LOGINLangit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau.
Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai. Di dalam markas, tim bersiap untuk menghadap Raja Eldrin di istana, tapi suasana di ruang rapat mereka jauh dari serius. Draven Quill bersandar di dinding, bermain-main dengan angin suaranya untuk membuat kertas-kertas di meja berputar seperti tornado mini. “Jadi, kita baru saja mengusir bangsawan jahat dan selamat dari badai maut,” katanya, menyeringai. “Aku bilang kita pantas dapat libur. Siapa mau ke pasar malam? Mereka punya kristal karaoke baru!” Sylva Reed memutar mata, kacamata tipisnya memantulkan cahaya lampu rune. “Draven, kalau kau pikir raja akan memberi kita libur setelah laporan ini, kau lebih delusional dari biasanya.” Bayangannya di lantai bergerak-gerak, seolah gelisah dengan apa yang dia baca di hutan. Vesper Hale, duduk dengan akar-akar kecil melilit pergelangan tangannya, mengangguk. “Hutan Larang masih menderita. Aku bisa merasakan akar-akarnya… mereka takut. Kristal gelap itu bukan satu-satunya.” Kairos Thorne, yang sedang memeriksa peta holografik Elyria, menoleh. “Sylva bilang ada artefak lain di kota bawah tanah. Kita harus cari tahu apa itu sebelum Zoltar bergerak lagi.” Suaranya tegas, tapi ada kekhawatiran di matanya. “Raja perlu tahu ini bukan cuma soal badai.” Eiran Voss berdiri di sudut, Zephyrion berdengung pelan di pinggangnya. Dia tidak ikut berbicara, matanya tertuju pada peta, tapi pikirannya jelas di tempat lain. Istana selalu membuatnya tegang, terlalu banyak bangsawan, terlalu banyak kenangan tentang pengkhianatan yang merenggut ayahnya. Dia merasakan tatapan Liora Faye dari seberang ruangan, tapi dia tidak menoleh. Tidak sekarang. Liora, yang sedang menyusun bunga-bunga kecil jadi karangan dekoratif di meja, mencoba menangkap perhatian Eiran. “Eiran, kau tahu, kalau kau terus buat muka kecut begitu, raja mungkin pikir kau mau memenggalnya,” katanya, suaranya ceria tapi ada nada lembut di dalamnya. Dia memanggil bunga kecil dan melemparkannya ke arah Eiran, mendarat tepat di rambutnya. Eiran mengambil bunga itu dengan ekspresi datar, memandangnya seolah itu bom. “Faye, aku bilang berhenti main-main,” katanya, tapi dia tidak membuang bunga itu, melainkan memasukkannya ke saku, gerakan kecil yang membuat Liora membelalak. “Wow, Voss,” kata Liora, menyeringai. “Kau simpan bungaku? Aku tersentuh!” Eiran memelototinya, tapi sebelum dia bisa membalas, Kairos memotong. “Cukup, kalian berdua. Kita berangkat ke istana sekarang. Bersiap, dan Draven, jangan coba nyanyi di depan raja.” Draven pura-pura tersinggung. “Kau tahu, Kairos, seni tidak dihargai di tim ini.” Istana Elyria adalah keajaiban arsitektur, dengan dinding kristal yang memantulkan pelangi dan lantai marmer yang diukir rune pelindung. Raja Eldrin berdiri di singgasananya, jubahnya berkilau seperti cairan emas, tapi wajahnya penuh kekhawatiran saat Aliansi Aurora masuk. Di sampingnya, beberapa bangsawan berjubah mewah berbisik, mata mereka penuh curiga pada tim. “Aliansi Aurora,” kata Raja Eldrin, suaranya bergema di aula. “Kalian telah menghentikan Badai Roh di Varyn, tapi laporan kalian menyebut sihir gelap dan… seorang bangsawan?” Kairos melangkah maju, mewakili tim. “Lord Zoltar, Yang Mulia. Dia menggunakan kristal gelap untuk memicu badai. Kami menemukannya di altar di Hutan Larang, tapi dia kabur. Kami juga menemukan petunjuk tentang artefak lain di kota bawah tanah.” Murmur menyebar di antara bangsawan. Salah satunya, seorang pria tua dengan janggut perak, mendengus. “Lord Zoltar adalah anggota terhormat dewan. Kalian menuduh tanpa bukti!” Eiran menegang, tangannya mencengkeram gagang Zephyrion. “Bukti?” katanya, suaranya dingin seperti es. “Desa hancur, hutan diracuni, dan kau bilang kami tidak punya bukti? Bangsawan selalu melindungi satu sama lain.” Nada suaranya penuh dendam, membuat ruangan hening. Raja Eldrin mengangkat tangan. “Cukup, Eiran Voss. Aku memahami kemarahanmu, tapi tuduhan serius membutuhkan bukti kuat. Kalian akan menyelidiki kota bawah tanah. Temukan artefak itu, dan bawa Zoltar ke hadapanku.” Liora memperhatikan Eiran, melihat bagaimana rahangnya mengeras, matanya gelap. Dia ingin mendekatinya, tapi suasana istana terlalu tegang. Dia hanya menggenggam bunga di sakunya, berjanji dalam hati untuk bicara dengan Eiran nanti. Sylva melangkah maju, suaranya tenang. “Yang Mulia, bayangan di hutan menunjukkan Zoltar punya sekutu—bukan manusia, tapi sesuatu yang lebih gelap. Kami perlu akses ke arsip kerajaan untuk menelusuri artefak ini.” Raja mengangguk. “Aku izinkan. Tapi berhati-hatilah. Kota bawah tanah bukan tempat sembarangan. Dan…” Dia menatap Eiran. “Jaga emosimu, Voss. Kemarahan tidak akan menyelesaikan ini.” Eiran tidak menjawab, hanya mengangguk kaku. Tapi saat tim meninggalkan aula, Liora mengejarnya di koridor istana yang sepi. “Eiran, tunggu!” panggilnya, suaranya lembut tapi tegas. Eiran berhenti, tapi tidak menoleh. “Apa, Liora?” katanya, suaranya rendah, penuh beban. Liora mendekat, berdiri cukup dekat hingga aroma bunga di pakaiannya tercium. “Aku tahu kau benci bangsawan. Aku tahu ada sesuatu di masa lalumu. Tapi kau nggak sendirian, oke? Kami tim. Aku… aku di sini.” Dia ragu, lalu menyentuh lengannya dengan lembut, bunga kecil muncul di ujung jarinya sebagai tanda kepedulian. Eiran menarik napas, matanya penuh konflik. Dia ingin bicara, ingin membiarkan Liora masuk, tapi bayangan ayahnya, dikhianati, dibunuh, membuatnya mundur. “Kau nggak mengerti, Liora,” katanya pelan. “Ini bukan soal tim. Ini soal mereka yang selalu menang karena kuasa.” Dia menarik lengan, tapi gerakannya lembut, seolah tak ingin menyakiti Liora. Liora menggigit bibir, matanya berkaca-kaca tapi dia memaksa tersenyum. “Kau salah, Voss. Aku mengerti lebih dari yang kau pikir. Dan aku nggak akan menyerah padamu.” Dia melemparkan bunga kecil ke dadanya, kali ini dengan sengaja, lalu berbalik bergabung dengan tim. Eiran memandang bunga itu jatuh ke lantai, Zephyrion berdengung pelan seolah menggodanya. Dia menghela napas, mengambil bunga itu, dan memasukkannya ke saku lagi. Kembali di markas, tim berkumpul untuk merencanakan perjalanan ke kota bawah tanah. Sylva meneliti arsip kerajaan yang baru diizinkan, menemukan sketsa artefak kuno yang disebut “Jantung Bayangan” kristal yang bisa memperkuat sihir gelap. “Ini yang Zoltar cari,” katanya. “Tapi kota bawah tanah penuh jebakan. Kita butuh rencana.” Draven menyeringai, mengibaskan angin untuk mengacaukan kertas Sylva. “Rencana? Aku bilang kita masuk, hancurkan semuanya, dan keluar sebelum makan malam.” “Dan itulah kenapa kau nggak pernah pimpin misi,” balas Kairos, tapi dia tertawa. “Eiran, kau pimpin strategi lagi. Liora, kau dan Vesper siapkan sihir alam untuk jebakan. Sylva, cari tahu lebih banyak tentang Jantung Bayangan. Draven… coba jangan nyanyi.” Vesper tersenyum kecil. “Aku akan cek akar di markas. Mungkin alam bisa beri petunjuk tentang kota bawah tanah.” Saat tim sibuk, Liora melirik Eiran, yang duduk sendirian di sudut, memeriksa Zephyrion. Dia tahu dia tidak bisa memaksa Eiran bicara, tapi setiap bunga yang dia simpan di sakunya memberi harapan. “Kau nggak bisa lari dari bunga selamanya, Voss," gumamnya pada diri sendiri, lalu kembali ke peta dengan tekad baru. Di suatu tempat di kota bawah tanah, Lord Zoltar berdiri di depan Jantung Bayangan, kristal raksasa yang berdenyut dengan aura gelap. Sosok bayangan di sampingnya berdesis, “Aliansi itu mendekat. Biarkan mereka datang. Jantung ini akan menghancurkan mereka.” Zoltar tersenyum. “Dan Elyria akan menjadi milik kita.”Di kedalaman kota bawah tanah, labirin menjadi semakin gelap dan sempit, dinding-dindingnya dipenuhi kristal kuno yang berdenyut seperti nadi. Udara terasa berat, bercampur bau logam dan sihir gelap. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, dipimpin oleh cahaya bunga Liora Faye yang berkedip lembut dan ilusi cahaya memori Aria Velren yang memetakan jalur. Akar-akar Vesper Hale merayap di lantai, mendeteksi getaran aneh, sementara bayangan Sylva Reed bergerak gelisah, seolah merasakan ancaman. “Kita hampir sampai di pusat,” kata Aria, suaranya tenang tapi tegang, matanya biru pucat memindai rune di dinding. Dia melirik Eiran Voss, yang berjalan di depan dengan Zephyrion berdengung pelan. “Pedang rohmu… arsip bilang senjata seperti itu bisa bereaksi kuat di dekat artefak gelap. Hati-hati, Eiran.” Eiran mengangguk kaku, tangannya mencengkeram gagang pedang. Mimpi buruknya, ayahnya yang jatuh, Zephyrion yang liar membuatnya waspada. “Aku tahu apa yang kulakukan,” katanya dingin, tapi ada
Kegelapan kota bawah tanah menyelimuti Aliansi Aurora seperti kabut hidup, udara dingin berbau kristal tua dan sihir busuk. Koridor-koridor gua yang luas dipenuhi rune kuno yang berkedip redup, seolah memperingatkan bahaya. Cahaya dari bunga-bunga Liora Faye menyala lembut, menerangi jalan tim, sementara akar-akar Vesper Hale merayap di dinding, mencari jebakan. Aria Velren memimpin di depan, ilusi cahaya memorinya memproyeksikan peta samar dari arsip kerajaan, menunjukkan jalur menuju lapisan lebih dalam. “Labirin ini dirancang untuk mengacaukan pikiran,” kata Aria, suaranya tenang tapi penuh otoritas. Matanya biru pucat melirik ke Eiran Voss, yang berjalan di sampingnya, Zephyrion berdengung pelan di pinggangnya. “Jebakan memori di sini akan menarik ingatan terburuk kalian. Pedang rohmu… mungkin jadi sasaran utama.” Eiran mengangguk kaku, tangannya mencengkeram gagang pedang. Mimpi buruk malam tadi, ayahnya yang jatuh, Zephyrion yang liar, masih menghantuinya. “Kalau itu jeba
Langit Elyria bersinar cerah, menara-menara kaca kota memantulkan sinar matahari seperti permata raksasa. Tapi di markas Aliansi Aurora, suasana terasa lebih berat dari biasanya. Meja bundar di ruang rapat dipenuhi peta holografik dan dokumen arsip, sementara aroma teh herbal Vesper Hale mengisi udara. Tim baru saja kembali dari kota bawah tanah, tubuh mereka lelah tapi semangat masih membara setelah menghancurkan Jantung Bayangan pertama. Namun, kemenangan itu terasa hampa. Lord Zoltar kabur, dan petunjuk tentang artefak lain membuat semua orang gelisah. Draven Quill bersandar di kursi, kaki di atas meja, bermain-main dengan angin suaranya untuk membuat kertas-kertas berputar. “Jadi, kita selamatkan Elyria, hancurkan kristal jahat, dan masih nggak dapat libur?” katanya, menyeringai nakal. “Aku bilang kita pantas dapat pesta. Atau setidaknya, kristal karaoke baru di pasar malam.” Sylva Reed, yang sedang meneliti dokumen arsip, memelototinya dari balik kacamata tipisnya. “Draven,
Pintu batu raksasa di ruang pusat kota bawah tanah bergemuruh saat terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya ungu jahat dari Jantung Bayangan. Kristal raksasa itu, sebesar manusia, bertahta di tengah altar hitam, denyutnya seperti detak jantung yang mengguncang dinding gua. Lord Zoltar berdiri di depannya, jubahnya berkibar tertiup angin sihir, dan senyum liciknya menyapa Aliansi Aurora. Di sampingnya, sosok bayangan berdesis. Bentuknya kabur, seperti asap hidup dengan mata merah menyala. “Selamat datang di akhir perjalanan kalian,” kata Zoltar, suaranya halus namun mematikan. “Jantung Bayangan akan membawa Elyria ke era baru. Tanpa raja yang lemah, tanpa kalian.” Eiran Voss melangkah maju, Zephyrion menyala perak di tangannya, berdengung dengan intensitas yang hampir tak terkendali. Mimpi buruk tadi malam masih menghantuinya, gambar ayahnya yang jatuh karena pedang roh yang liar, amarah yang menghancurkan segalanya. “Kau bicara terlalu banyak, bangsawan,”
Malam sebelum perjalanan ke kota bawah tanah, markas Aliansi Aurora sunyi, hanya diterangi cahaya rune lembut di dinding. Eiran Voss duduk sendirian di kamarnya, Zephyrion tergeletak di meja, pedang roh itu berdengung pelan seolah merasakan kegelisahan tuannya. Matanya terpejam, tapi tidur tidak datang dengan mudah. Sebaliknya, mimpi buruk datang lagi, seperti hantu yang tak pernah pergi. Dalam mimpi itu, Eiran kembali ke masa kecilnya, sebuah rumah bangsawan sederhana di pinggiran Elyria, di mana ayahnya, seorang penyihir setia kerajaan, berdiri di depan pintu dengan pedang yang sama ini. "Ingat, Eiran," kata ayahnya, suaranya hangat tapi tegas, "pedang roh ini bagian dari darahmu. Kendalikan, atau ia akan mengendalikanmu." Tapi kemudian, bayangan muncul, bangsawan korup yang datang di malam hari, dengan sihir gelap yang membakar rumah mereka. Ayahnya bertarung, Zephyrion menyala terang, tapi amarah membuat pedang itu liar, memotong segalanya tanpa kendali. Eiran kecil bersembu
Langit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau. Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai. Di dalam markas, tim bersiap untuk menghadap Raja Eldrin di istana, tapi suasana di ruang rapat mereka jauh dari serius. Draven Quill bersandar di dinding, bermain-main dengan angin suaranya untuk membuat kertas-kertas di meja berputar seperti tornado mini. “Jadi, kita baru saja mengusir bangsawan jahat dan selamat dari badai maut,” katanya, menyeringai. “Aku bilang kita pantas dapat libur. Siapa mau ke pasar malam? Mereka punya kristal karaoke baru!” Sylva Reed memutar mata, kacamata tipisnya memantulkan cahaya lampu rune. “Draven, kalau kau pikir raja akan memberi kita libur setelah laporan ini, kau lebih delusional dari biasanya.” Bayangannya di lantai bergerak-gerak, seolah gelisah dengan apa yang dia







