Início / Romansa / Pelan-Pelan, Pak Dosen! / Bab 2. Ditagih Rentenir

Compartilhar

Bab 2. Ditagih Rentenir

Autor: Anggun_sari
last update Data de publicação: 2025-09-29 16:04:48

“Sial!”

Zoe menendang kaleng di depannya ke sembarang arah. Dalam perjalanan pulangnya pun, dia masih mengingat kata-kata Xavier. Ancaman Xavier bukan hanya isapan jempol. Laki-laki berwajah tampan tapi berhati iblis itu sama sekali tidak memberikan toleransinya sedikit saja. Nilai mata kuliahnya dibiarkan kosong, meski dia sudah memohon untuk mengerjakan tugas.

“Tidak bisakah dia lebih baik sedikit!” gerutu Zoe dengan bibir mencebik.

Zoe menghela napas panjang. Kepalanya menengadah menatap langit yang terlihat begitu cerah. Andai saja kehidupannya sama seperti langit hari ini, tentu dia akan sangat bahagia. Sayangnya semua itu hanya ada dalam mimpinya. Jangankan hidup enak, pulang pergi ke kampus saja dia harus bersusah payah. Seperti saat ini, dia harus berjalan puluhan kilometer untuk sampai ke kontrakannya.

“Akkhh… bisakah sehari saja hidupku berjalan lancar?!” gerutu Zoe kembali.

“Bagaimana caranya biar aku bisa mendapatkan nilai plus di mata kuliah si raja iblis itu? Aku membutuhkan nilai sempurna untuk bisa lulus!”

“Haruskah aku merayunya?” Zoe bermonolog sendiri.

“Tidak tidak tidak, aku yakin cara ini tidak akan berhasil. Si raja iblis Xavier tidak pernah tersenyum pada wanita, sekalipun wanita itu memiliki paras cantik dan menarik.”

Alis Zoe menyipit. “Tunggu dulu, jangan-jangan dia—gay?!” Zoe menutup mulut dengan tangannya, bergidik ngeri membayangkan jika apa yang dikatakannya adalah sebuah kenyataan.

“Iya, dia pasti seorang gay. Nyatanya dia tidak pernah terlibat dengan wanita,” celoteh Zoe.

“Lalu bagaimana agar aku bisa lulus mata kuliahnya, Tuhan…?”

Zoe mengacak rambutnya frustasi. Namun, sedetik kemudian alisnya menyipit menatap panik pada dua sosok pria bertubuh besar yang berdiri di depan kontrakannya. Kedua pria itu terlihat celingukan mengintip keadaan di dalam kontrakannya.

Jika bukan karena ayahnya yang berhutang pada mereka, tentu ia tidak akan berurusan para penagih hutang tersebut. Setiap bulan ia harus membayar hutang-hutang ayahnya yang tidak pernah ada habisnya. Ayahnya seorang penjudi dan pemabuk yang suka meminjam uang untuk mencari kepuasannya sendiri.

Tidak ingin berurusan dengan mereka, ia memilih untuk kabur. Ia berjalan mengendap-endap, sambil merapalkan doa. Namun, sungguh sial, tetangganya dari arah berlawanan dengan wajah tanpa dosa memanggilnya dengan keras.

“Zoe…!”

Zoe melebarkan senyum kaku. Kepalanya spontan melirik ke belakang, dua orang yang tadi sedang mencarinya kini berjalan menghampirinya.

“Zoe, aku ingin….”

“Ha ha ha… nanti saja. Aku masih ada urusan penting,” potong Zoe dengan cepat.

Zoe berlari pergi. Ia tidak lagi memperdulikan tetangganya yang terlihat bingung, apalagi saat ada dua orang pria yang mengejarnya. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin.

“Haist… sial, apa mereka tidak lelah?!” gerutu Zoe ketika dua pria itu masih mengejarnya. Napasya sudah di ujung tanduk. Ia sudah berlari jauh untuk menghindar, tapi pria-pria itu tak juga menyerah.

“Mau kemana kamu?” sergah pria dengan kumis di wajahnya yang tiba-tiba ada di depan Zoe.

“Ha ha ha… a–apa kabar?” balas Zoe dengan napas memburu.

Zoe mengumpat dalam hati. Sungguh sial nasibnya! Sudah berlari jauh-jauh nyatanya ia tertangkap juga. Lintah darat memang semenakutkan itu, mereka tidak akan dengan mudah melepaskan mangsanya.

“Jangan pernah berniat kabur dari kami, paham?!” Satu pria yang ada di belakang Zoe menimpali.

Zoe berusaha melebarkan senyumnya, di tengah napasnya yang naik turun. “Aku sama sekali tidak kabur. Tadi aku hanya ingin mengambil bukuku yang ketinggalan di kampus,” sahut Zoe berbohong.

“Oh ya… apa kamu yakin?” balas si pria yang memiliki perut buncit.

Zoe menganggukkan kepalanya. “Sungguh!”

Pria dengan kumis itu menyeringai. “Jangan pernah berpikir untuk kabur dari kami. Bersembunyi di lubang semut pun, kami akan menemukanmu!” Ancamnya.

“Sekarang lebih baik kamu bayar hutang ayahmu! Semalam ayahmu berhutang pada kami lagi!” kata si pria kumisan.

Zoe mengernyitkan keningnya. “Lagi? Kali ini berapa banyak dia berhutang?” tanya Zoe benar-benar muak. Semalam ayahnya sudah mengambil uang terakhir miliknya, tapi pria itu tetap berhutang pada rentenir.

“Dan untuk cicilan hutang ayahku, bukankah aku sudah membayarnya minggu lalu,” balas Zoe.

Yang benar saja, minggu lalu dia baru membayar hutang ayahnya sebesar sepuluh juta rupiah. Jika hari ini dia harus membayar lagi, tentu dia tidak bisa. Uang yang dihasilkannya semalam dia gunakan untuk membayar cicilan lainnya dan juga biaya kuliahnya.

Pria berperut buncit dan pria berkumis itu saling melemparkan pandangan, lalu tertawa keras. “Kamu pikir uang itu cukup untuk membayar hutang ayahmu. Membayar bunganya saja kurang!” ujar si pria berkumis sarkas.

Zoe mengepalkan tangannya, muak dengan keadaannya saat ini. Namun, tak bisa melakukan apa-apa.

“Sebaiknya bayar sekarag juga hutang ayahmu! Kami bukan badan amal!” sentak pria berperut buncit.

“Aku pasti akan membayarnya, tapi tidak sekarang. Aku benar-benar tidak punya uang sekarang, tolong beri aku waktu?” pinta Zoe memohon.

Pria berkumis itu tersenyum miring. “Tidak bisa bayar ya. Baiklah, tapi bagaimana jika kamu membayarnya dengan cara lain?”

Zoe mengernyitkan kening. Kakinya melangkah mundur saat melihat tatapan mesum dari pria berkumis itu. Pria itu menatapnya dari atas hingga bawah dengan mata seolah tengah menelanjanginya.

“Jangan macam-macam! Aku bisa berteriak kalau kalian berani macam-macam!” Ancam Zoe.

Pria berkumis itu mengusap kumisnya sambil tersenyum miring. “Ah… kamu sedang mengancam kami?”

“Hanya jika kalian melakukan hal yang aneh-aneh padaku!” seru Zoe.

Pria berkumis itu tertawa keras. “Lakukan, maka aku akan mengatakan jika kamu membawa kabur uangku! Aku bisa memberikan mereka bukti-bukti catatan hutang ayahmu. Jika seperti itu, kira-kira mereka akan membela siapa?!”

Manik mata Zoe bergerak gelisah. Dia tidak mau berakhir di tangan pria-pria menakutkan itu. “Berikan aku waktu tiga hari!? Aku pasti akan membayarnya,” ucap Zoe akhirnya.

“Tiga hari?” ulang si pria berkumis. “Baiklah, kami akan datang tiga hari lagi,” lanjutnya.

“Ingat, jangan berpikir untuk kabur ataupun menghilang! Sampai bertemu tiga hari lagi. Aku menunggu uang darimu.” Pria berkumis itu tersenyum miring, tangannya menepuk bahu Zoe sebelum pergi meninggalkannya.

Zoe memejamkan matanya. Tubuhnya seketika melorot, menangis sejadi-jadinya.

“Bagaimana aku bisa mendapatkan uang dalam tiga hari?”

“Zoe…?”

Zoe mendongak, matanya yang sembab menatap kesal pada sosok Baskoro yang berdiri di depannya. Tanpa bersuara Zoe melenggang pergi meninggalkan ayahnya menuju ke kontrakannya. Dia sedang tidak ingin diganggu saat ini.

“Zoe…!” Baskoro menarik tangan Zoe, membuat putrinya itu berhenti.

Zoe menghela napas kesal. Matanya menatap malas pada sosok ayah yang seharusnya menjadi pelindung bagi anaknya, tapi tidak bagi Baskoro. Pria itu justru menyakiti serta mendorongnya jauh ke lembah kegelapan untuk membereskan setiap masalah yang dibuatnya.

“Apa lagi?” sahut Zoe geram.

“Ayah menabrak seseorang!” terang Baskoro. “Dan mereka meminta ganti rugi,” lanjutnya.

Zoe memejamkan mata. Tangannya terkepal kesal. Cobaan apa lagi ini. Beberapa menit yang lalu dia baru ditagih oleh rentenir, dan sekarang ayahnya membawa kabar yang sangat tidak ingin didengarnya.

Baskoro menggenggam tangan Zoe, berusaha memohon pada putrinya. “Bantu Ayah membayarnya. Hem…?”

“Berapa?” dengus Zoe. ia menghempaskan tangan Baskoro yang terlalu lama menggenggamnya, dan lebih memilih melipat tangannya di atas dada.

“Dua ratus juta!”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
bapak apa itu? ndak ada akhlak
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 215. Ayo kita menikah!

    “Aku mencintai Pak Xavier, Zoe! Aku ingin menjadi miliknya.”Zoe menelan ludahnya susah payah, tubuhnya terhuyung seolah tak memiliki tulang. Apa.yang dikatakan oleh Sofia tentu membuatnya sangat terkejut. Dia tahu kalau Sofia sangat menyukai pria-pria tampan, tapi dia tidak pernah menyangka jika hatinya benar-benar dicurahkan kepada Xavier.“Aku mencintai Pak Xavier!” ulang Sofia. Kali ini kata-katanya penuh penekanan seolah menjelaskan bahwa dia tidak main-main dengan perasaannya.“Tapi aku tidak menyukaimu!”Balasan dari Xavier membuat Zoe membalikkan badannya. Matanya menatap Xavier yang terlihat tenang dan dingin, entah sejak kapan pria itu berdiri di belakangnya. Xavier maju beberapa langkah menyamakan posisinya dengan Zoe. Matanya menatap tajam Sofia yang terlihat gelisah. “Orang sepertimu, aku sama sekali tidak tertarik!” imbuh Xavier pedas.Sofia mengepalkan tangannya, kesal mendengar ucapan Xavier. Dia jauh lebih baik dari Zoe, tapi nyatanya dia tak pernah menang jika bers

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 214. Kenyataan yang terbuka

    “Aku…? Apa kamu… mencurigaiku?”Zoe mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya spontan menggeleng menjawab pertanyaan dari Sofia.“Aku adalah sahabatmu, tidak mungkin aku mengkhianatimu, Zoe,” kata Sofia meyakinkan Zoe.“Aku tahu itu Sofia. Aku sama sekali tidak memiliki pemikiran itu,” balas Zoe.Sofia menghela napas penuh kelegaan. Ia menggenggam tangan Zoe. wajahnya yang tadi terlihat tegang berangsur normal.“Terima kasih telah mempercayaiku,” ucap Sofia.Zoe tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Bibirnya membentuk garis lengkung, sementara tangannya mengusap punggung Sofia.“Kenapa kamu begitu gelisah. Tanpa kamu katakan, aku tidak akan pernah memiliki pemikiran seperti itu,” balas Zoe.“Kamu adalah sahabatku. Kita sudah kenal sejak lama. Aku percaya kamu tidak akan mungkin mengkhianatiku,” tambah Zoe.Sofia tersenyum tipis. Ia memeluk tubuh Zoe sambil menepuk-nepukkan tangannya di punggung wanita itu.“Terimakasih karena telah mempercayaiku,” kata Sofia.Sofia me

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 214. Apa kamu mencurigaiku?

    “Siapa dia?”Tubuh Xavier menegang, namun itu hanya terlihat beberapa detik saja. Setelahnya wajahnya kembali datar, seolah tak terganggu.Tadi di kampus, dia didatangi salah satu muridnya yang sedang menanyakan tentang tugas tambahan yang dia berikan. Dia sama sekali tidak menyangka jika hal itu akan menjadi masalah.“Tidak bisa menjawab?” ucap Zoe. Air matanya sudah hampir keluar. Selama ini dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, cemburu dan takut kehilangan. Hanya karena sebuah foto, hatinya berdenyut sakit.“Kalau kamu bosan dengan ku, harusnya kamu mengatakannya, bukan malah selingkuh. Aku akan pergi diam-diam dan melupakanmu. Aku….”Ucapan Zoe tertahan, bibir Xavier menyambar bibir Zoe, memberikan sedikit pelajaran untuk wanita yang dicintainya itu. Mendengar kata-kata Zoe, membuatnya ingin tertawa. Wanita cantik dengan mata memerah itu mengatakan akan meninggalkannya seolah-olah dia bisa melakukannya. “Masih mau meninggalkanku?” Alis Xavier naik sebelah, matanya mena

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 212. Bertengkar

    Sebuah pesan masuk membuat Xavier menggeram kesal. Matanya menatap tajam sebuah foto yang baru dikirimkan oleh seseorang kepadanya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan kiriman foto seperti ini: Zoe bersama pria lain.“Sialan!” umpat Xavier.Xavier segera menutup laptopnya. Langkahnya yang lebar membawa pria itu meninggalkan ruangannya. Wajahnya yang mengeras menandakan pria bertubuh tinggi besar itu sedang marah. Demi apapun juga Xavier tidak suka melihat Zoe dekat dengan adik tirinya atau Adam. dua laki-laki itu bagaikan musuh bebuyutan yang ingin ia singkirkan.Mobil hitam miliknya yang terparkir rapi di halaman kampus, ia tumpangi dengan kecepatan di atas rata-rata, tujuannya saat ini adalah rumahnya.***Zoe meletakkan belanjaannya di atas meja makan. Napasnya tampak putus-putus karena membawa beban berat. Tangannya yang bergerak membongkar barang belanjaannya seketika urung karena mendengar bunyi pesan masuk ke dalam ponselnya.Kening Zoe mengkerut, sebuah foto dimana Xavier

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 211. Mengadu domba

    Zoe menggeliat dalam tidurnya, bau parfum yang tercium oleh hidungnya membuat tidurnya terusik. Badannya masih terasa remuk redam, semalam Xavier benar-benar menggaulinya hingga tubuhnya lemas. Pria itu memintanya bergaya seperti saat ia sedang live.“Tidurlah lagi, ini masih pagi. Aku akan ke kampus hari ini,” kata Xavier saat matanya menangkap pergerakan Zoe.Zoe hanya mengangguk. Ia tersenyum saat Xavier mengecup keningnya. “Mau kubawakan sesuatu saat pulang nanti?”“Tidak perlu. Aku bisa berbelanja sendiri nanti,” kata Zoe.“Emm. kalau begitu aku berangkat dulu,” pamit Xavier. Ia mengecup kening Zoe sekali lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamarnya.Zoe menatap punggung Xavier yang hilang di balik pintu sebelum matanya kembali terpejam. Ia benar-benar mengantuk dan butuh tidur untuk beberapa waktu.Namun, suara ketukan pintu membangunkan Zoe, meski tidak benar-benar bangun. Matanya masih setengah terpejam ketika Liliana masuk ke dalam kamarnya dengan nampan di tangannya.

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 211. Wanita nakal

    “Kenapa?”Xavier memeluk tubuh Zoe dari belakang. Sudah hampir setengah jam wanita itu diam di balkon, entah apa yang dipikirkannya.“Apa mainmu bersama Arabella kurag lama?” tanya Xavier.Zoe menggelengkan kepala. Dia hanya sedang memikirkan kata-kata ayahnya. Kejadian yang lalu membuatnya memiliki rasa trauma. Dia takut jika ayahnya benar-benar akan menyakitinya.“Lalu apa yang membuatmu termenung sejak tadi?” tanya Xavier kembali.“Ayahku. Tadi aku bertemu dengannya saat di mall,” kata Zoe.Xavier semakin mengeratkan pelukannya. “Tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga keselamatanmu.”Zoe tersenyum tipis. Kepalanya menoleh menatap Xavier. Pria itu selalu bisa membuatnya merasa nyaman, meski kadang menyebalkan.“Mau jalan-jalan?” tawar Xavier.“Bagaimana kalau kita membersihkan kontrakanku. Di sana banyak kostum yang biasanya aku gunakan live,” balas Zoe.Xavier mengernyitkan keningnya. “Kamu ingin kembali live?” tanyanya.Zoe menggeleng. “Ara ingin mencari kontrakan saat kelua

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status