LOGINDaniel menatap lekat wajah Diana yang masih duduk mematung di hadapannya.Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal, hampir bisa disentuh, sampai akhirnya Daniel kembali bersuara dengan nada yang lebih rendah, namun membawa bobot yang luar biasa berat.“Aku akan memberikanmu pilihan, Diana. Sesuatu yang mungkin sudah kamu harapkan sejak hari pertama menginjakkan kaki di rumah ini,” ujar Daniel dengan nada dingin.“Andra menemuiku. Dia bersedia membayar sisa uang kontrakmu, berapa pun nominal yang aku minta. Dia ingin menarikmu kembali, menjadikanmu bagian dari hidupnya, bukan lagi sebagai bawahan yang terikat perjanjian hitam di atas putih.”Daniel menjeda sejenak, memperhatikan setiap inci ekspresi di wajah Diana. “Jika memang kamu ingin lepas dariku, pergilah. Aku tidak akan menahanmu. Besok pagi, kamu bisa mengepak barang-barangmu dan kembali pada Andra.”Diana terdiam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu, seolah-olah semua kosa kata yang ia miliki menguap begitu saja.Namun,
Waktu sudah menunjuk angka tujuh malam dan Daniel baru tiba di rumah.“Makan malam sudah siap, Tuan,” ucap Diana sembari menyapa Daniel di ujung lorong dapur dengan nada sopan.Tanpa berkata apa-apa lagi, Daniel duduk di ujung meja, memegang pisau dan garpu dengan presisi yang menakutkan. Di hadapannya, sebuah kursi kosong menanti."Duduklah, Diana," ucap Daniel dengan nada datarnya dan tidak menerima bantahan.Diana yang tengah berdiri sontak mematung di dekat pintu dapur. Jemarinya meremas ujung celemek putih yang masih dia kenakan. Dia tampak ragu.Tidak biasanya majikannya itu memintanya duduk satu meja, apalagi saat jam makan malam pribadi seperti ini. Namun, tatapan tajam Daniel seolah mengunci pergerakannya.Dengan langkah kaki yang terasa berat, Diana akhirnya mendekat. Dia pun menarik kursi kayu ek itu dengan pelan, sambil berusaha tidak menimbulkan suara gesekan yang mengganggu.Saat dia duduk, jantungnya mulai berdebar tak karuan, seperti genderang yang dipukul bertalu-talu
Beberapa hari kemudian, suasana kantor Daniel kembali berjalan seperti biasa, yang begitu dingin, rapi, dan penuh ketegangan yang tak kasatmata.Langit di luar jendela kaca besar tampak mendung, seolah mencerminkan suasana hati pemilik ruangan itu.Daniel duduk di balik meja kerjanya yang luas, setumpuk dokumen tersusun rapi di hadapannya. Tangannya bergerak cepat menandatangani berkas, sementara wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.Pintu ruang kerja terbuka setelah ketukan singkat.Andra melangkah masuk dengan langkah mantap. Setelan jas yang dikenakannya sederhana, tetapi raut wajahnya menunjukkan kesungguhan.Dia kemudian berdiri di depan meja Daniel sembari menatap pria itu dengan sorot mata tegas.Namun Daniel sama sekali tidak mengangkat kepala. Ia tetap fokus pada dokumen di tangannya, seolah kehadiran Andra hanyalah gangguan kecil.“Ada apa?” tanya Daniel singkat, tanpa menoleh sedikit pun.Andra menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Aku datang ke sini untuk menyampaik
Diana menelan salivanya dengan susah payah begitu melihat Sari di hadapannya. Tenggorokannya terasa kering ketika ia menatap Sari yang berdiri tepat di depan pintu ruang kerja Daniel yang tertutup rapat.Tatapan Sari tidak tajam, tetapi cukup untuk membuat Diana merasa terintimidasi, sebuah tatapan penuh selidik khas seseorang yang sudah lama bekerja di rumah itu dan mengenal setiap sudut serta rahasianya.“Sa-saya …,” suara Diana sempat terhenti. Bibirnya mengatup kembali, sementara otaknya bekerja keras mencari alasan yang terdengar wajar dan tidak mencurigakan.Jantungnya berdetak kencang, seolah takut kebohongan kecil yang akan ia ucapkan terdengar terlalu rapuh.Beberapa detik kemudian, Diana akhirnya memberanikan diri melanjutkan. “Saya diminta membersihkan lemari buku,” ujarnya pelan. “Atas perintah Tuan Daniel, Mbak.”Sari mengerutkan keningnya. Kedua alisnya terangkat, lalu matanya melirik sekilas ke arah pintu ruang kerja Daniel.Ada jeda singkat sebelum ia kembali menatap
“Ma-maksud Tuan, di sini?” tanya Diana bahkan nada suaranya terdengar gagap.Daniel mengangguk sembari beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Diana yang berdiri kaku di hadapannya.“Ya. Kenapa? Kamu mau menolakku? Kamu pikir kamu bisa menolakku, hm?” bisik Daniel dengan nada seraknya.Diana menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Tidak, Tuan.”“Kalau begitu, buka bajumu sekarang juga.”Diana menelan ludahnya lalu menoleh ke arah pintu ruangan itu. “Bukankan sebaiknya dikunci dulu pintunya, Tuan? Saya takut ada orang yang datang.”Daniel menghela napas kasar. “Silakan.”Diana dengan cepat melangkah menuju pintu lalu dengan tangan gemetar dia mengunci pintu tersebut. Memejamkan matanya sejenak untuk menyiapkan mentalnya melayani Daniel di pagi hari ini.Diana kembali melangkah menghampiri Daniel yang kini sudah duduk di sofa dengan tangan menyender di bahu sofa yang dia duduki.Sorot mata yang gelap itu menatap Diana tanpa suara. Diana lantas membuka satu persatu kancing seragam pel
Pagi itu udara di lorong lantai satu mansion terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari baru saja menembus jendela-jendela tinggi, memantulkan kilau pucat di lantai marmer yang mengilap.Diana membuka pintu kamarnya perlahan, masih dengan rambut yang tergerai dan wajah lelah akibat tidur yang tak nyenyak semalaman.Dia berniat menuju dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa sebagai rutinitas yang selama ini membantunya menenangkan pikiran.Namun langkahnya terhenti seketika.Tepat di depan pintu kamarnya, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan sorot mata yang sulit ditebak.Jas rumah berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya, meski raut wajahnya menunjukkan kelelahan yang sama pekatnya dengan malam yang baru saja berlalu.“Tu-Tuan Daniel?” Diana spontan menyebut nama itu dengan nada suara yang terdengar lebih pelan dari yang ia kira.Kepalanya sontak menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong itu memang sepi, hanya suara jam dinding di kejauhan yang berdetak teratur.Tidak a







