ログインBrajawuni mengerutkan dahi sejenak, lalu mendengkus kasar hingga darah memercik dari bibirnya."Rudha?" Brajawuni menatap lelah Sudamani. "Kau menanyakan nama itu padaku? Sudamani, ada berapa ribu prajurit dan perwira di Jawadwipa ini dengan nama itu? Rudha yang mana?! Apakah maksudmu Rudhapala si pandai besi dari timur? Rudhantara senopati tua yang diasingkan itu? Atau sekadar kawan seperguruanmu yang bernama Rudhaksa?" Brajawuni terbatuk-batuk, namun matanya memancarkan ejekan yang tajam. "Itu nama pasaran, Bangkai! Telik sandiku tidak mengurusi nama prajurit kroco!"Brajawuni menatap sepasang mata kelam Sudamani yang juga tampak bingung. Sang Senopati Wangsa Merah tiba-tiba menyadari sesuatu yang sangat ironis, dan tawanya kembali menggema."Kau bahkan tidak tahu Rudha yang kau cari itu yang mana, kan?" Brajawuni menyeringai lebar, menatap sang senopati mayat dengan binar meremehkan. "Dulu kau dikenal sebagai senopati dengan siasat paling tajam di Hastangkara. Akalmu lebih berbah
"Sepakat.” Sudamani sedikit melonggarkan tekanan ujung pedangnya, memberi ruang pada jakun musuhnya untuk bergerak. "Sekarang katakan.”Brajawuni tersenyum getir, menahan nyeri di rusuknya yang melesak."Janji seorang senopati yang raganya sudah membusuk tak ada harganya, Sudamani," Brajawuni mendengkus. Ia melirik sisa pecahan guci tanah liat tak jauh dari kepalanya yang masih menampung genangan minyak Teluh Geni. "Siram aku dengan lengo pati itu sekarang. Basahi tubuhku, baru aku akan bersuara. Aku tak sudi mati lalu membuka mata sebagai anjingmu."Sudamani menatapnya jengkel tapi tidak membantah. Dia memutar langkah, menendang guci tanah liat yang retak itu dengan ujung terompahnya.Guci itu melayang dan menghantam telak dada Brajawuni. Prak!Tanah liat itu hancur berkeping-keping. Minyak lengo pati kental berwarna pekat tumpah seketika, memercik ke leher, wajah, dan mengguyur dada sang Senapati. Cairan berbau tajam belerang itu mengalir deras, meresap menembus celah zirah peru
Brajawuni menyeringai. Darah kental menetes dari sela bibirnya saat ia memaksakan sebuah tawa mengejek, lalu meludah tepat ke pergelangan kaki Sudamani."Setidaknya aku bertarung sebagai laki-laki yang hidup, Bangkai. Aku belum mati sepertimu. Dan yang paling menghinakan, bahkan kematian menolakmu." Brajawuni terkekeh sengau, dadanya berderit ngilu di bawah tekanan kaki musuhnya. Alih-alih terpancing amarah, raut wajah Sudamani tetap tenang. Dia justru mencondongkan tubuhnya ke bawah, menindih dada musuhnya semakin kuat."Katakan padaku, Brajawuni. Siapa yang membunuhku? Siapa yang menggantung leher empat ribu pasukanku di dahan randu dan beringin Lembah Rawa malam itu?"Brajawuni mengerutkan dahi. Ringisan perih di wajahnya seketika tergantikan oleh tatapan bingung."Kau ... tidak ingat bagaimana caramu mati?" Tawa sengau Brajawuni kembali menggema.Sudamani menekan ujung Bilah Jagal sedikit lebih dalam ke urat leher lawannya. "Jika aku ingat, pedang ini sudah memutus napasmu seja
Dengan raungan panjang, Brajawuni melompat dari ketinggian dua tombak. Berat zirah perunggu dan gaya tolaknya menyatu dalam satu tebasan api vertikal yang mematikan.Sadar raga matinya akan hancur menjadi abu jika tersentuh api belerang, Sudamani tidak menangkis serangan itu secara langsung. Ia bergeser ke samping dengan kecepatan yang mustahil dicapai oleh manusia hidup bernapas.BRAAAK!Bilah pedang api Brajawuni menghantam pelataran cadas hingga retak. Pecahan batu dan percikan minyak menyala terlempar ke udara. Menerangi pelataran batu itu dengan beberapa titik nyala api kecil.Belum sempat Sudamani menyeimbangkan posisi, Brajawuni memutar tubuhnya dengan buas. Pedangnya menyapu mendatar setinggi leher. Sudamani menunduk cepat, hawa panas menyengat berbau gosong.Trang!Sudamani mengangkat Bilah Jagal, menahan tebasan susulan Brajawuni. Bunga api meledak di udara.Benturan keras dari pusaka itu menyentak lengo pati yang menempel lengket pada pedang Brajawuni. Titik-titik gumpa
Mereka tidak tahu bahwa di luar sana, dalam kegelapan yang tak tersentuh cahaya api, sepasukan algojo telah menunggu dengan sabar.Kraaak!Kuda terdepan yang dipacu kencang mendadak menghantam dadung rami—tambang tebal yang sengaja dibentangkan oleh para mayat setinggi dada kuda.Kuda-kuda terjungkal, melemparkan penunggangnya hingga menghantam bebatuan cadas. Barisan pelarian itu jatuh bergulingan, bertumpuk menjadi erangan kesakitan di tengah jalan setapak.Sebelum mereka sanggup merangkak bangun sembari memegangi tulang rusuk yang memar, bayangan-bayangan hitam muncul dari balik semak belukar.Tangan-tangan dingin mencengkeram rahang dan ubun-ubun para prajurit yang terjatuh itu dari arah belakang.Krak. Krak. Krak.Bunyi tulang leher yang dipatahkan terdengar beruntun, rapi, dan mematikan di sepanjang jalur pelarian itu. Sudamani berdiri tenang, menghitung tumpukan mayat musuh yang terus bertambah di kiri-kanannya. Tangan kirinya membelai surai kuda bangkainya, lalu ia mulai me
Menepi ke lereng jurang. Mengendap di jalur turun. Tunggu mereka membukakan jalan.Titah batin itu ditujukan ke Bala Suwung yang berdiri menanti di batas bayang-bayang asap.Barisan itu membelah diri. Mereka menyebar layaknya kabut hitam, merayap menuruni lereng-lereng tebing di sekitar jalan setapak, bersembunyi sempurna di balik semak belukar dan pepohonan jati yang tak tersentuh api.Sudamani menurunkan Bilah Jagal dari bibirnya. Matanya menatap lekat ke arah gerbang kayu jati raksasa Benteng Watu Ireng.Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar dengan jelas teriakan histeris yang bersahut-sahutan dari dalam pelataran benteng. Kepanikan tak terkendali.Dalam seni perang yang ia pelajari semasa hidupnya, Sudamani sangat memahami satu hukum mutlak: sepasukan prajurit yang terpojok di ruang sempit akan bertarung layaknya harimau luka—mati-matian dan membabi buta.Jika ia memerintahkan pasukannya mendobrak masuk sekarang, akan terjadi baku hantam yang kacau di pelataran dalam benteng.







