Share

Pelayan Baru Sang Tuan
Pelayan Baru Sang Tuan
Author: Rita Tatha

Kematian Tragis

Author: Rita Tatha
last update Last Updated: 2025-10-28 09:56:42

“Mas, bangun ... Mas. Jangan tinggalkan aku dan Gisela,” Sekar, ibu Gisela, menggoyangkan tubuh sang suami yang telah memucat. Aliran darah mengalir dari kepala pria itu. Ia telah tewas karena terjatuh dari lantai tiga rumahnya.

“Ma, Papa ... Ma,” Gisela kecil menangis sesenggukan melihat pemandangan tragis di depannya. Usianya baru sepuluh tahun, tetapi Gisela sudah mengerti apa itu kematian.

Sekar menarik Gisela masuk dalam dekap eratnya. Berusaha menyimpan tangis yang begitu menyesakkan dada. Beberapa ciuman mendarat di ujung kepala gadis itu.

“Sayang, maafkan mama. Kamu harus kuat.”

Ketika dua orang itu sedang berpelukan erat, datanglah seorang wanita dengan pakaian seksi. Wanita itu membawa sebuah berkas di tangan.

Senyumnya tampak penuh mengejek melihat keluarga yang menyedihkan. Apalagi saat melihat jenazah sang tuan rumah yang tergeletak penuh darah. Senyuman itu tampak penuh dengan kemenangan.

“Dasar wanita sialan! Kamu sungguh sangat licik!” Sekar bangkit lalu mendekati wanita itu. Ia hendak melayangkan pukulan, tetapi dua pengawal di belakangnya langsung menahan.

Bahkan, mereka menghempaskan tangan Sekar hingga ia tersungkur.

“Kamu sungguh kejam! Kenapa kamu membunuh suamiku?!” teriaknya histeris.

“Aku tidak membunuhnya. Dia sendiri yang lompat dari atas.” Dengan gaya angkuh. Wanita itu duduk di depan Sekar dan Gisela yang hanya diam ketakutan. Ia melempar berkas

Yang dipegang tepat di depan wajah Sekar. “Tanda tangan!”

Kening Sekar mengerut dalam. Tangannya mengambil berkas tersebut dan membacanya dengan perlahan.

“Pengalihan saham dan semua harta kekayaan keluarga Atmaja?”

“Benar sekali. Selama ini aku menggoda Heru sialan itu untuk mengambil harta kalian.

Ternyata, semua kekayaan keluarga Atmaja sudah beralih menjadi atas namamu. Heru sungguh sangat mencintaimu,” ujarnya kesal. Merasa bahwa semua usahanya sia-sia.

“Kamu sungguh wanita sialan! Aku tidak menyangka kalau selama ini kamu hanya mengincar harta kami. Padahal kami sudah memperlakukan kamu dengan baik!”

Sekar memegang dada yang terasa sesak. Ia masih ingat dengan jelas bahwa dirinyalah yang memungut wanita ini dari jalan. Saat itu Sekar merasa tidak tega, ia pun menjadikan wanita itu pelayan di rumah karena sikapnya yang baik dan patuh.

Ia tidak menyangka kalau ternyata sekarang wanita itu menjadi musuh paling berbahaya. Bahkan, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta keluarga Atmaja.

“Sudahlah, aku tidak suka basa-basi!” wanita itu mengamati kuku cantiknya. Sembari melayangkan senyuman.

“Aku tidak mau tanda tangan. Memangnya kamu siapa?! Bahkan, darah keluarga Atmaja saja tidak mengalir di tubuhmu?!” Sekar menolak. “Aku akan melaporkanmu ke polisi!”

“Silakan saja kalau kamu berani. Aku tidak akan pernah takut. Tuduhan mana yang bisa membuatku masuk penjara, hmmm?”

“Aku punya bukti yang kuat. Kamu mendorong suamiku dari lantai atas hingga tewas? Dia tidak bunuh diri, tapi kamu yang membunuhnya?!” tuntut Sekar.

“Hahaha!” tawa yang menggelegar itu membuat siapa pun akan merinding saat mendengarnya. “Aku tahu, walaupun lemah lembut, kamu adalah orang yang waspada. Tenang saja, kamera pengawas di lantai atas, aku sudah merusak semuanya. Kamu tidak memiliki bukti apa pun.”

“Kamu sungguh wanita yang licik!” Sekar menunjuk wajah wanita itu dengan hina. Ia bangkit, hendak mendekatinya, tetapi dua pengawal tadi kembali mendorong Sekar hingga ia kembali jatuh tersungkur.

Gisela yang melihat sang ibu tersungkur dua kali pun, segera mendekati dan memeluknya erat. Sekar membalas pelukan itu sambil menenangkan putrinya.

“Cepat tanda tangan! Kalau kamu tidak tanda tangan maka jangan salahkan aku semakin nekat.”

“Apa yang akan kamu lakukan?!” Sekar merasa sangat cemas. Apalagi saat melihat wanita itu mengeluarkan pistol dari dalam tasnya.

“Kalian ini keluarga yang harmonis. Sungguh membuatku iri,” wanita itu mencium pistol di tangan hingga membuat tubuh Sekar dan Gisela semakin gemetar ketakutan. “Kalau kamu tidak mau tanda tangan maka nyawa putrimu yang berharga ini akan menjadi taruhannya. Bagaimana?”

“Jangan pernah sakiti putriku!” Sekar makin erat memeluk putrinya. Khawatir wanita itu benar-benar akan bertindak nekat.

“Dia memang benar anak emas untuk kalian. Hahaha!” Ia tertawa lagi. Tawa yang semakin terdengar mengerikan. “Aku tidak akan memberimu banyak pilihan. Hanya dua pilihan. Tanda tangan berkas ini, aku melepaskan putrimu. Kalau tidak mau tanda tangan maka nyawa putrimu akan menjadi gantinya.”

“Kamu!” Sekar merasa sangat bimbang.

“Waktuku tidak banyak. Semakin lama kamu menjawab maka semakin cepat aku mengambil keputusanku sendiri,” wanita itu melihat jam tangan sembari menghitung perlahan.

“Baiklah. Aku akan tanda tangan,” Sekar menjawab cepat. Ia tidak punya pilihan lain.

Harta keluarga Atmaja yang ia kumpulkan dengan susah payah, sungguh tidak sebanding dengan nyawa putrinya yang lebih berharga.

Tangan Sekar gemetar ketika memegang pulpen. Walaupun hatinya merasa sangat ragu, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Dengan sangat terpaksa, Sekar pun menandatangani berkas tersebut. Lalu memeluk Gisela dengan erat.

“Maafkan mama, Sayang. Tidak apa kehilangan semua harta kita. Pasti kita bisa bangkit lagi,” ujar Sekar. Gisela hanya menangis di pelukan sang ibu. Gadis sekecil dia, memangnya apa yang bisa dilakukan untuk membela ibunya?

“Pintar!” puji wanita itu penuh ejekan. Ia mengambil berkas yang telah ditandatangani itu dan melihatnya. Senyumnya mengembang sempurna. Kini ia telah menjadi wanita kaya raya. Semua harta milik keluarga Atmaja telah resmi menjadi miliknya.

“Kamu sudah puas? Sekarang lepaskan kami!” sentak Sekar.

“Melepaskanmu? Mimpi! Hahaha!”

Mata Sekar membulat. Apa wanita ini menjebak mereka!? “Kamu!”

“Jauhkan anak itu,” perintahnya. Kedua pengawal itu pun menarik Gisela. Tidak peduli meski mereka meronta karena tidak mau.

“Aku sudah tanda tangan, mau kamu apakan putriku?!” Sekar dipenuhi emosi. Sungguh tidak menyangka kalau ia akan dipertemukan dengan wanita selicik itu.

“Tenang saja. Putrimu akan tetap hidup dengan baik. Tapi kamu ....” wanita itu menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkan kepada Sekar.

“Apa yang akan kamu lakukan? Aku sudah menyerahkan semua hartaku kepadamu, apa itu masih kurang?!”

“Tidak. Hanya saja, aku harus menghilangkan barang bukti dan saksi.”

“Kamu ....”

Dua kali suara tembakan terdengar menggema di sana. Tepat mengenai dada dan kepala Sekar. Wanita itu jatuh ke lantai dengan tubuh bersimbah darah.

Gisela berteriak histeris melihat sang ibu yang telah tumbang.

“Kamu wanita jahat! Dasar wanita jahat!” Gisela hendak memukul wanita yang telah membunuh orang tuanya, tetapi pengawal tadi kembali menahannya.

“Buang kedua mayat ini tanpa meninggalkan jejak sedikit pun,” perintahnya.

“Lalu bagaimana dengan anak ini, Nyonya?”

“Buang saja ke sungai. Biar ia mati dimakan buaya. Kalaupun hidup, dia tidak bisa melakukan apa pun.”

Wanita itu pergi meninggalkan tempat tersebut. Gisela berlari mendekati mayat kedua orang tuanya. Tangisnya pecah

“Ma ... Pa ... Aku takut sendirian.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 111

    Kehamilan Gisela ternyata membuat Yoga dan Ayunda semakin dekat. Meski mereka sering bertengkar dan berdebat daripada akurnya. Namun, Yoga merasa bingung pada dirinya sendiri. Setiap ia melihat Ayunda merasa kesal, maka hatinya akan merasa senang karena terhibur. Itulah yang membuatnya selalu menggoda gadis itu agar kesal. "Aku akan memberi kamu uang. Jadilah pacar pura-puraku." Yoga membuatkan mata penuh mendengar ucapan dari Ayunda. Yang benar saja, tidak angin atau hujan tiba-tiba Ayunda mengajukan permintaan aneh padanya. Tentu saja ia tidak langsung menyanggupinya. "Aku bukan pria bayaran." Yoga menyesap kopi dengan santai tidak peduli meski gadis di depannya sudah mendesah kasar."Lalu? Aku butuh pacar pura-pura untuk menemaniku ke acara reuni. Kalau tidak, mantan pacarku pasti akan meledek habis-habisan."Aku tidak butuh uang. Aku sudah banyak uang. Ingat, gajiku bahkan lebih besar daripada gajimu." "Cih! Sombong sekali." Ayunda mencebik. Yoga bukannya kesal justru terkek

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 110

    Kabar kehamilan Gisela langsung menyebar. Terutama pada lingkungan sekitar dan keluarga yang dekat dengan mereka. Semua bersuka cita atas kabar itu. Banyak yang mendoakan Gisela dan janinnya agar bisa tumbuh sehat sampai persalinan tiba. Hal itu tentu saja membuat Gisela merasa sangat bahagia. Ia tidak menyangka kalau hamil akan sebahagia itu. Namun, di sisi lain ia merasa perbandingan yang terbalik. Kehidupan sehari-harinya tidak sebebas dulu. Selama menjalani kehamilan, Gisela merasa menjadi wanita paling terkekang. Bukan tanpa alasan, William menjadi suami yang over protektif. Bahkan, ia tidak bebas melakukan hal apa pun. Semuanya serba dibatasi apa pun otu. Bahkan, William sampai memanggil ahli gizi ke rumah hanya bertugas memasak untuk Gisela. Terkadang ia merasa gemas sendiri, tetapi jika dipikir lagi, apa yang dilakukan William itu sebagai tanda sayang pria itu kepadanya dan calon buah hati mereka. "Mbok, saya mau ke kantor." Gisela berbicara lembut kepada Mbok Minah.

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 109

    Hubungan Gisela dan William semakin hari semakin menghangat. Mereka bahkan menikmati waktu selama tinggal di desa itu. William sangat cepat bisa berbaur dengan warga desa. Juga para warga yang antusias, apalagi saat mereka mengetahui kalau William adalah suami dari Gisela. Hubungan mereka semakin dekat saja. Seperti orang yang sudah hidup bersama bertahun-tahun. "Besok aku harus kembali ke kota. Ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal," kata William. Saat ini, ia sedang berpelukan mesra di atas ranjang setelah selesai melakukan pertempuran panas. Sejak malam pertama itu dilewati, William seperti tidak memberi ampun karena terus membuat Gisela keramas setiap pagi. "Kenapa cepat sekali?" Gisela berbicara merengek seperti anak kecil yang merajuk. "Kamu tidak mengajakku pulang?" "Memangnya kamu mau pulang denganku?" tanya William penuh harap. Gisela hanya diam tidak memberi jawaban sama sekali. "Kalau kamu masih ingin di sini, tidak apa. Aku tidak akan memaksa kamu pulang bers

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 108

    Pelukan itu terasa hangat bagi Gisela. Ia tidak menyangka kalau akan bertemu kembali dengan William. Lelaki yang selalu mengisi hari-harinya juga mengisi hatinya. Tubuhnya masih membeku bahkan seperti tidak bisa digerakkan. Ia berdiam diri seperti patung. "Aku merindukanmu." William berbisik di telinga Gisela. Membuat tubuhnya meremang seketika. "Selama ini aku memcarimu." "Ke-Kenapa kamu ada di sini?" Suara Gisela terbata. Ia bahkan harus mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan itu. Sejak tadi, lidahnya merasa kelu. Gisela merasakan ada yang berbeda saat William melepaskan pelukan itu. Ia tidak munafik, bahwa pelukan William memang sangat meneduhkan dan membuat candu. Ia ingin terus dipeluk pria itu."Kenapa kamu pergi sangat jauh. Pantas aku tidak bisa menemukan keberadaan mu sama sekali." Gisela hanya diam saat William sudah mengelus pipinya lembut. "Kalian saling kenal?" tanya Pak Aris mengalihkan perhatian. "Kami sangat saling mengenal, Pak." Gisela hanya menurut sa

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 107

    Kehidupan William sangat berubah drastis. Pria itu menjadi dingin dan seperti tak tersentuh. Bahkan l, wajahnya sangat kusut karena terlalu banyak pikiran. Sudah hampir sebulan melakukan pencairan tetapi keberadaan Gisela tidak ditemukan sama sekali. Entah ke mana perginya wanita itu. Seperti hilang ditelan bumi. Padahal William sudah mencari ke semua tempat-tempat yang kemungkinan dijamah Gisela. Juga mengecek semua keberangkatan pesawat maupun kereta. Siapa tahu istrinya melarikan diri ke rumah sakit. Namun, hasilnya masih sama. Tidak ada keberadaan Gisela. Wanita itu sama sekali tidak ditemukan. Akhirnya, William pasrah. Ia menghentikan semua pencarian. Hanya pasrah kepada Tuhan. Berharap suatu saat nanti Tuhan masih berbaik hati padanya untuk mempertemukan dengan Gisela. Tapi dalam hati tidak pernah putus berharap semoga Tuhan dan Gisela masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Sekarang, ia hanya fokus mengembangkan bisnisnya agar semakin maju pesat. Menjadi

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 106

    "Tuan, keberadaan Nyonya Muda sama sekali tidak bisa dilacak. Padahal saya sudah mengerahkan semua anak buah. Tapi hasilnya masih nihil." Yoga datang ke rumah dengan wajah pucat. William menghela napas panjang. Lalu menatap Yoga sekilas saja. Sebelum akhirnya ia kembali fokus pada layar ponsel. Raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. "Pokoknya aku tidak mau tahu. Mau bagaimana pun caranya, istriku harus ketemu!" "Saya akan terus berusaha, Tuan. Saya juga sudah mendatangi tempat Ayunda. Hasilnya sama. Dia juga tidak ada. Kemungkinan mereka berdua pergi bersama-sama," tutur Yoga. William membenarkan ucapan pria itu. Mengingat hubungan Gisela dan Ayunda yang sangat dekat, sudah pasti Ayunda tidak akan membiarkan Gisela pergi seorang diri. Dia pasti sedang bersama istrinya. "Kira-kira mereka pergi ke mana?" William frustrasi. Kehilangan Gisela, membuatnya seperti kehilangan semangat hidup. "Saya kurang tahu, Tuan. Saya akan usahakan cepat menemukan mereka." "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status