Mag-log inPagi itu, Diana tiba di mansion lima menit lebih awal dari perintah Daniel. Dia tidak berani mengambil risiko apa pun apalagi dipecat di hari pertama dia bekerja.
Wanita paruh baya bernama Angela—pelayan senior di rumah itu sudah menunggu di pintu samping. Wajahnya tetap formal, tapi kali ini ada sedikit kehangatan di matanya.
“Tepat waktu. Bagus,” ujar Angela singkat. “Ikut aku. Aku akan tunjukkan kamarmu dan menjelaskan tugasmu.”
Diana mengikuti Angela melewati lorong belakang yang lebih sederhana dibanding lorong utama.
Mereka naik tangga sempit menuju lantai dua bagian belakang. Kamar Diana kecil tapi bersih. Ada tempat tidur tunggal, lemari kecil, dan jendela yang menghadap taman belakang.
“Seragammu sudah disiapkan di lemari. Ganti dan turun ke dapur dalam sepuluh menit,” perintah Angela. “Sarapan Tuan harus siap pukul enam tepat.”
Diana mengangguk dengan cepat. "Baik, Bu."
Begitu Angela pergi, Diana bergegas mengganti pakaian. Seragam pelayan berwarna abu-abu gelap dengan celemek putih. Pas di tubuhnya. Dia mengikat rambutnya rapi, lalu turun ke dapur.
Di dapur, sudah ada dua pelayan lain. Seorang wanita muda bernama Sari dan seorang pria paruh baya bernama Lino. Mereka menyapa Diana dengan senyum tipis.
“Kamu yang baru, ya?” tanya Sari sambil memotong buah. “Diana, kan?”
“Iya,” jawab Diana sambil tersenyum gugup. “Mohon bantuannya ya, Bu?”
Sari melirik ke arah pintu dapur untuk memastikan tidak ada orang, lalu berbisik pelan. “Dengar ya, kalau kamu mau bertahan di sini, ada satu aturan penting yang harus kamu lakukan.”
Diana mendekat. “Aturan apa?” tanyanya ingin tahu.
“Selalu hati-hati di sekitar Tuan,” bisik Sari serius. “Jangan pernah lengah. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun. Tuan Daniel itu dia tidak suka memberi kesempatan kedua pada siapa pun!”
Lino yang mendengarnya lantas mengangguk setuju. “Yang terakhir bekerja di sini keluar karena menaruh gelas di tempat yang salah. Cuma itu dan langsung dipecat.”
Diana menelan ludah mendengarnya kengerian Daniel. “Seserius itu?”
“Ya. Tuan Daniel berubah seperti monster setelah ditinggal menikah oleh calon tunangannya dua tahun yang lalu. Bahkan selera makannya pun hilang, entah apa lagi yang hilang. Yang jelas Tuan Daniel berubah seratus delapan puluh derajat.”
Diana terdiam mendengarnya. Namun, Diana berharap Daniel tidak akan memecatnya hanya kesalahan sepele.
“Jadi, tetap fokus. Jangan sampai gugup membuat kamu ceroboh, Diana,” ucap Sari sambil menepuk pundak Diana.
Diana mengangguk pelan lalu mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai tidak teratur.
Beberapa jam pertama berjalan dengan tegang. Diana membantu menyiapkan sarapan, membersihkan ruang makan, dan menata ulang ruang tamu. Setiap gerakan dia lakukan dengan hati-hati, seolah sedang berjalan di atas pecahan kaca.
Daniel muncul sesaat untuk sarapan. Tatapannya sama dinginnya seperti kemarin. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya makan dalam diam, lalu pergi ke ruang kerjanya.
Diana menghela napas lega setelah pria itu menghilang dari pandangan.
Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Pukul dua belas siang, Angela memanggilnya dengan nada mendesak. “Diana, Tuan minta makan siang diantarkan ke ruang kerjanya. Kamu yang bawa.”
Jantung Diana langsung berdegup kencang. “Saya, Bu?”
“Iya. Sari sedang keluar untuk belanja. Pak Lino sedang memperbaiki keran. Kamu satu-satunya yang tersedia. Cepat, jangan buat Tuan menunggu.”
Diana lantas bergegas ke dapur. Di atas nampan sudah tersusun piring dengan steak medium rare, sayuran kukus, dan segelas air es. Semuanya tertata rapi.
Dia mengangkat nampan dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar, tapi dia mencoba menenangkan diri.
‘Tenang, Diana. Ini hanya mengantarkan makanan. Tidak ada yang sulit.’
Dia berjalan pelan melewati lorong. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas tali. Ketika sampai di depan pintu ruang kerja Daniel, dia menarik napas dalam, lalu mengetuk pelan.
“Masuk.”
Diana membuka pintu dengan siku, lalu melangkah masuk. Daniel sedang duduk di belakang meja dengan mata tertuju pada layar laptop. Dia tidak mengangkat kepala.
Diana berjalan mendekati meja, berusaha menjaga nampan tetap stabil. Hampir sampai. Tinggal beberapa langkah lagi.
Tapi tepat saat dia hendak meletakkan nampan, kakinya tersangkut ujung karpet.
Tubuhnya terhuyung ke depan, nampan terangkat dari tangannya, dan gelas air es tumpah dan memercik langsung ke arah laptop Daniel.
Semuanya terjadi dalam sekejap. Diana membeku, matanya melebar melihat air yang menggenang di atas meja, merembes ke arah keyboard laptop yang masih menyala.
Daniel berdiri dengan cepat, tatapannya langsung tertuju pada Diana. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, tapi matanya berubah gelap, dingin, dan tajam seperti pisau.
Keheningan mengerikan menyelimuti ruangan.
Diana tidak bisa bergerak bahkan tidak bisa bernapas. Hanya bisa berdiri dengan tubuh kaku menatap kekacauan yang baru saja dia buat.
Daniel melangkah perlahan mendekat lalu berhenti tepat di hadapan Diana.
“Apa yang baru saja kamu lakukan, Diana?”
Dua minggu kemudian.Taman belakang kediaman Arsenio telah disulap menjadi ruang yang sangat privat dan hangat. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada deretan kursi emas yang berlebihan.Hanya ada sebuah altar kayu sederhana yang dihiasi bunga lili putih segar dan beberapa kursi kayu yang diatur melingkar untuk para tamu yang tidak lebih dari dua puluh orang.Langit senja Jakarta yang berwarna jingga keunguan memberikan pencahayaan alami yang jauh lebih indah daripada lampu studio mana pun.Daniel berdiri di depan pendeta, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Tangannya terlipat di depan tubuh, namun jemarinya terus bergerak gelisah, sebuah tanda gugup yang jarang ia tunjukkan. Saat musik dawai mulai mengalun lembut, pintu kaca besar menuju taman terbuka.Diana muncul dengan gaun sutra berwarna putih gading yang mengalir indah, cukup longgar untuk menyembunyikan sedikit tonjolan di perutnya namun tetap memperlihatkan keanggunannya.Ia tidak didampingi siapa pun, berjal
Lampu gantung di ruang kerja Daniel masih menyala terang meski jarum jam sudah melewati pukul sebelas malam.Di atas meja jati yang luas, tumpukan katalog vendor pernikahan mewah, mulai dari dekorasi bunga impor hingga daftar gedung hotel bintang lima berserakan.Daniel berdiri di depan jendela, menatap refleksi dirinya sendiri, sementara Diana duduk di sofa dengan wajah yang tampak lelah namun keras kepala.“Ini bukan sekadar perayaan, Diana. Ini adalah pernyataan,” ucap Daniel tanpa berbalik.“Dunia harus tahu siapa kamu. Aku ingin mereka melihat bahwa Nyonya Arsenio yang baru adalah wanita yang terhormat, bukan sekadar bayangan di rumah ini.”Diana mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan katalog katering yang baru saja dibacanya. “Dan untuk menunjukkan itu, kita harus mengundang seribu orang yang bahkan tidak mengenal kita secara pribadi? Untuk apa, Daniel? Untuk sorotan kamera paparazzi?”Daniel berbalik, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu saat ia mendekati D
“Daniel, aku ….” Diana tercekat. “Aku takut.”“Takut apa?” Daniel mengernyit, tangannya turun menggenggam jemari Diana yang bebas. “Apa Manda menghubungi lagi? Atau orang-orang Kenny?”“Bukan. Ini tentang kita,” suara Diana pecah.“Tentang masa depan rumah ini. Daniel, kamu baru saja mendapatkan ketenanganmu. Kamu baru saja membuang orang-orang yang mengkhianatimu. Aku takut ... aku takut kehadiranku hanya akan mengingatkanmu pada kekacauan itu.”Daniel terdiam seraya menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kenapa kamu bicara begitu? Kamu adalah alasan aku tetap waras, Diana.”“Tapi aku hanya seorang pelayan, Daniel! Di mata dunia, aku tidak pantas berada di sini. Dan jika ... jika ada sesuatu yang berubah di antara kita, aku takut kamu akan menyesal telah memilihku.”“Apa yang berubah, Diana? Bicara yang jelas!” Daniel mulai tidak sabar, namun ia tetap berusaha menahan suaranya agar tidak membentak.Diana menarik napas dalam-dalam, keberaniannya terkumpul di titik nadir.
Tiga bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Arsenio mereda. Rumah besar itu kini terasa lebih hangat, meskipun bayang-bayang masa lalu terkadang masih melintas di sudut-sudut koridor yang sepi.Pagi itu, cahaya matahari menembus gorden kamar utama, namun Diana tidak menyambutnya dengan senyuman seperti biasa.Ia berlari kecil menuju kamar mandi, menekan dadanya yang terasa sesak. Suara muntah yang payah bergema di dalam ruangan yang didominasi marmer putih itu.Diana berpegangan erat pada pinggiran wastafel, napasnya tersengal, sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.“Lagi,” gumamnya lirih sembari membasuh mulutnya dengan air dingin.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Selama dua minggu terakhir, tubuhnya terasa sangat tidak bersahabat.Awalnya ia mengira ini hanyalah dampak dari kelelahan karena membantu Daniel merapikan administrasi rumah tangga dan yayasan yang sempat terbengkalai. Namun, frekuensi mual ini terlalu teratur un
Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan yang menyelimuti kediaman Arsenio malam ini terasa berbeda, bukan lagi keheningan yang mencekam karena rahasia, melainkan kesunyian yang lapang namun sedikit asing.Daniel berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memegang segelas air putih, bukan lagi wiski.Diana masuk setelah menutup pintu dengan pelan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra yang sederhana. Ia mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Daniel dari belakang, menyandarkan pipinya pada punggung pria itu.“Semuanya sudah berangkat, Daniel,” bisik Diana. “Hardy baru saja mengirim pesan. Pesawat mereka sudah lepas landas satu jam yang lalu.”Daniel mengembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan merosot. “Akhirnya. Rumah ini terasa benar-benar milikku sekarang. Tapi rasanya masih sangat aneh.”Diana melepaskan pelukannya dan berpindah ke samping Daniel, menatap wajah pria itu dari sampin
Kantor notaris itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat Sudirman. Ruangannya didominasi oleh panel kayu gelap dan kaca besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk Jakarta di bawah sana.Daniel duduk di kursi kulit yang kaku, menatap tumpukan berkas di atas meja mahoni. Di seberangnya, Notaris senior keluarga Arsenio, Pak Hendra, membersihkan kacamatanya dengan gerakan lambat yang menambah ketegangan di ruangan itu.“Anda yakin dengan nominal ini, Tuan Daniel?” tanya Pak Hendra sembari menyodorkan draf akhir. “Secara hukum, setelah pengakuan pembunuhan dan bukti DNA itu, Anda bisa saja membuat mereka tidak mendapatkan sepeser pun.”Daniel mengambil pulpen logamnya, memainkannya di antara jemari. “Aku tahu, Pak Hendra. Tapi aku tidak ingin mereka mati kelaparan di negeri orang lalu mencoba kembali ke sini untuk mengemis atau memeras. Berikan mereka aset di Kanada dan apartemen kecil di pinggiran Toronto. Itu cukup untuk hidup layak, tapi tidak cukup untuk memb







