LOGIN"Kapan mulainya, Pak? Saya udah gak tahan mau nyobain gaya baling-baling bambu dan kodok berenang!"
Liona tak hanya sekedar berbicara, tetapi sambil bergerak maju dan memepet Kaisar yang duduk bersandar di kepala ranjang. Perlahan, ia melepaskan telapak tangannya dari mulut pria itu. Tingkah laku dan perkataan absurd gadis itu membuat Kaisar geleng-geleng kepala. Pikirnya, apakah Liona memang terlahir tanpa urat malu hingga membuatnya tak memiliki rem jika berbicara. "Ayo kita ML," ajak Liona. Berbisik lembut di telinga Kaisar. Gluk! Kaisar meneguk ludah dengan bersusah payah. Hembusan hangat napas Liona yang menyapu telinga, membuat darahnya berdesir. Tak ingin dikatakan expired dan dianggap tak mampu, Kaisar pun memeluk pinggang ramping gadis nakal itu dan menarik tubuhnya hingga merapat tanpa jarak dengannya. "Hmm, saya jadi pengen lihat, seliar apa sebenernya kamu," kata Kaisar. Suaranya pelan, sengaja ditahan. Liona menggigit bibir bawahnya. Sedangkan tatapan matanya tertuju pada wajah tampan Kaisar yang mampu membuat jantungnya berdebar-debar dan rahimnya bergetar-getar. Cup! Kaisar yang memeluk pinggang ramping Liona, memajukan wajahnya dan mengecup bibir tipis gadis itu. Membuatnya spontan memejamkan mata. Namun, Liona yang memejamkan mata, di buat melotot lebar. Spontan, ia mendorong dada Kaisar agar menjauh darinya. "Aw, sakit... kenapa bibirnya digigit? Bapak gimana sih? Bisa main enggak?" pekik Liona dengan wajah memerah. Bagaimana tidak? Kaisar bukan memagut bibir Liona, melainkan menggigitnya dengan agak keras hingga membuatnya memekik lantaran merasakan sakit. Di dorong tubuhnya dengan kasar, mendelik mata Kaisar. Ia menatap tajam pada Liona sembari mengusap bibirnya yang terasa hangat dan lembab. "Jangan teriak-teriak, kuping saya sakit denger suara cempreng kamu. Lagian cuman digigit dikit, bukannya saya kunyah," kata Kaisar. Menangapi perkataan Liona dengan ekspresi datar seperti manusia tanpa dosa. Liona mendengus keras seperti kerbau. Untuk pertama kali bibirnya dicium oleh seorang pria, tetapi bisa-bisa digigit dan dibuat sakit. Pikirnya, sikap Kaisar yang sudah tua sama sekali tidak ada manis-manisnya. "Sakit tahu, Pak. Ciuman pertama yang saya pikir enak dan nikmat, ternyata diluar ekspektasi. Gara-gara bapak, bibir saya jentor, rasanya kayak disengat lebah." Liona berbicara sembari menyentuh dan mengusap-usap bibirnya yang terasa sakit. Kaisar yang sebenarnya sudah berhasrat sejak tadi, mengusap tengkuk lehernya. Jujur, sebenarnya ia sedang gugup. Namun sebisa mungkin ia bersikap santai di hadapan Liona yang terlihat liar dan nakal lantaran tak ingin dicap sebagai pria lemah. "Mau dilanjutin atau enggak?" tanya Kaisar. Matanya menatap Liona yang masih saja mengusap bibirnya. Kepala Liona mengangguk, lalu ia mendekatkan wajahnya pada Kaisar dan hendak mengulangi pagutan mereka. Namun, Kaisar yang akan dicium oleh Liona justru mengangkat kepalanya dan mendongak, hingga membuat gigi Liona terbentur ke dagunya. Pletak! "Aduh... Liona, kamu niat gak sih? Bisa-bisanya gigi kamu nyosor dagu saya? Bibir saya di sini, bukan di dagu!" Mengerucut bibir Liona. Tak mau disalahkan oleh Kaisar yang tidak bisa diam. "Ih, Bapak yang gak niat, kok nyalahin saya! Bapak sendiri loh yang dongak waktu mau saya cium!" kata Liona. Menimpali aksi protes yang keluar dari mulut Kaisar. Ingin melakukan hubungan badan dan menikmati malam panas berdua, tetapi kedua anak manusia berbeda usia itu justru tak hentinya berdebat dan adu mulut. "Gara-gara Bapak gigi saya kayak mau rontok! Awas ya, kalau sampe gigi saya patah atau copot, Bapak harus tanggungjawab!" tunjuk Liona pada wajah tampan Kaisar. Bibir Kaisar berkedut-kedut, "Enak aja kamu! Lihat nih, tulang rahang dan dagu saya hampir geser gara-gara kamu gak becus!" balas Kaisar dengan mata melotot. Keduanya saling menyalahkan, padahal gerakan mereka sama-sama kaku dan amatir. Cukup lama berdebat, akhirnya Liona dan Kaisar kembali mengulangi pagutan mereka. Kali ini, bibir Liona dan Kaisar benar-benar bertautan. Mereka saling mengecap dan melumat dengan mata yang sama-sama terpejam. Meskipun gerakannya sama-sama kaku, tetapi keduanya tetap menikmati kegiatan panas mereka. "Egh, ugh...." Setelah pagutan itu terlepas, Liona melenguh pelan. Sedangkan matanya menatap sayu pada Kaisar. Sedangkan Kaisar, tampak meneguk ludah dengan kasar. Jakunnya naik turun, menunjukkan jika ia sudah benar-benar berhasrat dan bergairah. "Buka!" titah Kaisar pada Liona yang berada di hadapannya. "Apanya?" tanya Liona. Kaisar menghela napas. "Bajunya, apalagi?!" "Oh, kirain bukain celana Bapak!" celetuk Liona. Ia menyengir, lalu membuka pakaiannya dengan cepat. Begitu melihat bentuk tubuh indah, putih dan mulus Liona yang hanya dibalut oleh dalaman, Kaisar dibuat melotot tak berkedip. "Dadanya emang gak besar, tapi bentuknya bener-bener bagus, padat dan bulat," ucap Kaisar dalam hati. Gluk! Ia meneguk ludah dengan kasar. Hasrat cabulnya meronta, ingin segera menerkam dan memakan mangsa yang saat ini ada di depan mata. "Jangan ngiler kayak gitu, Pak. Saya tahu kok kalau saya cantik dan menggoda," kata Liona. Dengan sengaja, ia membusungkan dadanya hingga menempel ke wajah Kaisar. Tak tahan melihat tubuh Liona yang menggoda, Kaisar pun segera merengkuh tubuhnya hingga merapat tanpa jarak padanya. "Gadis nakal, lihat apa yang bakal saya lakukan," ucap Kaisar. Bibirnya berbicara sedangkan tangannya naik turun di punggung Liona, mencari pengait bra gadis itu dan melepasnya. Melihat dada Liona yang berisi dan padat tanpa penghalang, Kaisar semakin berhasrat. Dengan sentuhan jemarinya yang lembut, ia menyentuh dan mengusap bukit gadis itu secara bergantian. "Ugh... geli tapi enak, Pak." Liona melenguh dan menggeliat seperti cacing kepanasan saat Kaisar memainkan kedua bukitnya. Setuhan yang diberikan Kaisar membuat tubuh Liona serasa melayang. Ia terhanyut dalam kenikmatan sesat yang selama ini membuatnya penasaran. "Setelah ini, saya bakal bikin kamu semakin keenakan," bisik Kaisar. Suaranya terdengar berat dan agak serak, sedangkan tangannya masih saja bergerak, menggerayangi tubuh polos Liona yang menggoda. "Ah, sakit...." Liona yang semula dibuat keenakan dengan sentuhan jemari Kaisar, tiba-tiba menjerit saat Kaisar menggigit pucuk salah satu buktinya. "Ah, jangan digigit. Sakit, Pak Kai!" jerit Liona lagi sembari menahan kepala Kaisar yang berada di dadanya. "Hust, diam, Liona!" Kaisar mendongak dan meminta Liona untuk diam. "Jangan digigit dong, nanti pucuknya copot," kata Liona dengan bibir cemberut. Batin gadis nakal itu, Kaisar benar-benar payah. Dasar bujang lapuk, gerakannya kaku seperti robot. "Kalau gitu, kamu yang gerak dan kerja, biar saya yang menikmati. Layani dan puaskan saya, Liona," ucap Kaisar. Sudut bibirnya tersungging, sedangkan matanya menatap Liona yang sedang mengusap-usap dadanya. Mendengar perkataan Kaisar, mengerucut bibir Liona. Ia menatap kesal pada pria kaku itu. "Yang saya lakuin ke kamu tadi, anggap aja pemanasan. Setelah ini kamu yang gerak dan nyenengin saya," kata Kaisar. Liona mengangguk, masih dengan bibirnya yang cemberut. Ia yang berbaring dengan tubuh polos, beranjak perlahan dan duduk di hadapan Kaisar. Sedangkan Kaisar sendiri, membuka pakaiannya dengan santai. Batinnya, malam ini sepertinya ia akan benar-benar melakukan hubungan intim dengan murid nakalnya tanpa memiliki hubungan dan status apa-apa. Setelah menanggalkan seluruh pakaiannya, Kaisar kembali mendekati Liona dan memperlihatkan tubuh sixpacknya yang memiliki delapan kotak-kotak. "Buset, banyak banget kotaknya!" Melihat otot-otot di perut Kaisar, melotot lebar mata Liona. Bahkan air liurnya hampir menetes lantaran ngiler dan terpesona. Rasa perih di pucuk dadanya akibat gigitan Kaisar sebelumnya, seolah tak ia rasakan. Tanpa malu, ia tersenyum cabul sembari memajukan tangannya. Lalu meremas-remas otot dada Kaisar dengan gemas. Namun, gerakannya seketika terhenti lantaran melihat tongkat batangan Kaisar yang menegang dan berdiri kokoh di hadapannya. Gadis nakal itu meneguk ludah. Lalu beringsut dari posisinya, meraih tas di atas nakas dan mengeluarkan sebilah penggaris dari sana. Selanjutnya, ia kembali mendekati Kaisar yang terlihat tenang, tidak tegang seperti batangnya. "Ma-ma-maaf, Pak. Sa-sa-saya mau mastiin sesuatu," ucap Liona terbata. Kening Kaisar berkerut membuat kedua alisnya bertautan. Penasaran dengan fungsi penggaris yang ada di tangan Liona, pikirnya apa yang akan dilakukan oleh gadis itu? Namun, rasa penasaran Kaisar seketika berganti dengan keheranan. Bahkan, ia sampai menepuk jidat dan geleng-geleng kepala karena perbuatan konyol Liona. "Onde mak... pa-pa-panjangnya 19,5 centi, Pak. Emangnya bisa masuk ke punya saya yang masih sempit dan legit ini?" Bersambung...."Gak mungkin, semua ini gak mungkin. Aku gak mungkin mandul!" Bella yang keluar dari ruangan dokter bersama Haris, menangis histeris dengan tangan menggenggam erat surat hasil pemeriksaan. Selama ini, wanita itu selalu menghina Haris dan mengatakan jika suaminya mandul. Namun, hasil pemeriksaan dokter justru menamparnya. Ternyata bukan Haris yang mandul, tetapi kesehatan dan kesuburannya yang bermasalah. "Aku gak mungkin mandul...." Bella menyandarkan punggungnya di tembok koridor rumah sakit. Ia syok, tak mau menerima kenyataan yang ada di depan mata. Sedangkan Haris yang berdiri di hadapan Bella, terlihat begitu puas dan lega. Ia merasa senang melihat keadaan istrinya saat ini. Selama ini, wanita itu selalu berbicara kasar dan bersikap seenaknya. Dan kini, ia mendapatkan karma dari Tuhan. "Hasil pemeriksaan ini pasti salah, aku gak mungkin mandul, Mas. Gak mungkin!" kata Bella. Berbicara pada Haris yang tersenyum tipis di hadapannya. "Salah?" tanya Haris. "Hitung, berapa ka
"Kamu jangan lupa, Rey! Ryuga bertahan di rumah ini karena Adam kehilangan ingatan masa lalunya. Dan, semua itu terjadi atas campur tangan Papa! Jadi, jangan menuntut apapun lagi, karena sampai kapan pun Ryuga gak akan pernah mendapatkan status yang sah!" Tubuh Liona menegang. Ia yang tak sengaja menguping pembicaraan serius antara Tuan Jayden dan Tuan Reynald itu pun terkejut. Bahkan, wajahnya yang putih kini berubah menjadi pucat. Perkataan yang di dengarnya, membuatnya syok. Ia tak menyangka jika Ryuga bukanlah anak angkat keluarga Prasetya. "Ja-ja-jadi, Bang Ryuga beneran adiknya Pak Kai, bukan adik angkat," gumam Liona sembari melangkah mundur dari posisinya berada.Prang! Tak sengaja, wanita yang tengah hamil muda itu menyenggol sebuah guci yang berada di atas meja di dekat pintu. Hingga membuat guci itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping."Siapa?" Mendengar suara teriakan Tuan Reynald, Liona menutup rapat mulutnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, bahkan r
Seharian, Kaisar yang kesal pada Liona yang terkesan membela Ryuga, sama sekali tak menegur istrinya itu. Bahkan, sikapnya begitu dingin dan datar. "Sayang...." Liona yang duduk di atas tempat tidur, menyapa Kaisar yang baru saja memasuki kamar. Namun, Kaisar yang disapa hanya diam saja. Bahkan tak melirik apalagi menatap pada Liona yang sedang berusaha meluluhkannya. "Sayang, maaf," ucap Liona dengan pelan. Saking pelannya, suaranya lebih layak disebut sebagai gumaman. Melihat perubahan sikap Kaisar yang dingin dan datar, bahkan tak mau berbicara dengannya, Liona merasa sedih. Untuk pertama kalinya, ia melihat sifat keras hati sang suami. "Sayang, maaf... kalau gak mau maafin, aku pulang aja ke rumah Papa!"Tak mendapatkan respon dari Kaisar sejak tadi, Liona turun dari atas tempat tidur dan berteriak pada suaminya yang sedang membuka kemejanya di depan cermin. Diteriaki oleh istrinya, Kaisar menoleh, matanya melotot tajam pada Liona yang berdiri dengan kedua tangan meremas pi
"Nanti kalau Kaisar marah, gak usah di dengerin. Dia emang galak dan mudah emosi." Ryuga yang menggendong Liona di punggungnya, berbicara dengan nada bicaranya yang terdengar pelan dan santai. Ia meminta Liona untuk tidak mengambil hati jika nanti dimarahi oleh Kaisar. Bukan tanpa alasan Ryuga berbicara seperti itu. Ia yakin sekali jika setelah ini Kaisar pasti akan memarahinya dan Liona yang pergi dari rumah tanpa izin lebih dulu. "Kayaknya Bang Ryu sering dimarahin ya sama Pak Kai, jadi udah kebal," kata Liona. Menimpali perkataan Ryuga tak kalah santai. "Hmm... sebenernya bukan kebal, Na. Tapi lebih ke sadar dan tahu diri," kata Ryuga dengan bibir tersenyum kecil. Mendengar perkataan Ryuga yang bernada sedih, Liona diam. Ia yang berpegangan pada pundak adik dari suaminya itu pun tidak berbicara apapun lagi. Beberapa saat kemudian, langkah Ryuga yang menggendong Liona, tiba di depan pintu gerbang kediaman keluarga Prasetya. "Udah sampe, kamu bo—" "Bagus, bagus... baru kutin
"Liona!" Kaisar yang kembali dari rumah sakit, melangkah memasuki kamar dan mencari keberadaan istrinya. "Sayang!" panggil Kaisar lagi. Tiba di kamar, Kaisar mengerutkan keningnya, membuat kedua alisnya yang tebal bertautan. Di dalam kamar itu, ia tak mendapati keberadaan Liona. Yang ada di atas ranjang, hanya ponsel dan laptop istrinya saja."Kemana perginya bocah itu?" gumam Kaisar. Ia mengedarkan pandangannya sembari melangkah menuju kamar mandi, namun tetap tak menemukan keberadaan istrinya. "Baby Liona!" Tak mendapati keberadaan istrinya, Kaisar pun keluar dari kamar itu. Ia menuruni undakan tangga dan mencari keberadaan Liona. "Lihat istriku?" Tiba di lantai dasar, Kaisar menanyakan keberadaan istrinya pada salah satu pelayan. Ditanya, pelayan itu menggelengkan kepalanya. Tak tahu, di mana istri majikannya berada. "Tidak tahu, Tuan. Dari tadi saya di halaman belakang, bersihin tanaman!" jawab pelayan itu dengan kepala tertunduk. Mendengar jawaban pelayan itu, Kaisar m
Seminggu kemudian.... Kediaman keluarga Prasetya, di sanalah kini Liona berada. Setelah menikah beberapa hari yang lalu, ia langsung diboyong pulang ke kediaman utama keluarga Prasetya oleh Kaisar. Sengaja Kaisar lakukan semua itu. Ia ingin menjauhkan istrinya yang sedang mengandung dari Bella yang sepertinya mengalami gangguan jiwa. Pria itu tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istri dan anaknya. "Sayang, hari ini aku mau menemani kakek cek up ke rumah sakit. Kamu mau ikut?" Kaisar yang merapikan kemejanya di depan cermin, berbicara pada Liona yang duduk di atas ranjang dengan laptop menyala di hadapannya. Ditanya, Liona yang sedang menonton drama China favoritnya itu merespon dengan gelengan kepala. "Yakin gak mau ikut?" tanya Kaisar memastikan. Kepala Liona mengangguk. "Hmm... di rumah sakit bau obat, perutnya mual," katanya. Mendengar perkataan istrinya, Kaisar angguk-angguk kepala. Akhir-akhir ini, hidung Liona memang semakin sensitif dengan aroma dan bau
"Panjang banget, Pak. 19,5 centi, emangnya muat kalau dimasukin ke punya saya yang masih sempit dan legit ini?" Liona yang syok setelah mengukur panjang batangan tegang milik Kaisar, meneguk ludah dengan bersusah payah. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Kaisar yang tersenyum tipis. Gadis itu tak
"Saya berubah pikiran, Pak. Uang 15 juta itu Bapak simpen aja, sebagai gantinya Bapak harus jadi pacar saya!"Wajah Kaisar menegang dan memerah. Sedangkan sepasang matanya menatap Liona yang berbicara. "Jadi pacar kamu?" Kaisar bertanya dengan suaranya yang terdengar pelan dan tertahan. Pikirnya,
Grep! "Argh... anjir!" Liona yang tubuhnya dipeluk dari belakang, spontan memekik dengan keras, bahkan matanya terpejam rapat. Kaget bercampur panik membuat detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Seolah mau melompat keluar dari tempatnya berada. Seandainya jantung ga
Jam menunjukkan pada pukul setengah delapan malam. Kaisar yang baru saja selesai makan malam bersama sang kakek, adik dan ayahnya, segera izin pergi ke kamar. "Kek, aku ke kamar duluan. Ada kerjaan penting yang harus diurus sekarang," kata Kaisar pada Tuan Jayden. Nada bicara Kaisar terdengar







