Masuk"Gimana, Pak? Udah puas belum lihatnya?'
Kaisar yang berbalik, dibuat terkejut oleh keberadaan gadis yang kini berdiri di hadapannya.
Gadis pemilik wajah cantik, hidung mancung dan mata agak sipit itu melipat kedua tangan di dada. Bibirnya tersenyum tipis pada Kaisar yang bediri di hadapannya dengan wajah gugup bercampur kaget.
Baby Liona, adalah mahasiswi yang cukup populer di kampus itu. Bukan hanya terkenal karena parasnya yang cantik, tetapi juga karena kenakalan, kebarbaran dan juga kelakuannya yang sulit diatur.
"Masih mau lihat?" Liona menaik turunkan alisnya, bibirnya masih saja tersenyum pada Kaisar.
Tertangkap basah membuat wajah Kaisar memerah. Kini wajah pria itu merah seperti tomat masak yang hampir busuk.
Terlebih lagi, bagian bawahnya menyembul dengan jelas. Miliknya yang berada di balik celana trainingnya itu sudah bereaksi sejak tadi, meronta-ronta minta di keluarkan dari bungkus pengamannya.
"Ngomong apa kamu?" lontar Kaisar. Ia memasang wajah datar, berusaha menahan rasa gugup bercampur malu yang saat ini sedang ia rasakan.
Namun, Liona yang melipat kedua tangan di dada itu malah semakin tersenyum. Ia bergerak mundur dan menyandarkan punggungnya pada tembok.
Sepasang mata sipit gadis itu menatap wajah tegang Kaisar yang masih saja memerah. Lalu tanpa malu dan takut sedikitpun, Liona menurunkan pandangannya ke bagian bawah, memindai selangkangan Kaisar dengan tatapan nakal dan menggoda.
"Hihi!" Liona terkikik kecil saat melihat benda yang menonjol di balik celana training dosennya itu.
Besar dan menggembung!
Di tatap dan ditertawakan oleh Liona, wajah Kaisar semakin memerah. Secepat mungkin ia memasang wibawanya sebagai seorang dosen.
Pria itu pun membentak Liona agar bersikap sopan padanya. "Liona, apa yang kamu tertawakan? Berdiri yang benar, jangan bersikap kurang ajar sama saya!" betaknya dengan mata melotot tajam.
Suara bentakan Kaisar yang terdengar berat dan agak parau, justru membuat senyuman Liona semakin lebar. Kemarahan pria itu benar-benar tak meyakinkan dan tak membuatnya takut.
"Jam segini, ngapain kamu ada di sini?" tanya Kaisar. Matanya masih saja melotot tajam pada Liona yang senyum-senyum di hadapannya.
Ditanya, Liona bukannya menjawab. Tetapi justru beranjak dan mendekati Kaisar.
"Bapak sendiri ngapain di sini?" tanyanya balik. Tangannya bergerak, menunjuk dan menekan bahu Kaisar dengan pelan.
Kaisar meneguk ludah dengan kasar. Lalu membuang muka. "Saya tadi mau ke toilet, gak sengaja lihat kamu di sini! Jadi sekalian, saya mau negur kamu, takut bolos kayak kemaren-kemaren!" timpalnya tanpa mau menatap wajah Liona.
"Terus?" tanya Liona lagi.
"Sebelum saya sempat manggil dan negur, kamu udah keburu keluar!" timpalnya.
Mendengar penjelasan Kaisar yang berdusta, Liona angguk-angguk kepala. Ia memasang ekspresi meyakinkan, seolah percaya pada dosennya itu.
Selanjutnya, "Kirain Bapak tadi ngintipin saya sampe ngiler-ngiler karena kepengen," kata Liona dengan pelan.
Semakin melotot lebar mata Kaisar, saking lebarnya, mata itu seperti biji jengkol super yang di jual di supermarket.
"Jangan asal ngomong ya kamu, nanti di denger orang. Bisa-bisa nama saya jadi jelek," kata Kaisar. Menyangkal perkataan Liona yang menuduhnya mengintip.
Meskipun yang dikatakan Liona sesuai fakta, tetap saja Kaisar tak mungkin mengaku. Jika sampai mengaku, mau di taruh di mana wajahnya yang ganteng itu.
Wibawanya sebagai dosen galak yang irit bicara bisa jatuh dan runtuh. Jadi sebisanya, ia akan menyangkal tuduhan Liona.
Liona yang dikatakan asal bicara, justru tersenyum menggoda dan semakin memepet Kaisar hingga tubuhnya terpojok ke dinding koridor yang sepi.
Selanjutnya, gadis itu berbisik. "Pak Kai gak usah malu, saya tahu kok kalau Bapak ngintipin saya. Kalau mau, saya bisa lihatin semuanya khusus buat Bapak...."
Gluk!
Kaisar meneguk ludah, jakunnya naik turun. Jaraknya dan Liona begitu dekat, bahkan dada kenyal Liona yang di balut singlet ketat, menempel di tubuh Kaisar.
Wangi keringat bercampur parfum sukses membuat pertahanan Kaisar goyah dan nyaris runtuh.
Namun, gengsi Kaisar sebagai dosen yang terkenal galak, irit bicara dan sulit di dekati wanita membuatnya langsung menepis tubuh Liona.
Bahkan, pria itu tak hanya menjauhkan tubuh Liona darinya. Tetapi juga mengancam akan memberikan nilai E pada gadis nakal itu.
"Jaga sikap kamu, Liona. Jangan bersikap kurang ajar, atau saya akan memberikan nilai E untuk kamu!" kata Kaisar dengan suara tertahan.
Mendengar perkataan bernada mengancam yang dilontarkan Kaisar, Liona bukannya takut tetapi justru tertawa renyah.
"Haha... nilai E gak masalah, asal Bapak jadi pacar saya!"
Tubuh Kaisar menegang. Tak menyangka jika Liona berani bersikap lancang dan berbicara sembarangan padanya.
Padahal, selama ini tidak ada satupun mahasiswa yang berani bertatapan langsung dengannya. Apalagi bersikap kurang ajar.
"Gimana, Pak? Mau lihat yang lebih bagus dari tadi enggak?" tanya Liona. Berbisik pelan pada Kaisar yang terlihat tegang.
"Sekali lagi saya tegaskan, jangan bersikap lancang! Jaga batasan kamu, Liona!"
Lagi, Kaisar membentak Liona yang tidak ada takut-takutnya.
"Bapak gak usah pura-pura kayak gitu, saya tahu kok apa yang sebenernya Bapak butuhkan! Sikap dingin dan galak Bapak, sama sekali gak mempan buat saya!"
Kaisar yang menyadari momen ini tidak bisa datang dua kali, ingin segera melumat gadis itu. Namun, suara lemparan bola basket di lapangan utama membuyarkan lamunan mereka, sehingga Kaisar memilih pergi lebih dulu ke ruangannya.
Bersambung....
Keadaan rumah tahanan menjadi kacau. Ryuga yang nyaris sekarat pasca menegak racun mematikan, dibawa oleh petugas kepolisian menuju klinik terdekat. Keadaan pria itu saat ini benar-benar memprihatinkan. Tubuhnya membiru, wajahnya belepotan darah, serta kedua tangannya meremas erat perutnya sendiri. Saking eratnya remasan pria itu, urat-uratnya sampai menonjol dan terlihat dengan jelas. "Cepat, cepat bawa ke ruangan IGD!" Begitu turun dari mobil, tubuh Ryuga segera diangkat dan dipindahkan ke atas brankar. Lalu, perawat yang menyambutnya langsung mendorong brankar tersebut menuju ruangan IGD. Di atas brankar yang melaju dengan cepat, Ryuga yang masih sadar tetapi sudah tidak dapat melakukan apapun, tampak menitikkan air mata. Tatapan matanya begitu redup, menunjukkan jika saat ia benar-benar berada di ambang kematian. "Di kehidupan selanjutnya, aku gak mau lahir dan berada di tengah-tengah keluarga Prasetya lagi. Aku mau hadir dan besar di dalam keluarga utuh yang hangat dan
"Kai, awas!" Srek! Jleb! Sepasang mata Tuan Reynald mendelik lebar, kedua tangannya terkepal erat kala punggungnya dihujam oleh senjata tajam yang ada di tangan Ryuga. Melihat Tuan Reynald menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Kaisar, Ryuga tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... mati kamu, tua bangka sialan!" Pria itu mencabut belati yang menancap di punggung Tuan Reynald, lalu kembali menusuknya sebanyak beberapa kali. Melihat keadaan semakin kacau, petugas kepolisian yang kecolongan segera bertindak. Mereka meringkus dan melumpuhkan Ryuga yang menggila tidak terkendali. Liona dan Bu Elyana spontan memekik dengan keras, syok melihat tindakan Ryuga yang amat kejam dan mengerikan. "Argh... Ryuga, kamu gila!" jerit Liona sembari menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Pa, bawa Liona pergi dari sini sekarang. Jangan biarin dia lihat semuanya!" kata Kaisar, meminta Pak Baskoro membawa Liona pergi dari tempat tersebut. Pak Baskoro mengangguk, lalu seger
"Hahaha... kalian semua harus mati, kalian harus mati! Aku bakal ngirim kalian ke neraka satu persatu, termasuk kamu, laki-laki brengsek yang udah membuat hidup ibuku menderita!" Ryuga tertawa dengan keras, sedangkan tangannya bergerak, mendorong kasar tubuh Tuan Reynald. Saking kerasnya membuat tubuh pria separuh baya itu membentur tembok. Melihat sikap kasar Ryuga secara langsung, semakin syok dan kaget Tuan Reynald dibuatnya. Benarkah putranya yang pendiam, terlihat lemah dan penurut selama ini ternyata begitu kejam? "Ryuga, kenapa kamu lakukan semua ini?" tanya Tuan Reynald dengan wajah memerah dan sepasang mata berair. Ryuga yang tertawa-tawa seperti orang gila, menatap tajam Tuan Reynald yang bertanya padanya. Pria itu menghentikan gelak tawanya, lalu mendekati Tuan Reynald dan mencengkeram erat bagian depan kemeja yang dipakainya. "Kenapa? Kamu tanya kenapa?" tanya Ryuga dengan suara tertahan. "Setelah kamu buat ibuku menderita dan mati dalam kesedihan, kamu masih berani
"Kamu benar! Setelah ini kamu memang harus keluar dari kediaman Prasetya, dan aku akan pastikan selamanya kamu akan mendekam di balik jeruji besi!" Suara datar dan dingin milik Kaisar yang terdengar lantang, spontan membuat sepasang mata Tuan Reynald melotot lebar. Begitu pula dengan Ryuga sendiri. "Kai, apa maksudnya semua ini?" kata Tuan Reynald. Bertanya pada Kaisar yang menatap tajam Ryuga. Kaisar tak menjawab pertanyaan Tuan Reynald. Ia justru memberikan perintah pada petugas kepolisian untuk segera meringkus Ryuga sebelum kembali membuat ulah. Petugas kepolisian melangkah maju, lalu menunjukkan surat penangkapan pada Ryuga. "Pak Ryuga, Anda resmi kami tahan atas kasus pembunuhan berencana terhadap Tuan Jayden!" Suara tegas milik petugas kepolisian, membuat sepasang mata Ryuga semakin melotot lebar. Saking lebarnya seperti mau melompat dari tempatnya berada. "Apa-apaan ini? Saya gak bersalah, gak gak ngerti maksud kalian!" kata Ryuga. Menolak saat hendak diringkus dan di
"Jangan pukul lagi, Kai. Aku bener-bener minta maaf...." "Kaisar, apalagi yang mau kamu lakukan?!" Suara keras dan lantang milik Tuan Reynald yang berasal dari ujung lorong rumah sakit itu, membuat Kaisar seketika memejamkan matanya seraya menghela napas kasar. Wajah pria itu semakin memerah. Jelas jika ia sangat kesal saat ini, Ryuga benar-benar membuatnya muak. Sedangkan Ryuga sendiri, menyunggingkan sudut bibirnya. Ia tersenyum puas karena berhasil membuat Kaisar terlihat semakin buruk di hadapan ayahnya. "Hegh, jangan pikir bisa ngalahin aku, Kai. Aku bakalan ngerebut apapun yang kamu miliki, termasuk Liona dan bayinya," kata Ryuga dengan suaranya yang pelan dan terdengar lembut. Mulut pria munafik itu benar-benar beracun. Pintar sekali berakting dan berbohong di hadapan banyak orang, bahkan sangat cocok diberi julukan raja acting dan juga mendapatkan penghargaan piala oscar. Tak suka nama Liona dan calon anaknya disebut, Kaisar yang semakin tersulut emosi itu pun mengangka
"Segera lakukan autopsi, Dokter. Siapapun yang berani menghalangi, akan menjadi musuhku!"Mendengar perkataan Kaisar, Dokter menganggukkan kepalanya. Seperti yang diperintahkan, pemakaman Tuan Jayden akan ditunda dan akan segera dilakukan autopsi menyeluruh pada jasadnya.Tuan Reynald menghela napas panjang. Pusing menghadapi sifat Kaisar yang begitu keras kepala dan selalu bersikap semaunya sendiri. Sedangkan Ryuga, diam-diam mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh. Kepalanya tertunduk, bersikap seolah ia sangat sedih dan terpukul atas kepergian sang kakek."Sial, lagi-lagi dia mengacaukan semuanya. Kayaknya aku harus mempercepat rencana." Kaisar yang berdiri di samping istri dan mertuanya, diam-diam mengamati gelagat Ryuga. Bahkan perhatiannya tak lepas dari anak selingkuhan ayahnya itu. "Kaisar harus mati, aku bakal menyingkirkan dia secepatnya supaya gak ada lagi orang yang bisa menghalangi tujuanku," gumam Ryuga. Di saat dokter dan tim sibuk mengurus jenazah Tua
"Egh, ketemu Liona di sini. Sama siapa kamu?" Diana, dosen Liona di kampus yang menyukai Kaisar, menenteng barang belanjaannya mendekati Liona yang berdiri di depan sebuah toko pakaian. Melihat Diana mendekat ke arahnya dengan gaya genit dan centil yang dibuat-buat, Liona memutar bola matanya mal
Sudah satu jam lamanya Liona berada di depan apartemen Kaisar. Bahkan sudah puluhan kali pula ia mencoba menghubungi nomer sang kekasih, tetapi tak kunjung mendapatkan jawaban. "Pak Kai kemana sih? Di sini gak ada, di telepon juga gak diangkat. Apa dia sengaja gak respon panggilanku?" gumam Liona.
Liona yang baru saja kembali ke kediaman orang tuanya, memasuki rumah dengan langkahnya yang gontai, sedangkan wajahnya terlihat lesu dan murung. "Na, kenapa? Kok mukanya ditekuk gitu?" Tiba di ruang tengah, Liona disambut oleh pertanyaan Bu Elyana yang duduk di salah satu sofa bersama Pak Baskor
Di kontrakan Ceci, di sanalah kini Liona berada. Seperti perkataan Kaisar semalam jika ia tidak boleh tinggal di apartemen, jadi ia yang pergi dari rumah, tinggal untuk sementara waktu di kontrakan sahabatnya. Tekadnya sudah bulat, tak akan pulang jika tantenya masih berada di rumahnya. Namun, di







