ログインDewa menarik napas panjang. Prita tidak pernah letih menggodanya. Dia selalu melakukannya setiap kali ada kesempatan.“Aku bisa sendiri. Ini bukan pertama kalinya untukku,” jawab Dewa seraya menjauh dari Prita.Prita hanya tersenyum setelah mendapat penolakan untuk ke sekian kalinya dari Dewa. Wanita itu sama sekali tidak merasa sakit hati. Justru dia semakin tertantang. Prita semakin penasaran akan sosok Dewa.“Lihat saja, Dewa. Aku akan terus mengejarmu sampai kamu menyerah dan berada di ranjang bersamaku,” gumam Prita.Wanita itu berbalik, lalu menuju ruang tunggu. Setelah Dewa selesai melakukan proses donor sperma di ruang koleksi, barulah dia menjalani inseminasi buatan. Wanita itu berswafoto lalu mengirimkan hasilnya kepada Handoko.Setengah jam kemudian, Dewa keluar dari ruang koleksi sperma. Dia membutuhkan waktu lebih lama untuk mengeluarkan sperma. Pikirannya lebih terfokus kepada pekerjaan, jadi agak sulit baginya memikirkan hal yang membuat senjata pusakanya berdiri.“Ke
“A-Aku? Kamu mau mengajakku bergabung?” tanya Enzo tidak percaya.Selama menjadi mahasiswa, Julian tidak pernah mengajaknya bicara, meliriknya saja tidak pernah. Bahkan mungkin, pria itu sama sekali tidak pernah mengetahui bahwa dirinya terdaftar sebagai mahasiswa.Kini, secara tiba-tiba, Julian mengajaknya bergabung. Tentu saja ini menjadi tanda tanya besar bagi Enzo.“Ya. Menurutku, kamu memenuhi syarat untuk menjadi anggota timku. Aku ingin membentuk sebuah tim yang solid. Kamu menjadi salah satu pilihanku,” jawab Julian diplomatis.“Tapi, kenapa aku?” tanya Enzo penasaran.“Kamu pintar, rajin, dan ulet. Ketiga kriteria itu cukup untuk mengajakmu bergabung,” jawab Julian sambil terus melihat ke depan.“Selain aku, apa sudah ada yang bergabung?” tanya Enzo lagi.“Sudah ada empat orang. Sarah, Lukas, Andra, dan Bahim. Aku masih kurang dua orang, dan aku mau kamu mengisi salah satu tempat kosong itu.”Enzo hanya terdiam. Empat orang yang disebutkan Julian tadi berada satu angkatan den
“Kamu menawariku pekerjaan?” tanya Enzo tidak percaya.“Iya. Tapi aku belum bisa memberimu gaji besar nantinya karena baru merintis juga.”“Nggak apa-apa, Wa. Aku ngerti kok. Kamu mau kasih aku pekerjaan, aku udah bersyukur. Seenggaknya, aku nggak harus jadi pengangguran setelah lulus nanti. Zaman sekarang, cari kerjaan modal pintar aja nggak cukup. Harus punya koneksi juga,” jawab Enzo panjang lebar.Dewa mengangguk pelan. Sebenarnya, sudah lama dia ingin mengajak Enzo bergabung dengannya. Namun, dia masih menunggu waktu yang tepat.“Ehm … kamu masih butuh orang, nggak, Wa?” tanya Enzo hati-hati.“Masih. Emangnya kenapa? Kamu ada rekomendasi?”“Ada, namanya Naira. Dia kakak tingkat kita. Dia sudah lulus dua tahun lalu. Tapi, karena bermasalah dengan Pak Bisma, dia jadi sulit mendapatkan pekerjaan.”“Pak Bisma?” tanya Dewa. Pria itu mulai tertarik begitu Enzo menyebut nama Bisma. “Memangnya apa yang terjadi?”“Pak Bisma pernah melecehkan Naira. Dia sempat melaporkan ke pihak kampus. T
Kesibukan Dewa semakin bertambah sejak mengikuti malam pertemuan yang diselenggarakan Winaya Sekuritas. Selain harus menyiapkan proposal untuk mengikuti kompetisi, pria itu juga harus menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan dosennya.Ditambah lagi, Dewa sedang menyusun tugas akhir. Dia tidak punya waktu berleha-leha. Dia hanya fokus menyelesaikan semua tugas yang menumpuk.Hari ini, dia mengajak anggota kelompoknya mengerjakan tugas di apartemennya. Selain agar dirinya tidak perlu bepergian, dia juga ingin menunjukkan bahwa dirinya yang sekarang bukanlah sosok yang dulu kerap mereka hina.Danti dibuat kagum begitu memasuki unit apartemen Dewa yang cukup luas dan dipenuhi barang-barang bermerek. Dua temannya yang lain juga dibuat kagum. Mereka tidak menyangka Dewa tinggal di apartemen semewah ini.Padahal, dulu Dewa hanyalah mahasiswa miskin yang harus melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itulah yang sering membuat Dewa menjadi bahan hinaa
Sarah tampak terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Julian akan menanyakan hal seperti itu kepadanya.“Kenapa diam?” tanya Julian lagi. Pria itu terus mendesak Sarah agar mau menjawab pertanyaannya.“Dewa itu pintar. Dia bisa mempelajari materi dalam waktu singkat. Kemampuanku masih di bawahnya,” jawab Sarah merendah.“Aku justru berpikir sebaliknya. Kamu juga hebat, Sarah. Kamu juga mendapat program beasiswa seperti Dewa. Itu membuktikan kalau kamu nggak kalah darinya.”“Aku hanya mendapat beasiswa lima puluh persen dari keseluruhan biaya kuliah. Tapi Dewa mendapat beasiswa penuh. Itu yang membuat perbedaanku dengannya,” jawab Sarah lagi.Jawaban Sarah bukan karena dia merendah, tetapi wanita itu memang mengakui bahwa kepintaran dan kemampuan Dewa berada di atasnya.“Apa kamu tahu berapa hadiah yang didapat dari kompetisi ini?” tanya Julian berusaha mengalihkan pembicaraan.“Nggak tahu. Memangnya berapa?” tanya Sarah penasaran. Winaya Sekuritas adalah sebuah perusahaan besar. Pa
Julian muncul dan berdiri tepat di samping Sarah. Pria itu melemparkan senyum tipis kepada Dewa.“Kenapa aku selalu menemuimu di mana-mana? Apa kamu sengaja mengikutiku?” tanya Julian dengan nada sombongnya.“Mengikutimu? Aku hanya mengikuti orang yang pantas dijadikan role model. Apa kamu pantas menjadi role model-ku?” balas Dewa dengan nada mengejek.Wajah Julian menunjukkan sedikit kekesalan. Namun, sebisa mungkin pria itu tidak terpancing emosi. Dia memeluk pinggang Sarah.Sering menghabiskan waktu bersama wanita itu, ditambah dengan penampilannya yang sederhana dan sikapnya yang menyenangkan, perlahan membuat sebuah rasa sudah tumbuh di hati Julian.Sarah terlihat tidak nyaman dengan pelukan Julian di pinggangnya. Wanita itu berusaha melepaskan diri, tetapi pelukan Julian cukup erat.Ada perasaan tak suka menjalari hati Dewa saat melihat pemandangan di depannya. Pria itu memilih berbalik lalu meninggalkan pasangan tersebut. Dia menuju meja kosong dan duduk di sana.Sarah terus







