, membiarkan Zea dan Donna tetap berada di taman bersama Moara. Zea kembali menatap kotak kayu di tangannya, dan jemarinya berhenti tepat di atas tutupnya. Ia tidak segera membukanya. "Kamu nggak harus buka sekarang," ucap Moara pelan, seolah bisa membaca keraguan di wajah Zea. "Kalau belum siap, simpan saja dulu. Tante nggak maksa kamu buka isinya, apalagi maksa kamu buat maafin Marco." Zea mengangkat wajah, menatap Moara dengan tatapan yang masih dingin. "Kenapa Tante malah bilang begitu?" "Karena itu barang pribadi Marco," jawab Moara. "Keputusan mau buka atau nggak, tetap ada di tangan kamu."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status