تسجيل الدخولDimas menatap balik Marco tanpa gentar. "Cuma ngobrol biasa," jawabnya singkat, sebelum menoleh sekali lagi pada Zea. "Aku duluan, ya. Latihan udah mau mulai." Ia berjalan keluar lounge, melewati Marco tanpa banyak bicara lagi. Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya sempat terhenti sejenak di ambang pintu. "Zea," panggilnya, tanpa menoleh. "Inget omongan aku tadi, ya." Lalu ia pun pergi, meninggalkan Zea berdua dengan Marco di dalam lounge yang tiba-tiba terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Marco menatap kepergian Dimas dengan sorot mata yang sulit dibaca, sebelum akhirnya berpindah pada Zea. "Dia bilang apa ke kamu?" tanyanya, nada suaranya lebih rendah dari biasanya Zea menggigit bibir bawahnya sejenak, menimbang jawaban yang paling aman. Ia tidak ingin membuat masalah baru, apalagi sampai merusak pertemanan Marco dengan Dimas di klub. Di tengah semua kekacauan yang sudah cukup rumit untuk ia tanggung sendirian. "Nggak ada apa-apa, kok," jawab Zea akhirnya, berusaha terde
Zea menatap Dimas dengan alis berkerut heran."Kenapa tiba-tiba bilang gitu?" tanyanya, berusaha terdengar sewajar mungkin meski jantungnya mulai berdebar tidak menentu. Ia kembali menuang bubuk protein ke dalam shaker, sekadar mencari kesibukan untuk menutupi kegugupannya.Dimas terdiam sesaat, seolah mempertimbangkan bagaimana harus melanjutkan."Semalam," katanya akhirnya, "aku nggak sengaja lihat kamu. Di taman bermain."Tangan Zea membeku di atas shaker. Ia mendongak cepat, wajahnya seketika pucat."Aku lagi jemput adikku pulang les," lanjut Dimas, matanya tak lepas dari wajah Zea. "Nggak sengaja lihat kalian berdua duduk di bangku taman."Zea menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya langsung melompat ke kebohongan yang semalam ia ucapkan pada Zavian: Cuma ketemu teman kuliah di kafe.Kalau Dimas bicara, kebohongannya selama ini ia berusaha tutupi pasti akan terbongkar. Dan yang paling ia takutkan, Marco pasti akan kembali dihabisi oleh
Zea tersentak mendengar pertanyaan Kakaknya. Bayangan kejadian di kamar mandi pagi tadi bersama Marco kembali muncul di benaknya, membuat kedua pipi gadis itu bersemu merah seketika. Tapi ia buru-buru menata ekspresinya, berusaha terlihat sewajar mungkin.“Eh? Serius?" Zea tersenyum kikuk. "Mama juga sempet bilang gitu. Kayaknya obat dari dokter Nancy ngaruh, deh. Badan aku memang udah jauh lebih enakan.”Zavian masih memicingkan mata, memperhatikan wajah adiknya lebih lama dari biasanya. "Kamu abis dari mana? Katanya cuma ketemu temen di kafe.""Iya, Kak. Beneran cuma di kafe deket sini, kok," jawab Zea cepat, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Ngobrol sama temen kuliah dulu. Udah lama nggak ketemu, jadi ngobrolnya agak lama.""Kafe mana? Sama siapa aja?" tanya Zavian mendesak, nada suaranya masih menyisakan curiga.Zea menelan ludah. "Cuma ... temen satu angkatan, Kak. Nggak penting juga diceritain namanya."Zavian tidak langsung menjawab. Ia men
Mobil sport Marco melaju pelan menyusuri jalanan yang mulai lengang setelah Marco memutuskan untuk mengantar Zea pulang dari taman bermain. Zea duduk diam di kursi penumpang, sesekali melirik jam di ponselnya dengan gelisah.Begitu mobil mendekati persimpangan tak jauh dari rumahnya, Zea tiba-tiba duduk tegak."Marco, berhenti sini aja," pintanya cepat, nadanya agak panik.Marco mengernyit heran, tapi tetap memperlambat laju mobilnya. "Kenapa? Rumahmu kan masih beberapa ratus meter lagi.""Nggak apa-apa, berhenti aja di sini," desak Zea, kali ini dengan nada yang lebih memaksa. "Aku nggak mau Kak Zavian ribut lagi kalau nanti tahu aku pergi sama kamu malam ini.”Marco akhirnya menghela napas dan menepikan mobilnya ke trotoar terdekat, tak jauh dari lampu jalan yang temaram.Zea masih terdiam sejenak, wajahnya sedikit muram sejak percakapan mereka di taman bermain tadi, saat Marco tidak membantah alasan pria itu bertunangan dengan Selena. Marco memperhati
Marco terdiam sesaat. Ekspresinya sulit ditebak, antara terkejut dan penasaran, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat tipis."Naksir?" ulangnya pelan, seolah ingin memastikan telinganya tidak salah dengar.Zea langsung menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan, gulali merah muda di tangannya nyaris terjatuh saking gugupnya. "Iya," akunya, masih menghindari tatapan Marco. "Waktu SMP. Cinta monyet, sih, sebenarnya."Ia menggigit gulalinya sedikit, mencoba mencari keberanian untuk melanjutkan. "Waktu kita kecil sampai SMP … kamu selalu diem-diem ngekor aku tiap main di tepi kolam renang. Aku kira kamu cuma pengen es krim vanila gratis.”Zea mendengus geli mengingatnya. “Baru belakangan aku sadar ... ternyata dulu aku selalu nungguin kamu datang ke rumah tiap sore. Aku bahkan sering ngintip dari jendela kamar, berharap kamu muncul terus ngajak aku main.”Zea terkekeh sendiri mengingatnya. "Norak banget, ya?”Marco menatapnya lama, sorot matanya m
Zea keluar dari kamar dan langsung menuruni anak tangga dari lantai atas sambil menenteng tas kecil miliknya. Mata gadis itu menangkap Donna yang tengah santai sambil menonton televisi di ruang tengah. "Ma, aku keluar sebentar, ya," pamit Zea, berusaha terdengar sewajar mungkin. Donna menoleh, alisnya sedikit terangkat dengan raut wajah masih khawatir. "Kamu yakin mau keluar jam segini?" "Iya, Ma. Cuma sebentar, kok," jawab Zea cepat, menghindari tatapan ibunya terlalu lama. Donna memperhatikan sejenak, lalu menghela napas pelan. "Ya udah, tapi jangan pulang kemalaman, sebelum Kakakmu nanti nyariin kamu." "Iya, Ma. Aku janji nggak lama," sahut Zea sambil mengangguk, dadanya sedikit berdebar karena harus berbohong lagi. Setelah mencium tangan ibunya sebentar, Zea bergegas keluar rumah. Begitu melewati pagar, matanya langsung menangkap mobil sport merah yang sudah terparkir di seberang jalan, lampunya menyala remang di bawah







