LOGIN"Siapkan jemparing Teluh Geni!" perintah Brajawuni lantang, suaranya membelah kesenyapan malam. "Bakar seluruh semak belukar dan tegalan di luar parit!"Di sepanjang dinding batu, puluhan prajurit pemanah Wangsa Merah bergegas bergerak. Mereka mencelupkan mata panah yang dibalut serat kelapa ke dalam bejana tembaga berisi lenga pati—minyak belerang hitam yang menyengat hidung.Ujung-ujung anak panah yang disulut ke obor seketika berkobar dengan lidah api kemerahan yang mendesis liar."Lepaskan!" seru Brajawuni seraya mengayunkan tangannya.Puluhan anak panah berapi melesung ke langit malam, membentuk busur cahaya melengkung sebelum menghunjam deras ke hamparan semak belukar dan pepohonan kerdil di seberang parit benteng.Wusss!Minyak Teluh Geni bereaksi ganas begitu menyentuh ranting dan daun kering. Dalam sekejap, semak tegalan di sepanjang seratus langkah di depan gerbang menjadi dinding api yang berkobar setinggi dada.Hawa panas menyengat langsung menerjang dinding benteng, dise
Prajurit jaga yang memapah buru-buru membungkuk hormat. “Ampun, Gusti Senapati. Prajurit ini dari celah jurang. Akalnya seperti dirasuk lelembut.”Brajawuni maju selangkah, ujung terompah kulitnya mendongakkan dagu prajurit yang masih gemetaran di lantai batu. “Angkat kepalamu! Mana iring-iringan tiga gerobak Teluh Geni?!”Prajurit itu mendongak dengan kepala gemetaran. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang belepotan tanah, matanya nanar tak terfokus.“Tu-tumpas, Gusti … medi jurang! Habis prajurit jaga.” Alis tebal Brajawuni bertaut murka, urat pelipisnya menegang. “Bicara yang betul! Pasukan mana yang berani membantai prajuritku?! “Bukan prajurit! Demi dewa, bukan jalma manungsa!” Prajurit itu kalap mencengkeram kain celana cinde Brajawuni, bersumpah sambil meneteskan air mata ngeri. “Sepertinya ini kutukan yang sama, Gusti! Medi yang dulu membantai pasukan Senopati Sudamani di rawa … medi itu datang memburu kita!”Napas prajurit itu memburu tersengal-sengal, kata-k
Sudamani menempelkan Mustika Bisik ke bibirnya.Padamkan semua api.Serempak prajurit mayat bergerak.Sesuai titah Sudamani, sasaran mereka bukan musuh—melainkan api.Satu per satu obor dimatikan. Kegelapan menelan celah tebing sempit itu.Kepanikan menghancurkan barisan pengawal Wangsa Merah.Dalam pekatnya malam tanpa cahaya, prajurit mayat merayap layaknya siluman. Suara deru napas musuh menjadi penuntun telinga mereka. Tangan-tangan kaku mencengkeram tenggorokan dari balik gelap, memuntir kepala.Pembantaian itu berlangsung cepat dan nyaris bisu. Hanya terdengar dengus panik kuda, bunyi tulang patah, dan tubuh-tubuh yang roboh ke tanah.Tiga gerobak besi bermuatan Teluh Geni berhasil diamankan tanpa ada satu percikan pun yang menyulut bejana belerang.Namun, di ujung belakang barisan, seorang penunggang kuda pengintai paling belakang berhasil melihat kilasan sebelum obor terakhir padam: wajah-wajah kelabu tanpa darah yang mencekik kawannya tanpa berkedip."Setan penunggu jurang .
Perlahan, Sudamani menolehkan lehernya sembari mencabut mata tombak yang menancap di bahu kirinya. Cahaya obor menerangi separuh wajah sang senopati. Prajurit itu membelalak ngeri.“S-senopati Sudamani. Ti-tidak mungkin. Kau sudah mati.”Matanya menatap ngeri ke lubang di bahu Sudamani. Tidak ada semburan darah merah segar. Hanya cairan kehitaman kental yang merembes pelan dengan bau anyir.Sebelum prajurit itu sempat membuka mulut untuk berteriak, tombak sudah melesat tepat ke mulut, memaku prajurit itu ke batang pohon di belakangnya.Pintu bilik papan terbuka kasar. Suara di luar akhirnya memancing dua perwira yang tadi asyik menenggak arak.Perwira pertama yang brewokan dan sempoyongan keluar paling depan, parang pendek terhunus di tangannya. Bau tuak murahan menguar tajam dari mulutnya."Keparat mana yang berani—"Sudamani tidak memberinya kesempatan menyelesaikan umpatan. Gerakannya cepat.Bugh!Ujung siku Sudamani menghantam ulu hati pria brewok itu, disusul telapak tangannya y
Ujung panah api itu menyala, menerangi seringai prajurit pos intai di atas tebing. Bibirnya bergumam entah apa.Sudamani menyambar cepat gandewa kayu jati dari punggung kudanya, menarik tali busur yang terbuat dari pilinan kawat tembaga hingga melengkung maksimal, lalu melepasnya.Trrrssst!Anak panah berkepala besi menghujam lurus ke atas. Kecepatannya melampaui kedipan mata.Mata panah itu menembus tepat di tenggorokan sang pemanah musuh—mengoyak pita suara sebelum sempat berteriak, memaku lehernya ke tiang gardu intai. Tubuh prajurit itu tersentak kejang, sementara panah api yang dipegangnya terlepas, jatuh membentur lantai papan.Sebelum musuh yang lain menyadari apa yang terjadi, Sudamani mendekatkan hulu Bilah Jagal ke dagunya. Pandangannya mengunci barisan paling depan di kaki tebing, mempersempit niat batinnya agar tidak memicu kepatuhan seluruh pasukan sekaligus di celah sempit.Barisan depan. Panjat. Patahkan leher anjing-anjing itu.Lima puluh prajurit Bala Suwung di bari
"Bilah Jagal," Danurdara menjelaskan dengan nada bangga. "Ditempa dari lelehan zirah kawan-kawanmu yang membusuk di lembah, direkatkan dengan darah mereka. Bilah ini bukan sekadar senjata, Sudamani. Ini tali kekang untuk menuntun mereka."Sang Patih melangkah cepat menuruni undakan batu yang mengarah langsung ke pelataran luar benteng. Sudamani mengikuti di belakang, merasakan getaran mustika hitam di hulu pedang itu terus berdenyut seirama dengan potongan jari di tangannya.Pintu gerbang besi pelataran terbuka. Hawa malam yang menusuk menyambut mereka.Di tanah lapang di bawah dinding batu, empat ribu prajurit Bala Suwung berdiri mematung dalam barisan rapat. empat ribu pasang mata putih menatap hampa ke arah kegelapan.Danurdara berhenti di bibir undakan, menatap Sudamani dari samping."Dekatkan mustika di hulunya ke bibirmu. Jangan berteriak. Mayat tidak mendengar lewat telinga fana. Bisikkan kehendakmu di dalam hati, alirkan lewat batu itu."Sudamani mengangkat pedang hitamnya. H







