แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Ungu
"Pak Rivaldi, jangan begini!" Suaraku tercekat di tenggorokan dan berubah menjadi isakan yang lemah.

Lengan pria itu melingkari pinggangku seerat lingkaran besi. Melalui lapisan pakaian yang tipis, aku bisa merasakan setiap ototnya yang menegang.

Rivaldi menyeringai nakal. Suaranya terdengar seperti bisikan iblis, "Aku juga ingin mencicipi rasa air susumu. Bu Wina, penuhilah keinginanku."

Aku tertegun sejenak, menatap Rivaldi dengan rasa tidak percaya.

Rivaldi memicingkan mata, sementara ujung hidungnya menggesek area sensitif di belakang telingaku. "Aku bisa bayar dua kali lipat."

Kedua kakiku tiba-tiba lemas, bukan karena perkataannya, melainkan karena dia sedang menggunakan lututnya untuk menyibak paksa kedua kakiku yang tertutup rapat.

Tubuhku yang sudah tiga bulan tidak merasakan sentuhan intim, mengkhianati akal sehatku. Aliran panas melonjak ke perut bagian bawah dan dengan rasa malu aku menyadari jika celana dalamku sudah mulai basah.

"Aku cuma … datang untuk menyusui bayi …." Pembelaanku terputus saat Rivaldi mengulum daun telingaku.

Laki-laki berengsek ini jelas tahu di mana letak titik lemahku. Saat dia menggiling lembut daging lunak itu dengan giginya, aku hampir saja berteriak.

Tubuh yang tidak pernah dibelai dengan layak sejak masa kehamilan ini bak kayu bakar kering yang bertemu api. Sentuhan sekecil apa pun dari Rivaldi mampu membuatku gemetar hebat.

"Air susumu begitu banyak. Anak kecil pun nggak akan sanggup menghabiskannya sendirian. Memberi makan orang dewasa bukan berarti pemborosan, malah bisa menghasilkan imbalan tambahan."

Saat telapak tangannya yang panas menangkup payudaraku yang bengkak dan nyeri, aku justru dengan malunya membusungkan dada, menginginkan sentuhan yang lebih dalam.

"Lihat, mereka terangsang." Ibu jari Rivaldi mengusap putingku yang menegang, mengirimkan sensasi kenikmatan seperti sengatan listrik yang langsung menjalar ke tulang belakang.

Payudaraku di masa menyusui ini terasa luar biasa sensitif. Hanya dengan sentuhan seperti itu saja sudah membuat pandanganku berkunang-kunang.

Moralitasku pun kalah telak, runtuh selangkah demi selangkah di hadapan kebutuhan biologis.

Aku teringat pada suamiku yang setiap kali melakukannya hanya dua menit secara asal-asalan. Teringat saat-saat aku bersembunyi di kamar mandi di tengah malam untuk memuaskan diri sendiri. Juga, teringat pada gairah yang selalu terputus oleh tangisan bayi.

Sekarang, seorang pria tampan dan kaya raya sedang memperlakukanku dengan cara yang sudah lama aku dambakan. Meskipun akal sehatku menjerit "tidak boleh", tubuhku sudah bersiap untuk menerimanya.

"Pak Rivaldi, aku …." Aku meronta dengan sia-sia. Namun, Rivaldi dengan mudah mengangkat pinggangku.

Dalam sekejap, saat duniaku terasa berputar, bokongku kembali merasakan keberadaan yang panas dan perkasa itu lagi.

Bahkan meski terhalang dua lapis kain, aku tetap bisa mengenali ukurannya yang mengerikan.

Otakku terasa hampir korsleting karena hawa panas yang menjalar. Hanya dalam sekejap mata, kami sudah sampai di kamar tidur.

Tempat tidur besar di kamar utama itu menyebarkan aroma kesturi yang samar.

Saat tubuhku terbenam ke dalam selimut bulu angsa karena himpitannya, aku malah sempat-sempatnya berpikir bahwa seprai ini pasti sangat mahal.

Pikiran konyol itu terputus oleh ciuman Rivaldi. Ciuman itu bukan suatu godaan yang lembut, melainkan sebuah penaklukan yang penuh gairah dan rasa memiliki. Lidah Rivaldi menyapu setiap inci rongga mulutku, seolah-olah sedang mencicipi hidangan yang begitu lezat.

"Tung … tunggu!" Saat Rivaldi merenggut kancing kemejaku hingga terbuka, akhirnya aku berhasil menemukan kembali secercah akal sehatku.

Aku dengan panik menutupi hamparan kulitku yang seputih susu dan dadaku yang penuh, yang terekspos itu. Jantungku berdegap begitu kencang, hingga rasanya hampir melompat keluar. Aku pun berseru dengan cemas, "Pekerjaanku nggak termasuk hal ini …."

"Kenapa nggak?" Hanya dengan satu tangan, Rivaldi mencengkeram kedua pergelangan tanganku dan menekannya ke atas kepala, sementara tangannya yang lain langsung menyelinap ke balik rokku. "Bu, sekarang kamu merasa sangat gelisah ‘kan? Maafkan aku, biarkan aku membantumu."

Wajahku terasa begitu panas, seakan-akan hendak mengeluarkan asap.

Saat jari-jari Rivaldi yang panjang mengusap bagian yang basah itu, aku tersentak seperti ikan yang baru keluar dari air. Namun, Rivaldi menahan tubuhku dengan berat badannya hingga aku tak berkutik.

Yang lebih memalukan lagi, karena payudaraku yang terlalu penuh, tiba-tiba terpancar aliran susu yang memercikkan beberapa tetes noda putih susu di atas seprai putih itu.

"Aku akan mulai sekarang." Ekspresi Rivaldi tampak sangat bergairah. Kemudian, tiba-tiba dia menunduk dan mengulum putingku yang tengah meneteskan air susu itu.

Sensasi kenikmatan pada saat itu membuat punggungku melengkung dan jari-jari kakiku meringkuk seketika.

Isapan Rivaldi jauh lebih ahli dibanding seorang bayi. Rivaldi mengisapnya dengan kuat sambil mempermainkannya dengan ujung lidah. Aku tidak pernah tahu bahwa menyusui bisa memberikan kenikmatan seperti ini ….
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 9

    "Sa, sampel gratis …." Aku berdiri dengan panik. "Aku mau cek dulu apa si kecil sudah bangun."Titik balik itu terjadi pada suatu sore di penghujung musim hujan.Aku baru saja selesai menyusui si kecil ketika tiba-tiba Lita mendorong pintu kamar bayi hingga terbuka.Hari ini, dia tidak mengenakan setelan merek terkenal yang biasa dipakainya, melainkan pakaian serba hitam. Wajah Lita pucat, dengan lingkaran hitam yang tebal di bawah matanya."Bu, Bu Lita …." Tanpa sadar, aku merapatkan kerah bajuku, menutupi bekas ciuman yang ditinggalkan Rivaldi pagi tadi.Lita tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya melemparkan segepok foto ke hadapanku.Foto yang paling atas memperlihatkan aku sedang duduk mengangkang di pangkuan Rivaldi dengan kemeja setengah terbuka, sementara bibirnya menempel di dadaku.Pinggiran kereta bayi terlihat di foto itu. Itu adalah kereta bayi biru milik si kecil."Sungguh ironis." Suara Lita terdengar sedingin es. "Kamu menyusui anaknya di satu sisi, tapi di sisi

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 8

    "Sebentar saja." Suara Rivaldi menyiratkan nada memohon yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Biarkan aku memelukmu. Melihatmu merawat si kecil belakangan ini, aku …."Kata-katanya menghilang di udara, digantikan oleh embusan napasnya yang terkubur di ceruk leherku.Alarm moralitasku seharusnya berdering kencang. Namun, tubuhku mengkhianati akalsehat dan bersandar dengan patuh di pelukannya.Dagu Rivaldi bertumpu di bahuku dan tatapan matanya tanpa bisa dihindari jatuh pada dadaku yang tampak penuh karena sedang dalam masa menyusui.Rasa malu membuatku memejamkan mata, mencoba menghalangi pandangannya meski sia-sia."Jangan malu." Bibir Rivaldi menyentuh tepi telingaku, memicu sensasi getaran yang menjalar ke seluruh tubuh. "Ini adalah keindahan seorang ibu, sesuatu yang harus dihargai, bukan disembunyikan."Saat dia mengulum cuping telingaku dengan lembut, seluruh niat untuk melawan seketika sirna tanpa sisa.Perasaan diinginkan dan dihargai itu terasa begitu indah, hingga membuatk

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 7

    Selama beberapa hari berikutnya, aku menyediakan ASI untuk Rivaldi sesuai kesepakatan. Perlahan-lahan, aku pun mulai terbiasa dengan ritme kehidupan di rumahnya.Setiap pagi, aku datang tepat waktu ke rumah mewah ini. Pertama-tama, aku menyusui bayi mungil yang masih dalam bedongan itu, kemudian menggunakan pompa ASI untuk memerah sisa susunya.Awalnya, Rivaldi hanya memintaku menyimpan ASI perah tersebut di dalam lemari es. Namun, entah sejak kapan, dia mulai meminum langsung ASI yang baru saja kuperah, yang masih sehangat suhu tubuh itu."Suhunya pas," komentar Rivaldi singkat setiap kali, lalu meminumnya hingga tandas.Lambat laun, aku menyadari jika pengusaha sukses yang tampak dingin dan acuh tak acuh ini sebenarnya adalah orang yang sangat memegang teguh kata-katanya.Rivaldi pernah berjanji tidak akan mencuri pandang saat aku sedang menyusui. Dia benar-benar selalu membalikkan badannya setiap saat. Rivaldi mengatakan akan menghormati ruang pribadiku dan dia memang tidak pernah m

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 6

    Di luar dugaan, Rivaldi tidak melakukan hal-hal yang melampaui batas seperti kemarin. Sebaliknya, dia berdiri di depanku dan membungkuk dalam-dalam."Bu Wina, kejadian kemarin adalah kesalahanku," ucap Rivaldi dengan nada suara yang tulus dan penuh penyesalan. "Aku dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepadamu."Aku terpaku di tengah ruang tamu, merasa serba salah dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.Namun, Rivaldi dengan tenang mempersilakan aku duduk dan mengatakan jika dia ingin bicara baik-baik denganku.Sosoknya hari ini benar-benar tampak seperti orang yang berbeda dibanding kemarin.Sepasang mata yang biasanya selalu tertuju nakal ke arah dadaku, kini menatap wajahku dengan sopan. Setiap gerak-geriknya menunjukkan sikap seorang pria yang sangat berkelas.Entah mengapa, melihatnya meminta maaf dengan begitu tulus, justru ada secercah rasa kehilangan yang aneh, yang menyelinap di hatiku.Sambil menuangkan secangkir teh untukku, Rivaldi melanjutkan, "Sebenarnya, ada alasan menga

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 5

    Sesampainya di rumah, aku menyusui anakku terlebih dahulu, baru kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Jarang-jarang aku bisa keluar rumah hari ini. Namun, rasanya tubuhku begitu lengket dan tidak nyaman, sehingga aku mandi jauh lebih lama dari biasanya.Begitu membuka pintu kamar tidur, pemandangan yang menyambutku adalah posisi tidur suamiku yang telentang sembarangan. Perutnya yang buncit kembang kempis mengikuti irama napasnya, suara mendengkur yang menggelegar dan bahkan sesekali dia mengeluarkan suara-suara yang kurang sopan.Aku terpaku sejenak di ambang pintu dan tiba-tiba merasa hilang akal. Benarkah pria ini yang dulu pernah membuat jantungku berdebar kencang?Pikiranku tanpa sadar melayang kembali ke kejadian di rumah Rivaldi sore tadi.Kemejanya yang rapi tanpa celah, garis otot tubuhnya yang proporsional, serta godaannya yang berani dan tidak tahu malu …. Pipiku pun mulai kembali terasa panas."Wina!" Aku menepuk pipiku keras-keras. "Kamu sudah gila?"Aku m

  • Pekerjaan Tidak Senonoh   Bab 4

    "Hentikan, aku mohon …." Rintihanku berubah menjadi erangan yang manis dan manja.Saat Rivaldi perlahan menarik tali braku dengan giginya, aliran panas langsung menyembur ke pangkal paha, membuat sekujur tubuhku gemetar dan pandanganku berkunang-kunang.Rivaldi menatap puas ke arahku yang tengah hilang kendali. "Ini baru saja dimulai, Bu Wina."Aku memejamkan mata rapat-rapat. Bulu mataku bergetar bagaikan sayap kupu-kupu di tengah embusan angin.Jauh di dalam lubuk hatiku, sebuah suara terus-menerus meratap penuh sesal, 'Suamiku, maafkan aku, aku benar-benar nggak bermaksud seperti ini ….'Akan tetapi, tubuh ini mengkhianati akal sehat. Tiap inci kulitku seolah bersorak kegirangan.Rasa kesemutan yang hebat menjalar naik dari tulang belakang, seperti aliran listrik yang menderu di dalam pembuluh darah, membuatku tak henti-hentinya gemetar."Jangan tegang, Bu Wina." Suara Rivaldi terdengar berat dan dalam seperti selo. Napas hangatnya berembus di atas kulitku yang sensitif. "Aku cuma i

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status