Mag-log inKaisar yang sudah membersihkan diri, kembali ke ruangannya lagi dengan kondisi yang jauh dari kata baik-baik saja. Wajahnya terlihat kusut dan lesu, bayangan bentuk tubuh Liona dan momen di ruang ganti terus menghantui, membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih.
Meskipun sudah mandi, tetap saja tak dapat meredam gairah yang sedang menguasai tubuhnya.
"Huh, astaga, ayolah, Kai!" Kaisar duduk di kursi, lalu tangannya menyapu area wajahnya dengan kasar.
Lekuk tubuh Liona benar-benar membuatnya merasa gila. Rasanya, ingin sekali ia menyentuh tubuh gadis nakal itu dan menikmatinya.
Namun, tak mungkin ia langsung setuju dengan tawaran Liona yang ingin menyenangkannya. Jika sampai ia setuju, mau di taruh di mana wajahnya? Harga dirinya bisa jatuh saat itu juga, dan dianggap pria murah.
"Fokus, fokus," kata Kaisar pada dirinya sendiri. Berusaha menyingkirkan bayangan Liona dari mata dan pikirannya.
Semakin ia berusaha untuk menyingkirkan bayangan elok tubuh Liona, nyatanya bayangan itu malah semakin tergambar jelas, seperti rekaman yang melekat di isi kepalanya.
Brak!
"Shit!" Kaisar mengumpat sembari menggebrak meja.
Bukan hanya lekuk tubuh Liona yang tidak dapat disingkirkan dari pikirannya, tetapi juga senyuman menggoda gadis itu.
Pikirannya kini benar-benar kacau. Ditambah lagi, kejadian dua hari yang lalu, di mana ia bertemu dengan mantan tunangan dan mantan sahabatnya di sebuah gedung perbelanjaan.
Setelah pertemuan itu, kenangan buruk masa lalu kembali melintas seperti siluet yang berputar-putar di otaknya.
"Maaf, Kai. Aku gak bisa nikah sama kamu, karena aku lebih cinta sama Hardi. Jadi, kita batalin aja pertunangan kita!"
Perkataan menyakitkan mantan tunangannya, mungkin tak akan pernah dapat dilupakan oleh Kaisar. Terlebih lagi, pria yang dipilih oleh tunangannya di masa lalu adalah sahabatnya sendiri. Dua orang yang ia sayangi dan cintai, tega mengkhianati dan menghancurkan kepercayaannya hingga ke dasar.
Sakit dan perih, hatinya hancur pada saat itu. Bertahun-tahun Kaisar berusaha untuk membalut luka dan menambal hatinya. Namun, setelah sekian lama, dua orang yang telah mengkhianatinya tiba-tiba kembali dan membuka luka lama.
"Argh... sial, sial!" umpat Kaisar yang kembali mengingat kenangan masa lalunya.
Saat ini, ia membutuhkan pelarian, membutuhkan tempat dan situasi yang menyenangkan untuk menenangkan pikiran. "Gak bisa, aku bisa kayak gini terus. Aku harus bisa ngelupain semuanya."
Karena sudah kalut, Kaisar berjalan santai menuju parkiran, masih dengan ekspresi wajahnya yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.
Saat Kaisar hendak memasuki mobilnya, seseorang memanggilnya dan membuatnya berhenti.
"Kai!"
Kaisar menoleh, menatap orang yang memanggilnya.
"Ar," ucap Kaisar. Membalas panggilan teman satu profesinya.
"Kenapa? Muka kamu kok kusut banget, kayak keset kaki di rumahku!" celetuk Aryo, teman sesama dosen.
Ditanya, Kaisar menghela napas kasar. Ia mengeluarkan bungkusan rokok dan pematik apinya, lalu menyandarkan punggungnya di pintu mobil.
"Pusing, pikiranku kacau," kata Kaisar. Menjawab dengan santai tetapi bernada lesu.
"Kamu butuh hiburan, Kai. Lemesin otot dan otak, jangan tiap harinya bergaul sama tumpukan buku dan berkas mulu," kata Aryo. "Mendingan kamu pergi club butterfly, minum dan happy-happy, sekalian minta temenin sama cewek cantik!" imbuhnya.
Mendengar perkataan Aryo, Kaisar yang biasanya selalu serius, menoleh dan menatap wajah temannya itu dengan kening berkerut dan alis bertautan.
"Cewek?" tanyanya kemudian.
Aryo mengangguk. "Hmm, kupu-kupu malam! Murah kok, gak habis puluhan juta semalam! Lagian, uangmu banyak, jadi dosen cuma buat sampingan aja, kan?"
Teman dari Kaisar itu tersenyum sembari menepuk pundaknya pelan. "Sst, diam dulu, nggak ada yang tahu kalau aku punya perusahaan!"
"Aman, ga ada orang di sini, ga ada yang tahu kamu itu orang kaya!" Aryo kembali menepuk pundak Kaisar, bahkan merangkulnya. "Club Butterfly, ya?"
"Yaudah, lagian aku stress juga!"
Tapi mereka berdua tidak sadar, Liona ternyata baru sampai di balik tembok itu. Dia memang tidak sempat mendengar pengakuan Aryo kalau Kaisar adalah seorang CEO, tapi Liona berhasil mencuri satu informasi penting..
"Club Butterfly, hehe. Malam ini, gue gak bakalan ngelepasin Pak Kai!"
.
.
.
Club butterfly, di sanalah kini Kaisar berada. Pria itu baru saja turun dari mobilnya dan melangkah memasuki tempat tersebut.
Di dalam club itu, Kaisar mengedarkan pandangannya. Kemerlap lampu dan kerasnya musik yang berdentam-dentam di telinga, seolah tak mengusiknya sama sekali.
Dengan santai, Kaisar menuju sofa kosong dan mendaratkan bokongnya di sana. Lalu memanggil bartender dan memesan minuman.
Baru saja duduk dan memesan minum, seorang wanita cantik berpakaian seksi datang menghampiri.
Wanita itu adalah Baby Liona, gadis nakal yang sebelumnya membuat tubuh Kaisar panas dingin.
"Hai, Pak Kai. Mau Baby temenin enggak?" tawar Liona. Suaranya keras, menusuk indra pendengaran Kaisar.
Melihat wajah Liona, melotot lebar mata Kaisar. Bahkan matanya seperti mau melompat dari cangkangnya.
"Liona, ngapain kamu di sini?" tanya Kaisar. Suaranya tak kalah keras, bahkan ekspresinya terlihat kaget.
Liona menyengir kuda, lalu menggigit bibir bawahnya. Matanya mengerling, bermaksud menggoda Kaisar.
"Ngapain kamu di sini?" Kaisar kembali bertanya, sedangkan matanya yang melotot masih saja menatap dan memperhatikan penampilan Liona yang luar biasa menggoda.
"Ngapain lagi? Ya cari pelanggan lah, Pak," jawab Liona sembari memajukan tangannya dan mencolek dada Kaisar.
Kepala Kaisar menggeleng. Ia tak menyangka jika Liona yang berstatus sebagai mahasiswi bisa bekerja di tempat hiburan malam seperti itu.
"Bapak ke sini mau ngapain? Nyari ani-ani?" tanya balik Liona. "Eum... gimana kalau sama Baby aja?" tawarnya.
Bibirnya berbicara, sedangkan tangannya bergerak kemana-mana. Menyentuh wajah dan dada bidang Kaisar yang di balut oleh kemeja.
Disentuh dan diraba-raba, Kaisar menepis tangan gadis nakal itu dan menjauhkannya.
"Baby temenin, mau ya...." bujuk Liona sembari memajukan bibirnya.
Melihat bibir seksi Liona yang berwarna pink, Kaisar meneguk ludah. Jakunnya kembali naik turun seperti siang tadi.
Bayangan tubuh Liona saat berada di ruang ganti, kini kembali melintas di otak dan pikiran Kaisar.
Dan, pada akhirnya ia pun bertanya. "Berapa semalam?"
Liona menyeringai. Lalu dengan santai dan percaya diri ia menjawab. "50 juta, gimana? Bapak mau gak?"
Bersambung....
"Buset dah Pak Kai, usaha satu jam giliran main tiga menit langsung crot!" Wajah Kaisar memerah, sedangkan matanya melotot lebar. Saking lebarnya, mirip seperti anak sapi yang tersedak air susu induknya. "Ka—" "Gak asik banget. Baru juga mau rileks, egh udah selesai aja." Liona kembali berbicara, bahkan membuat kalimat yang baru saja akan keluar dari mulut Kaisar langsung terpotong. Dari ekspresi dan reaksi Liona, ia benar-benar tidak puas dengan permainan yang dipimpin oleh Kaisar."Dasar gak berguna, badan gede, perut sixpack dan muka ganteng, ternyata lemah, gak tahan lama!" sungut Liona dengan wajah yang terlihat dongkol. Berkedut-kedut bibir Kaisar. Tak terima diolok dan dimaki oleh Liona yang tidak puas dengan permainannya. "Saya udah pengen dari tadi, Liona. Tapi kamu terlalu banyak omong. Untung gak tumpah di luar sebelum masuk," kata Kaisar. Ia yang sejak tadi dimaki akhirnya angkat bicara. Liona melipat kedua tangannya di dada, lalu mendengus keras dan membuang muka.
"Pak, ini gimana? Masa saya yang harus masukin punya Bapak ke punya saya. Kan kesannya Bapak jadi pihak yang gak berguna!" Perkataan Liona yang mengatakan 'pihak tak berguna' membuat Kaisar yang memejamkan mata dengan deru napas naik turun, membuka mata dan menatap gadis itu. Ia menghela napas panjang. Rasanya jengkel dikatakan tidak berguna. Dan, ini adalah kali keduanya Kaisar dikatakan wanita seperti itu, pertama dikatakan tidak berguna oleh wanita masa lalunya. Dan kali keduanya dikatakan oleh Liona, mahasiswi barbar di kampus tempatnya mengajar. "Saya bayar kamu loh, 15 juta! Bisa-bisanya kamu nyuruh saya yang kerja," kata Kaisar sembari beringsut dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Harga pasaran pelacur di club butterfly cuman 1 sampe 5 juta, lah kamu saya beli tiga kali lipat. Pilih kamu, saya kira bakalan dapat lebih, ternyata lebih parah, saya masih harus capek-capek kerja!" Liona memajukan bibirnya. Sebenarnya bukan tak mau melakukannya, tetapi ia merasa ng
"Panjang banget, Pak. 19,5 centi, emangnya muat kalau dimasukin ke punya saya yang masih sempit dan legit ini?" Liona yang syok setelah mengukur panjang batangan tegang milik Kaisar, meneguk ludah dengan bersusah payah. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Kaisar yang tersenyum tipis. Gadis itu tak menyangka jika Kaisar yang bertubuh atletis dengan otot perut delapan kotak, memiliki panjang burung yang luar biasa untuk ukuran warga lokal. "Sempurna... muka ganteng kayak ayang Jongki, badan gede tinggi, perut kotak-kotak, dan ternyata burungnya ukuran jumbo," ucap Liona dalam hati."Kenapa? Kamu takut, hmm!" tanya Kaisar dengan santai. Bibirnya masih saja tersenyum tipis. Kepala Liona menggeleng pelan. "Enggak, cuman kaget aja. Punya Bapak besar dan panjang, mirip sama punya cowok-cowok yang ada di film biru, hee!" celetuknya. Gadis nakal itu terkekeh, hingga Kaisar meringis di buatnya. "Jadi, kamu sering lihat film biru?" tanya Kaisar dengan santai sembari mengambil alih penggaris
"Kapan mulainya, Pak? Saya udah gak tahan mau nyobain gaya baling-baling bambu dan kodok berenang!"Liona tak hanya sekedar berbicara, tetapi sambil bergerak maju dan memepet Kaisar yang duduk bersandar di kepala ranjang. Perlahan, ia melepaskan telapak tangannya dari mulut pria itu.Tingkah laku dan perkataan absurd gadis itu membuat Kaisar geleng-geleng kepala. Pikirnya, apakah Liona memang terlahir tanpa urat malu hingga membuatnya tak memiliki rem jika berbicara."Ayo kita ML," ajak Liona. Berbisik lembut di telinga Kaisar.Gluk!Kaisar meneguk ludah dengan bersusah payah. Hembusan hangat napas Liona yang menyapu telinga, membuat darahnya berdesir.Tak ingin dikatakan expired dan dianggap tak mampu, Kaisar pun memeluk pinggang ramping gadis nakal itu dan menarik tubuhnya hingga merapat tanpa jarak dengannya."Hmm, saya jadi pengen lihat, seliar apa sebenernya kamu," kata Kaisar. Suaranya pelan, sengaja ditahan.Liona menggigit bibir bawahnya. Sedangkan tatapan matanya tertuju pada
"50 juta semalam, gimana? Bapak mau gak?"Liona berbicara dengan santai, tetapi terdengar serius dan begitu percaya diri. Ia memberikan harga yang tidak main-main untuk tarif seorang wanita penghibur di club tersebut pada dosennya.Mendengar harga yang disebutkan, Kaisar menatap wajah cantik gadis nakal yang berbicara padanya. Ekspresinya terlihat aneh, tak percaya pada Baby Liona yang menawarkan diri dengan harga begitu tinggi."Mau gak, Pak?" tanya Liona. Alisnya naik turun, sedangkan tangannya menyentuh dan mengusap bahu Kaisar menggunakan telapak tangannya yang halus.Bibirnya tersenyum menggoda pada Kaisar yang masih saja menatap dan memperhatikan wajahnya tanpa berkedip."Kalau bapak setuju, saya jamin gak akan rugi," lanjut Liona. Tangannya masih saja mengusap-usap bahu Kaisar. Tingkahnya benar-benar mirip seperti wanita liar yang gatal.Berkerut kening Kaisar. Gadis di hadapannya menawarkan harga 50 juta semalam? Ah, yang benar saja.Pikir Kaisar, apakah bagian gadis itu terbu
Kaisaryang sudah membersihkan diri, kembali ke ruangannya lagi dengan kondisi yangjauh dari kata baik-baik saja. Wajahnya terlihat kusut dan lesu, bayanganbentuk tubuh Liona dan momen di ruang ganti terus menghantui, membuatnya takdapat berpikir dengan jernih.Meskipunsudah mandi, tetap saja tak dapat meredam gairah yang sedang menguasaitubuhnya."Huh,astaga, ayolah, Kai!" Kaisar duduk di kursi, lalu tangannya menyapu areawajahnya dengan kasar.Lekuktubuh Liona benar-benar membuatnya merasa gila. Rasanya, ingin sekali iamenyentuh tubuh gadis nakal itu dan menikmatinya.Namun,tak mungkin ia langsung setuju dengan tawaran Liona yang ingin menyenangkannya.Jika sampai ia setuju, mau di taruh di mana wajahnya? Harga dirinya bisa jatuhsaat itu juga, dan dianggap pria murah."Fokus,fokus," kata Kaisar pada dirinya sendiri. Berusaha menyingkirkan bayanganLiona dari mata dan pikirannya.Semakinia berusaha untuk menyingkirkan bayangan elok tubuh Liona, nyatanya bayanganitu mala







