Home / Fantasi / Pedang Penebusan / Chapter 5: Bayang-Bayang di Istana

Share

Chapter 5: Bayang-Bayang di Istana

Author: Sisin Kim
last update publish date: 2025-10-03 22:19:24

Langit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau.

Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai.

Di dalam markas, tim bersiap untuk menghadap Raja Eldrin di istana, tapi suasana di ruang rapat mereka jauh dari serius.

Draven Quill bersandar di dinding, bermain-main dengan angin suaranya untuk membuat kertas-kertas di meja berputar seperti tornado mini.

“Jadi, kita baru saja mengusir bangsawan jahat dan selamat dari badai maut,” katanya, menyeringai.

“Aku bilang kita pantas dapat libur. Siapa mau ke pasar malam? Mereka punya kristal karaoke baru!”

Sylva Reed memutar mata, kacamata tipisnya memantulkan cahaya lampu rune. “Draven, kalau kau pikir raja akan memberi kita libur setelah laporan ini, kau lebih delusional dari biasanya.” Bayangannya di lantai bergerak-gerak, seolah gelisah dengan apa yang dia baca di hutan.

Vesper Hale, duduk dengan akar-akar kecil melilit pergelangan tangannya, mengangguk. “Hutan Larang masih menderita. Aku bisa merasakan akar-akarnya… mereka takut. Kristal gelap itu bukan satu-satunya.”

Kairos Thorne, yang sedang memeriksa peta holografik Elyria, menoleh. “Sylva bilang ada artefak lain di kota bawah tanah. Kita harus cari tahu apa itu sebelum Zoltar bergerak lagi.” Suaranya tegas, tapi ada kekhawatiran di matanya. “Raja perlu tahu ini bukan cuma soal badai.”

Eiran Voss berdiri di sudut, Zephyrion berdengung pelan di pinggangnya. Dia tidak ikut berbicara, matanya tertuju pada peta, tapi pikirannya jelas di tempat lain.

Istana selalu membuatnya tegang, terlalu banyak bangsawan, terlalu banyak kenangan tentang pengkhianatan yang merenggut ayahnya.

Dia merasakan tatapan Liora Faye dari seberang ruangan, tapi dia tidak menoleh. Tidak sekarang.

Liora, yang sedang menyusun bunga-bunga kecil jadi karangan dekoratif di meja, mencoba menangkap perhatian Eiran.

“Eiran, kau tahu, kalau kau terus buat muka kecut begitu, raja mungkin pikir kau mau memenggalnya,” katanya, suaranya ceria tapi ada nada lembut di dalamnya.

Dia memanggil bunga kecil dan melemparkannya ke arah Eiran, mendarat tepat di rambutnya.

Eiran mengambil bunga itu dengan ekspresi datar, memandangnya seolah itu bom. “Faye, aku bilang berhenti main-main,” katanya, tapi dia tidak membuang bunga itu, melainkan memasukkannya ke saku, gerakan kecil yang membuat Liora membelalak.

“Wow, Voss,” kata Liora, menyeringai. “Kau simpan bungaku? Aku tersentuh!”

Eiran memelototinya, tapi sebelum dia bisa membalas, Kairos memotong. “Cukup, kalian berdua. Kita berangkat ke istana sekarang. Bersiap, dan Draven, jangan coba nyanyi di depan raja.”

Draven pura-pura tersinggung. “Kau tahu, Kairos, seni tidak dihargai di tim ini.”

Istana Elyria adalah keajaiban arsitektur, dengan dinding kristal yang memantulkan pelangi dan lantai marmer yang diukir rune pelindung.

Raja Eldrin berdiri di singgasananya, jubahnya berkilau seperti cairan emas, tapi wajahnya penuh kekhawatiran saat Aliansi Aurora masuk.

Di sampingnya, beberapa bangsawan berjubah mewah berbisik, mata mereka penuh curiga pada tim.

“Aliansi Aurora,” kata Raja Eldrin, suaranya bergema di aula. “Kalian telah menghentikan Badai Roh di Varyn, tapi laporan kalian menyebut sihir gelap dan… seorang bangsawan?”

Kairos melangkah maju, mewakili tim. “Lord Zoltar, Yang Mulia. Dia menggunakan kristal gelap untuk memicu badai. Kami menemukannya di altar di Hutan Larang, tapi dia kabur. Kami juga menemukan petunjuk tentang artefak lain di kota bawah tanah.”

Murmur menyebar di antara bangsawan. Salah satunya, seorang pria tua dengan janggut perak, mendengus. “Lord Zoltar adalah anggota terhormat dewan. Kalian menuduh tanpa bukti!”

Eiran menegang, tangannya mencengkeram gagang Zephyrion. “Bukti?” katanya, suaranya dingin seperti es. “Desa hancur, hutan diracuni, dan kau bilang kami tidak punya bukti? Bangsawan selalu melindungi satu sama lain.” Nada suaranya penuh dendam, membuat ruangan hening.

Raja Eldrin mengangkat tangan. “Cukup, Eiran Voss. Aku memahami kemarahanmu, tapi tuduhan serius membutuhkan bukti kuat. Kalian akan menyelidiki kota bawah tanah. Temukan artefak itu, dan bawa Zoltar ke hadapanku.”

Liora memperhatikan Eiran, melihat bagaimana rahangnya mengeras, matanya gelap. Dia ingin mendekatinya, tapi suasana istana terlalu tegang. Dia hanya menggenggam bunga di sakunya, berjanji dalam hati untuk bicara dengan Eiran nanti.

Sylva melangkah maju, suaranya tenang. “Yang Mulia, bayangan di hutan menunjukkan Zoltar punya sekutu—bukan manusia, tapi sesuatu yang lebih gelap. Kami perlu akses ke arsip kerajaan untuk menelusuri artefak ini.”

Raja mengangguk. “Aku izinkan. Tapi berhati-hatilah. Kota bawah tanah bukan tempat sembarangan. Dan…” Dia menatap Eiran. “Jaga emosimu, Voss. Kemarahan tidak akan menyelesaikan ini.”

Eiran tidak menjawab, hanya mengangguk kaku. Tapi saat tim meninggalkan aula, Liora mengejarnya di koridor istana yang sepi. “Eiran, tunggu!” panggilnya, suaranya lembut tapi tegas.

Eiran berhenti, tapi tidak menoleh. “Apa, Liora?” katanya, suaranya rendah, penuh beban.

Liora mendekat, berdiri cukup dekat hingga aroma bunga di pakaiannya tercium. “Aku tahu kau benci bangsawan. Aku tahu ada sesuatu di masa lalumu. Tapi kau nggak sendirian, oke? Kami tim. Aku… aku di sini.” Dia ragu, lalu menyentuh lengannya dengan lembut, bunga kecil muncul di ujung jarinya sebagai tanda kepedulian.

Eiran menarik napas, matanya penuh konflik. Dia ingin bicara, ingin membiarkan Liora masuk, tapi bayangan ayahnya, dikhianati, dibunuh, membuatnya mundur. “Kau nggak mengerti, Liora,” katanya pelan. “Ini bukan soal tim. Ini soal mereka yang selalu menang karena kuasa.” Dia menarik lengan, tapi gerakannya lembut, seolah tak ingin menyakiti Liora.

Liora menggigit bibir, matanya berkaca-kaca tapi dia memaksa tersenyum. “Kau salah, Voss. Aku mengerti lebih dari yang kau pikir. Dan aku nggak akan menyerah padamu.” Dia melemparkan bunga kecil ke dadanya, kali ini dengan sengaja, lalu berbalik bergabung dengan tim.

Eiran memandang bunga itu jatuh ke lantai, Zephyrion berdengung pelan seolah menggodanya. Dia menghela napas, mengambil bunga itu, dan memasukkannya ke saku lagi.

Kembali di markas, tim berkumpul untuk merencanakan perjalanan ke kota bawah tanah. Sylva meneliti arsip kerajaan yang baru diizinkan, menemukan sketsa artefak kuno yang disebut “Jantung Bayangan” kristal yang bisa memperkuat sihir gelap. “Ini yang Zoltar cari,” katanya. “Tapi kota bawah tanah penuh jebakan. Kita butuh rencana.”

Draven menyeringai, mengibaskan angin untuk mengacaukan kertas Sylva. “Rencana? Aku bilang kita masuk, hancurkan semuanya, dan keluar sebelum makan malam.”

“Dan itulah kenapa kau nggak pernah pimpin misi,” balas Kairos, tapi dia tertawa. “Eiran, kau pimpin strategi lagi. Liora, kau dan Vesper siapkan sihir alam untuk jebakan. Sylva, cari tahu lebih banyak tentang Jantung Bayangan. Draven… coba jangan nyanyi.”

Vesper tersenyum kecil. “Aku akan cek akar di markas. Mungkin alam bisa beri petunjuk tentang kota bawah tanah.”

Saat tim sibuk, Liora melirik Eiran, yang duduk sendirian di sudut, memeriksa Zephyrion. Dia tahu dia tidak bisa memaksa Eiran bicara, tapi setiap bunga yang dia simpan di sakunya memberi harapan. “Kau nggak bisa lari dari bunga selamanya, Voss," gumamnya pada diri sendiri, lalu kembali ke peta dengan tekad baru.

Di suatu tempat di kota bawah tanah, Lord Zoltar berdiri di depan Jantung Bayangan, kristal raksasa yang berdenyut dengan aura gelap. Sosok bayangan di sampingnya berdesis, “Aliansi itu mendekat. Biarkan mereka datang. Jantung ini akan menghancurkan mereka.”

Zoltar tersenyum. “Dan Elyria akan menjadi milik kita.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pedang Penebusan    Chapter 33: Pengorbanan Terakhir

    Medan perang di Elyria bergemuruh di bawah langit yang gelap, petir menyambar, dan kabut maut Valmoria menyelimuti kota. Aliansi Aurora—Eiran Voss, Kairos Thorne, Vesper Hale, dan Draven Quill—berdiri di tengah kekacauan, menghadapi Lord Zoltar dan sosok bayangan berjubah hitam, dalang di balik Valmoria. Sosok itu, yang akhirnya mengungkap wajahnya sebagai Archon Veyr, penguasa Drakmor, memegang artefak gelap terakhir, kristal yang memancarkan energi maut. “Elyria akan jatuh, Voss!” sembur Veyr, suaranya seperti racun. “Kalian nggak bisa hentikan kami!” Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di tangannya, menatap musuh dengan mata penuh tekad. Pikirannya tertuju pada Liora Faye, yang mengandung anak mereka, tidur tenang di markas. “Untuk Liora… untuk anakku,” bisiknya. Dia menggigit ujung telunjuknya, darahnya menetes, menyatu dengan Zephyrion. Pedang itu berubah—menjadi ribuan jarum perak yang beterbangan, masing-masing berkilau dengan aura darah Voss. Kair

  • Pedang Penebusan    Chapter 32: Benang Merah Takdir

    Tiga bulan setelah pertempuran di benteng Valmoria, Aliansi Aurora kembali ke Elyria di bawah langit yang cerah namun penuh ketegangan. Menara-menara kaca kota berkilau, tapi desas-desus tentang aliansi musuh—Drakmor, Sylvane, dan Korath—mengguncang istana. Di aula utama, Raja Eldrin mendengarkan laporan Kairos Thorne, wajahnya tegas namun lelah. “Kalian hancurkan artefak utama, tapi Valmoria belum menyerah,” katanya. “Mereka aktif di kerajaan tetangga, menyusun serangan baru.” Eiran Voss, berdiri dengan usaha meski tubuhnya lebih kuat, mengangguk. “Kami akan siap, Yang Mulia.” Zephyrion, masih di pinggangnya, berdengung pelan, tapi matanya penuh tekad—dia telah memutuskan untuk melepaskan pedang itu demi masa depannya dengan Liora Faye. Aria Velren, di sisi ruangan, menghadapi hukuman. Raja Eldrin menatapnya, suaranya dingin namun adil. “Aria, pengkhianatanmu hampir hancurkan Elyria. Tapi kau telah memilih penebusan. Kau akan tetap di sini, menjaga perpustakaan kerajaan seumur hidu

  • Pedang Penebusan    Chapter 31: Pemulihan dan Cinta

    Kerajaan Seraphine menyambut Aliansi Aurora dengan keheningan tegang, istana merah muda berkilau di bawah sinar bulan, tapi aroma bunga penyembuhan tidak bisa menutupi bayang-bayang ancaman. Perwakilan dari Drakmor, Sylvane, dan Korath telah pergi, ragu untuk melawan kekuatan perempuan Seraphine setelah ancaman Ratu Lysara. Namun, fokus tim tertuju pada Eiran Voss, yang terbaring di ruang penyembuhan, dikelilingi oleh penyembuh Seraphine. Ranjang batu diterangi kristal bunga, tapi suasana berat—di dada kiri Eiran, akar hitam dari Zephyrion menjalar hingga lehernya, tanda rasa sakit yang dia tanggung demi bertarung bersama tim. Eiran siuman, matanya redup, napasnya lemah. Lia, kelopak di rambutnya menyala, memeriksa kondisinya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Dia nggak bisa bergerak,” katanya pada tim—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Aria Velren—yang berdiri di sekitar ranjang. Tidak ada candaan dari Draven kali ini; wajahnya serius, matanya penuh empati. “Voss,

  • Pedang Penebusan    Chapter 30: Klimaks Perang

    Benteng Valmoria berdiri seperti makam gelap, dinding obsidiannya berdenyut dengan sihir jahat, rune-rune ungu menyala di bawah langit yang bergolak. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, Aria Velren, dan Lia—berdiri di gerbang utama, menghadapi pasukan Zoltar: prajurit hantu dengan mata menyala dan roh pendendam yang melayang, mengeluarkan jeritan yang mengguncang jiwa. Zoltar sendiri, jubahnya compang-camping, memimpin aliansi musuh dari Drakmor, Sylvane, dan Korath, matanya penuh dendam. Kairos menyalakan perisai api, suaranya bergema. “Ini akhirnya! Hancurkan artefak, akhiri Valmoria!” Pertarungan epik meledak. Api Kairos membakar prajurit hantu, akar Vesper menjerat roh pendendam, bayangan Sylva memotong musuh, dan gelombang suara Draven menghancurkan formasi. Liora, pedang anginnya berputar, melepaskan badai kelopak yang menyapu musuh, suaranya tetap ceria meski tegang. “Ayo, teman-teman, kita nggak boleh kalah di panggung

  • Pedang Penebusan    Chapter 29: Pengkhianatan Aria

    Di luar benteng Valmoria, angin malam membawa aroma asap dan sihir gelap, dinding-dinding obsidian benteng memantulkan kilatan petir di langit kelabu. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, dan Lia—berdiri di tengah puing-puing, napas mereka tersengal setelah bertahan dari jebakan sihir. Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, memimpin pasukan bayangan Valmoria. Rambut peraknya berkibar, rune gelap di jubahnya menyala, tapi matanya penuh konflik. “Kalian nggak seharusnya ada di sini,” katanya, suaranya dingin namun goyah. Bilah cahaya gelapnya menyala, siap menyerang. Kairos menyalakan perisai api. “Aria, berhenti! Apa yang Valmoria janjikan padamu?” Aria ragu, lalu suaranya pecah. “Keluargaku… Valmoria ancam mereka. Aku nggak punya pilihan!” Dia melepaskan ledakan cahaya gelap, memaksa tim mundur. Sylva, bayangannya menari, berteriak, “Kau pilih pengkhianatan demi ancaman? Kami bisa lindungi keluargamu, Aria!” P

  • Pedang Penebusan    Chapter 28: Perjalanan ke Benteng Valmoria

    Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal

  • Pedang Penebusan    Chapter 7: Jantung yang Berdetak

    Pintu batu raksasa di ruang pusat kota bawah tanah bergemuruh saat terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya ungu jahat dari Jantung Bayangan. Kristal raksasa itu, sebesar manusia, bertahta di tengah altar hitam, denyutnya seperti detak jantung yang mengguncang dinding gua.

  • Pedang Penebusan    Chapter 6: Kegelapan di Bawah Tanah

    Malam sebelum perjalanan ke kota bawah tanah, markas Aliansi Aurora sunyi, hanya diterangi cahaya rune lembut di dinding. Eiran Voss duduk sendirian di kamarnya, Zephyrion tergeletak di meja, pedang roh itu berdengung pelan seolah merasakan kegelisahan tuannya. Matanya terpejam, tapi tidur tidak

  • Pedang Penebusan    Chapter 2: Jalan yang Berangin

    Mobil terbang Aliansi Aurora meluncur di atas dataran Elyria, mesinnya berdengung pelan berkat kristal sihir yang berkilau di bawah kap. Kendaraan ini lebih mirip perahu kecil dengan sayap logam, dihiasi rune yang menyala biru. Di dalam, suasana jauh dari tenang. Draven Quill, yang duduk di belaka

  • Pedang Penebusan    Chapter 1: Bunga yang Mengganggu

    Di Elyria, kota megah dengan menara kaca yang bersinar oleh mantra dan mobil terbang yang berdengung pelan seperti lebah raksasa, pagi selalu dimulai dengan hiruk-pikuk. Jalan-jalan dipenuhi pedagang yang menjajakan kristal sihir, penyihir jalanan yang memamerkan trik kecil untuk koin, dan tentara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status